"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, December 8, 2012

Eight Drama - Chapter 22



Jung Min membeku diatas tubuh Ji Han. Dia pasti salah mendengar apa yang dikatakannya. Gadis itu sebelumnya meleleh dalam pelukannya, namun kini dia sekeras batu. Kemana perginya gadis pemalu dan penuh rasa ingin tahu itu?

“Apa maksudmu, Ji Han?” tanya Jung Min pelan.

“Aku tak ingin melakukannya. Apapun rencana yang akan kamu lakukan padaku, aku menolaknya” dia mulai mendorong tubuh Jung Min namun usahanya sia-sia. Laki-laki itu sekokoh karang tak terusik.


“Dan mengapa kamu kira aku akan membiarkanmu berlalu dari sini tanpa melunasi hutangmu? Nona..?” nada suaranya penuh kemarahan. Ji Han telah membangunkan emosinya yang hampir lenyap. Dia mencekal pergelangan tangan gadis itu yang meronta-ronta.

Gadis itu telah membangkitkan gairahnya dan kini dia ingin pergi begitu saja? Tidak.. Jung Min tak akan membiarkannya pergi sebelum memohon ampun padanya. Dia tak akan memaafkannya karena telah merangsang gairahnya dan membuatnya berpikir mereka dapat bercinta dengan lembut malam itu.

Dan gadis itu mengecewakannya. Tapi bukankah dia memang bermaksud untuk memerawaninya meskipun gadis itu menolaknya?

Dia teringat kembali alasan mengapa dia meminta gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Karena dia adalah wanita yang tak tahu malu, telah mempermainkan perasaannya dan masih juga mengejar adiknya.

“Dia tak tahu kamu menyukainya, Jung Min” hatinya berbisik.

“Kamu tak pernah jatuh cinta sebelumnya, kamu tak tahu bagaimana memperlakukan gadis yang masih suci. Dia tak sama dengan wanita-wanita yang biasanya kamu tiduri” suara hatinya terus mengusiknya dengan kata-kata yang tak ingin didengarnya.

“Lepaskan aku” desis Ji Han lagi. Tubuh Jung Min terasa berat menindihnya, pahanya kebas karena terlalu lama dalam posisi itu.

“Perlawananmu sia-sia. Semakin kamu melawan, semakin kuat aku menguncimu. Kamu hanya akan semakin lemah, dan saat itu, aku akan menguasaimu” Jung Min mendekati bibir Ji Han dan mencoba untuk menciumnya lagi.

Tapi gadis itu memalingkan wajahnya sehingga hanya pipinya yang tersapu oleh ciuman laki-laki itu.

“Kamu mungkin belum pernah tahu bagaimana rasanya saat tubuhmu dimasuki oleh laki-laki kan.. Perlukah aku memperingatimu dulu sebelum kemudian aku tunjukan bagaimana rasanya?” dia berbisik pelan di telinga Ji Han. Digigitnya cuping telinga gadis itu.

“Saat pertama aku memasukimu nanti, kamu akan berteriak kesakitan. Seolah tubuhmu dirobek dan dipaksa untuk membuka. Yaa.. akan terasa sakit, nona.. Kamu akan menjerit-jerit namun tak akan ada yang mendengar tangisanmu. Kamu tahu kenapa? Karena kamar ini berperedam suara. Tak akan ada yang menolongmu. Bahkan Jung Nam, dia tak akan tahu apa yang sedang kamu lakukan bersamaku.. Saat sakit itu perlahan-lahan menghilang digantikan dengan kenikmatan yang tak bisa kamu bayangkan, tubuhmu akan memohon padaku untuk dipuaskan, menyodorkan padaku lebih dalam hingga tak ada tempat lagi untuk dimasuki” Ji Han menggigil dibawahnya membayangkan kata-kata Jung Min yang begitu mendetail.

“Aku tak akan segan-segan untuk mengasarimu. Akan kupuaskan diriku tanpa memperdulikanmu, dan kamu akan memohon dengan matamu itu agar aku memberikanmu pelepasan yang kamu inginkan. Saat kamu tahu rasanya, nona.. Kamu tak akan pernah menolakku lagi, bukan?” dia menciumi lehernya dan menggigit mesra daerah itu.

Ji Han memejamkan matanya karena mendapati dirinya ternyata tak mampu menahan nyeri yang menyerang dibawah tubuhnya. Matanya membelalak saat Jung Min memasukan tangannya ke dalam celana dalamnya dan menyentuh bagian tersensitifnya itu.

Jari tangan laki-laki itu bermain disana. Ji Han menggelinjang mencoba menutupi pahanya agar tangan laki-laki itu tak menguasainya disana.

Air matanya mengalir menahan sensasi baru yang dia rasakan. Begitu nikmat, begitu menggelitik, begitu menggoda. Begitu mendesaknya hingga erangan tertahan tak bisa dia sembunyikan dari mulutnya. Jung Min memutar-mutar jari tangannya disana tanpa menyentuh rongga kewanitaan Ji Han. Dia telah sangat basah dan siap untuk dirinya.

Setelah melepaskan celana dalam gadis itu, Jung Min membungkuk dibawahnya, pundaknya menopang kedua paha gadis itu sehingga selangkangannya terbuka lebar untuknya.

“Jangan bergerak, atau kamu akan melukai dirimu sendiri” katanya pelan.

Dia memandangi organ kewanitaan Ji Han dan terpaku sejenak sebelum mendekatkannya ke mulutnya. Dengan ahli dia menciumi daerah itu, menghisap, memilin dan menusuk dengan lidahnya yang lihai. Ji Han menggelinjang kesana-kemari menahan gelora di bawah perutnya.

“Jung Min... a...kku.. takut..” bisiknya tertahan di antara desah dan erangan nafasnya.

Pengakuan Ji Han membuat laki-laki itu berhenti, dia mengelap bibirnya dengan kemejanya yang tergeletak di samping. Dia memandang gadis itu dan melihatnya pasrah dibawahnya. Kini dia merasa bersalah telah memaksa gadis itu untuk memenuhi keinginannya.

“Kenapa kamu takut, Ji Han..?” tanyanya lembut.

“Apa artiku bagimu?” dia memandang wajah Jung Min. Laki-laki itu nampak kebingungan menjawab pertanyaan Ji Han.

“Apa.. maksudmu? Aku tak mengerti” jawabnya kemudian.

“Bi..la.. artiku.. hanyalah sebagai salah seorang perempuan lain yang menghangatkan tempat tidurmu saat malam dingin, maka lakukanlah apa yang kamu inginkan..”

“Tapi.. bila artiku lebih dari sekedar perempuan yang ingin kamu tiduri, maka..lepaskanlah aku.. Aku tidak bekerja di rumah ini untuk dilecehkan..” katanya putus asa. Tangis mengalir di pipinya hingga membasahi bantal dibawahnya.

Jung Min terhenyak diatas tubuhnya. Dia tak pernah memikirkan hal itu. Dia hanya tahu, dirinya menginginkan gadis itu, disampingnya, diranjangnya, oh tidak.. bukan hanya semalam atau selama sebulan penuh atau setahun penuh. Dia tak pernah memikirkan seberapa lama dia menginginkan gadis itu disampingnya. Apakah hanya untuk memuaskan nafsunya belaka atau lebih dari itu.. Dia tak tahu.

Jung Min merosot dari atas tubuhnya. Kini dia duduk ditepi ranjang, kepalanya bertumpu pada telapak tangannya. Dia mengepalkan tinjunya, dia marah, sangat marah. Pada dirinya... Laki-laki tak tahu malu yang menginginkan seorang gadis perawan untuknya.

Apa yang dia pikirkan saat benaknya dipenuhi rencana untuk membuat gadis itu tak berdaya  dibawahnya? Pikirannya begitu kotor. Dia bahkan tak mengatakan apapun mengenai hubungan apa yang dia inginkan dengan gadis itu. Dia tak tahu. Kepalanya pusing berdenyut-denyut menusuknya.

Tanpa bersuara, Ji Han turun dari ranjangnya dan memakai pakaiannya lagi. Sebelum dia menutup pintu kamar Jung Min yang gelap, dia memandang sedih pada laki-laki itu. Hatinya ikut terluka bersama dengannya. Setengah hatinya ingin berada disana, merengkuh pundak yang kini membungkuk itu, memeluknya dan menghiburnya. Tapi dia tak mungkin melakukannya. Hubungan mereka telah salah, sangat tak mungkin untuk diperbaiki.

~~~~

Keesokan harinya, Ji Han membawakan sarapan seperti biasa ke kamar Jung Min, namun laki-laki itu tak ada dikamarnya. Dia telah berangkat pagi-pagi sekali tanpa membangunkan siapapun. Dia ingin menghindari Ji Han. Dia tak sanggup menatap wajah gadis itu lagi setelah apa yang dia lakukakan padanya semalam.

Ji Han mengingat kembali saat dia keluar dari kamar Jung Min. Wajahnya sembab oleh tangisnya yang tiada henti. Rambutnya kusut tak teratur, pakaiannya terkancing seadanya. Dia terburu-buru hingga tak menyadari celana dalamnya masih tertinggal di kamar Jung Min.

Celana dalam yang basah, basah oleh cairan kenikmatan yang Jung Min berikan padanya.

Saat duduk di atas ranjangnya, dia melihat lima buah panggilan tak terjawab dari Jung Nam. Laki-laki itu menepati janjinya, menelphonenya pukul dua belas malam. Tapi Ji Han baru keluar dari kamar Jung Min saat jam dinding menunjukan pukul satu pagi.

Tiga jam dia berada di dalam kamar itu, tiga jam Jung Min membuatnya merasakan apa yang tak semestinya dia rasakan semalam.

Namun saat tak menemukan laki-laki itu dikamarnya pagi ini, Ji Han merasa hatinya hampa. Dia teringat pada laki-laki itu, teringat pada ratapannya saat dia meninggalkannya semalam.

“Kamu sakit Ji Han?” tanya bi Ra Ni padanya.

“Tidak bi, kenapa memangnya?” Ji Han menoleh pada bi Ra Ni yang sedang mengupas kentang di dapur.

“Entahlah, kamu terlihat lesu dan wajahmu pucat. Jangan terlalu banyak begadang, dan makan yang banyak ya” senyum keibuan terukir di wajahnya.

“Iya bi. Oh ya, tuan Jung Min kemana bi? Dia berangkat pagi-pagi sekali” tanyanya pada bi Ra Ni.

“Ehm.. Bibi juga tidak tahu.. Mungkin dia ada urusan pekerjaan yang harus dilakukan pagi-pagi sekali. Dia kan orang sibuk” jawab bi Ra Ni sekenanya.

Meski tak puas dengan jawaban bi Ra Ni, Ji Han tetap berlalu ke lantai dua, saatnya bekerja.

Meski kejadian semalam semestinya membuatnya takut, tapi Ji Han tak ketakutan sedikit pun. Untuk pertama kalinya dia merasa selega itu bekerja dirumah ini. Dia tak lagi merasa Jung Min adalah ancaman untuknya, dia tak merasa laki-laki itu bisa menyakitinya. Justru dialah yang mampu menyakiti laki-laki itu. 

13 comments:

  1. Oh ya ampyyuuunnn...
    Jung Min galauuuu trnyt,,aduuhhhh g ush tunangan deh sm Rosyy Kang,,hukz..hukz..kshn Ji Han klo tw Jung Min tunangn..

    ReplyDelete
  2. Tp keyeennnn Mbaaa ide crtany,,mksh yakz Mbaaa Shin..
    ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih jg sist udah ngikutin trus :)

      Delete
  3. Ya ampun,sweet bgt.pa artinya diriku bagimu? Duh ksian jung min :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. makasi banyak sist atas pujianya ^__^V

      Delete
  4. kyaaaaa,,,,,,,,seru berasa nonton serial korea.nyesel baru baca,,,,,,,,, ♥(ノ´∀`)

    ReplyDelete
  5. timpuk jung min.....

    jung min bodoh bukannya bilang langsung
    sadar jung min....

    ReplyDelete
  6. sabar mba

    klo g sabar dr kmrn dah aku jedotinn tuh si jung min....

    wkwkwkwkwkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan atuh.. ntr siapa yg gantiin jung min jd pemeran utama nya? masak jung nam? hahaha

      Delete
  7. lee mba jadi pemeran utamanya
    wkwkwkwkwk

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.