"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, December 16, 2012

Eight Drama - Chapter 47



Ji Jeong sedang tertidur ketika Jung Min mengetok kaca jendela mobilnya. Masih sambil menggosok-gosok matanya, dia melihat jam di pergelangan tangannya.

Sudah pukul empat pagi dan dia tertidur di dalam mobilnya. Selama itukah dia telah berada di luar sini? Sambil menguap dia turun dari mobil.

“Tidurlah di dalam, masih ada kamar kosong yang bisa kamu tempati” kata Jung Min padanya.


Tak menghiraukan Jung Min, dia bertanya mengenai keberadaan adiknya.

“Dimana Ji Han? Apa dia baik-baik saja?” matanya menyelidik, wajah Jung Min yang babak belur hanya menambah kecurigaannya.

Dia beralih pada tangan kanan laki-laki itu, terbalut perban putih tebal. Mungkin dia berkelahi dengan seseorang. Adakah hubungannya dengan Ji Han yang menangis padanya? Ji Jeong menyipitkan matanya.

Salah tingkah, Jung Min tak tahu bagaimana menghadapi Ji Jeong saat di dalam hatinya dia merasa bersalah karena telah meniduri adik perempuan laki-laki di depannya itu. Meski mereka saling mencinta dan melakukannya atas keinginan mereka, tapi tetap saja Jung Min tak nyaman dengan pandangan Ji Jeong yang meneliti dengan seksama setiap gerak tubuhnya.

Dia pasti dapat membaca bagaimana tak nyamannya Jung Min berdiri disana. Mata laki-laki itu menuduhnya dengan kata “PERVERT” tapi apa yang bisa dia lakukan. Dia laki-laki dewasa, jatuh cinta pada gadis berusia delapan belas tahun, namun usia itu sudah termasuk legal di Korea. Dia bisa meniduri gadis berusia tujuh belas sekalipun.

Namun, dia merasa seperti sedang berada di depan tiang gantungan karena tertangkap basah telah merampas keperawanan seorang gadis di depan kakaknya.

Mungkin Jung Min tak tahu bagaimana protektifnya Ji Jeong pada adiknya. Dia lebih dari sekedar seorang kakak bagi Ji Han. Dia adalah sekaligus sebagai figur ayah yang bertanggungjawab akan keselataman dan kebahagiaan Ji Han. Seperti dirinya bila dia berada dalam situasi yang sama, bila seorang laki-laki seusia dirinya meniduri adiknya Jung In yang masih belia.

Ji Jeong dan Jung Min sangatlah berbeda. Ji Jeong mampu berpikir jernih meski telah dikuasai oleh amarah. Namun Jung Min adalah laki-laki yang bisa meledak kapan saja saat dia marah.

“Ji Han baik-baik saja. Dia sedang beristirahat di dalam” jawabnya.

Ji Jeong tak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri diam dan memandang ke dalam rumah keluarga Park.

“Masuklah. Sudah hampir pagi, kamu tak mungkin mengemudi” bujuk Jung Min lagi.

“..Tidak. Aku harus kembali. Ibu kami pasti akan cemas bila tak menemukan kami dirumah. Aku ingin bertemu dengan Ji Han” kata Ji Jeong.

Jung Min menarik nafas panjang. Dia tak bisa menjelaskan bahwa Ji Han tak mungkin menemuinya sekarang karena gadis itu terlalu lemah untuk berjalan setelah percintaan mereka yang panjang. Lagipula Jung Min tak ingin Ji Han meninggalkannya. Karena dia takut Ji Jeong tak akan mengizinkan gadis itu untuk menemuinya lagi.

“Dia.. tidak dalam kondisi memungkinkan untuk menemuimu sekarang” jawabnya akhirnya.

“Apa maksudmu? Apa yang terjadi padanya?” katanya tajam.

“Ji Jeong. Aku tak akan berbohong padamu. Kita adalah laki-laki dewasa, kamu pasti mengerti maksudku”

“Kami saling mencintai.. Begitu banyak halangan dalam hubungan kami, aku mohon jangan menambah lagi halangan untuk kami” lanjut Jung Min. Dia memohon pada Ji Jeong.

“Dia..tak terluka, kan?” tanya Ji Jeong pelan.

“Tidak. Dia tak terluka. Dia bahagia. Kami bahagia” jawabnya.

Ji Jeong menatap mata Jung Min, mencaritahu bila dia berbohong. Namun Jung Min tak berbohong meski...sedikit.. Ji Han memang bahagia. Saat gadis itu meneriakan namanya dibawah tubuhnya, dia bahagia. Saat tubuh mereka berpelukan lemas, mereka bahagia.

Terlepas dari luka di dalam tubuhnya yang akan segera sembuh kembali.

Tubuh Ji Jeong berdiri tegak, tak kalah tinggi besarnya dengan tubuh Jung Min. Bila suatu hari mereka harus berhadapan satu lawan satu, Jung Min yakin dia tak akan sanggup mengalahkannya.

Ji Jeong laki-laki yang pintar dan sabar. Dia tahu bagaimana mencari celah untuk menjatuhkan lawannya. Dan Jung Min tak ingin mencari masalah dengan ‘calon kakak iparnya’ itu.

“Aku akan kembali lagi kesini. Aku harap kalian telah membereskan masalah yang kalian miliki. Aku pergi” katanya pada Jung Min.

Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Ji Jeong memanggil namanya.

“Jung Min..” katanya.

“Ya..?”

“Jangan buat adikku menangis lagi. Aku tak akan memaafkanmu untuk yang kedua kalinya” senyum terukir diwajahnya.

Jung Min memandang kepergian Ji Jeong dengan lega. Satu beban lagi dalam dadanya telah terangkat. Dia telah mendapat restu dari laki-laki itu.

~~~~

Ji Han menggeliat malas dalam tidurnya, saat menggerakan tubuhnya dia berjengit menahan nyeri di pangkal pahanya.

“Good morning sweetheart..” sapa Jung Min padanya tersenyum.

“Morninng... Kamu sudah bangun dari tadi?” tanya Ji Han padanya. Jung Min mengecup bibirnya mesra.

“Aku bahkan tak bisa tidur sama sekali setelah kembali dari menemui Ji Jeong” jawab Jung Min.

“Bagaimana kakakku? Apakah..dia marah?” tanya Ji Han cemas.

“Tidak. Dia merestui hubungan kita..” Jung Min memeluk tubuh gadis yang dicintainya itu dengan erat. Kebahagiaan memenuhi dadanya karena akhirnya mereka bisa bersatu.

“Benarkah?” Ji Han menangis haru. Kakaknya tak memarahinya, Ji Jeong memang sosok kakak yang sangat baik. Dia sangat menyayangi kakaknya itu.

“Benar sayangku.. Kita akhirnya bisa bersama.. Aku tak akan melepaskanmu. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku..” wajah laki-laki itu sedih memikirkan Ji Han pergi meninggalkannya.

“Sebenarnya.. Aku sudah mengemas semua pakaianku dari sini. Aku bahkan sudah pulang kerumahku kemarin sore..” kata Ji Han pelan, takut membuat Jung Min marah.

“..Kamu meninggalkanku? ...lalu mengapa kamu kembali Ji Han?” tanyanya tercekat.

Dia tak tahu harus marah atau senang karena gadis itu telah berada disisinya sekarang.

“Karena aku tak bisa hidup tanpamu Jung Min. Aku menyadari aku harus berjuang untuk kebahagiaanku sendiri. Aku hanya menipu diriku dengan mengatakan aku mengambil pilihan yang terbaik. Terbaik untuk siapa? Tak akan ada yang perduli meski aku mati, aku harus memperjuangkan kebahagiaanku sendiri. Setidaknya aku harus mencobanya. Agar aku tak menyesal dikemudian hari. Kakak menyadarkanku..” dia begitu sedih memikirkan betapa salahnya dia selama ini.

“Sayang... Aku tak akan mengecewakanmu. Aku akan menjaga kepercayaan yang telah kamu berikan padaku. Setelah semua masalah ini selesai.. Aku ingin menikahimu.. Aku tak ingin menunda-nunda lagi.. Itupun jika..kamu bersedia..” katanya lemah.

Dia tak ingin Ji Han merasa dia terlalu memaksanya karena menginginkan pernikahan mereka secepatnya. Jung Min tak ingin Ji Han berubah pikiran, sekaranglah saat yang tepat untuk melamar gadis yang dicintainya itu.

“..Apakah kamu melamarku Jung Min?” nafasnya tertahan, jantungnya mulai berdebar kencang.

Jung Min bangkit dari posisi tidurnya, dia menarik tubuh Ji Han hingga mereka duduk berhadap-hadapan di atas ranjang. Ji Han dengan tubuh telanjangnya, dan Jung Min yang hanya bertelanjang dada. Dia menggenggam kedua tangan gadis itu.

“Benar Ji Han. Aku melamarmu.. Bersediakah kamu menjadi istriku Ji Han? Bersediakah kamu mendampingiku hingga akhir hayatku? Mendampingi laki-laki berengsek sepertiku? Aku tak akan menjanjikan bunga dan pesta setiap hari untukmu, tapi aku berjanji cinta dalam hatiku akan selalu bertumbuh setiap saat untukmu. Aku tak bisa berjanji tak akan cemburu dan posesif berlebihan, karena kamu telah membuatku gila. Namun aku berjanji akan selalu mendengarkan kata-katamu. Ji Han.. Cintaku.. Sayangku.. Hidupku.. Jadilah istriku, Kekasih hatiku. Aku tak ingin menanyakanmu, aku memintamu.. Karena aku tak ingin mendengar jawaban tidak..” katanya lembut mengancam.

Ji Han berdecak disela-sela isak tangis bahagianya. Dia ingin berteriak dan mengatakan “YA” pada laki-laki itu. Namun suaranya tercekat. Isak tangis bahagia menyesakan dadanya.

“Ji Han.. Hatiku.. Aku sangat mencintaimu..” kata Jung Min lagi.

“..Aku bersedia Jung Min.. Aku bersedia..” tangisnya tumpah ruah membasahi pipinya.

Jung Min merengkuhnya dalam pelukannya. Mengucap terimakasih karena Ji Han telah mempercayainya dan bersedia menjadi pendamping hidupnya.

“Aku akan membahagiakanmu Ji Han. Aku akan membahagiakanmu..” bisiknya ditelinga gadis itu.

Jung Min mencium bibir Ji Han dan membawanya dibawah tubuhnya. Dia begitu merindukan bibir gadis itu. Mereka berciuman mesra tak memikirkan waktu yang telah berlalu. Karena dunia hanyalah milik mereka berdua. 

15 comments:

  1. BATAL ke Seoul donk,,,?????xixixixiixixiiiii

    mba Shin,,reader2 di undang yagh????

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhha emang yakin mereka bisa nikahhh??? hayoo...

      Delete
    2. yakin ga yakin sigh,,,
      tapi mereka pan dagh dapat restu dari nyokapnya,,,
      tapi tinggal Monster Kang adja yg jadi penghalang,,,

      Delete
  2. ahhhh, so sweeeeetttttt *gula kale*

    ReplyDelete
  3. sweet bgt si,gda mslh lg dunk y.heheh congrats my jung min :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe ya msh ada beberapa yg musti diberesin ama jungmin ;)

      Delete
  4. akhirnya jung min sama ji han bersatu juga :D
    cepet2 selesein masalah yg sama mr.kang dodol itu yg jung min terus nikah deh sama ji han :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip sipsip ehehhehe. keep mantengin selalu ya sist ;)

      Delete
    2. nih lagi nunggu update-an chap 48.. kok belum ada yah mba???? :D

      Delete
    3. hahahahha jungminnya lg cuti haid sist.. belum bs ngelanjutin ceritanya. lol...

      Delete
  5. hhahha... mba shin ada2 aja nih... :D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.