"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, December 11, 2012

Eight Drama - Chapter 30



Suasana hati Jung Min sangat baik keesokan harinya, seluruh keluarganya bengong menatapnya seakan laki-laki itu telah menabrakan kepalanya ke dinding.

“Kenapa tatapan kalian seperti itu?” katanya kesal. Dia tak nyaman dipandangi seperti itu.

Seluruh keluarganya tergelak. Dia merasa dirinya ditertawakan, tapi masa bodoh. Hatinya sedang gembira saat itu. Hubungannya dengan Ji Han telah membaik kembali.


Nanti malam dia akan memberitahu Ji Han mengenai pertunangannya dengan Rossy, tentang rencananya dan dia berharap Ji Han akan mau memahaminya. Meski dalam hatinya dia merasa menuntut terlalu banyak pada gadis itu.

Bisakah dia menerimanya? Bisakah dia menunggu satu tahun untuknya? Tidak, mungkin tak selama itu. Jung Min akan berusaha membatalkan pertunangan itu secepatnya. Kini dia hanya perlu mengikuti keinginan Mr. Kang untuk mengadakan pesta pertunangannya dengan Rossy.

Ji Han berkeliling mengitari meja makan sambil menuangkan minuman pada keluarga majikannya. Saat dia berada di samping Jung Min, tangan laki-laki itu menyentuh tubuhnya, mengalirkan getaran yang membuat kaki Ji Han goyah. Ji Han memelototi laki-laki itu. 

Tanpa sepengetahuan mereka, Jung Nam memperhatikan diam-diam. Matanya memandang tajam sepasang insan yang sedang dimabuk asmara itu. Senyum getir terlihat sekilas diwajahnya. Tak ada yang tahu, dia juga aktor yang pandai menyembunyikan perasaannya bila terpaksa.

“Jadi.. Pesta pertunangan kalian akan diadakan di hotel The Grand?” tanya Jung Nam pada kakaknya.

Semua orang menatap Jung Min ingin tahu jawaban yang akan dia katakan. Sebuah informasi baru yang akhirnya diketahui Ji Han.

“Ji Han, tolong tuangkan gelasku jus jeruk” panggil Jung Nam padanya sambil berkedip.

Dia tak ingin gadis itu pergi dari ruang makan, dia ingin Ji Han mendengarkan apa yang harus dia ketahui tentang pertunangan Jung Min. Dan Jung Nam akan dengan senang hati membeberkan apa yang kakaknya sembunyikan dari gadis itu.

“Oh ya, kalian sudah mengepas pakaian kan? Pakaian apa yang kamu pilih? Rossy pasti sangat cantik dengan gaun yang kamu pilih, kan?” Jung Nam selalu tahu cara untuk menuangkan bensin pada api yang sedang berkobar.

Dia akan membuka semuanya sekarang. Tak ada lagi yang ditutup-tutupi. Bila dia mencintai gadis itu, Jung Min harus berjuang mati-matian untuk mempertahankannya. Kakaknya yang malang.

Jung Min tak menjawabnya, dia sibuk membaca ekspresi diwajah Ji Han. Mencari tanda-tanda kemarahan atau kebencian dalam mata gadis itu. Tapi dia tak mau membalas tatapannya. Dia selalu menunduk dan sibuk dengan gelas-gelas yang harus dia isi dengan minuman.

Sedangkan semua orang masih menunggu jawabannya. Dia tak tahu harus menjawab apa..saat gadis itu berada disana. Dia akan terluka..

“..Ya, Mr. Kang memilih tempat itu sebagai lokasi pesta. Aku tak tahu mengenai gaun yang akan dia pakai, aku meninggalkannya di butik. Aku tak punya waktu untuk melihatnya memakai gaun yang dia pilih sendiri” jawabnya jujur. Kebohongan tak akan membantunya memperoleh kepercayaan gadis itu.

“Ah.. Sayang sekali, padahal kalau kamu lihat saat dia memakai gaunnya kamu pasti langsung jatuh hati padanya, sehingga kalian tak perlu menunggu setahun untuk menentukan tanggal pernikahan, kan?” Jung Nam semakin menjadi-jadi dengan pernyataannya.

Jung Min menatapnya dingin, baru kali ini dia merasa benar-benar marah pada adiknya itu. Dan Ji Han berlari dari sana, meninggalkan gelas pitcher di atas meja dan berlari menuju kamarnya. Menguncinya dan menangis terisak diatas ranjang. Hatinya telah hancur. Harapannya telah musnah.

Jung Min bangkit dari kursinya dengan kasar. Dia melemparkan napkin ke atas meja. Dengan langkah lebar dia mengikuti Ji Han ke kamarnya, tapi gadis itu telah menutup pintunya.

Jung Min tak dapat membukanya, pintu itu terkunci. Dia dapat mendengar isak tangis gadis itu meski telah ditutupinya dengan bantal. Hati Jung Min terasa sakit mendengar tangisan gadis itu, dan dia lah penyebabnya.

Andai dia lebih berani memberitahu gadis itu tentang rencana pertunangannya, dia tak akan perlu mendengar hal itu dari Jung Nam. Dan mengapa adiknya harus dengan sengaja membeberkan hal itu di meja makan???

“Ji Han... Tolong buka pintunya, kalau tidak aku akan memaksa masuk” kata Jung Min.

Ji Han tak menjawabnya. Dia belum sanggup menemui laki-laki itu. Dia belum siap mendengar alasan Jung Min. Dia hanya menangisi dirinya karena telah begitu bodoh.

“Ji Han.. Akan aku hitung sampai tiga” Jung Min serius dengan ancamannya.

Ji Han gelisah di atas ranjangnya, dia takut laki-laki itu masuk ke kamarnya. Dia tak ingin terlihat berantakan seperti itu. Hidungnya bengkak dan matanya sembab karena menangis, dia akan terlihat sangat lucu.

“Jung Min” panggil ibunya dari arah ruang makan.

“Sebentar bu” teriaknya.

“Ji Han. Cepat buka pintunya!!” Jung Min menggedor-gedor pintu kamar gadis itu.

“Pergilah.. Aku..ingin sendirian untuk sementara waktu” jawabnya serak diantara isak tangisnya.

Jung Min tak memaksanya lagi. Tangannya berhenti menggedor pintu itu. Dia mengerti, Ji Han pasti tak ingin bertemu dengannya sekarang. Dia butuh waktu untuk merenungkan kabar yang baru saja didengarnya.

“Aku akan berbicara denganmu nanti malam. Jangan hindari aku lagi. Tolong..” kata Jung Min memelas.

Dia pun pergi dari pintu kamar Ji Han. Sesampainya diruang makan dia tak menggubris ibu dan saudara-saudaranya. Dengan langkah cepat dia masuk ke dalam mobilnya dan berlalu.

Dibelakangnya Jung Nam mengendarai motornya dengan kencang, saat dijalanan lurus, motor itu mendahului mobil kakaknya.

~~~~

Ji Han tetap mengunci pintu kamarnya saat Jung Min mencarinya malam itu. Dia belum ingin ditemui. Ji Han merasa kelelahan setelah pulang dari kursus dan membersihkan seisi rumah. Sore hari turun hujan, sehingga dia harus mengepel ulang ruangan yang terkena tetesan air hujan.

Dia tak menyadari saat Jung Min duduk di sisi ranjangnya, menatapnya penuh kerinduan. Laki-laki itu memiliki kunci cadangan untuk masuk ke dalam kamar Ji Han. Dia tak perlu mendobrak pintu itu lagi. Dia tak ingin membangunkannya.

Lama dia disana memandangi wajah Ji Han yang sedang tidur. Dia tak akan pernah merasa bosan menatap wajah Ji Han yang sedang terlelap. Saat dia mengecup keningnya mengucap selamat tidur, Jung Nam berdiri diluar pintu kamar gadis itu. dia melihat kakaknya mengecup kening Ji Han. Hatinya sedih, dan terluka. Dia harus memilih kakaknya atau orang yang dia cintai. Tanpa sepengetahuan Jung Min, dia pergi sebelum laki-laki itu menutup kembali pintu kamar Ji Han.

~~~~

Ji Han sudah tak pernah mengantarkan sarapan lagi ke kamar Jung Min dan laki-laki itu bertanya-tanya tentang hal itu. Sudah seminggu gadis itu menghindarinya, membuat Jung Min hampir kehilangan kewarasannya. Mereka tak pernah bertemu akhir-akhir ini, ada saja yang Ji Han lakukan dan Jung Min tak akan menemukannya.

Seperti hari minggu lalu, pagi-pagi Ji Han telah pulang kerumahnya bersama Jung Nam, mereka mengendarai motornya tanpa memberitahunya.

“Info apa lagi yang Jung Nam recoki kepadanya” kata Jung Min kesal.

Jung Nam juga mulai menghindarinya, adiknya sama-sama menyebalkan seperti Ji Han. Mereka tak pernah berbicara lagi sejak peristiwa di meja makan. Dan bodohnya Jung Min, dia tak tahu bila isi hatinya telah diketahui oleh adiknya. Mereka mencintai gadis yang sama. Dan adiknya telah memilih, dia memilih Ji Han diatas kakaknya.

“Dua hari lagi pesta pertunanganmu diadakan. Bagaimana perasaanmu?” tanya ibunya saat mereka duduk di teras.

Jung Min sengaja pulang lebih awal sore itu, dia tak dapat berkonsentrasi saat pekerjaannya terganggu oleh pikiran Ji Han bersama dengan Jung Nam.

Mereka tak bekerja dalam satu ruangan, sehingga dia tak tahu apa yang sedang adiknya lakukan. Kadang dia mendapat kabar bahwa Jung Nam selalu pulang lebih awal, pukul enam sore. Dia pasti akan mengganggu Ji Han di rumah.

“Ibu seperti wartawan, menanyakan hal tak penting seperti itu” jawabnya tak acuh.

Dia sedang menunggu Ji Han keluar dari kamar Jung Nam, dia telah membersihkan kamar itu sejak satu jam yang lalu.

“Kenapa? Kamu tak merasa cemas bila semua orang tahu tentang pertunangan kalian?” tanya ibunya lagi.

“Ibu.. Aku tak perduli. Itu semua hanya sandiwara. Dan aku tak berencana untuk merubahnya menjadi kenyataan” jawab Jung Min. Matanya masih mengawasi pintu kamar Jung Nam.

“Aku pergi dulu” katanya dan berdiri meninggalkan ibunya yang sedang membaca buku.

Jung Min mengejar Ji Han saat gadis itu keluar dari kamar Jung Nam. Dia mengikutinya masuk ke dalam ruang tamu. Jung Min menahannya dan mengajaknya masuk ke dalam ruang kerjanya.

“Duduklah” katanya datar.

Ji Han duduk jauh darinya, dia tak mau menoleh pada Jung Min.

“Sampai kapan kamu akan menghindariku? Itu sajakah yang bisa kamu lakukan?? Menghindar?” tanyanya kesal. Dia frustasi menghadapi gadis itu.

“Ji Han.. bicaralah. Katakan apa yang kamu pikirkan. Aku tak bisa menjalani hubungan ini sendirian. Aku harus tahu apa yang kamu inginkan” katanya lagi.

“Kita tak ada masa depan, Jung Min.. Aku tak tahu bila aku akan sanggup menjalani hubungan bersamamu tanpa tahu kejelasan masa depan kita. Aku bahkan tak tahu apa-apa tentangmu. Menunggumu untuk mengatakannya padaku seperti menunggu kereta yang tak kunjung tiba” jawab Ji Han.

Jung Min kecewa padanya, iya Ji Han tahu. Dia telah memilih kata-kata itu agar Jung Min kecewa padanya. Jung Nam memberitahu semua yang perlu dia ketahui. Bagaimana Jung Min dijodohkan oleh ayahnya dengan Rossy Kang dan mereka akan bertunangan beberapa hari lagi. Itu bukan hal main-main, bagaimana Jung Min bisa menganggap hal itu tak serius.

Bagi Ji Han, mencintai laki-laki yang telah memiliki seseorang yang akan dia jadikan istri, sama dengan membuat dirinya menjadi pasangan selingkuhnya. Dia tak ingin menciptakan aib bagi keluarganya.

Meski hatinya sakit, tapi Jung Min tak memberinya pilihan lain, selain melupakan laki-laki itu. Dua bulan lagi dan dia akan pergi dari rumah itu.

“Dan kamu punya masa depan dengan Jung Nam??? BEGITU maksudmu?” suaranya terluka. Ji Han dapat merasakan kesakitan yang terpancar dari sorot mata laki-laki itu.

“Benar. Aku mungkin punya masa depan dengannya” jawab Ji Han membenarkan kata-kata Jung Min.

Jung Min tertawa keras. Tawa yang mampu mengiris hati Ji Han. Laki-laki itu tak tertawa karena dia senang, bukan pula karena dia lega. Tapi karena hatinya telah terluka karena dikhianati.

“Jadi.. semua wanita memang sama, ha? Kalian mendekati laki-laki hanya untuk dimanfaatkan? Saat kamu tak bisa memanfaatkanku, kamu mencari Jung Nam?” wajahnya meringis kesakitan. Nafasnya mulai terasa berat.

“Kamu kejam Ji Han. Sangat Kejam. Kamu bahkan tak memberikanku kesempatan untuk memperbaiki masalah ini?”

“Tapi tak apa... Aku akhirnya tahu seperti apa sebenarnya dirimu. Kamu... tidak... Wanita sepertimu memang menyedihkan...” kata-katanya tercekat saat mengucapkannya.

Jung Min menutup pintu dibelakangnya perlahan. Dia tak ingin meledak di depan Ji Han. Dia masih mencintai wanita itu, dia tak ingin mengotori mulutnya dengan caci maki yang memenuhi dadanya.

Terasa sesak, dia merasa nafasnya berat, sungguh berat. Seberat luka dihatinya.

Jung Min mengambil kunci mobilnya dan mengendarai mobil itu dengan kencang. Dia tak perduli kemana arah membawanya, dia hanya ingin pergi dari sana. Jauh dari sana. Dari gadis itu... 

16 comments:

  1. Taruhan,,,nanti si Jung min kecelakaan & bakal amnesia bin insomnia,,,
    Trus merit ma si Rossy & akhirny si Ji Han krna merana merit ma Jung nam,,,
    Tapi begitu si Jung min sadar sesadar-sadarny,,,,dy bakal m'perjuangkan apa yg m'jadi HAKny,,,
    & akhirny PERANG SAUDARA pun dmulai,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk.. taruhan brp sist? wkkwkwwk kl gt ntar ceritanya ngulang kyk fifth drama donk? gak asik.. wkkwkwkw

      Delete
  2. aduch galau aku nich,
    mikirin hubangannya Jihan ma Jungmin,
    wkkwkwkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... tenang sist... inget2 aja nanti ada shower scene yg akan menghilangkan kegalauanmu.. :ngakak:

      Delete
  3. Aduh mkn galau,bdoh bgt jung min gtw kalo jung nam udh tw.ckckc sni aq bsikin :)

    ReplyDelete
  4. lagi-lagi galau, iya kayKnya jung min bakal kecelakan tp ngk mnesia...... (●⌒∇⌒●)

    ReplyDelete
  5. Jung Nam jahaaaaatttt,,Jung Nam Jahaaaattttttt... *siapin pacul*
    Aaaahhhh Jung Min... Cup,,cup,,cup...
    Mbaaaa Shin...jgn dbkn amnesia,,ckp kclakaan ajja,,tp jgn amnesia,,yah,,yah,,yah...
    Biar Ji Han n Jung Nam nyesel..
    #maksa

    ReplyDelete
  6. aaa.. kok jadi gini??
    Jung Min, ayo pertahankan Ji Han. seorang wanita dia juga harus merasa dibutuhkan, jgn cuma krna pengen aja trus didekatin..

    Ji Han, bersabarlah, cinta sejatimu pasti akan mendatangimu..

    mbak Shin, ayo mbak, aku tunggu lanjutannya..
    semangat terus ya mbaakk.. FIGHTING!!!

    ReplyDelete
  7. jd bingung siapa yg mau dcubit pk tang, jung min, jung nam ato ji han? ato tiga2nya ya? *mulai mengasah*
    hmmm, mnrut aq mbk shin gak bakal critax jd klise gt kyk sinetron indonesia, iya kan mbk? *kedip*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha ini kan drama korea sist. musti angst angst angsttt... :ngakak:

      Delete
  8. mbak ..... Jungmin kecelakaan bareng rossy aja...
    Trus rossy mati huahahahahahaha
    penghalang jungmin dan jihan tak ada lagi....
    Hahahahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha mending ending gt ya sist? pdhl tadinya mau aku kasi happy ending buat semuanya.. berhubung ada request begini.. apa aku rubah yak? hmm :ngelus jidat:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.