"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, December 7, 2012

Eight Drama - Chapter 19



“Tok..tok...” suara pintu kamar Ji Han yang diketok dari luar.

“Siapa?” tanyanya. Sudah pukul satu malam saat seseorang mengetok pintunya. Dia sudah terlelap namun terbangun lagi karena gangguan itu.

“Ini aku, Jung Nam” kata suara yang mengetok pintunya.

“Jung Nam? Ada apa? Kamu baru pulang?” tanya Ji Han saat membuka pintu kamarnya. Dia menggosok-gosok matanya agar dapat melihat Jung Nam lebih jelas.


Laki-laki itu tersenyum pada Ji Han, namun di dalam matanya setitik kesedihan terbayang disana.

“Tak ada apa-apa. Aku merindukanmu” katanya sambil bersender pada daun pintu kamar Ji Han.

“..Kamu mau masuk dan mengobrol atau..?” tanya Ji Han tak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap pengakuan Jung Nam. Laki-laki itu menggodanya.

Jung Nam menarik lengannya dan mengajaknya keluar.

“Ikut aku, aku akan mengajakmu ke suatu tempat” katanya bersemangat.

Mereka menaiki motor melintasi bukit yang berada disamping utara pabrik penggilingan gandum milik keluarga Park. Jung Nam menghentikan motornya disana.

“Kesinilah” katanya meminta Ji Han mendekatinya.

Dari pinggir mulut bukit, mereka dapat melihat pemandangan ladang gandum dan jagung beserta lampu-lampu pabrik yang menyala di malam hari.

Lampu-lampu dari pabrik yang menyala di tengah ladang gandum yang luas itu, seperti cahaya kapal laut yang berada ditengah lautan. Terang dikelilingi kegelapan malam.

“Lain kali, aku akan mengajakmu ke pelabuhan yang asli. Disana kita bisa melihat kapal-kapal ikan dan kapal-kapal pesiar yang berlabuh. Kamu akan terpesona dengan pemandangan pelabuhan di malam hari” kata Jung Nam padanya.

Ji Han terkesima melihat pemandangan di depan matanya. Dia belum pernah melihat ladang gandum seluas itu dan pabrik-pabrik yang tak pernah berhenti bekerja meski siang telah digantikan malam.

“Jung Nam.. Terima kasih kamu membawaku kesini. Aku tak tahu ada pemandangan seindah ini disini” katanya saat menoleh pada Jung Nam.

Senyumnya memudar saat melihat wajah Jung Nam tak tersenyum. Untuk pertama kalinya laki-laki itu tak tersenyum padanya.

Tak ada yang bersuara, hanya pandangan mata mereka lah yang terpaut sedari tadi. Tak terlepas, saling mengunci, saling menarik.

Ji Han hanya pasrah saat laki-laki itu menarik dagunya dan mencium bibirnya dengan mesra. Ciuman lembut pertamanya. Begitu manis, begitu menggoda namun tak memaksa.

Sebelumnya dia tak pernah berciuman seperti itu. Ciuman pertamanya pun telah dirampas dengan paksa darinya hingga membuat bibirnya terluka.. Oleh laki-laki kejam itu. Alisnya berjengit saat memikirkan hal itu.

Dia tak tahu mengapa dia justru memikirkan Jung Min saat berciuman dengan laki-laki lain. Bibir Jung Min yang menguasai bibirnya dengan kasar terasa begitu membekas dan merasuk di dalam hatinya. Pagutan yang panas itu membuatnya bergairah dengan cara yang berbeda dari ciumannya kali ini.

Ciuman yang diberikan Jung Nam, adalah ciuman lembut dan hangat, tak memaksa, tak menguasai. Dia memberikan kenikmatan namun tak lebih dari itu, hanya sebuah ciuman yang menghangatkan jiwanya.

Dengan Jung Min, ciuman membara itu membuatnya menginginkan laki-laki itu. Membuatnya panas di dalam tubuhnya dan kesakitan. Apakah dia gila karena merasa lebih bergairah saat seseorang mengasarinya? Atau apakah karena orang itu adalah Jung Min?

Saat bibir mereka akhirnya berpisah, Ji Han memalingkan wajahnya, pipinya merah merona. Dia tak menyangka Jung Nam akan menciumnya malam itu. Laki-laki itu sungguh berbeda malam ini. Dia lebih..berani..

“Ji Han.. Jadilah pacarku” katanya pada Ji Han.

Gadis itu menutup mulutnya, terkejut dengan permintaan Jung Nam. Meski dia tertarik dengan laki-laki itu tapi dia tak tahu bagaimana perasaannya sepenuhnya padanya. Dan lagi, dia hanyalah seorang pengurus rumah tangga dirumahnya, apa yang akan dikatakan oleh Nyonya Park dan kakaknya bila mereka tahu Jung Nam memacari seorang pengurus rumah tangga.

“Tapi Jung Nam.. Aku.. bagaimana mungkin? Aku hanyalah seorang pengurus rumah tangga, aku tak mungkin menjadi pacarmu” jawabnya muram.

Jung Nam menggenggam tangannya, menangkupkan tangan itu di dadanya.

“Dengar Ji Han. Aku menyukaimu. Dan aku adalah orang yang ingin langsung mengatakan apa yang aku rasakan. Aku tak pernah menyembunyikan perasaanku, bila aku suka, aku katakan suka, dan aku suka kamu. Aku tak perduli dengan perkataan orang lain. Dan keluargaku bukanlah keluarga yang memandang orang lain lebih rendah hanya karena status sosialnya. Kami lebih mempercayai “cinta”..” dia menyelesaikan ceramahnya yang panjang.

“Aku tak tahu Jung Nam. Aku baru mengenalmu, dan aku rasa terlalu dini untuk menjawabnya” Ji Han menarik tangannya dari genggaman Jung Nam. Namun laki-laki itu tak menyerah, dia meyakinkan Ji Han untuk mencoba menjalani hubungan mereka.

“Ji Han.. Apakah kamu tak ingin mencobanya? Bila kamu takut, kita bisa merahasiakan hubungan kita dari keluargaku. Setidaknya sampai kamu benar-benar yakin. Kita akan lihat seiring berjalannya waktu, aku akan membuatmu suka padaku” senyumnya terukir lagi di wajahnya.

Ji Han tak sanggup menolaknya saat Jung Nam tersenyum seperti itu padanya, dia selalu membuatnya merona dengan senyumannya.

“Jangan sampai keluargamu tahu, Jung Nam. Apalagi kakakmu. Setidaknya sampai tiga bulan kemudian, setelah itu aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini” kata Ji Han.

“Mengundurkan diri? Kamu ingin keluar Ji Han?” tanya Jung Nam kaget.

“Iya. Setelah tiga bulan, aku akan membuka toko pakaian disamping rumahku. Kak Ji jeong berjanji akan membuatkanku sebuah toko kecil disana. Tak ada alasan lagi untukku bekerja disini kan?” tanyanya pada Jung Nam.

“Ya.. benar. Kita juga tak perlu bersembunyi lagi kalau begitu” dia menyeringai senang.

“Jadii... Kamu mau jadi pacarku Ji Han yang cantik dan manis bagai gulali?” candanya.

“Yah.. jangan menggodaku atau aku tarik lagi kata-kataku tadi” jawab Ji Han pura-pura kesal.

“Kata-kata yang mana Ji Han? Aku tak dengar” kata Jung Nam menimpali.

Dia terpekik kesakitan karena pinggangnya dicubit oleh Ji Han. Mereka pun berkejar-kejaran di tepi bukit itu hingga pagi. Saat matahari terbit, mereka sedang duduk bersebelahan saling menyandarkan tubuh masing-masing.

“Aku ngantuk Ji Han..” kata Jung Nam sambil menguap.

“Sebentar lagi... Aku ingin melihat matahari terbit. Kamu jangan tidur dulu” katanya cemberut.

Jung Nam hanya membalasnya dengan lebih banyak menguap. Dia benar-benar tak bisa membuka matanya lagi.

“Ya.. Jangan tidur. Siapa yang akan mengendarai motornya bila kamu ketiduran???” bentak Ji Han pada Jung Nam yang mulai mendengkur kecil dipundaknya.

Melihat laki-laki itu tidur dipundaknya dengan wajah tanpa dosa, Ji Han tak tega membangunkannya.

“Kamu akan membuat kita celaka Jung Nam. Semoga Raja Kegelapan benar-benar pulang sore seperti kata ibumu. Kalau tidak, aku pasti mati” katanya lirih. 

11 comments:

  1. loh loh kok jadian am Jung Nam ni..
    ga rela ga rela..haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaa,,,, aku jg gak rela sist... lol

      Delete
  2. lho, lho, lho?
    yg bikin cerita siapa hayo? xixixi
    mbk shin pinter bikin pembca penasaran yaaa... *tabok2 unyu*

    ReplyDelete
  3. mba Shinnnnnnnn,,,,

    harusnya si Jihan Amir itu jadinya ma Jung Min,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl jihan ama jungmin jadian skrg.. ntr chapter 20 isinya cuman tulisan ~~~The End~~~ donk sist? ahhahahah

      Delete
  4. hahahhay,,,iya juga yagh,,~~~#tepokjidat..

    ReplyDelete
  5. Mba shin,ni kissing scene nya cocok ma lagu katty perry,thinking of you.heheh "he kiss my lips,i taste ur mouth,ooh" sesuatu bgt :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaha sesuatu bgt emang sist... ^__^ :cek om gugel buat nyari lagu yg dimaksud:

      Delete
  6. OH NOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!

    JI MIN FOREVEEERRRRRR

    NO SAY JI NAM NO NO NO

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.