"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, December 9, 2012

Eight Drama - Chapter 25



Jam dinding menunjukan pukul dua belas malam dan Jung Min tak kunjung pulang dari kantornya. Meski menunggu hingga matanya terkantuk-kantuk. Akhirnya Ji Han kalah dan tertidur di meja dapur.

Dia masih terlelap saat badannya diangkat dalam pangkuan laki-laki yang tak sengaja melihatnya setibanya dia di rumah itu. Dengan langkah perlahan, dia berjalan menuju kamar tidur gadis itu. Merebahkannya di atas ranjang, melepaskan sepatu kerjanya dan menyelimutinya dengan kain hangat tebal yang terletak rapi di ujung ranjang.


Lama dia memandangi wajah tertidur pulas Ji Han. Matanya menyorotkan kerinduan yang teramat sangat pada gadis itu. Dia ingin memeluknya, ingin mendengarkan debar jantung gadis itu dalam pangkuannya. Merasakan hangat tubuh mereka saat berpelukan. Hanya berdua, dalam kesunyian malam, membagi sebuah ranjang, tanpa aktivitas lain selain berpelukan. Pelukan yang hangat dan penuh kasih. Dia ingin melakukannya dengan gadis itu.

Dia mencium kening gadis itu dan mengucapkan selamat tidur untuk ‘kekasih hatinya’. Dia telah mengaku kalah dan akan mengikuti kemanapun hatinya membawanya.

“Tidurlah.. Cintaku..” bisiknya lembut di kening gadis itu.

Saat hendak keluar dari kamar itu, handphone di atas meja berdering. Dia melihatnya. Karena tak ingin suara dering handphone itu membangunkan Ji Han, dia pun mematikan telphone itu tanpa melihat siapa pemanggil yang menyebabkan handphone itu berdering.

Sementara itu, si penelphone semakin curiga dengan apa yang baru saja terjadi disana. Namun dia tak ingin cepat-cepat berasumsi. Dia harus mengetahui apa yang telah terjadi yang menyebabkan handphone Ji Han tak bisa dihubungi lagi.

~~~~

“Dia tak ada lagi dikamarnya?” tanya bi Ra Ni saat Ji Han kembali membawa nampan sarapan yang masih utuh dari kamar Jung Min.

Dengan lesu, gadis itu meletakan nampan di atas meja. Dia meracau telor omelet yang disajikan di atas piring. Tadinya telor itu disiapkan untuk Jung Min. Namun laki-laki itu telah pergi pagi-pagi sekali.

Dia menyadari dirinya telah dipindahkan dari dapur saat terbangun keesokan harinya di atas ranjang kamarnya. Dia tidak berani menebak siapa yang memindahkannya, namun bathinnya tahu, Jung Min lah yang mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam kamarnya, bahkan membuatnya tidur dengan nyaman. Dia juga menyadari sepatunya telah dilepas saat menginjakan kakinya di lantai. “Dia begitu perhatian” kata bathinnya merindu.

“Bukannya kamu semestinya senang tak bertemu dengannya lagi? dia kan suka memarahimu” kata bi Ra Ni membuyarkan lamunannya.

“Bukannya begitu bi. Aku tak bilang aku tak ingin bertemu dengannya lagi. ehm.. Maksudku, dia kan majikanku. Aku harus melaksanakan tugasku juga kan” elaknya. Dia merasakan pandangan menyelidik bi Ra Ni mengikutinya.

Ji Han melahap omelet itu dan meminum habis susu dalam gelas.

“Mubazir kalau dibuang” katanya menyeringai.

Bi Ra Ni hanya menertawainya karena bibirnya sekarang terlihat bekas susu berbentuk lingkaran.

“Lap dulu bibirmu sebelum keluar meletakan makanan ini di meja makan” katanya sambil bercanda.

Setelah membereskan peralatan makan pagi, Ji Han pergi ke tempat kursusnya. Sepulangnya dari sana dia kembali membersihkan kamar-kamar dan ruangan disana seperti biasa.

Dia masih penasaran dimana Jung Min membuang celana dalamnya. Namun dia tak berani membuka-buka lemari laki-laki itu. Dia takut bila tiba-tiba Jung Min memergokinya dan dia akan dituduh mencuri dari keluarga itu. Dia akan membuat aib bagi keluarganya bila itu terjadi. Tubuhnya menggigil membayangkan berada di dalam penjara karena perbuatannya mencuri dari keluarga Park.

Saat pekerjaannya telah selesai, Ji Han kemudian kembali ke kamarnya dan membersihkan badannya. Dia mengambil waktu untuk dirinya dan beristirahat di dalam kamarnya. Barulah kemudian dia menyadari handphonenya mati. Dia mengira handphonenya kehabisan baterai, sehingga saat dia menghidupkannya kembali, dia mendapat lima buah pesan singkat dari Jung Nam yang khawatir dengan keadaannya.

Laki-laki itu saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah itu untuk menemuinya.

Dengan gelisah, Ji Han menunggu kedatangan Jung Nam di halaman depan. Hari sudah malam dan laki-laki itu belum mengabarinya lagi. Dia mondar-mandir disana selama dua jam setelah membaca pesan yang Jung Nam kirimkan.

Saat suara motor laki-laki itu terdengar mendekat dari ujung jalan, akhirnya dia dapat bernafas lega. Dia menunggu hingga Jung Nam masuk ke dalam halaman rumah dengan motornya. Saat dia membuka helmnya, Ji Han dapat melihat kekhawatiran di mata laki-laki itu untuknya.

Mereka bertatapan. Wajah itupun kembali lega.

“Kamu tak apa-apa? Aku sangat khawatir. Kamu tak mengangkat telphoneku, sms-sms ku tak masuk, aku telphone berkali-kali tapi malah masuk ke mail box mu. Aku langsung kemari setelah membereskan urusanku di Incheon. Ji Han.. Aku sungguh lega melihatmu baik-baik saja” katanya tanpa henti.

“Aku tak apa-apa Jung Nam.. Handphoneku mati, kehabisan baterai dan aku lupa mengisinya sehingga membuatmu cemas. Maafkan aku” kata Ji Han merasa bersalah karena dia telah menyebabkan Jung Nam mengendarai motornya selama berjam-jam. Laki-laki itu pasti kelelahan saat ini.

“Jangan meminta maaf, aku memang ingin pulang hari ini. Aku tak akan pergi lagi Ji Han. Aku akan tinggal dirumah ini lagi. Urusanku di Incheon telah selesai. Kini  aku bisa meyakinkanmu tentang hubungan kita. Aku akan membuatnya berhasil” katanya penuh keyakinan.

“Jung Nam..” dia tak tega untuk merusak mimpi dan harapan laki-laki itu

Kemudian tanpa peringatan, Jung Nam memeluk tubuhnya dan mencium bibir gadis itu mesra. Ciumannya kini lebih berani dari ciuman pertama mereka. Bibirnya memagut bibir Ji Han dengan bergairah. Ji Han hanya mematung dan memejamkan matanya tak bisa melepaskan diri dari situasi itu.

Tanpa mereka sadari, Jung Min memperhatikan mereka sedang berciuman sejak dia keluar dari mobilnya. Dia baru saja pulang dari kantornya.

Dia berdiri mematung di belakang mereka, rahangnya mengeras. Dia tahu siapa yang sedang berciuman dengan mesra di depan matanya.

Tanpa dia kehendaki, hatinya terasa sakit. Sorot matanya terluka, dia merasa dikhianati. Dia tak terima laki-laki lain menciumi gadis yang dia cintai. Meski itu adiknya sekalipun. Bahkan lebih tak bisa diterimanya.

Dia hanya bisa menggertakan giginya, tinjunya terkepal. Matanya berapi-api penuh kebencian. Tapi dia tak tahu harus membenci siapa. Dia tak bisa membenci adiknya karena laki-laki itu begitu jujur dengan perasaannya. Tidak seperti dirinya yang rumit dan lebih senang untuk menyembunyikan isi hatinya.

Dia takut terluka... Dia takut bila dia memberikan perhatian pada gadis itu, dia hanya akan dimanfaatkan. Seperti kata ayahnya dulu. “Wanita hanya akan memanfaatkanmu untuk meraih apa yang mereka inginkan”

Tapi apakah Ji Han seperti itu? Apakah gadis itu akan memanfaatkannya dan kemudian meninggalkannya dengan hati yang terkoyak? Karena dia tak akan mampu menjadi seperti dirinya dulu setelah disakiti, dia takut dia akan menjadi manusia yang lebih kejam. Terutama pada wanita. Dia tak tahu bagaimana memperlakukan hati mereka dengan lembut.

“Aku kira kamu akan pulang besok” kata Jung Min sambil mencoba mengatur nada suaranya agar tak terdengar marah.

Jung Nam dan Ji Han buru-buru melepaskan ciuman mereka. Jantung Ji Han berdebar-debar kencang, lebih karena mendengar suara menggelegar Jung Min. Dia merasa sangat malu dan menyesal. Sekilas dia mengintip Jung Min dengan sudut matanya. Wajah itu tak memperlihatkan ekspresi apapun.

Namun karena itulah Ji Han tak tahu apa yang akan dia hadapi nanti.

Dia menahan nafasnya, menunggu apa yang akan Jung Min katakan pada mereka. Dia tak tahu bagaimana akan menjelaskan ciuman itu. Jung Nam memeluknya dan menciumnya tanpa seizinnya.

Jung Nam mengacak rambutnya, dia terlihat gugup tertangkap basah sedang mencium Ji Han di depan mata kakaknya.

“Tadinya memang aku berencana pulang besok, tapi aku sudah menyelesaikan semua urusanku. Jadi aku langsung pulang hari ini. Mengapa? Jangan bilang kamu tak suka aku pulang?” katanya untuk menutupi kegugupannya.

“...Aku tak perduli kamu pulang kapan. Selama urusan perusahaan beres, apa yang kamu lakukan bukanlah urusanku” katanya ketus.

“Tapi akan lebih baik bila kalian mencari sebuah ‘kamar’ untuk melampiaskan kerinduan kalian” mungkin hanya Ji Han yang menangkap nada sinis dalam suaranya, karena Jung Nam hanya tergelak salah tingkah.

“Aku tak tahu kamu akan pulang jam segini. Oh, ternyata sudah jam setengah dua belas. Aku tak tahu kalau sudah semalam ini. Aku berangkat sore hari, kamu tahu perjalanannya cukup melelahkan” katanya lagi. Dia merasa wajahnya panas karena harus mencari alasan untuk menutupi rasa malunya.

“Kalau kamu kelelahah, istirahatlah. Aku akan meninggalkan kalian berdua untuk melanjutkan apa yang aku ganggu tadi” katanya sambil berlalu ke dalam rumah.

Saat Jung Min melewati Ji Han, laki-laki itu tak memandangnya sedikit pun. Hanya sorot mata dingin yang terluka yang tepancar dari sepasang mata bening itu. Ji Han menghela nafasnya panjang saat Jung Min telah memasuki rumah dan menuju kamarnya. 

11 comments:

  1. mbk shin tangung,,,,,,,,lgi dong mbk,,,,,, ♥(ノ´∀`)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ntar jam 12 mgkn kelar sist.kl mau nunggu tak postingin, kl gak ya becok aja gpp ^__^

      Delete
  2. besokadja mba Shinnn,,,,spya aq punya bahan bacaan dkantor,,,hehehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha iya nih, belum kelar.. mentok..

      Delete
    2. huaaaa,terusannya mna,udh d rapel 4 bab bcanya jg msh kurang ni mba...xixixixi

      Delete
  3. wah..wah..wah..mbak shin..knapa makin complicated gini???T_T
    ji han ama jung min aja ya..ji han kan cinta pertamanya jung min,,
    kasian jung min...*memahami perasaan jung min saat cinta pertama bersama org lain...jiaaahhh jdi curhat,,,^^jdi malu saia...hohoh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha namanya jg cinta sist.. :ngeles:

      Delete
  4. Mbak shin itu foto diawal diambil dari serial apa?*maaf salah fokus*

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.