"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, December 14, 2012

Eight Drama - Chapter 42



Ji Han telah mengepak kembali seluruh barang-barangnya. Tak banyak yang dia bawa, hanya pakaian dan beberapa alas kaki. Gaun putih yang dikirimkan ibunya masih tersimpan rapi dalam kotak karton yang diserahkan Jung Min padanya.

Gaun itu dibelikan oleh ibunya untuk acara kelulusannya di kursus menjahit. Ibunya begitu perhatian padanya. Ji Han meneteskan air matanya saat membaca kembali surat dari ibunya. Bagaimana wanita itu begitu gembira karena akhirnya bisa membelikan sebuah gaun yang cantik untuk anak gadisnya yang telah lama berpisah dengannya.


Ji Han akan kembali ke rumahnya sore itu. Dia tak menghiraukan permintaan Jung Nam untuk tinggal disana. Dia tak bisa tinggal disana lebih lama lagi. Hatinya akan semakin terluka bila berada di dekat laki-laki itu. Dialah sumber segala kekacauan ini, semuanya akan kembali seperti semula bila dia pergi dari sana.

Mereka tak akan pernah bertemu lagi, Ji Han telah menghubungi kakaknya agar menjemputnya pulang. Esok pagi dia akan pergi ke Seoul untuk mengikuti sekolah menjahit ditempat lain yang telah dipilihkan oleh kakaknya. Dia ingin merancang gaun pengantin, meski dia ragu akan pernah memakai gaun buatannya sendiri kelak.  

Jung In berdiri disampingnya, gadis itu melihat kamar Ji Han yang berantakan dan lantainya yang basah tergenang air yang digunakan untuk menyiram kakak-kakaknya semalam.

“Kenapa kamu kesini? Aku belum sempat membersihkannya. Setelah aku selesai mengepak pakaian, aku akan membereskan tempat ini seperti semula” kata Ji Han tersenyum.  Dia melihat air mata menetes di pipi adik bungsu laki-laki yang dicintainya itu.

Ji Han memeluknya, menghiburnya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia akan tetap menghubunginya meskipun dia telah keluar dari sana.

“Kamu gadis baik Jung In, terima kasih sudah menerimaku dengan hangat selama ini” kata Ji Han haru.

Tangis Jung In semakin keras, dia tak rela Ji Han pergi. Dia sangat menyayangi gadis itu dan telah menganggapnya seperti kakak kandungnya. Namun kenyataan berkata lain, Ji Han tak mungkin lagi tinggal disana setelah apa yang Jung Min lakukan padanya.

“Unniee.. Aku akan mengunjungimu di Seoul nanti. Aku akan mencari universitas di Seoul. Kita bisa bertemu lagi kan disana?” tanya Jung In sambil mengusap air matanya.

“Tentu Jung In.. Tentu..” Ji Han tersenyum bahagia.

“Sekarang keluarlah dulu, aku akan mencarimu lagi setelah aku membersihkan kamar ini” pinta Ji Han.

“Jam berapa kamu akan dijemput Unnie?” tanya Jung In lagi.

“Ehm.. Kakakku pulang kerja pukul enam, mungkin dia sampai disini setengah tujuh. Jangan khawatir, aku akan berpamitan dulu padamu. Aku tak mungkin meninggalkan rumah ini seperti pencuri, kan? Aku juga harus berbicara pada Jung Nam” dia terkikik pelan.

Mereka tak membahas nama Jung Min sama sekali. Ji Han tahu, tak ada gunanya menyebut nama laki-laki itu karena hanya akan membuat suasana menjadi sedih dan tak nyaman.

“Baiklah.. Aku akan menunggumu dikamarku ya Unnie” kata Jung In riang.

Ji Han menganggukan kepalanya sambil melihat gadis itu menghilang di balik pintu kamarnya.

Setelah mengemasi semua barang-barangnya, Ji Han mulai menata kembali kursi-kursi yang jatuh di lantai, menyapu kaca yang pecah dan mengelap air yang menggenang di lantai.

Air matanya menetes dalam setiap helaan nafas yang diambilnya. Begitu sakit rasanya memikirkan sebentar lagi dia akan pergi dari sana. Dengan cara seperti itu. Bila kali ini dia pergi, itu adalah untuk selamanya, dia tak akan kembali lagi.

Dia tak akan pernah melihat senyum itu lagi, mata yang menatapnya tajam penuh gairah, tangannya yang kuat menekan tubuhnya, dadanya yang lebar tempatnya bersandar, humornya yang mentah, ciumannya yang panas menggoda, tubuhnya yang memabukan, dekapannya yang menghanyutkannya. Dia akan merindukan itu semua. Merindukan Raja Kegelapannya..

~~~~

“Sebentar lagi kakakku datang, aku mau bersiap-siap dulu ya Jung In” kata Ji Han pada gadis itu.

Saat dia keluar dari kamar Jung In, Ji Han melihat Jung Min baru saja datang dari luar. Beberapa perban kecil menempel pada pelipis dan pipinya, perban ditangannya pun telah diganti, nampaknya dia telah pergi ke rumah sakit untuk merawat lukanya.

Tubuh Ji Han membeku tak bergerak saat Jung Min melintas di depannya. Laki-laki itu tak menoleh sedikitpun meski dia telah melihat gadis itu dari jauh. Dia meneruskan langkahnya menuju lantai atas dimana kamarnya berada.

Dia tak tahu rencana kepergian Ji Han, dia tak akan pernah tahu.

Dengan tangis tertahan, Ji Han berlari ke dalam kamarnya dan menangis di atas ranjang. Dadanya begitu sesak dan tangisnya tumpah ruah tak terbendung lagi. Sendirian di dalam kamarnya dia menyesali semua yang telah terjadi. Mengapa begitu berat baginya untuk pergi dari rumah itu.

Hatinya tak ingin pergi, meski dia menolak berulang kali cinta Jung Min, namun saat menyadari mereka tak akan bertemu lagi hatinya sakit. Dia tak sanggup jauh dari laki-laki itu, dia hanya akan menyiksa dirinya bila tak dapat melihat Jung Min lagi.

Namun, apa yang bisa dia lakukan? Semua sudah terlambat. Tak akan ada lagi maaf untuknya dari Jung Min. Laki-laki itu telah mengusirnya dan tak ingin bertemu dengannya lagi. Pintu itu telah tertutup untuknya.

~~~~

Hampir pukul tujuh malam Ji Jeong tiba dirumah kediaman keluarga Park. Dia telah membeli sebuah mobil yang dibawanya untuk menjemput adiknya. Setelah berpamitan dengan nyonya Park, Jung In dan seluruh pengurus rumah tangga disana, Ji Han menghampiri kakaknya dengan menenteng sebuah tas yang berisikan barang-barangnya.

Kakaknya mengambil tas itu dan memasukannya ke dalam bagasi. Menunggu adiknya berpelukan mengucapkan selamat tinggal pada keluarga itu.

Jung Nam sampai saat itu belum juga kembali. Tak ada kabar darinya. Ji Han telah menitipkan pesan pada Jung In agar menyampaikan pada kakaknya itu.

Sementara Jung Min yang masih berdiam dalam kamarnya yang sepi tak kelihatan batang hidungnya. Dia tak menyadari keramaian diluar kamarnya, saat mereka mengantar kepergian Ji Han dengan sedih.

“Maafkan anak-anakku Ji Han. Kamu gadis baik. Aku akan dengan senang hati memiliki menantu sepertimu. Andai keadaannya berbeda. Jangan pernah sungkan untuk datang kesini. Rumah ini adalah rumah keluarga Park, bukan hanya rumah Jung Min. Kamu tak usah takut. Ya..” kata nyonya Park sedih.

Dia memeluk tubuh Ji Han dengan erat dan mengelus pipi gadis itu lembut sebelum Jung In mengambil gilirannya untuk berpamitan dengan Ji Han.

“Unniee... Aku akan merindukanmu...” tangisnya terisak di pipi.

“Aku juga akan merindukanmu Jung In.. Jangan lupa pesan yang aku titipkan untuk Jung Nam” katanya tersenyum. Dia sudah merindukan gadis kecil itu meski belum beranjak dari rumah Park.

“Bi Ra Ni, Paman Ok Gil.. terimakasih sudah membantuku selama ini..” Ji Han memeluk pasangan tua itu dengan haru. Dia sudah menganggap mereka seperti orangtua kandungnya sendiri.

“Baik-baik ya Ji Han.. Jangan lupa telphone kami sesekali” kata bi Ra Ni disela-sela tangisnya.

Ok Gil hanya mengangguk sedih pada gadis itu. Ji Han adalah gadis yang sangat rajin, tak pernah Ok Gil melihat ada pengurus rumah tangga serajin dia.

“Selamat tinggal semuanya. Semoga kita masih bisa bertemu lagi. Terima kasih sudah sangat baik padaku selama aku disini” Ji Han membungkuk memberi hormat dan masuk ke dalam mobil yang dibukakan oleh kakaknya.

Ji Jeong memberi hormat pada nyonya Park dan membawa mobil mereka berlalu dari sana.

Dia menyadari mata adiknya yang bengkak, adiknya telah menangis habis-habisan. Dia tahu ada yang mengganjal dalam hati Ji Han, namun dia tak memperlihatkannya.

Dia tak ingin menanyakan masalah apa yang menimpa adiknya. Dia tahu itu hanya akan membuatnya semakin sedih. Malah, dia mengajak Ji Han untuk makan  malam di kota. 

10 comments:

  1. Aaakkkkk,,,Jung Min Bodoooohhhhhhhhh... *pukul2 dada Jung Min*
    Mksh Mba Shin,,tp dpkr Vie di chapter nih d adeganny Mr.Kang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha adegan mr kang ngapain hayoo?? :konotasi adegan kok kesana mulu ya kl dikepalaku? ahhahaha

      Delete
  2. sama vie..aku pikir jg mr.kang yg kena jantung trz stroke trz matii

    ReplyDelete
  3. kaget wktu lihat pic nya kok cewek masuk RS.....oh ternyata adegan nangisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha gak nemu foto cocok soalnya sist.. kl dipantengin bisa sejam juga gak nemu2. sayang waktunya buat searching foto doank

      Delete
  4. nasibnya JUng Min gimna tuch??
    ditinggal pergi oleh Ji Han,
    emang Ji Han ngak dengar ya kalau Jung Nam meniduri tunangannya JUng min??
    ah~~~ pensaran....
    kekkeeke

    ReplyDelete
  5. aaaaaaaaaa... Ji Han pergiiii..

    selamat tinggal kekasiiihh..
    kau laaaah cinta dalam hatikuuuu..
    aku kehilanganmuuuu...
    *nyanyi ala Ruth Sahayana

    lihat ntar JungMin, kamu bakalan lbh sedih dr Ji Han.. *jitak JungMin

    mbak Shiiin.. ini T O P B G T mbaaaaaaaakk..
    i love uuuuuuuuuuu.. *peluuuuuuuuuuuukkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha lagumu sesuatu sist.. makasi banyak sista atas apresiasinya. :hug:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.