"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, December 1, 2012

Eight Drama - Chapter 7



Sudah pukul satu malam saat pintu kamar Ji Han di gedor dari luar. Dia beringsut bangun masih dengan mata mengantuk dan membuka kunci pintu kamarnya.

Dia melihat “Raja kegelapan” memandangnya dengan tajam. Dia pasti bermimpi, pikirnya. Ketika dia hendak berbalik dan menutup pintu kamarnya, laki-laki itu menahan pintu dengan kakinya dan menarik lengan Ji Han hingga wanita itu tersadar dari kantuknya. Wajahnya pucat menyadari dia sedang tak bermimpi.

“Siapa yang menyuruhmu mengunci pintu kamar?” katanya dingin.


“Dirumah ini tak ada satupun orang yang boleh mengunci kamarnya. Dulu seorang tukang kebun mengunci kamarnya dan dia sedang terlelap saat api dari puntung rokoknya membakar seisi kamar itu. Kini dia cacat, apa itu yang kamu inginkan?” wajahnya sungguh menyeramkan, suaranya yang berbisik mengintimidasi keberanian Ji Han yang mulai merosot. Laki-laki ini menakutinya.

“Maaf..” jawab Ji Han tertahan. Mata Jung Min menyipit.

“Maafkan saya, tuan” koreksi Jung Min. “Ulangi!” perintahnya.

“Duh, laki-laki ini sungguh mengerikan” sungut Ji Han dalam hati. Dia menggigit bibirnya gugup.

“Maafkan saya, tuan..” kata Ji Han pelan.

“Bila aku melihatmu mengunci pintu ini sekali lagi, aku akan menyeretmu agar tidur di halaman” desisnya. Dia pun melepaskan pegangannya pada lengan Ji Han. Tangan itu memerah karena cekalannya yang kuat.

“Bawakan aku kopi ke ruang kerjaku” perintahnya dan berlalu pergi dari sana.

Ji Han mengutuk dirinya karena tak menyadari Jung Min muncul di depan kamarnya, tapi saat ini sudah jam satu malam, dan dia masih mengganggunya.

“Beginilah bila menjadi pengurus rumah tangga, kamu harus siap bila dipanggil kapanpun juga” hatinya membathin.

Ji Han menyambar sweaternya, dia tidur hanya memakai pakaian dalam, dan “Raja kegelapan” MELIHATNYA??!! Ji Han memekik pelan menyadari keteledorannya. Meski demikian, Jung Min tak berkata apa-apa saat Ji Han membawakan kopi ke dalam ruang kerjanya.

“Dia hanya melihatmu sebagai anak kecil, mana mungkin dia tertarik terhadapmu” katanya dalam hati saat kembali ke dalam kamarnya. Dia akan memastikan untuk tak mengulangi kesalahannya lagi.

~~~~

Jung Min menghirup secangkir kopi ditangannya, kopi itu sudah dingin, namun tubuhnya tetap terasa panas meski sudah sejam berlalu sejak dia membuka kamar pengurus rumah tangga itu. Dia tak menyangka akan melihat gadis itu hanya dengan pakaian dalamnya.

Wajahnya yang terkantuk terlihat tanpa dosa saat membuka pintu. Dia sempat terpana memandang tubuh gadis itu. “Dia tak mungkin tertarik pada gadis yang masih bau kencur, kan?” tanyanya pada hatinya.

“Siapa namanya katanya? Ji Han?” bisiknya bukan pada siapa-siapa.

“Cukup menarik..” senyum sinis terukir di sudut bibirnya.

~~~~

“Bi.. aku akan melakukan apapun selain mengantarkan sarapan ini padanya” rengek Ji Han sambil merengut pada bibi Ra Ni.

“Kenapa? Kamu takut padanya?” dia tertawa geli.

“Dia memang menakutkan bi, aku gugup disampingnya” jawab Ji Han.

“Nanti juga kamu terbiasa. Jangan hiraukan dia. Ayo bawa sarapan ini sebelum dingin” bi Ra Ni menepuk pundaknya agar segera berlalu dari sana.

“tok..tok..” Ji Han mengetok pintu, namun tak ada suara yang terdengar. Dia kemudian membuka pintu itu dan menemukan tak ada siapa-siapa disana. Tirai telah dibuka dan ranjang telah dirapikan.

“Bukankah hari ini minggu, apa dia sudah pergi?” kata Ji Han pada dirinya.

“Siapa diluar?” terdengar suara Jung Min dari dalam kamar mandi, pintunya terbuka.

“Saya mengantarkan sarapan pagi, tuan” jawab Ji Han setengah berteriak.

“Kesinilah” perintahnya.

Ji Han panik, apa yang diinginkan laki-laki itu menyuruhnya masuk ke dalam kamar mandinya? Ji Han tak berani membayangkan apa yang Jung Min sedang lakukan disana. Karena Ji Han tak kunjung menghampirinya, Jung Min kemudian memanggilnya lagi.

“Kamu tak mendengarku? Kesinilah? Cepat!” teriaknya dari dalam.

“I..iyaa.. tuan” Ji Han melangkah perlahan untuk menemui Jung Min. Dia berhenti di depan pintu kamar mandi itu. Jung Min sedang berada di dalam bath tub, terlihat samar tubuh telanjangnya di dalam air. Pipi Ji Han pun merona karena tak sengaja melihat terlalu lama.

“Ambilkan handuk untukku” perintahnya lagi.

Ji Han menjulurkan handuk pada Jung Min tanpa menoleh padanya. Laki-laki itu memandangnya sekilas.

Dia kemudian bangkit dari duduknya, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang sempurna. Ji Han kaget setengah mati, dia  membalikkan tubuhnya dan menutup matanya. Mencoba melupakan apa yang tak sengaja telah dilihatnya.

“Laki-laki kurang ajar” bisiknya dalam hati.

Jung Min memandangnya sambil berkacak pinggang. Handuk telah terpasang dipinggangnya.

“Aku tak akan memakanmu, sekarang keluarlah. Aku ingin berganti pakaian” katanya dingin.

Ji Han kemudian membungkuk memberi hormat dan berlari kecil keluar dari kamar mandi yang menegangkan itu. Jantungnya berdegup kencang dan muka nya merah menahan malu. Bibi Ra Ni menyapanya cemas saat berpapasan dengannya di koridor ruang tamu.

“Aku tak apa-apa bi” jawabnya pelan.

Hari itu rumah keluarga Park sepi. Nyonya rumah dan anak-anaknya mengunjungi sebuah pesta pernikahan keluarga mereka di kota sebelah. Mereka baru pulang sekitar pukul sepuluh malam.

Saat semua anggota keluarganya sudah masuk ke dalam kamar, Jung Min masih lalu-lalang di kebun dekat kolam ikannya. Dia duduk santai sambil menghisap rokoknya dengan nikmat.

“Sudah sejam dia disana, betah sekali” sungut Ji Han memandang boss nya dari kejauhan.

Bibi Ra Ni telah pergi ke rumahnya dan tinggalah dia disini mengawasi laki-laki itu. Setidaknya tinggal dua jam lagi dan dia bisa beristirahat. Badannya pegal seharian membersihkan gudang.

Gudangnya sungguh berantakan, barang-barang ditaruh seenaknya seperti tempat penimbunan sampah. Dia pun bergelut dengan debu dan sampah selama tiga jam di dalam gudang itu. Saat dia selesai, keluarga Park baru saja tiba.

Dia tak tahu mengapa dia menguras tenaganya untuk bersih-bersih seperti ini, namun dia adalah gadis yang sangat menyukai kebersihan, tangannya akan gatal bila melihat setitik debu saja tertinggal. Tapi hasilnya sempurna, dia tak menyesal meski sekarang “kerajinannya” berbalik menyerangnya. Punggung, pinggang dan lehernya terasa pegal dan menyakitkan. Baru kali ini dia bekerja sekeras itu.

Telephone di dapur berdering. Ji Han kebingungan, dia tak tahu siapa yang menelphone dan dengan gugup dia mengangkatnya.

“H..Hallo?” tanya nya ragu. Tak ada jawaban

“Halloo... siapa ini?” tanya Ji Han lagi.

“...”

“Kalau tidak ada yang menjawab, akan ku tutup telphonenya” dia pun menutup telphone itu.

“Sungguh aneh. Siapa yang iseng begitu menelphone tapi tak bersuara?” gerutunya.

Dia duduk di dalam dapur, bengong dan tak tahu harus mengerjakan apa. Dia teringat pada kakak dan ibunya. Saat ini mereka pasti sedang menonton tivi tanpa dirinya. Tak terasa air matanya menetes, dia merindukan keluarganya.

“Kenapa telphoneku tak kamu angkat?” katanya geram.

Ji Han menoleh ke arah pintu tempat suara itu berasal. Jung Min sedang bersandar di daun pintu memandangnya dingin. Laki-laki itu memang mengagumkan. Meski wajahnya sedingin es kutub selatan, dia masih mampu membuat jantung Ji Han berdebar kencang. Dia sungguh tampan dengan kemeja biru gelap dan rambut yang berantakan tertiup angin.

“Kamu tak mendengarku?” ulangnya lagi.

“A...apa yang anda katakan tadi tuan?” Ji Han tergagap, menyadari dia terlarut lagi dalam lamunannya. Lamunan tentang “Raja kegelapan” yang sedang berdiri di depannya.

“Aku bilang, kenapa telphoneku tak kamu angkat?” dia menghampiri Ji Han yang sedang duduk di kursi dapur. Menoleh sekeliling tempat itu.

“Buatkan aku kopi dan bawa ke kamarku” perintahnya. “Dan kamu belum menjawab pertanyaanku tadi” katanya sambil berlalu dari dapur meninggalkan Ji Han yang sedang menggerutu.

“Issh.. apa sih maunya laki-laki itu? Apa semua majikan seperti ini? Merepotkan. Aku ingin pulang....” teriaknya frustasi.

“Masuk” kata suara dari dalam kamar.

Ji Han menjinjing sebuah nampan berisi secangkir kopi dan sepiring penganan kecil. Dia memandang Jung Min yang sedang duduk terlentang di atas ranjangnya. Dia telah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, namun piyama itu tak satupun terkancingi memperlihatkan dada nya yang seksi. Ji Han mengambil nafas dalam.

“Dimana saya letakan kopi anda tuan?” tanyanya.

Jung Min sedang sibuk dengan tablet di tangan, dia menunjuk meja disamping ranjang dengan dagunya. Setelah meletakan kopi itu, Ji Han pun mengundurkan diri. Dia ingin beristirahat.

“Apakah ada yang lain lagi tuan? Jika tidak, saya akan kembali ke kamar saya” dia sudah tak kuat lagi untuk berdiri, seperti menginjak ribuan paku dibawahnya.

Jung Min meletakan tabletnya di atas meja. Memandang tajam kepada Ji Han.

“Kamu belum boleh pergi. Duduklah” perintahnya tanpa memberitahu dimana Ji Han harus duduk.

Dia pun kebingungan, hanya ada kursi sofa dan sebuah kursi di balik meja kerja, tak mungkin dia duduk sejauh itu. “Raja kegelapan” bisa membunuhnya.

Jung Min berdecak tak sabar. Dia menarik tubuh Ji Han dan membuatnya duduk di pinggir ranjangnya. Ji Han terkesiap. Tubuh mereka begitu dekat. Dia bahkan bisa menghirup aroma sabun yang Jung Min gunakan. Laki-laki itu baru saja selesai mandi. Rambutnya terlihat masih basah.

“Apakah dia berendam lagi?” bathin Ji Han.

Dia teringat tubuh telanjang Jung Min, dan pipinya kontan memerah. Dia duduk dengan gugup, tubuhnya tegang menanti apa yang akan Jung Min katakan. Dia tak akan “memperkosanya” kan?

“Aku tak akan “memperkosamu” bila itu yang kamu takutkan” suaranya terdengar hampir seperti desisan di telinga Ji Han.

Bila dia tak melihat mulut Jung Min bergerak, dia akan mengira laki-laki itu berbicara melalui bathinnya padanya.

“S..saya tidak berkata apa-apa..” dia menunduk, takut melihat tatapan membara di mata Jung Min.

“Mengapa laki-laki ini begitu menakutkan” bathin Ji Han. Dia hampir tak berani berkutik dari duduknya.

Tatapan Jung Min membuatnya tak nyaman, Ji Han gelisah dalam duduknya. Kamar itu sunyi, tak terdengar suara apapun dari luar, kemungkinan kamar itu kedap suara. Suara dari dalam maupun dari luar akan teredam sehingga tak terdengar.

Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara berat dari mulut Jung Min.

“Aku ingin membicarakan tentang kontrakmu” katanya pelan.    

3 comments:

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.