"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, December 11, 2012

Eight Drama - Chapter 29



“Kamu mau kemana, nona? Saya siap mengantarkan anda, meskipun ke langit ke tujuh” tanya Kim In menyeringai sambil berakting menjadi sopir taksi. Mereka semua tergelak karena leluconnya.

“Aku tak tahu, aku belum ingin pulang ke kediaman Park..” jawabnya. Ji Jeong menyadari kegalauan hati adiknya itu.

“Bagaimana kalau kita ke taman bermain? Aku akan mentraktir kalian” katanya memberi ide.


“Wah, kamu akan mentraktirku juga Ji Jeong?” tanya Kim In antusias.

“Mengapa? Kamu tak mau ditraktir?”

“Mau sekali!! Yihhaa!!! Ayo kita pergi ke taman bermain!!” seru Kim In gembira. Dia menancap gas mobilnya dan meluncur menuju jalanan perkotaan yang lebih ramai.

“Kenapa kalian berada dijalan iyu tadi? Kemana tuan Jung Min? Dia tak bersamamu?” tanya Ji Han ingin tahu.

“Oh, kami baru saja dari makan siang, pekerjaan di kantor sangat menyita waktu sampai-sampai tak ada waktu untuk makan siang..jiss..” kata Kim In menghela nafasnya.

“Jung Min, dia keluar bersama Rossy Kang. Mungkin kamu belum tahu, wanita itu tunangannya. Mereka mau melihat gaun untuk Rossy kalau aku tak salah dengar tadi” lanjut Kijm In.

“Nanti, kalau kamu sudah lulus dari kursus itu, kamu juga bisa sambil belajar membuat gaun pengantin Ji Han” kata Ji Jeong melanjutkan perkataan Kim In.

Mereka tak melihat wajah Ji Han yang mendung, gadis itu sedih. Dadanya terasa nyeri, namun bukan fisiknya yang terluka, tapi hatinya, hatinya yang sedikit demi sedikit meragukan cinta di hatinya kepada Jung Min.

“Pantaskah kamu menunggu hubungan yang tak mungkin ini?” tanya Ji Han pada hatinya.

Setibanya di taman bermain, Ji Jeong membawa adiknya berjalan-jalan dan mencoba hampir semua wahana disana. Untuk sesaat, Ji Han mampu melupakan sakit hatinya karena Jung Min. Sepulangnya dia dari sana, Ji Han berjanji akan lebih tegar menghadapi masa depannya.

Saat Ji Jeong mengantarkannya pulang ke kediaman keluarga Park, matahari telah terbenam. Dia tak sempat memberi kabar pada bibi Ra Ni atau pada siapapun dirumah itu. Sehingga saat dia turun dari dalam mobil, bibi Ra Ni menghampirinya dengan khawatir.

“Ji Han.. Kamu dari mana sajaa?? Kami mengkhawatirkanmu. Handphonemu pun tak bisa dihubungi. Kenapa kamu tidak memberi kabar?? Tuan Jung Min, dia menelphone tadi menanyakanmu, dan saat dia tahu kamu belum pulang dia langsung kembali dan mencarimu, dia belum pulang sampai sekarang” kata bi Rani padanya.

“Maafkan aku bi, aku lupa memberi kabar” kata Ji Han khawatir.

Dia masih belum sanggup menerima kabar pertunangan Jung Min sehingga energinya terkuras karena memikirkan laki-laki itu sehingga lupa bahwa dia memiliki tugas yang harus dia kerjakan.

“Kami yang salah bi, kami mengajaknya keluar saat dia hendak pulang. Ah, maafkan, saya Ji Jeong, kakak Ji Han. Dan ini Kim In. Mungkin anda sudah tahu dia” kata Ji Jeong pada bi Ra Ni.

“Ya sudahlah, aku akan menjelaskan seperti itu pada tuan Jung Min. Kalian pulanglah, Ji Han juga masih harus melanjutkan tugasnya. Bila sampai anggota keluarga ini tahu dia kemana, akan menyulitkannya” kata bi Ra Ni lagi.

Setelah mereka berpamitan, Ji Han kemudian membersihkan kamar-kamar yang belum sempat dia bersihkan karena tak langsung pulang dari tempatnya kursus. Dia sedang membersihkan kamar Jung In saat Jung Min masuk dengan marah ke dalam kamar adiknya dan menyeret Ji Han masuk ke dalam kamarnya.

Gadis itu meronta karena pergelangan tangannya sakit di cekal dengan kasar.

“Mengapa? Mengapa kamu melakukan hal itu?? Kamu sengaja membuatku marah??!!” teriaknya pada Ji Han.

Laki-laki itu benar-benar marah dan khawatir. Gadis itu tak tahu betapa khawatirnya dia saat mendengar gadis itu belum juga pulang kerumah. Dia harus membatalkan pertemuannya dengan seorang relasi penting demi mencari gadis itu.

Mencarinya di tempat kursusnya namun tempat itu telah tertutup dan tak ada seorangpun disana. Dia menanyakan hampir semua toko di sepanjang jalan menuju rumahnya namun tak ada yang melihat gadis itu.

Saat dia putus asa karena tak bisa menemukannya, dia merasa gila, sangat gila hingga dia sanggup untuk membunuh. Dia mengkhawatirkan keselamatan gadis itu dan tak mendengar sebuah kabar apapun darinya semakin menambah kekhawatirannya.

Dia menelphone hampir setiap lima menit kerumah nya, namun tak ada kabar tentang kepulangannya. Baru setelah pukul tujuh malam bibi Ra Ni menghubunginnya dan mengatakan Ji Han telah pulang dengan selamat.

Barulah dia bisa bernafas lega, namun dia sangat marah pada gadis itu. Sangat marah hingga dia ingin mencekiknya seperti dulu.

“Aku hanya pergi bersama kakakku, tidak ada yang salah dengan hal itu” jawab Ji Han tenang.

Jung Min tak mempercayai pendengarannya. Gadis itu menjawabnya dengan enteng seolah semua kegilaan yang dia sebabkan padanya tak ada artinya sama sekali. Dengan kasar dia menarik tubuh gadis itu dan menjatuhkannya diatas ranjang.

“Jadi kamu sengaja ha? Kamu sengaja melakukan itu padaku? Agar aku menjadi gila karena mencemaskanmu?” Jung Min marah diatasnya, dia merobek pakaian Ji Han hingga gadis itu telanjang dibawahnya.

Dia ingin memperkosanya, menyakitinya.

“Hentikan!! Kamu sedang emosi, kamu akan menyesali perbuatanmu!! Jung Min hentikan!!” teriak Ji Han putus asa.

Tapi laki-laki itu semakin bergairah mendengar teriakan Ji Han. Dia mencium bibir gadis itu dengan brutal. Menyakitinya, menghukumnya karena telah membuatnya tak waras. Jung Min menggigit bibir gadis itu lagi, hingga darah segar membasahi bibir mereka. Ji Han menangis kesakitan dibawahnya.

Ji Han telah pasrah saat Jung Min membuka pakaiannya sendiri, bersiap untuk menyatukan tubuh mereka. Ya, mereka berdua tak memakai pakaian apapun. Dibawah ranjang, pakaian Ji Han yang terkoyak berserakan di aras karpet, Jung Min kini menindihnya.

Saat dia tak mendapatkan perlawanan lagi dari gadis itu, perlahan-lahan dia mendapatkan kewarasannya kembali.

Tanpa diduganya, Ji Han merasakan tubuh Jung Min berguling kesampingnya. Laki-laki itu tak jadi menyetubuhinya. Dia hanya memejamkan matanya disamping tubuh Ji Han. Tak bersuara, hanya nafasnya yang berat yang terdengar.

“Maafkan aku.. Aku khilaf..” setetes air mata turun dari matanya yang terpejam.

Ji Han menyelimuti tubuh mereka yang telanjang. Udara dingin membuatnya menggigil. Kemudian dia memeluk tubuh laki-laki itu. Isakan tangisnya terdengar pelan.

Jung Min membuka matanya, menghela nafasnya dengan berat. Dia memandang wajah Ji Han, melihat bibirnya yang berdarah lagi. Dia mengelus lembut bibir itu.

“Aku menyakitimu lagi..” katanya sedih. Dia sangat membenci dirinya saat itu.

“Kamu hanya khilaf.. Akulah yang bersalah karena tak memberi kabar dan pergi saat aku harus bekerja” kata Ji Han tak ingin menambahkan beban pada pundak laki-laki itu.

“Persetan dengan hari kerja. Aku harus memberimu libur agar kamu tak terkurung hanya di dalam rumah” Jung Min menggertakan giginya.

“Kamu berjanji akan memberikanku libur tambahan?” Ji Han mulai tertarik dengan topik obrolan mereka.

“Ya.. Jangan senang dulu. Aku memberimu libur bukan untuk kamu habiskan dengan orang lain. Hanya aku yang berhak menghabiskan hari liburmu” katanya egois.

“Selamat atas pertunanganmu..” kata Ji Han akhirnya, dia tak tahan untuk menyembunyikan perasaannya lagi.

“...Aku mencintaimu, Ji Han. Aku ingin kamu tahu itu” kata Jung Min pelan. Dia tak ingin menyakiti hati gadis itu, dia ingin gadis itu mempercayainya.

“....Aku tak tahu, Jung Min. setelah mengetahui kamu akan bertunangan dengan wanita itu, aku tak tahu lagi. Apa yang harus aku harapkan dari hubungan ini?” tanyanya sedih.

“Bersabarlah, Ji Han. Aku akan segera membereskan masalah ini. Aku hanya perlu meyakinkan Mr. Kang bahwa aku tak mencintai putrinya, aku mencintai gadis lain. Dan itu kamu” dia menyentuh wajah gadis itu. Menghapus sisa-sisa tangis di wajahnya.

“Aku akan mengurus semuanya, OK? Kamu cukup percaya padaku. Dan yakinlah, aku tak akan mengkhianati cinta kita” katanya tegas. Dia tak ingin Ji Han ragu pada perasaannya.

“Bagaimana aku harus keluar dari sini? Kamu menghancurkan pakaianku” dia menarik nafas panjang, kebingungan dan sedih.

“...Kenapa kamu tak tinggal disini saja malam ini? Besok pagi-pagi aku akan mengantarmu ke kamarmu..” suara Jung Min parau.

“Tidak akan. Aku masih marah padamu Jung Min. Kecuali kamu memaksaku, aku akan pergi dari sini, dengan pakaianmu” jawabnya sambil membelalakan matanya.

“Jangan kira aku tak bisa memaksamu, Ji Han... Aku sangat bisa.. Sedikit saja sentuhan disini...disini..atau disini... Kamu akan menjadi panas..dan tak mungkin menolakku” tangannya bermain dipangkal paha gadis itu.

“Jung Min...aku..jangan..” desahnya terputus-putus.

“Jangan apa Ji Han..? Jangan berhenti..?” kini dia mencium bibir gadis itu. Saat tangannya bergerak dengan cepat dibawah tubuh gadis itu, Ji Han mencengkeram lengannya dengan keras, kemudian tubuhnya mengejang dibawahnya.

Jung Min memberinya sebuah hadiah yang masih akan terasa melemaskan kakinya hingga esok pagi.  

Saat gadis itu telah sampai di dalam kamarnya, dia mengintip dari celah pintu yang terbuka. Jung Min mengantarnya hingga gadis itu tiba dalam kamarnya.

“Aku penasaran, kemana kamu membuang celana dalamku?” tanyanya berbisik.

“Kenapa kamu berbisik?” Jung Min ikut berbisik.

“Karena aku tak ingin orang lain mendengarnya..” jawab Ji Han, masih berbisik.

“Kamu ingin tahu?” tanya Jung Min. Ji Han menganggukan kepalanya.

“Sini..telingamu..” perintahnya.

Saat laki-laki itu memberitahunya, Ji Han mencubit pipinya kesal.

“Pergi ke kamarmu. Kamu hanya membuatku kesal” jawabnya sambil mengunci pintu kamarnya.

“Ya.. Aku sudah bilang tidak boleh mengunci pintu.. Tapi aku merubahnya, aku tak ingin laki-laki lain memergokimu tidur telanjang” katanya sambil tersenyum kemudian berlalu dari sana.

21 comments:

  1. Replies
    1. hahahah.. hanya mereka berdua yg tahu.. lol lol lol

      Delete
    2. Mba,,,,dmana CDny Ji Han??????*penasaran tingkat dewa*

      Delete
  2. Replies
    1. yg bagian mana sist romantis? yg bagian celana dalam? wkwkkwkwkw

      Delete
  3. ciee... yg saling goda2an nih yeeee..
    cihuuuyy.. Jung Min pasti bakalan usaha mati2an buat memiliki Ji Han..
    ayo Jung Min.. FIGHTING!!!

    mbak Haido juga FIGHTING!!!!
    semangat terus nulisnya mbaaakk... *kecup2

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah fightinggg!!! ujan nih... :nggak nyambung:

      Delete
  4. hahahahah


    masih kuran HOT mba....
    mana adegan kamar mandinya???
    wkwkwkwkwkkkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, iya tuh mbak Fathy, kan kita nungguin adegan kamar mandinyaaaa.... *yg ginian radar lgsg nangkep.. PLETAK!!!

      Delete
    2. belum... tunggu tanggal mainnya ^__^

      Delete
    3. Adegan kamar mandiny dbath tub adja mba shin,,,,hehehehehe,,,,

      Delete
    4. susah sist dalam bath tub.. gak bebas geraknya. wkkwkwkwkkw

      Delete
    5. Wkwkwkwkwkwkwkkwkkkk,,,, *jadi mikir bagusny dimana yagh,,,,,?????

      Delete
    6. the best always on the bed lah ^__^

      Delete
  5. Hduh lcu bgt,unyu2 perckapanny,tp da romantisnya jg.lg dunk mba shin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehhe entar ya sist... tp jgn ngamuk kl udah aku posting ^__^Viss..

      Delete
  6. Aaakkkkk,,,hr ni dmnajain sm 3chapter lgsg...
    Mksh Mbaaaa Shin...

    ReplyDelete
  7. (╯︵╰,) sebel !!!!!
    Cerita yah bikin mau banting karena gre-gretan banget !!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. apanya mau dibanting sist? hp nya? sini2 banting kesini aja biar aku tangkep ^__^

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.