"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, December 14, 2012

Eight Drama - Chapter 40



“Jung Min mengurung dirinya dalam kamar dan belum keluar sampai sekarang.. Ibu tak tahu harus bagaimana, dia mengunci pintunya” kata nyonya Park sedih.

Sudah pukul satu siang dan Jung Min masih juga belum turun dari kamarnya. Tak ada suara yang terdengar dari dalam, kamar itu seolah tak berpenghuni. Jendelanya pun masih tertutup, tirainya yang tebal menghalangi sinar matahari yang terik bersinar.


Jung Nam duduk diam disamping ibunya. Memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan masalah itu. Dia melarang Ji Han untuk pergi dari rumah itu, dia tahu kepergian Ji Han hanya akan menambah masalah yang ada karena Jung Min akan menjadi semakin gila dan tak terkontrol.

Kakaknya akan mencarinya terus dan berusaha menghancurkan hidup gadis itu. Laki-laki dalam keluarga Park begitu posesif dan obsesif pada miliknya. Mereka tak akan membiarkan orang lain memiliki apa yang mereka rasa adalah milik mereka sendiri.

“Bu, aku keluar dulu. Jangan sampai Jung Min mencari Ji Han lagi. Dia akan aman di dalam kamar Jung In. Aku akan segera kembali” Jung Nam mengecup pipi ibunya lalu berpamitan dan pergi dengan motornya.

“Haduh.. Aku tak mengerti anak-anak ini. Pusing...” kata nyonya Park pada dirinya sendiri.

“Mau saya buatkan teh hijau nyonya? Agar anda lebih rileks..” tanya bi Ra Ni.

Pengurus rumah tangga itu mengkhawatirkan keadaan Ji Han yang ketakutan di kamar Jung In. Meski perutnya yang disikut Jung Min tak berbekas, namun hati gadis itu akan berbekas luka yang tak mudah untuk dihilangkan.

Ji Han sedang meringkuk di atas ranjang, Jung In menghiburnya disampingnya. Dia terenyuh melihat gadis itu menderita karena cintanya pada kakaknya yang kejam.

Dia masih kecil, tak mengerti banyak tentang percintaan orang dewasa seperti kakaknya. Namun, Ji Han juga sama dengan dirinya, usia mereka tak jauh berbeda. Jung In tak habis pikir mengapa kakaknya mengira Ji Han akan mampu menerima cara pikirnya yang telah jauh berbeda.

“Unnie.. Ayo dimakan dulu. Kamu belum makan sedikitpun sejak pagi. Nanti kamu sakit...” Jung In duduk disampingnya, membujuknya agar gadis itu bersedia menyentuh makanannya.

Ji Han tersenyum lemah padanya, dia menggelengkan kepalanya menolak tawaran gadis itu untuk ke sembilan kalinya.

“Kalau begitu kamu minum saja ya, nanti kamu dehidrasi. Aku tak ingin melihatmu sakit, Unnie..” bujuk Jung In putus asa.

Terharu dengan ketulusan gadis itu, Ji Han mengangguk dan menyesap air minum yang disodorkan padanya.

“Nah, habis ini makan ya...ya..” bujuknya tak menyerah.

Ji Han tak dapat menolak kegigihan gadis itu. Dia begitu penuh semangat dan menularkan keceriaannya pada Ji Han.

“Baiklah.. Aku menyerah..” kata Ji Han akhirnya.

Hanya beberapa sendok yang sanggup masuk ke dalam mulut Ji Han. Gadis itu meletakan kembali piringnya di atas meja. Meneguk sedikit air dan kembali tersenyum pada Jung In.

“Kamu gadis yang baik Jung In” katanya sambil menyentuh tangan gadis itu.

“Haha..benarkah? Tapi karena kebaikanku ini, aku sering di tipu Unnie..” mukanya cemberut.

“Ditipu? Siapa yang berani menipumu? Akan kuhajar..” kata Ji Han pura-pura gemas. Dia mulai bisa tertawa karena gadis itu.

“Yah.. Mantan-mantan pacarku.. mereka semua penipu! Mereka cuma memanfaatkanku, semua bermulut manis, tapi dibelakangku malah menduakanku. Aku sebelllll” dia mengepalkan tangannya dengan gemas.

“Hihi.. kamu sungguh lucu.. Nanti juga ketemu kok sama cowok yang bisa bikin kamu merasa aman dan bahagia. Kamu cantik dan pengertian, pasti banyak yang akan jatuh hati padamu” Ji Han menepuk-nepuk tangan gadis itu.

“Benarkah? Unnie punya kenalan cowok seperti itu?” tanya Jung In antusias.

Ji Han hanya terpikir sosok kakaknya Ji Jeong sebagai pria yang tepat untuk kategori yang dia katakan tadi, karena laki-laki itulah yang membuatnya merasa aman dan terlindungi.

Namun dia menepis pikirannya, tak mungkin dia mengenalkan kakaknya pada Jung In. Selain status mereka yang sangat berbeda, Ji Han tak ingin berhubungan dengan keluarga Park bila itu hanya akan membuat mereka semua menderita.

Lagipula beda usia mereka terpaut jauh. Tak mungkin pula Ji Han mengenalkan Jung In, gadis delapan belas tahun pada kakaknya Ji Jeong yang memasuki usianya yang ke tiga puluh satu. Dia membuang pikiran itu jauh-jauh.

“Aku tidak banyak mengenal laki-laki Jung In.. Kamu menanyakan pada orang yang salah” gelaknya.

“Yahh... Masak aku harus menerima Kim In? Dia itu menyebalkan. Seperti anak kecil. Tak ada dewasanya sama sekali. Aku ingin cowok yang bisa mengerti aku Unnie.. Yang tahu apa yang aku inginkan dalam hatiku. Apa ada ya laki-laki seperti itu untukku? Ahli nujum mungkin? Hihi” Jung In terkikik geli memikirkan laki-laki yang tak mungkin ada itu.

Tapi Ji Han mengakui, kakaknya Ji Jeong adalah laki-laki seperti yang Jung In katakan tadi. Kecuali dia bukanlah ahli nujum.

Tapi dia adalah laki-laki yang akan memelukmu saat kamu marah, menciummu saat kamu melukainya, menghiburmu saat kamu membuatnya sedih. Namun dia adalah kakaknya yang paling dia sayangi. Tak mungkin bagi mereka memiliki perasaan selain itu. Dia tersenyum geli untuk Jung In.

“Sudahlah.. Kata ibuku.. Kalau jodoh tak akan kemana..” hibur Ji Han padanya.

“Unnie.. Kalau kamu ketemu cowok seperti itu, jangan lupa kenalkan aku padanya ya” Jung In tersenyum malu. Gadis itu nampaknya begitu mendambakan cinta agar segera datang di  kehidupannya.

“Iya.. Pasti” jawabnya.

~~~~

Kamar itu gelap gulita, hanya cahaya samar dari celah jendela yang berhasil lolos membentuk sebuah bulatan kecil terang di lantai karpet. Udara pengap dari asap rokok memenuhi ruangan.

Pemilik kamar itu diam mematung di kursinya yang nyaman, kakinya disandarkan ke atas meja namun matanya menatap kosong udara di depannya.

Jung Min menghembuskan asap rokoknya ke udara. Botol minuman menggelinding di kaki kursinya. Wajahnya yang biru lebam dan bekas luka yang masih terbuka di pelipisnya menyiratkan perkelahian semalam dengan adiknya.

Tangan kanannya menggantung lemah disamping badannya, genangan darah dibawahnya telah mulai mengental terserap tebalnya karpet.

Pukulan bertubi-tubi yang dia layangkan pada semua cermin dalam kamarnya telah membuat luka ditangannya semakin lebar. Kamar itu kini penuh noda darah yang berceceran di atas lantai kamar mandi dan karpet kamar. Membekas dan akan susah untuk dibersihkan.

Namun dia tak memperdulikan semua kesakitan fisik yang dia rasakan. Kesakitan itu tak sebanding dengan sakit hatinya yang dia tahan hingga saat ini.

Kemeja lengan pendek berwarna putih yang dia kenakan semalam kini bersimbuh darah dibagian sikunya. Jung Min menghancurkan kaca cermin di meja riasnya menggunakan siku itu. Siku yang tak sengaja dia hantamkan pada perut Ji Han.

Dia membenci dirinya karena telah menyakiti gadis itu lagi. Mungkin dia adalah orang gila yang tak bisa mengontrol emosinya. Dia takut pada dirinya saat gelap mata. Dia bahkan menghajar adiknya meski dia pantas mendapatkan pelajaran itu.

Laki-laki itu telah mengganggunya dan memperburuk hubungannya dengan Ji Han. Dia tak akan memaafkan adiknya itu apabila dia berani menikahi gadis yang kakaknya cintai. 

Sudah pukul dua siang, Jung Min belum juga turun dari kamarnya. Dia terjaga semalaman, mematung tanpa mengerjakan apapun. Hanya rokok dan minuman beralkohol penemannya. Dia tak ingin seperti itu, namun dia tak sanggup menahan amarah di dadanya.

Dia harus berbuat sesuatu agar kejadian itu tak menghancurkan semua miliknya.

Jung Min bangkit dari kursinya. Berjalan ke kamar mandi dan menghidupkan shower air dingin. Dia melepas seluruh pakaiannya, membersihkan luka dan darah yang menempel pada tubuhnya.

Saat dia keluar dari kamarnya mengenakan jas hitam tanpa dasi, matanya yang lebam kini menyipit karena kelopak matanya yang terluka. Wajahnya telah bersih kembali, namun luka-luka itu tetap menghiasi wajahnya yang dingin. Perban terbalut tak rapi di tangan kanannya, memperlihatkan noda darah yang samar merembes pada kain putih itu. Dia harus membawa luka itu ke dokter.

Saat dia berpapasan dengan ibunya di ruang makan, dia hanya melewatinya tanpa suara. Nyonya Park pun segan untuk memanggilnya. Anaknya sedang terluka dan dia tak ingin memperkeruh suasana dengan menanyakannya hal–hal yang tak ingin dia bicarakan.

Jung Nam pun tak mengatakan apa-apa padanya perihal pertengkaran semalam. Dia hanya akan menunggu semua masalah terselesaikan dan rumahnya kembali damai seperti dulu.

Jung Min menginstruksikan Ok Gil untuk mebereskan kamarnya yang berantakan dan menyuruh istrinya untuk membersihkan kamar itu. Dia tak ada menyinggung atau bertanya tentang keberadaan Ji Han. Seolah dia tahu gadis itu masih berada di rumah itu.


Mobil itu kemudian melaju ke arah kota mengantarkan Jung Min pada tujuannya.

12 comments:

  1. tujuan kmana tu??rmg skit ap k rmh Ji han, mw ngelamar ji han...xixixi "sok tw"

    ReplyDelete
  2. Jung Min, ayo buat keputusan secepatnya
    jgn ditunda2 lagi..
    ini hidupmu, bukan hidup org lain..
    ayo Jung Min... semangaaaat!!!!

    mbak shiiin, shower scne selalu ditunggu looo :D
    hehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehhehe makasi semangatnya kakak :kata jungmin:

      lol.. masih ditunggu ya sist? sabar.. beberapa chapter lg keluar dah.. ^__^

      Delete
    2. haaaa... bbrp chapter lagi??????
      *langsung melantai*

      Delete
    3. yup. mgkn sengaja dipanjang2in biar nyampe chap 50 hahahhaa

      Delete
  3. Siniiii,,siniiiii Jung Min,,tak obati tanganmu,,xixixi...
    Rncna mw dbkin brp chapter Mba Shin??jd g deg2n tgguny,,hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. rencana sih 50 chap sist. tp kyk nya gk nyampe deh.. bntr lg kelar hehehehe

      Delete
  4. yah kmana si jung min? kpn ni happy mg ji han? hiks :((

    ReplyDelete
  5. wah makin pnsaran aza ini....
    kmna prginya jung min yaw?????????????????

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.