"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, December 15, 2012

Eight Drama - Chapter 44



warning: 18 years old or higher


Park Jung Min POV.

Saat aku kembali dari rumah sakit untuk mengobati luka di tanganku, aku melihat gadis itu baru saja keluar dari kamar Jung In. Disana rupanya dia seharian.

Aku mengira dia telah pergi meninggalkanku, aku lega dia masih berada disini. Karena aku tak akan sanggup untuk jauh darinya.

Namun saat kulihat wajahnya yang murung dan sinar ketakutan di matanya, darahku membeku, akulah yang menyebabkan gadis itu ketakutan. Karena kebengisanku, aku telah melukainya, jiwa dan raganya.


Betapa berengseknya aku pada gadis itu. Mengapa begini caraku mencintai seseorang? Aku hanya bisa menyakitinya sejak dia menginjakan kakinya dirumah ini. Tak pernah aku membuatnya bahagia.

Benar kata Jung Nam, aku tak pantas mendapatkan cinta Ji han, aku tak seharusnya memperlakukannya seperti itu. Akulah binatang itu, yang tak mampu mengekang emosi dan cemburuku saat bersamanya.

Aku tak pernah memikirkan kesusahan yang dihadapi Ji Han selama ini. Aku tak pernah mendengar dan  mencoba untuk mengerti dirinya.  Aku selalu memaksakan keinginanku padanya. Memaksanya mengikuti semua pendapatku, tanpa memberikannya kesempatan untuk membela dirinya.

Apa yang bisa gadis itu harapkan dari laki-laki lemah sepertiku? Aku bahkan tak sanggup memutuskan keinginanku sendiri. Aku bahkan tak tahu apa yang aku inginkan saat dia telah berada dihadapanku.

Semestinya aku berjuang lebih keras, mencegah pertunangan itu sebelum terlaksana. Memohon pada Mr. Kang. Bila memang perlu berlutut, aku akan berlutut. Aku akan merendahkan harga diriku dengan mencium kakinya agar merestui hubunganku dengan Ji Han. Gadis yang sangat ku cintai hingga dada ini hampir meledak menahan kerinduanku padanya.

Aku beranjak ke dalam kamar mandiku, berdiri dibawah shower yang menyirami kepalaku dengan air dingin. Sehingga aku bisa berpikir dengan lebih jernih, dan tak meledak-ledak lagi seperti semalam.

Tak ada satupun kaca tersisa dikamarku, tak juga dalam kamar mandiku. Semuanya telah hancur terkena amukanku. Bahkan tangan ini masih terasa perih saat air dingin mengalir membasahi luka-luka yang terbuka itu.

Kini air dingin telah membasahi seluruh tubuh dan pakaianku yang masih melekat, begitu dingin menusuk hingga aku menggigil. Namun mengapa dada ini masih terasa sesak dan mata ini masih terasa panas..

Mata ini sudah tak sanggup mengeluarkan air mata lagi. Telah habis ku teteskan hingga tak bersisa, namun hatiku tetap ingin berteriak memanggil namanya. Meneriakan nama gadis itu hingga suaraku habis. Sehingga dia akan kembali ke sisiku.

“Ji Han..” kataku lirih. Begitu sakit hati ini memanggil nama itu.

Namun aku tak menyangka mataku akan menipuku saat ini. Dibalik air shower yang turun membasahi wajahku, aku melihat sosok gadis itu mendekatiku.

Aku tersenyum sinis, bahkan saat ini tubuhku pun mengkhianatiku. Akal sehatku telah hilang hingga khayalanku membayang di depan mata.

Tak mungkin gadis itu berani mendekatiku lagi, setelah apa yang aku lakukan padanya. Setelah semua ucapanku yang menyakitkan, aku tak akan heran bila dia berlari dan bersembunyi dariku.

Tapi sentuhan tangannya yang lembut terasa begitu nyata membelai wajahku. Aku terpaku dalam diam. Ku tatap matanya, mencari tanda bahwa aku sedang bermimpi. Dan dia memanggil namaku..

Suaranya bagai musik mengalun merdu ditelingaku. Suara yang teramat sangat aku rindukan.

“Jung Min..” begitu katanya.

Saat kusadari itu bukanlah bayangan belaka, aku terhenyak, nafasku tercekat, menyadari kami begitu dekat.

Jari-jari tangannya gemetar mengelus luka-luka diwajahku. Kutatap wajahnya, dia terlihat begitu sedih dan terluka. Terluka karena menghitung begitu banyak memar dan lebam yang menghiasi wajahku.

Ketika jari-jari tangannya turun menyentuh bibirku, aku tak bisa bertahan lagi. Kupeluk erat tubuhnya dan mendesakannya pada tubuhku. Ku pagut mesra bibirnya dengan penuh kerinduan. Ku cium bibirnya yang merekah menggoda. Kurasakan bibirnya membalas ciuman yang aku berikan, begitu manis, begitu mendesak.

Badanku kini menegang kesakitan, karena begitu mendambakan bibir yang manis itu. Kuciumi lehernya mesra, tubuhnya melengkung menerima setiap kecupan bibirku ditubuhnya.

Tanganku mulai melepaskan helai demi helai pakaian kami. Aku sudah tak sanggup lagi untuk bertahan.

“Ji Han.. Aku ingin memilikimu sekarang.. dan untuk selamanya..” bisikku parau saat bibirku menciumi lagi bibirnya yang ranum itu.

~~~~

Normal POV.

Suara air bergemericik terdengar dari dalam kamar mandi, Ji Han melayangkan pandangannya pada cahaya redup yang berpendar dari dalam ruangan itu. Hatinya menghitung langkah-langkah kakinya hingga membawanya ke dalam ruangan yang bahkan lebih lebar empat kali lipat dari kamar tidur dirumahnya.

Dia melihat laki-laki itu sedang berdiri dibawah air shower yang mengalir. Kepalanya tertunduk lelah, tangannya jatuh tak berdaya disamping tubuhnya.

Ji Han ingin mendekatinya, menyentuh punggung laki-laki itu dan memeluknya, melepaskan kerinduannya yang telah menumpuk memenuhi dada.

Meski Jung Min mungkin akan menepisnya, tapi dia akan tetap bergantung pada tubuh laki-laki itu, tak ingin melepaskannya lagi.

Jung Min tak menyadari kedatangan Ji Han dalam kamarnya, tak pula dia mendengar langkah gadis itu saat memasuki kamar mandi dimana dia mencoba untuk mendinginkan emosinya.

Saat matanya menangkap bayangan gadis itu di depannya, dia tak dapat mempercayai penglihatannya sendiri. Tersenyum sinis karena mengira dirinya telah gila menganggap gadis itu masih mau mendekatinya.

Namun saat tangannya menyentuh pipinya dengan penuh kerinduan, Jung Min tahu dia tidak mengkhayal. Gadis itu nyata, dia menyentuh wajahnya, memeriksa luka-luka yang terdapat disana dengan jarinya.

Saat tangannya meraba bibirnya, Jung Min menangkap tangan itu dan memeluk tubuh Ji Han lalu memagut bibir indah itu dalam ciuman hangat yang panjang.

Perlahan ciuman hangat itu berubah menjadi panas, Ji Han tak malu-malu lagi untuk membalas ciuman Jung Min. Digelungkannya tangannya pada leher laki-laki itu, menarik tubuhnya agar semakin dekat dengannya.

Bibir mereka menyatu saling mencari.

Jung Min mengangkat wajahnya dari wajah Ji Han. Memandang sekali lagi untuk meyakinkan dirinya bahwa itu bukan khayalannya. Dia akan gila bila kali ini dia mengkhayal lagi.

“Ji Han.. Benarkah ini kamu?” tanyanya.

Gadis itu mengangguk, tangisnya jatuh tersamar air shower. Helaan nafas lega keluar dari mulut Jung Min. Dia memeluk tubuh Ji Han erat, jantungnya berdebar kencang berpacu dengan debar jantung gadis itu.

“Oh Ji Han.. Betapa aku sangat merindukanmu. Aku menyesali semuanya. Maafkan aku..” katanya sedih. Dia membenci dirinya karena menunggu terlalu lama untuk mengakui kesalahannya.

“Aku juga merindukanmu Jung Min. Sangat... Aku tak bisa hidup tanpamu..” mata gadis itu merah karena terlalu sering menangis.

“Ji Han.. Aku telah menunggu kata-kata itu sejak lama. Dan kini kamu berada dihadapanku, aku tak akan pernah melepaskanmu lagi. Jangan tinggalkan aku..”  

“Jung Min.. Aku mencintaimu..” kata Ji Han akhirnya. Kata-kata yang telah lama disimpannya dan kini akhirnya diungkapkannya juga. Dia ingin Jung Min mengetahui isi hatinya.

“..Aku juga mencintaimu sayang..”

Jung Min mencium bibirnya kembali. Lebih cepat, lebih panas hingga dia mampu mendengar debaran jantungnya yang tak beraturan karena begitu bergairah.

Perlahan bibirnya yang mendamba mencium turun ke arah leher Ji Han yang jenjang, tangannya membantu Ji Han melepaskan pakaiannya kemudian pakaian gadis itu sendiri.

Jung Min mengagumi tubuh telanjang Ji Han, memandang takjub akan keindahan yang terpampang di depannya. Dia menyandarkan tubuh gadis itu di dinding kaca shower, menekan tubuhnya pada tubuh Ji Han. Mendesakan kejantanannya yang telah menegang, menginginkan gadis itu.

Selama ini dia hanya bisa berkhayal untuk menyentuhnya, gadis itu tak tahu bagaimana frustasinya dia mengatasi gairahnya yang tak tersalurkan. Membuat dia gila dan terpaksa melayani dirinya sendiri dengan menyedihkan.

“Sentuh aku Ji Han.. Rasakan diriku yang begitu menginginkanmu” Jung Min membawa tangan gadis itu menyentuh kejantanannya yang telah tegak berdiri, memintanya untuk merasakan betapa tegang dan bergairahnya dia.

Gadis itu menahan nafasnya saat tangannya menggenggam kejantanan Jung Min. Mengukur dengan jari lebar dan panjang kejantanan Jung Min, hanya membuat nafasnya semakin tercekat.

Di wajahnya tersirat kekhawatiran karena tak tahu bagaimana benda itu akan memenuhi dirinya. Akankah benda itu menyakitinya? Tubuhnya gemetar membayangkan kejantanan Jung Min mendesak masuk ke dalam tubuhnya. Namun sedetik kemudian kekhawatiran dimatanya sirna. Dia juga menginginkan laki-laki itu.

“Bi..bisakah itu melaluiku..?” tanyanya malu.

Pipinya merah merona karena menanyakan hal sevulgar itu pada Jung Min.

Laki-laki itu tersenyum padanya. Membimbing tangan Ji Han untuk mengelus perlahan dan bergerak naik turun pada kejantanannya yang  telah siap.

“Aku akan membuatmu merasakan kenikmatan itu Ji Han..” dengan itu dia menciumi lagi bibir Ji Han dengan panas.

Tangannya masih membimbing tangan gadis itu untuk semakin mempercepat gerakannya pada kejantanan Jung Min. Nafas mereka memburu, menandakan gairah mereka telah memuncak.

Tangan laki-laki itu kini bermain diatas payudara Ji Han. Membelai dan memilin putingnya dengan jari tangannya. Kemudian digantikannya dengan mulutnya yang menghisap dengan rakus buah dada itu.

Jung Min kini berlutut, melengkungkan tubuh gadis itu dan mengangkat satu pahanya keatas pundaknya. Tangannya menopang pantat Ji Han dan punggung gadis itu bersandar pada dinding kaca yang tebal.

Diangkatnya paha dipundaknya tinggi-tinggi, matanya menatap penuh gairah daerah kewanitaan Ji Han. Disentuhnya daerah kewanitaan Ji Han dengan jari tangannya. Mencari-cari daerah yang diketahuinya akan membuat kaki Ji Han lemas dan menyerah pada gairahnya.

Saat jarinya menemukan benda itu, tangannya mulai memutar dan menggesek merangsang daerah itu agar siap untuk menerima pemiliknya.

Lidahnya ikut mencari, menjilat dan menghisap daerah kemaluan Ji Han hingga kaki gadis itu goyah dan tak kuat menopang badannya.

“Jung Min.. Aku..ingin keluar... Jangan cium aku disana.. atau kamu akan menelan cairanku..” tangisnya memohon.

“Keluarkan Ji Han, jangan kamu tahan. Aku ingin merasakan cairan kenikmatanmu dalam mulutku. Akan aku hisap habis semuanya. Keluarkan Ji Han..” katanya terangsang mendengar desah nafas Ji Han yang tak beraturan.

Tangan gadis itu bertumpu pada pundak Jung Min dan memeluk erat lehernya ketika gelombang kenikmatan menyergapnya dari dalam tubuhnya.

Jari tangan Jung Min yang bermain pada puncak kewanitaannya membuatnya menggelinjang didera gairah pelepasannya.

Saat gadis itu tak berdaya dan jatuh dalam pelukannya, Jung Min mengangkatnya dan membawanya dalam pangkuannya.

Mereka keluar dari kamar mandi menuju ranjang yang telah menunggu penyatuan tubuh mereka yang selalu tertunda. 

12 comments:

  1. tanggung mba -___-" kirain langsung jebol gawangnya..ehh, masih nunggu di part selanjutnya ternyata

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha ntar 2 chapter sekaligus cin jd 1.. biar puass dah... lol

      Delete
    2. hahhaa, msh third base ya arin, belum gol
      asyik asyik asyik *menunggu dgn tidak sabar*

      Delete
    3. mbaaa.. yang part 45 & 46 masih kuraaaanggg..hahahaha

      iya mba Tika, perlu perpanjangan waktu dulu

      Delete
    4. hahaahahah dah habis ni persediaan kata2 di kepala sist. lol

      Delete
  2. Alam sungguh mendukung diriku untuk m'baca tulisanmu siang ini mba Shin,,,

    #adembintihangat,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa... bukan mendukung itu mah.. melemahkan.. mustinya kl hot ya biar tambah hot musti siang2 panas terik sist lol

      Delete
    2. Bunuh diri donk aqny mbaaa,,,,,hehheehheeee
      HAWT + HAWT = MATENG GOSONG,,,

      Delete
    3. yah mateng doank sist. gak pake gosong ^__^

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.