"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, December 11, 2012

Eight Drama - Chapter 31



Setelah berjam-jam dijalanan tanpa arah, Jung Min mengemudikan mobilnya menuju pabrik miliknya. Dia berhenti di depan sebuah toko kelontong kecil. Dia ingin membeli rokok, sepanjang perjalanannya tadi, dia telah menghabiskan satu bungkus rokok penuh.

Ketika dia melihat toko itu, dia teringat dengan perjumpaannya pertama kali dengan Ji Han.

“Toko ini tak banyak berubah, ha” katanya pelan.

“Aku tak menyangka bayi mungil itu telah berubah menjadi gadis yang sangat menyebalkan” Jung Min tertawa getir.


“Tuan Jung Min?” Bibi Sung, ibu kandung dari Ji Han menyapanya. Wanita itu baru saja hendak menutup tokonya, hari sudah malam saat Jung Min mampir kesana.

“Malam..” sapanya sopan.

“Wah..wah.. Apa gerangan yang membawa anda kemari malam-malam begini?” tanya bibi Sung gembira. Dia memang mengagumi anak-anak keluarga Park sejak mereka kecil.

“Aku hanya kebetulan lewat dan rokokku habis. Bisakah aku mendapatkan rokok yang sama seperti ini, bi?” katanya sambil menyodorkan bungkus rokoknya yang telah kosong.

“Oh.. Ada.. ada..” kata bibi Sung.

“Tolong 2 bungkus bi” kata Jung Min sambil menyodorkan uang lima puluh ribu Won padanya.

“Aduh.. Bibi tak punya kembalian untuk uang sebanyak ini, tuan..” kata bibi Sung kebingungan.

“Simpanlah bi” katanya tulus.

Dengan uang lima puluh ribu Won, Jung Min semestinya bisa mendapatkan dua puluh bungkus rokok dengan merek yang sama.

“Aduh bibi jadi tidak enak, terimakasih tuan Jung Min..” kata bibi Sung sambil menjabat kedua belah tangan laki-laki itu.

“Ah, bukan apa-apa bi, jangan sungkan” kata Jung Min. Dia menghela nafasnya.

“Maaf bibi lancang.. Tapi bibi perhatikan, sepertinya tuan sedang ada masalah yang sangat berat?” tanya bibi Sung padanya.

Jung Min tak berencana untuk menceritakan masalahnya pada siapapun, tapi dia tertarik untuk membahas masalahnya dengan ibu gadis yang dia cintai. Apakah jalan pikiran mereka sama?

“Aku mencintai seseorang bi. Kami saling mencintai. Setidaknya itu yang aku tahu. Tapi dia memilih meninggalkanku, karena aku akan bertunangan dengan wanita lain.. Menurutmu.. Apakah dia melakukannya karena dia tak bisa memilikiku lagi? Karena dia berpikir dia tak mungkin bisa menjadi istriku? Aku tak ingin mengatakan kalau dia hanya tertarik pada hartaku, ketertarikan kami bukan pada harta. Tapi mengapa.. mengapa dia memilih jalan itu?” katanya putus asa.

Bibi Sung memahami perasaan Jung Min saat itu. dia pasti sangat menderita, merasa dikhianati karena wanita yang dia cintai lebih memilih meninggalkannya daripada memperjuangkan cinta mereka. Dia mencoba memilih dengan teliti kata-kata yang akan dia pakai untuk menjawab pertanyaan Jung Min.

“Bibi tak tahu harus berkata apa. Tapi menurut bibi, mungkin wanita itu tak ingin menjadi perusak hubunganmu dengan tunanganmu tuan” kata bibi Sung.

“Merusak hubungan dengan tunanganku? Aku bahkan tak memiliki hubungan yang dia kira aku miliki dengan tunanganku. Dia sungguh pathetic” Jung Min setengah berteriak menanggapi perkataan bibi Sung.

Saat tak ada lagi yang mereka bicarakan, Jung Min berpamitan dari sana. Dia pulang kerumahnya tanpa memperdulikan Jung Nam dan Ji Han yang sedang membantu bibi Ra Ni di dapur. Mereka baru saja selesai makan malam.

“Kamu sudah makan malam Jung Min?” tanya Jung Nam saat melihatnya.

“Melihat kalian berdua sudah membuatku kenyang hingga mau muntah” katanya dingin dan berlalu ke kamarnya.

Jung Nam hanya tertawa kecil menyadari kebencian yang dipancarkan kakaknya untuknya.

~~~~

Hari pertunangan Jung Min dan Rossy akhirnya tiba. Mereka berangkat sore hari karena pesta pertunangan itu akan diadakan saat waktu makan malam.

Seluruh keluarga Park telah bersiap-siap dan berpakaian rapi terkecuali Jung Min. Dia merasa tak ingin pergi ke pesta itu. Dia memikirkan Ji Han seharian. Gadis itu telah pulang kerumahnya diantarkan Jung Nam pagi tadi. Dia akhirnya mendapatkan liburnya satu hari dalam seminggu.

“Kamu belum berganti pakaian?” tanya nyonya Park dari pintu kamar anaknya.

Jung Min sedang menghisap rokoknya di tepi jendela. Dia teringat saat dirinya menolong Ji Han waktu gadis itu tenggelam di kolam. Bagaimana dia membuat kakinya terkilir karena melompat dari jendela kamarnya yang di lantai dua.

“Sebentar lagi” jawabnya pelan.

“..Sebelum kamu memutuskan menerima pertunangan ini, apa tidak lebih baik kamu memikirkannya lagi Jung Min?” tanya ibunya. Kini wanita itu telah berada dibelakang tubuh Jung Min.

“Memikirkannya lagi?? Apa aku bisa bu??” dia setengah berteriak menjawab ibunya.

“Bukankah ibu sendiri yang memaksaku untuk menemui mereka?? Dan kini ibu memintaku untuk berpikir ulang??”

“Ibu tahu kan apa akibatnya bila aku membatalkan pertunangan ini sekarang? Aku bisa saja bu bila menuruti keinginanku. Tapi aku tak bisa karena memikirkan keluarga ini. Ibu, Jung Nam, Jung In dan semua karyawan perusahaan kita. Dimana tanggung jawabku pada kalian?? Pada mereka?? Aku tak bisa meninggalkan kalian diatas kebahagiaanku sendiri, bu. Aku tak bisaa..” nafasnya berat saat mengungkapkan perasaannya pada ibunya.

Dia merasa begitu lemah, dia memang tak bisa mempertahankan cinta Ji Han, tapi setidaknya dia bisa mempertahankan keluarganya. Dia tak akan membuang mereka ke jalanan hanya karena ingin mengejar kebahagiaannya.

Selama ini dia bisa hidup tanpa cinta, dia tak akan mati bila setengah usianya kemudian dia lewatkan tanpa cinta.

“Kalian berangkatlah duluan, aku akan menyusul satu jam lagi” katanya.

Saat nyonya Park keluar dari kamar Jung Min, dia melihat Jung Nam sedang bersandar di depan kamar kakaknya. Dia memeluk ibunya, dia merasa sangat bersalah pada kakaknya.

~~~~

“Bibi, mana Ji Han?” tanya laki-laki itu. Mobilnya terparkir di depan toko kelontong itu,  masih terdengar suara mesin yang menyala.

“Ji Han... Ada yang mencarimu..” teriak ibunya pada Ji Han yang sedang merapikan pakaian di kamarnya.

Saat dia tiba di depan toko keluarganya, dia melihat Jung Min sedang menatapnya.

“Aku tak akan bertanya lagi, ini kesempatan mu yang terakhir” katanya serius.

“Maukah kamu memperjuangkan hubungan kita?” Jung Min menatapnya tajam. Jantungnya berdebar kencang menantikan jawaban Ji Han.

“Jung Min.. Aku.. “ jawabnya terbata-bata.

“Katakan ya, atau tidak Ji Han. Hanya itu yang ingin aku dengar. Satu kata saja” katanya frustasi.

“Aku.. Aku tak bisa Jung Min.. Aku hanya akan menjerumuskanmu dalam kehancuran” tangisan turun di pipinya.

Sorot matanya terluka. Harapan terakhirnya kini pupus sudah. Gadis yang dia cintai tak ingin berjuang bersamanya demi cinta mereka.

Sedangkal itukah cintanya pada Jung Min? Ataukah karena cinta laki-laki itu terlalu dalam padanya hingga dia mengira Ji Han juga akan mau berkorban untuknya?

“Mengapa.. Kamu tak perlu memusingkan aku terjerumus atau hancur. Aku hanya ingin kamu ada disisiku Ji Han. Perusahan itu, tak akan hancur hanya karena seorang Mr. Kang. Aku disebut kejam bukan karena aku membayar orang untuk mempertahankan perusahaanku, tapi karena aku sanggup mempertahankannya dengan kekuatanku sendiri. Tidakkah kamu bisa sedikit saja percaya padaku?” dia mencoba menahan amarah dalam dadanya. Saat tak ada jawaban dari Ji Han, amarahnya semakin membara.

“Jadi keputusanmu sudah bulat? Karena aku tak akan memohon lagi padamu setelah ini. Aku akan melupakanmu, Ji Han. Aku akan menganggapmu tak ada. Aku akan mencabutmu dari hidupku. Tegakah kamu membuatku seperti ini Ji Han?” suaranya bergetar dipenuhi emosi.

“..Pergilah Jung Min.. Kita tak sebanding. Aku hanya beban bagimu” Ji Han berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Menghindar dan menangis, seperti yang dia biasa lakukan.

Jung Min terhenyak diatas jok mobilnya. Tubuhnya lemas, seperti dihempaskan dari atas pesawat terbang, melayang hingga berdebum jatuh mencium bumi. Hancur tak berbentuk. Begitulah hatinya saat itu.

“Pergi.. Cepat pergi dari sini.. Cepat!!!!” teriaknya pada sopirnya.

Dia menutup mukanya dengan telapak tangannya, sekeras apapun dia mencoba menyembunyikan isak tangisnya, jantungnya yang hampir meledak tak kuasa menahan kesakitan dalam dadanya.

Dengan kesal, dia menghantam jendela mobil disampingnya hingga pecah. Barulah saat darah mengalir dari tangannya yang tergores pecahan kaca, dia merasa tenang. Darah segar yang mengalir dari tangannya itu bagaikan darah yang mengalir dari dalam hatinya yang terluka.

12 comments:

  1. *nangis beneran* speechless... *tabok2 mbk shin* ehhh?

    ReplyDelete
  2. yagh,,,,,,,,,,,GALAU masih akan mengikuti kehidupanmu Jung Min~~~~~~~

    ReplyDelete
  3. musim hujan musim galau jung min,,,,,,,,,, (●⌒∇⌒●)

    ReplyDelete
  4. Omg !!!!
    Makin kalut nih hati !!!!!
    *ngomong2 ini sampai berapa episode lagi !!!!*
    *mau siapin batin buat baca sampai episode terakhir*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha mgkn sampe episode 40/50 sist ^__^V :kabur:

      Delete
  5. wow.... kren smpe episod 50....
    semangat..semangat mbk shin...
    makasih y mbk shin...........

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.