"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, December 10, 2012

Eight Drama - Chapter 26



Jung Min sedang berada di dalam ruang kerjanya saat Jung Nam mencarinya. Mereka duduk berhadap-hadapan, namun kali ini Jung Min selalu membuang wajahnya saat Jung Nam berbicara padanya. Dia tak ingin melihat senyum yang menyeringai di wajah adiknya itu.

“Jadi kamu sudah memutuskan untuk menikahinya? Apakah kamu mencintainya?” tanya Jung Min pura-pura tak tertarik meski dalam hatinya dia mencemaskan jawaban apa yang akan adiknya berikan.


“Aku belum memutuskan untuk menikahinya. Tapi yah.. Aku rasa aku mencintainya” jawabannya memberikan sebuah cubitan bagi hati Jung Min.

“Kalian.. Saling mencintai?” tanyanya lagi. Dia tak tahu mengapa dia menanyakan hal itu. Dia sudah cukup menderita mengetahui adiknya mencintai gadis yang sama dengannya. Namun dia ingin tahu, apa isi hati gadis itu. Sehingga setidaknya dia akan tahu bila dia masih punya harapan..

Jung Nam tergelak. “Dia akan mencintaiku. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku” jawabnya yakin.

“Bagaimana kamu seyakin itu dia akan mencintaimu? Apa kamu pernah menanyakan bila dia memiliki seseorang yang dia cintai? Kamu sungguh sembrono” katanya marah. Dia mencoba berakting menjadi seorang kakak yang menasehati adiknya.

Jung Nam menggaruk kepalanya. Tak pernah terlintas di dalam kepalanya bila Ji Han memiliki seseorang dalam hatinya. Dia malah langsung meminta gadis itu untuk menjadi pacarnya tanpa menanyakan kesiapannya.

Tapi dia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Ji Han. Gadis seperti itu tak setiap hari datang bekerja di rumahmu sebagai pengurus rumah tangga. Bila bukan dia, maka orang lain yang akan meminta gadis itu untuk menjadi pacarnya.

“Aku yakin dia belum memiliki seseorang. Selama ini dia hanya bersama ayahnya, dan bukankah dia baru tinggal bersama kakak dan ibunya? Dia tak pernah kemana-mana selain rumah ini. Kecuali dia mencintaimu, maka dia pasti mencintaiku” jawabnya sambil menyeringai.

“Tapi dia tak mungkin mencintaimu kan?? Kamu begitu kasar padanya. Gadis sepolos Ji Han tak akan senang diperlakukan kasar. Jadi aku menang. 1-0 untukku” dia tergelak hingga menekuk perutnya karena kesakitan.

Jung Min hanya memelototinya. Jantungnya berdebar memikirkan kemungkinan Ji Han juga memiliki perasaan yang sama untuknya. Tapi saat Jung Nam menuduhnya terlalu kasar pada Ji Han, semangatnya runtuh kembali. Dia memang selalu berbuat kasar pada gadis itu. Wajahnya murung.

“Jangan merengut seperti itu. Bukankah kamu juga akan bertunangan akhir bulan ini? Dengan Rossy Kang...” kata Jung Nam pelan saat menyebutkan nama wanita itu.

Jung Min memandangnya, tapi dia memejamkan matanya setelah itu.

“Tak usah mengingatkanku. Wanita itu sangat liar. Buas dan menakutkan” katanya.

“Kenapa? Dia ingin melahapmu ha?” Jung Nam tergelak lagi. Dia tak memperhatikan air muka kakaknya yang merah padam.

“Bila kamu menjadi aku, aku yakin kamu sudah jatuh dibawah kakinya sejak dulu” kata Jung Min mengelak.

“Rossy Kang... Dia memang ‘PANAS’. Sayang dia sudah memilihmu, kan?” dia tertawa lagi.

“Apa yang akan kamu lakukan dengan Rossy Kang itu?” tanya adiknya lagi.

“Aku tak tahu, aku tak ingin menghabiskan waktu setahun untuk menolaknya. Aku bisa saja menolaknya sekarang. Tapi kamu tahu, Mr. Kang akan murka. Dia akan mempersulit perusahaan kita” jawabnya murung.

“Lalu kenapa tak nikahi saja anaknya. Dengan demikian kita bisa memperkuat perusahaan kita kan?” Jung Min mendengar nada kesal dalam suara adiknya.

“Kenapa kamu menjadi marah?” tanyanya pada Jung Nam.

Sambil menghela nafasnya, Jung Nam mulai menceramahi kakaknya.

“Park Jung Min. Untuk sekali saja, lakukan yang ingin kamu lakukan. Untuk dirimu. Bukan untuk orang lain. Bukan juga untuk keluarga ini. Bukan juga untuk perusahaan yang ‘ayah’ wariskan untukmu” dan dia pun pergi meninggalkan kakaknya yang sibuk mencerna perkataannya.

~~~~

“Maaf aku memintamu masak untukku saat kamu sudah harus tidur” kata Jung Nam pada Ji Han. Mereka sedang berada di dapur. Ji Han membuatkannya makanan karena dia belum menyentuh apapun sejak siang. 

“Tidak apa-apa. Aku lah yang menyebabkanmu melewatkan makan siang dan makan malammu” dia tersenyum meminta maaf.

“Apakah tuan Jung Min memarahimu? Aku takut dia akan marah karena melihat kita..” dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia malu. Pipinya merona merah.

“Tidak. Mengapa dia harus marah? Dia sudah tahu hubungan kita. Aku katakan padanya, aku akan menikahimu” katanya terus terang.

Jung Nam memang tak suka menyembunyikan isi hatinya. Dia akan mengatakannya tanpa menambahkan ataupun mengurangi maksud perkataannya.

“Dia sudah tahu? Dan apa katanya?” Ji Han benar-benar ingin tahu reaksi Jung Min tentang hubungannya dengan Jung Nam.

“Tapi? Kenapa kamu bilang kamu akan menikahiku? Aku tidak..” katanya saat menyadari kalimat terakhir Jung Nam.

“Ji Han.. Aku serius. Aku katakan berkali-kali, aku serius padamu. Aku tak ingin hubungan ini hanya sekedar berpacaran tanpa ada komitmen. Karena aku merasa, denganmu..berbeda. Aku merasa ada masa depan untuk kita. Aku mempercayai perasaanku. Aku mencintaimu” dia menatap mata Ji Han, meminta gadis itu untuk melihat ketulusan dalam matanya.

Ji Han gelisah, dia tak mengerti mengapa Jung Nam menatapnya seperti itu. Laki-laki itu bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Namun Ji Han tak siap menerima cintanya, hatinya tak siap. Bagaimana dengan hatinya? Hatinya merindukan laki-laki lain. Laki-laki yang bahkan tak pernah melihatnya lagi.

“Jung Nam.. Tidak.. Aku.. Aku tak memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Aku tak bisa menerima cintamu..” katanya kebingungan.

Jung Nam menangkap tangannya, menggenggamnya dan menenangkan gadis itu.

“Ji Han.. Ji Han.. Sayang.. Aku tak akan memaksamu. Aku tahu, semua memang sangat cepat, tapi kamu tak bisa menolak cinta saat dia menyapamu. Dan cintaku padamu menyapaku saat kita pertama kali bertemu. Saat kamu duduk disana, membantuku menahan angin dari korek apiku. Kamu ingat? Saat itu.. Aku sudah jatuh hati padamu” dia mengucapkannya dengan penuh perasaan, sehingga Ji Han tahu, laki-laki itu benar-benar mencintainya.

Andai seseorang di dalam sana sama seperti adiknya, Ji Han tak akan menderita sekarang karena bimbang dengan siapa yang harus dia pilih.

“Jung Nam.. Aku benar-benar tak bisa... Aku..”

Jari tangan Jung Nam mencegahnya untuk melanjutkan kata-katanya.

“Aku tak menerima penolakan malam ini, Ji Han. Setelah perjalanan jauh ini, setidaknya aku mengharapkan kamu akan berkata “Aku akan mencobanya Jung Nam”, katakanlah Ji Han. Katakanlah demi aku”

Jung Nam tak tahu mengapa dia bersikeras agar Ji Han mau menerimanya, mungkin dia tak ingin melepaskan gadis itu, dia belum mau menerima kalah saat dia belum memulai perjuangannya untuk merebut hati gadis itu.

Dia tak akan menyerah. Dan lebih baik laki-laki yang ada dalam hati gadis di depannya itu memperbaiki strateginya karena dia akan merebut posisinya dari dalam hati Ji Han. Jung Nam tersenyum manis, teramat sangat manis..

~~~~

“Permisi” Ji Han sengaja memberitahu kedatangannya pada saat tubuhnya mendorong pintu kamar Jung Min.

Laki-laki itu belum berangkat ke kantornya, bahkan dia belum bersiap-siap. Dia masih memakai piyama putih dan sedang membuka laptopnya.

Dia memandang sekilas kedatangan Ji Han. Tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Kamar itu benar-benar sunyi, hanya suara piring dan gelas yang diletakan di atas meja yang terdengar.

Meski Ji Han berjalan kearah pintu keluar, laki-laki itu tetap tak memanggilnya seperti yang biasa dia lakukan.

“Apakah dia telah kehilangan selera untuk menggangguku?” Pikir Ji Han.

Ji Han tak dapat menghilangkan keingintahuannya. Dia memutuskan untuk bertanya pada laki-laki itu.

“Err.. Soal beberapa hari yang lalu.. Aku..”

“Tak akan pernah terulang lagi, bila itu yang kamu takutkan” Jung Min mengatakannya dengan dingin, seolah memang tak pernah terjadi apa-apa.

Ji Han terhenyak tak menyangka akan mendapat sikap dingin laki-laki itu. Jung Min kini menatapnya.

“Apa yang kamu harapkan akan aku katakan, nona? Bahwa aku menyesal dan minta maaf? Tidak, aku tak akan minta maaf, karena aku tak menyesal” katanya sinis.

Dia ingin memukuli mulutnya sendiri karena selalu menyakiti gadis itu. Mengapa dia tak bisa sekali saja berkata manis padanya. Cukup katakan padanya bahwa apa yang mereka lakukan sangat berarti baginya, karena dia menyukainya, karena dia tertarik padanya, karena dia jatuh hati padanya..

“Kamu memang benar-benar laki-laki kejam Jung Min. Aku telah salah menilaimu. Kamu memang tak layak untuk dicintai” Ji Han menyeka air mata yang mulai turun di pipinya. Dia berlari keluar kamar itu dengan tangis terisak. Jung Min mengejar dibelakangnya.

15 comments:

  1. aiiikkkhhhh mkin galau ak bcanya,ji haaaaaaannn
    jgn lari jug min mw minta maaf tu....haaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah iya nih jihan.. main lari doank... yah namanya jg cewek lol

      Delete
    2. hahaha...pling d tangkep tar..xixi
      bab 27nya msih lma y mba?? "cuma nanya aj"

      Delete
  2. ya ampun...
    jung min dan Ji Han maen kejar-kejaran....
    kayak di pelm-pelm india gitu,,,
    bleh ikutan maen ngak aku....
    ahahhahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh sist,, jd pohonnya ya? biar mereka bisa kejar-kejaran ngelilingi pohon. wkwkwkkwkw :peace sista:

      Delete
  3. Kya,dikejar.png tw kelanjutanya,slalu bkn galau :((

    ReplyDelete
  4. hahahhaa...

    jung min penasaran juga....

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl gak penasaran ntr ceritanya gak nyambung sist :D

      Delete
  5. Replies
    1. ah kok aku? bukannya km yg suka ngelesin murid sist? ^__^V

      Delete
    2. mba itu les y mba

      bukan ngeles....

      hihihihi

      Delete
  6. hayyyaaa mba shin minta dikejar nih sama hugo...

    mba minta linknya yg isinya anak2nya mba dong, ilang nih...

    hehehe

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.