"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, December 13, 2012

Eight Drama - Chapter 38



Ji Han muncul dari pintu kamarnya dengan pakaian santai, rambutnya dikuncir menggantung di bahunya. Jung Min hampir mampu meredakan gairah dalam dadanya saat Ji Han tanpa sadar menggigit bibir bawahnya yang membuat Jung Min memaki dalam hati.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Ji Han kikuk. Dia tak tahu mengapa Jung Min mencarinya. Laki-laki itu terlihat gelisah dan mukanya merah padam.

“Semoga dia tidak marah lagi padaku” keluh Ji Han dalam hati.


“Kemarilah, ikuti aku” kata Jung Min. Dia berjalan di koridor dapur menuju ruang kerjanya. Ji Han membuntuti dari belakang.

Dia tak melihat Jung Nam dimanapun, Rossy Kang juga menghilang dan dia tak sempat melihatnya pergi.

“Apa yang kamu cari?” tanya Jung Min saat gadis itu melambatkan langkahnya.

“Oh tidak..” jawabnya pelan.

“Bila kamu mencari Jung Nam, dia sedang sibuk dalam kamarnya. Apa kamu mau kesana? Dia pasti sangat ‘senang’ melihat kedatanganmu” katanya sinis.

“Bukan. Saya tidak mencari siapa-siapa. Saya tidak ingin masuk ke kamarnya” jawab Ji Han cepat. Dia tak ingin Jung Min salah paham padanya.

“Tadi sore.. Itu hanya pikiran Jung Nam sepihak, saya tak ada menyetujui apa-apa” katanya.

“Aku tak bertanya, Ji Han. Itu urusanmu dengan Jung Nam. Bukankah kamu sudah memutuskan masa depanmu dengan siapa? Akupun telah memutuskan masa depan seperti apa yang akan aku perjuangkan” jawabnya ketus.

Dia membuka pintu ruang kerjanya dan duduk dibelakang meja. Tangannya mengisyaratkan Ji Han untuk dudup di hadapannya.

“Duduklah” perintah Jung Min.

Ji Han menggigit bibir bawahnya sebelum menarik kursi untuknya sendiri. Dia memandang Jung Min, menunggu apa yang akan laki-laki itu katakan padanya.

“Aku ingin memberikan ini” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak karton besar di depan Ji Han.

“Apa ini?” tanya gadis itu.

“Ibumu menitipkan ini padaku tadi siang. Aku tak tahu apa isinya, aku tak sempat mengeceknya” katanya.

Dia menyulut rokok dimulutnya dan menghisapnya dalam-dalam, meredakan desakan yang menyiksa selangkangannya.

“Terima kasih, anda tak perlu repot untuk membawakan kotak ini, saya minta maaf atas nama ibu” kata Ji Han sopan. Dia ingin segera membuka isi kotak itu dikamarnya.

“...” Jung Min tak bisa membalas ucapan gadis itu. Dia hanya terpaku pada gairah dalam tubuhnya yang menggebu-gebu.

“Malam ini.. andai bisa kumiliki dia diatas ranjangku” keluh Jung Min membathin.

“Saya permisi bila tak ada lagi yang lain” katanya.

Jung Min hanya memandangi kepergian gadis itu dibalik pintu ruang kerjanya yang tertutup. Dengan gemas dia mematikan rokoknya di asbak. Memperbaiki posisi duduknya dan mengerang kesakitan. Dibukanya kait celana panjangnya dan mengelus kejantanannya yang berdenyut nyeri.

“Sial!!” makinya kesal.

Tanpa disadarinya, tangannya telah bergerak mengelus dan mengocok, merangsang gairahnya yang telah memuncak. Dengan mata terpejam Jung Min membelai halus kepala kejantanannya, mulutnya mengerang, mendesah memanggil-manggil nama Ji Han dalam bisikannya yang bergairah.

“Shhh.. Ji Han..” desisnya tanpa henti.

Kedua tangannya kini membungkus dan memijat kejantanannya dengan kebutuhan yang mendesak. Tiap gerakan tangannya yang naik turun dibawahnya, memutar dan memijit dua buah bola yang menggantung, semakin membuat nafasnya memburu.

Hampir sepuluh tahun lebih Jung Min tak pernah melakukan lagi apa yang dia lakukan sekarang. Ji Han membuatnya gila dan tersiksa.

Jung Min membayangkan tubuh gadis itu menggelinjang di atas pangkuannya, tubuh mereka bersatu dengan sempurna. Mereka bercinta di atas kursi kerja itu, kursi yang bisa diatur sesuai posisi yang dia inginkan. Kini Jung Min memiringkan posisi sandaran tempat duduknya sehingga tubuhnya berbaring di atas kursi itu dan Ji Han bertumpu diatasnya, tangannya mendekap kedua belah dada Jung Min yang masih terbungkus pakaian.

Ji Han masih mengenakan seluruh  pakaiannya. Kejantanan Jung Min diselipkan lewat celana dalamnya yang disibakkan kesamping. Laki-laki itu bahkan tak repot-repot untuk melepaskan celana dalamnya sendiri.

Dalam posisi yang sangat mendukung itu, Jung Min menghentakan pinggangnya menusuk dengan kejam kedalam rongga kewanitaan Ji Han. Keluar masuk dengan cepat, tak memberi ampun, membuat gadis itu memekik dan mengerang kewalahan menerima sensasi nikmat yang diciptakan Jung Min dalam tubuhnya.

Tangan Jung Min memeluk erat pantat Ji Han, mencegahnya merosot dari atas pangkuannya yang bergoyang tak beraturan. Kadang dia mendesakan kejantanannya dengan cepat, kemudian menariknya perlahan hingga Ji Han menggeleng memohon agar laki-laki itu tak menghentikan desakannya dalam tubuh Ji Han.

Saat akhirnya Jung Min mengerang keras merasakan pelepasan yang dia tunggu-tunggu, tangannya telah basah dan lengket oleh spermanya yang membanjiri tangan dan meja kerjanya.

Dia menghela nafas panjang, dia tak pernah merasakan kenikmatan seperti itu sebelumnya saat melakukannya dengan tangannya sendiri. Ji Han yang memenuhi imajinasinya terasa begitu nyata.

Setelah mengatur nafasnya, Jung Min memandang  tak berdaya pada kekacauan yang dibuatnya di atas meja kerjanya. Tangannya lengket dibanjiri cairan panas yang kini telah hangat, berkas-berkas file yang terciprat yang harus dia bersihkan sendiri, kecuali dia ingin Ji Han curiga dengan apa yang dia temukan esok hari dalam ruangan itu.

~~~~

“Selamat pagi..” sapa Ji Han pada Jung Min yang sedang mengetik pada laptopnya. Gadis itu membawa sarapan untuk Jung Min sebelum mengambil jatah liburnya di hari minggu.

Dia hanya menatap Ji Han sekilas sebelum kembali sibuk dengan laptopnya di atas meja.

Seminggu lagi telah berlalu, kini hanya tersisa waktu satu minggu untuk Jung Min merubah keputusan Ji Han sebelum gadis itu pergi dari rumahnya.

“Hari ini saya akan pulang kerumah, saya minta izin untuk pulang agak malam” kata Ji Han saat mengatur piring-piring diatas meja.

“Dengan siapa kamu pulang?” tanya Jung Min tanpa melihatnya.

“Jung Nam bersedia mengantarkan saya, dia juga akan menjemput saya nanti” jawabnya.

“Batalkan. Aku yang akan mengantarkanmu. Jam berapa kamu berangkat?” tanyanya sambil menutup laptop didepannya.

Dia menatap mata Ji Han menunggu jawabannya.

“Ah.. tidak.. Tidak usah, tidak apa-apa, Jung Nam bisa..”

“Bukankah sudah kubilang batalkan? Atau kamu lebih suka aku menyeretmu ke dalam mobil dan membawamu pergi ketempat dimana tak akan ada orang yang bisa menemukanmu lagi?” dia mengernyitkan dahinya.

“..Aku rasa itu ide bagus kan, Ji Han?” Jung Min tersenyum licik padanya.

“Satu jam lagi, dan aku akan turun, kalau aku tak menemukanmu dibawah, aku bersumpah kamu akan menyesalinya Ji Han” ancam laki-laki itu sambil mengolesi roti ditangannya dengan mentega.

Ji Han tak menjawabnya. Dia kesal dengan laki-laki itu. Memaksanya untuk melakukan yang tak di inginkannya.

~~~~

“Ini bukan arah menuju rumahku, tuan” kata Ji Han saat menyadari Jung Min melewati pertigaan menuju rumahnya.

“Ya, aku tahu” jawabnya santai.

“Kamu??” matanya membelalak menatap Jung Min marah.

“Ya.. Mata sekecil itu tak menakutiku, Ji Han” senyumnya geli melihat Ji Han mendelik.

“Diam-diamlah.. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” dia mengunci pintu mobil hingga tak bisa dibuka selain dari kursi pengemudi.

Ji Han menatap lurus ke depan tak menggubrisnya, dia tak ingin berbicara dengan laki-laki yang menyebalkan itu. Jung Min hanya tersenyum sambil bersiul sepanjang jalan. Nampak suasana hatinya cukup senang hari itu.

“Kenapa kita berhenti disini?” tanya Ji Han bingung. Mereka menepi di sebuah pelabuhan kapal penangkap ikan, dimana terdapat sebuah pasar yang menjual ikan laut yang baru saja ditangkap.

Pasar itu cukup luas, dibangun sekitar sepuluh tahun yang lalu oleh yayasan yang dikelola oleh keluarga Park. Dan kini telah dihibahkan pada masyarakat setempat agar dikelola secara mandiri.

Tak sedikit para pedagang yang membungkuk memberi hormat pada Jung Min, laki-laki itu sangat dihormati disana. Dia dan perusahaannya seringkali memberikan sumbangan pada para nelayan berupa bantuan dana untuk perbaikan kapal ataupun berupa kapal laut baru kepada nelayan yang tertimpa musibah.

Jung Min menarik lengan Ji Han agar gadis itu mengikutinya, dia cukup membuatnya jengkel karena bersikeras tak ingin keluar dari dalam mobil.

Namun saat gadis itu melihat berbagai jenis ikan dan hewan laut lain yang dijual di pasar itu, dia menjadi antusias dan mengunjungi setiap toko yang menjual ikan disana. Menanyakan berbagai hal pada penjualnya dan mengagumi berbagai jenis ikan yang belum pernah dia lihat.

“Baiklah. Sudah cukup melihat-lihatnya. Kita akan membeli beberapa kilo ikan dan udang, mungkin cumi-cumi jika ibumu bisa mengolahnya. Hmm...” kata Jung Min sambil memilih ikan apa yang ingin dia beli.

“Ibuku? Kita akan membawa ikan ini kerumahku?” tanyanya bingung.

“Yup. Kita akan memanggang ikan dirumahmu. Kita. K-I-T-A. Kamu, kakakmu, ibumu dan aku..” jawabnya sambil menyeringai. Dia suka melihat wajah kebingungan gadis itu.

“Mungkin kita harus singgah ke pasar tradisional lain untuk membeli bahan-bahan dan bumbu-bumbu?” tanyanya pada Ji Han.

“Tidak usah, ibuku punya kebun kecil dalam pot dibelakang rumah..” kata Ji Han pelan. Dia masih mencerna ucapan Jung Min.

“Kamu..tak serius kan mengatakan akan kerumahku?” tanyanya lagi.

“Kenapa memangnya? Aku telah mengunjungi rumahmu jauh sebelum kamu lahir, ada yang aneh?” tanya Jung Min, dia menjadi bingung dengan gadis itu.

“Oh.. Tapi rumahku jelek, kotor, banyak tikusnya. Kamu.. Pasti tidak nyaman disana” jawabnya malu.

Untuk pertama kali, Jung Min melihat gadis itu seperti layaknya gadis-gadis remaja lainnya yang tersipu malu karena rumahnya akan dikunjungi oleh pacarnya.

“Ya.. Apa aku serendah itu? Aku tak pernah memilih dimana aku lahir dan siapa diriku. Bila aku boleh memilih, apakah aku akan mencintai gadis sepertimu? Menyebalkan dan mengesalkan?” matanya memandang serius pada Ji Han.

Jantung Ji Han berdebar kencang. Meski Jung Min telah mengatakan berulang kali bahwa dia mencintainya, namun mendengar kata-kata itu lagi selalu membuat jantungnya berdebar. Pipinya merah merona, dadanya terasa penuh oleh kebahagiaan yang telah lama tak dia rasakan.

Berdua bersamanya, jauh dari keluarga dan orang-orang yang mereka kenal membuatnya lupa akan beban dalam hatinya karena telah mencintai laki-laki yang telah memiliki pendamping hidup lain.

“Biarkanlah waktu berlalu dengan lambat, aku tak ingin hari ini berakhir, Tuhan.” Ratap Ji Han dalam hatinya.

10 comments:

  1. Replies
    1. hahahha makasi... :pdhl stuck disini nih td:

      Delete
  2. khayalan lagi, khayalan lagiii..
    malang nian nasib Jung Min..
    sabar ya Mass, tunggu di waktu yg tepat.. ;)

    mabk shiiiiiiiiin..
    makasiiiiiiiiiiiiiihh..
    arigato gozaimaaazzz.. *nunduk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha gitu dah sist kl cowok udah saking :BT: nya... wkwkwkkwkwwkwkwkkwkwkwkwkwkkw :ngakak:

      Delete
  3. yah menghayakt lg, KAPAN? *tatapan melotot
    thx y mba shin,peluk :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. ^__^ chapter 40-an keatas sist... hehehehee

      Delete
  4. jung min kenapa cuma berimajinasi???

    ReplyDelete
  5. Peluk2 Jug Min...
    Harusnyaaaaaaaaa Ji Han kkmr Jung Nam biar nglht 'Mrk'
    Mksh Mba Shin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha kl ke kamar jung nam ntr ketahuaannn donkk

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.