"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, December 12, 2012

Eight Drama - Chapter 35



Setelah membersihkan tubuh Rossy dan membantunya memakai pakaiannya lagi, Jung Nam keluar dari dalam mobil itu. Menyulut rokoknya dan duduk di atas kap mobil, memandang kosong ke arah jalan panjang di depannya.

Dia tak pernah tahu bercinta dengan Rossy bisa sepanas itu. Meski gerak tubuh mereka sangat terbatas, namun dia akhirnya bisa menghilangkan frustasinya tentang wanita itu sejak masa puber menyerangnya.


Dia telah menyukai wanita itu sejak dulu. Sejak Rossy mengejar kakaknya, Jung Nam akan mengikuti mereka dari belakang. Saat Jung Min membuat wanita itu menangis, Jung Nam akan selalu disampingnya menghiburnya.

Wanita itu selalu berlari padanya bila Jung Min membuatnya sedih karena penolakannya. Jung Min memang sudah seperti itu sejak kecil, dia tak akan heran kakaknya tetap memperlakukan Rossy seperti itu. Kakaknya mencintai wanita lain. Wanita yang kini juga mengisi hatinya.

Tapi dia meragukan hatinya sekarang, setelah percintaan yang panas itu, dia mempertanyakan ketulusan cintanya pada Ji Han.

Bersama gadis itu, dia ingin memeluknya erat, melindunginya, oh ya, dia juga menginginkannya, tapi tak seperti saat dia menginginkan Rossy. Ji Han menariknya karena keluguannya, karena kepolosannya. Dan Jung Nam yakin gadis itu masih perawan. Tapi Rossy juga telah berhasil diperawaninya.

Dia tak menyangka wanita itu akan masih menjaga keperawanannya hingga kini. Dia hanya ingin memasuki tubuh wanita itu sekali saja untuk memuaskan nafsu terpendamnya sejak dulu. Dia tak berharap mendapati wanita itu masih perawan. Dan kini dia merasa bersalah.

Dia membohongi dirinya dengan mengatakan obsesinya pada wanita itu akan menghilang setelah menyalurkan hasratnya padanya. Dia tak akan menginginkannya lagi. Tapi tidak, Jung Nam merasa kejantanannya telah menegang lagi saat memikirkan hangatnya tubuh wanita itu saat dimasukinya.

“Jung Nam..” panggil Rossy dibelakangnya.

Jung Nam berbalik, menghadap pada wanita yang baru saja disetubuhinya. Bekas-bekas percintaan mereka masih terlihat pada bibirnya yang bengkak, rambutnya yang acak-acakan, pada lehernya yang merah, pada pergelangan tangannya yang dicekalnya kasar, pada payudaranya yang memar karena gigitannya, perutnya yang basah terkena jilatan lidahnya,  pada kemaluannya yang masih meneteskan spermanya dari dalam rahimnya.

Tanpa disadarinya, dia telah berada didekat wanita itu. Memeluknya, seperti memeluk seorang kekasih. Menghiburnya, melindunginya. Tangis Rossy terjatuh di dadanya.

Jung Nam berbisik dalam hatinya. “Mengapa aku bisa jatuh cinta pada dua orang yang berbeda..?”

Mereka tak berbicara didalam mobil, Jung Nam menghentikan mobil itu di depan rumahnya. Sopir pribadi Rossy tergopoh-gopoh menemui majikannya dan mengemudikan mobil itu pergi dari sana. Dia pastinya menyadari kegaduhan apa yang terjadi di dalam mobil itu. Aroma percintaan begitu menyengat di dalam sana.

Jung Nam mengamati Ji Han yang sedang membersihkan perabotan di ruang tamu. Dia memandang wajah gadis itu. Mengukur seberapa besar cintanya padanya. Karena kini dia meragukan hatinya. Meskipun bila dia ternyata tak merasakan perasaan apapun pada Rossy, namun dia telah bercinta dengan wanita lain dibelakangnya.

Selingkuhkah itu namanya saat hubungan yang dia miliki dengan Ji Han bahkan tak bernama?

Mereka memang berpacaran, tapi hanya Jung Nam lah yang menamakan hubungan itu demikian. Ji Han tak pernah menyetujuinya, dia hanya mengikuti permainannya agar tak menyakiti hati laki-laki itu.

Bimbang dengan perasaannya, Jung Nam mengambil motornya dan memacunya dengan kencang di jalanan. Saat Jung Min pulang, barulah dia tiba dirumahnya. Mereka berpapasan tanpa berkata apa-apa. Hubungan yang dingin itu semakin membeku tanpa ada niatan dari pihak manapun untuk mencairkannya. Jung Nam tak ingin melepaskan Ji Han. Belum..

“Ji Han, tolong bawakan kopi ini ke kamar tuan Jung Min. Dia berada diruang kerjanya. Nampaknya dia akan bekerja sampe larut malam jadi minta dibuatkan kopi” kata bi Ra Ni.

Sudah pukul sebelas malam dan wanita itu akan kembali ke pondoknya dan beristirahat. Sejam kemudian barulah Ji Han bisa beristirahat ke kamarnya.

Seminggu lebih telah berlalu sejak kepulangan Jung Min dari Amerika. Dia tetap bersikap sopan padanya, seolah memang hanya begitulah hubungan mereka, tuan dan pelayan. Ji Han tak marah, dia tak punya hak untuk marah. Dia cukup lega Jung Min tak mengusirnya dari sana, karena dia tak akan tahu alasan apa yang akan dia berikan pada keluarganya saat itu terjadi.

Dengan sikap sopan laki-laki itu padanya, dia merasa akan sanggup menghapus perasaannya pada Jung Min. Sehingga saat satu bulan kemudian dia mengangkat kakinya dari sana, perasaannya akan lega. Hatinya yang tertanam disana, akan dibawanya juga pergi dari rumah itu.

“Tok..tok..”

“Masuk” kata suara dari dalam.

Ji Han membawa masuk senampan kopi dan cangkir beserta sepiring penganan kecil dan meletakannya di atas meja di samping meja kerja Jung Min.

Matanya tertumbuk pada kursi panjang yang pernah mereka pakai untuk memadu kasih. Debar jantungnya berdetak kencang saat mengingat masa-masa itu. Jung Min pun melihatnya dan menyadari arah pandangan gadis itu. Dia menarik nafasnya berat. Tangannya gemetar, hampir tak bisa disembunyikannya.

Penyiksaan dirinya sudah memasuki stadium akhir. Sebentar lagi dia akan meledak bila Ji Han berlama-lama di dalam ruangan itu. Namun ada yang harus diberikannya pada gadis itu.

“Kemarilah, ada yang ingin kuberikan padamu” katanya sambil mendorong sebuah amplop di atas meja ke depan Ji Han.

“Apa ini, tuan..?” jawab Ji Han ragu. Dia tak tahu bagaimana reaksi Jung Min saat dia memanggilnya dengan kata ‘tuan’.

Selama ini dia telah berhasil menghindar untuk tidak menyebut kata itu, namun kali ini, dia tak ingin terlihat kurang ajar bila tak menyebut gelarnya, karena dia adalah majikannya, kan?

Dan tentu saja, Jung Min menggertakan giginya. Rahangnya mengeras namun nada suaranya masih sanggup dikontrolnya.

“Bonusmu. Aku rasa kamu pantas mendapatkannya. Kamu mengerjakan semua pekerjaan yang harus dilakukan oleh empat orang setiap hari. Aku juga mempertimbangkan untuk menaikan gajimu. Kecuali kamu tak ingin berbagi kamar dengan pelayan lain, aku tak keberatan mencarikan beberapa pelayan lagi agar pekerjaanmu lebih ringan” katanya datar.

“Tidak usah, tuan. Gaji yang saya dapat sudah lebih dari cukup. Dan pekerjaan itu masih sanggup saya kerjakan sendiri, namun mungkin anda perlu mencari pelayan baru karena bulan depan saya akan mengundurkan diri. Saya tak akan bekerja disini lagi” kata Ji Han.

Lambat laun dia harus mengatakan hal ini pada Jung Min, dan sekaranglah saat yang tepat untuk itu karena laki-laki itu kini sedang membicarakan tentang pekerjaannya.

Jung Min tak sanggup berkata-kata. Dia terpaku di kursinya menyadari waktu yang dia miliki bersama dengan Ji Han. Hanya sebulan lagi, dan gadis itu akan meninggalkannya.

“Hanya sebulan lagi kamu merasakan penderitaan ini Jung Min” rintih Jung Min dalam hatinya.

“Jadi, kamu sudah memutuskan untuk berhenti sebulan lagi?” tanya Jung Min pelan.

“Benar, tuan” jawabnya.

“Baik. Baiklah. Aku akan mencarikan penggantimu secepatnya, kamu tak usah khawatir” kata Jung Min lagi.

Ji Han mengangguk. Membungkuk memberi hormat sebelum dia keluar dari ruangan itu.

“Aku.. juga akan mencari wanita lain.. yang akan menggantikanmu di hatiku” kata Jung Min padanya.

Ji Han berbalik menatapnya. Sorot mata laki-laki itu tajam menusuk dadanya. Mata yang dingin dan gelap. Mata yang dia kenal. Raja Kegelapannya telah kembali...

“Berengsek kamu Ji Han” teriaknya kesal saat mencengkeram lengan gadis itu.

Jung Min memeluk tubuh Ji Han, tangisnya jatuh dipundaknya tak mampu dibendungnya lagi. Tubuhnya yang tinggi besar bergetar, laki-laki kuat itu ternyata tak sekuat yang dia tunjukan.

Dia telah hancur, Ji Han menghancurkannya dengan kejam. Mengapa gadis itu tak mau berkorban sedikit saja untuknya? Untuk cinta mereka.

“Biarkan... Biarkan aku memelukmu seperti ini Ji Han. Bila kamu pergi sekarang, aku tak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Aku akan mati” suaranya terputus-putus karena menahan sakit dihatinya.

Ji Han memeluk tubuh Jung Min dengan erat. Tak ingin melepasnya, hatinya perih melihat laki-laki yang dicintainya hancur. Dia tak akan sanggup hidup bila melihat Jung Min menderita. Apa yang harus dia lakukan agar laki-laki itu kembali seperti dulu, bukan seperti sekarang. Rapuh dan hancur.

Andai mereka bisa mengulang waktu. Tak akan dia bersedia untuk bekerja dirumah ini. Atau mungkin dia akan mengakui perasaannya saat pertama kali Jung Min menciumnya. Agar cinta yang mereka rasakan lebih lama dapat mereka genggam.

19 comments:

  1. Finally~~~~mereka pelukan lagiiiiiiiiiii-----hahhahahhaaaaa

    ReplyDelete
  2. Huaaaaa,,,Jung Miiiiiinnnnn... *peluk Jung Min*
    Aahhhhhh,,,Jung Nam jahaaattttttt,, Ji Han payaaahhhhhh...
    Mksh Mba Shin,,btw apa kbr G+,,kangeennn..hukz..hukz..hukz...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha sama2 sist.. G+ sepi tanpa dirimu.. :gak ada yg bisa digodain sih: ^__^

      Delete
  3. aaaaaaaaaa.. Jung Min kok nangis??
    hiks.. sediiih... *sodorin sekotak tissu*

    Ji Han, peluk Jung Min yang lama ya, dibelai-belai sampai dia tenang..

    mbak Shin, your story is great..
    *peluk erat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha dah pernah liat cowok nangis belum sist? suamiku dl wkt pacaran doyan bgt nangis :wkt diputusin berkali-kali: wkkwkwkwkwkw :ahemm:

      Delete
    2. n makasi banyak atas pujiannya :jd terharu hiks..hiks..hiks..:hug:

      Delete
    3. pernah mbak, abangku dua org cowok dan pernah nangis dua2nya didepan aku, hehehehe

      Delete
    4. lah.. mereka nangis knp sist? bukan wkt kecil kan? ahhahaa

      Delete
  4. Aha hbis ni adegan hot kn mba..xixixixi
    tks y mba shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah giliran hot langsung dehhh.. wkwkkwkww. belum kelar sist. mdh2an jam 12 udah kelar ya :)

      Delete
  5. Aduh iy bgt ni mba rini,bz ni adgan hot.bz jungnam gntian si jungmin,eheheh ah akhrny mngakui kalo mreka rapuh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahah... sist kata jung min gini ke jihan "aku tanpamu.. butiran debuuu..uu..uu.uu"

      Delete
  6. Yah tu si rumor mba,hahah jam12 ni next chapter? Bneran aq tggu ni,hahah

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.