"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, December 7, 2012

Eight Drama - Chapter 20



Ji Han telah selesai membersihkan kamar Jung Min saat laki-laki itu tiba pukul dua belas siang. Tanpa melihat ke sekitarnya, dia langsung masuk ke kamarnya dan tak keluar setelah itu. Hanya ketika Jung Nam memanggilnya untuk berpamitan, barulah dia keluar.

Mereka semua tak terkecuali Ji Han dan pengurus rumah tangga lainnya ikut mengantarkan kepergian Jung Nam untuk kembali ke Incheon, melanjutkan tugasnya mengawasi pabrik disana.

“Hati-hati dijalan ya Jung Nam. Jangan lupa kabari ibu setelah kamu sampai disana” peluk ibunya sebelum melepas kepergian Jung Nam.


Kemudian disusul adiknya yang merengek meminta ikut bersamanya ke Incheon. Mereka berada di halaman depan tempat motor Jung Nam parkir.

“Jiss.. Kamu bukan anak kecil lagi, jangan seperti ini ah. Malu dilihat yang lain” kata Jung Nam saat melepaskan pelukan adiknya dari lengannya, gadis itu menempel seperti lem yang sangat lengket.

Baru ketika Jung Min memelototinya dia melepaskan pelukannya dan membalas pelototan Jung Min. Tak lupa dia menjulurkan lidahnya  sebelum berlari ke dalam rumah. Mereka hanya bisa tergelak melihat tingkah Jung In yang masih kekanak-kanakan. Nyonya Park kemudian mengikutinya masuk ke dalam.

“Hati-hati. Jangan terlalu ngebut. Sekarang musim hujan, jalanan gampang licin” kata Jung Min sebelum menepuk punggung adiknya.

Jung Nam mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya pada para pengurus rumah tangga yang menyalami tangannya. Saat dia berada di depan Ji Han yang sedang tersenyum, dia tak dapat menahan keinginannya untuk memeluk ‘pacar’ barunya itu.

Hanya mereka bertiga yang kini berdiri disana. Pengurus rumah tangga setelah menyalami tangan Jung Nam telah kembali melanjutkan pekerjaannya di dalam rumah.

Karena membelakangi tubuh Jung Min, dia tak bisa melihat ekspresi kakaknya saat dia memeluk tubuh Ji Han di depan matanya. Laki-laki itu menatap mereka tajam tak berkedip. Sorot matanya sedingin es, rahangnya keras, sebuah senyum ironis terlihat diwajahnya.

Dia sedang menatap mata Ji Han dan matanya menuduh gadis itu, menyalahkan, entah apa yang dia maksud. Ji Han merasa dia akan mendapat masalah besar. Dia menelan ludahnya dan mendorong tubuh Jung Nam menjauh.

“Apa yang kamu lakukan? Ada kakakmu” bisiknya pelan takut terdengar oleh Jung Min. Laki-laki itu masih menatapnya tajam.

“Tak apa. Dia tak akan curiga kita berpacaran” kata Jung Nam tanpa memelankan suaranya.

Ji Han memelototinya. Dia gemas dengan laki-laki itu. Dia tak tahu masalah apa yang dia berikan karena telah memeluknya di depan Jung Min. Dia tak berani memikirkan apa yang akan Jung Min lakukan bila laki-laki itu tahu Jung Nam telah menciumnya semalam. Tubuhnya merinding membayangkannya.

“Aku pergi dulu. Akan aku kabari setelah sampai di Incheon. Mungkin nanti malam, setelah kamu selesai bekerja, aku akan menelphonemu. Jam dua belas pas” dia mengedipkan matanya pada Ji Han.

Saat dia berbalik, sorot mata Jung Min telah kembali normal. Laki-laki itu bisa merubah sorot matanya dalam sekejap.

Terbuat dari apa orang ini? Pikir Ji Han sambil memandangi punggungnya saat dia memeluk Jung Nam untuk yang terakhir kalinya.

Setelah Jung Nam pergi meninggalkan mereka berdua dalam kebisuan, suasana terasa menegang. Ji Han bisa merasakan amarah yang timbul dari laki-laki di depannya. Tanpa bersuara, dia memutar tubuhnya hendak beranjak dari sana tak ingin diketahui Jung Min.

“Nona Ji Han.. “ panggil Jung Min padanya.

Ji Han terpaksa menghentikan langkahnya. Dia merutuk dalam hati.

“Iya, tuan. Ada yang bisa saya kerjakan?” tanyanya sopan.

“Aku baru saja memecahkan botol shampoo di dalam kamar mandi. Aku ingin kamu membersihkannya” perintahnya.

Dia memutar tubuhnya, kini Ji Han dengan jelas dapat melihat kilatan cahaya di matanya. Tatapannya bengis, dia tersenyum licik. Oh, dia sangat senang dapat tersenyum seperti itu padanya. Laki-laki kejam yang penuh muslihat.

“Apa kamu dengar?” tanyanya saat Ji Han tak juga menjawab.

“Saya dengar tuan. Saya akan meminta bibi Ra Ni untuk membersihkannya” jawabnya kemudian.

“Bibi Ra Ni? Aku memerintahkanmu, nona... Atau, apa kamu mau ‘membantah’ kata-kata majikanmu, ha?” kini dia telah berada disampingnya, hidungnya yang mancung menyapu pipi Ji Han yang lembut. Laki-laki itu sengaja melakukan hal itu untuk mengintimidasinya.

“Aku ingin..kamu.. bukan orang lain..” bisiknya di cuping telinga wanita itu. Senyum licik masih terpasang dibibirnya saat meninggalkan Ji Han mematung di halaman.

“Aku celaka sekarang” kutuknya dalam hati.

Hingga makan malam usai, Ji Han belum juga datang ke kamar Jung Min untuk membersihkan botol shampoo yang pecah itu. Ji Han tak tahu apakah itu tipuan atau bukan, karena dia tak berencana untuk mematuhi perintah Jung Min kali ini. Dia akan beralasan bahwa dirinya sedang sakit, sehingga dia bisa mengelak dan tak perlu menemui Raja Kegelapan.

Namun betapa terkejutnya dia saat kembali ke kamarnya dan menemukan Jung Min telah duduk di atas ranjang menunggunya.

“Aku yakin kamu tak sengaja ‘melupakan’ perintahku kan, nona?” tanyanya pelan. Dia tak melepaskan tatapannya dari mata Ji Han.

“Ti...tidak tuan, saya akan membersihkannya sekarang” jawabnya.

Ji Han kembali ke ruang alat-alat dan membawa sebuah sapu dan sekop sampah untuk membersihkan botol shampoo itu. Dibelakangnya Jung Min mengikuti sehingga dia tak bisa melarikan diri.

Ji Han mempercepat langkahnya sehingga dia akan bisa menyelesaikan tugasnya sebelum Jung Min masuk ke dalam kamarnya. Tapi dia tak menyangka justru itu yang diinginkan oleh Jung Min.

Saat Ji Han telah masuk ke dalam kamarnya, dia mengunci pintu itu dan memasukannya ke dalam saku celananya.

Ji Han melihat pecahan botol shampoo di lantai kamar mandi, laki-laki itu tak berbohong. Tanpa memperdulikan sekelilingnya, dia menyapu lantai mencari sisa-sisa serpihan botol yang mungkin tersembunyi. Dia tak ingin Jung Min memarahinya bila dia menginjak serpihan kecil kaca botol itu, karena pasti akan sangat berdarah.

Bayangan Jung Min berdarah membangkitkan semangatnya. Dia ingin melihat laki-laki itu berdarah dan meringis kesakitan dibawahnya.

“Aku baru tahu kalau kamu juga memberikan Jung Nam untuk memeluk tubuhmu..” kata Jung Min yang muncul di belakangnya.

Ji Han terkesiap dengan kemunculannya yang tiba-tiba, dia menjatuhkan sekop ditangannya. Dengan langkah pincang dan tongkat ditangannya, Jung Min mendekatinya perlahan. Matanya tak berkedip mengawasi gerak-gerik Ji Han.

“Tak seperti yang kamu pikirkan, tuan” desis Ji Han marah. Dia tersinggung Jung Min mengira dirinya wanita murahan. Lagipula tak ada yang salah dengan seorang teman memeluk temannya kan?

“Apa yang aku pikirkan nona?” matanya menyipit ingin tahu.

“Kamu berpikir menjijikan, tuan. Jung Nam dan aku, kami tak seperti pikiranmu” matanya menantang Jung Min untuk membantahnya.

“Oh yaa...? Lalu apa artinya pelukan kalian tadi? Apakah hanya sekedar teman... atau.. kamu memang mau dengan semua laki-laki nona..?” dia kini berada didepan Ji Han. Memandang turun kebawah, ke arah tubuh Ji Han yang mungil. Dia melepaskan tongkat ditangannya.

Ji Han memandangnya cemas. Kakinya masih terkilir dan dia melepaskan tongkatnya?

“Kakimu akan tambah parah bila kamu memaksa menggunakannya” teriak Ji Han cemas.

Jung Min mencekal lengannya. Mendekatkan wajah mereka, dia berbisik hampir seperti desisan.

“Jadi kamu tahu mengapa kakiku seperti ini? Kamu tahu siapa yang menolongmu dari kematian?” dia berdecak senang.

Ji Han menyadari kesalahannya. Dia hanya memberi alasan bagi Jung Min untuk memanfaatkannya.

“Jadi.. Aku rasa wajar bila aku menginginkan pembayaranku sekarang kan, nona?”

Seringai diwajahnya membuat Ji Han muak. Dia ingin meninju wajah yang tersenyum licik itu dengan keras hingga hidungnya yang mancung patah dan tak bisa menggodanya lagi.

Saat tubuh Jung Min semakin mendekatinya, Ji Han mundur perlahan-lahan hingga tubuhnya terbentur tembok. Di depannya Jung Min dengan seringainya yang culas memandangnya tanpa kedip.

“Tuhan, selamatkan aku” rintih Ji Han dalam hati. 

9 comments:

  1. jung nam kurang memancing emosinya jung min,,,,,

    lebih hot harusnya
    hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ntar kl jung nam hot am jihan, ada yg ngamuk2 lg sist ^__^

      Delete
  2. aku yang ngamuk lagi,,,,


    hahahaha mba shin jadi bingung maunya aku apa???

    wkwkwkwkw

    ReplyDelete
  3. mba Shiiinnn,,,,di chapter nie si Jung Min baru pulang dari Bussiness tripny ke Taiwan kan???

    ReplyDelete
  4. ilustrasinya jung min pincang itu harry di i miss u ya mbak? hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah iya sist, si hari :D entah siapa nama aslinya aku dah lupa. yoon seung ho kl gak salah ya? lupa..

      Delete
  5. aissshhhhh klo ssayaa baca pas belom completee
    pasti tiap hari ne author saya demo
    ahahahahhahaah

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.