"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, December 1, 2012

Eight Drama - Chapter 8



“Kontrak?” tanya Ji Han bingung. Dia tak mengerti apa yang Jung Min katakan.

“Iya kontrak, nona, kamu bilang siapa namamu tadi?” tanyanya lagi.

“Saya Ji Han, tuan. Lee Ji Han” jawabnya .

“Baik, nona Lee Ji Han. Kita akan membicarakan kontrakmu selama “melayani” disini” dia menekankan suaranya sedemikian rupa sehingga Ji Han berpikir ada sesuatu yang tersirat di dalam kata-katanya itu.

“Saya tak mengerti, saya kira semua sudah di setujui oleh..”


“Oleh Jung Nam. Dan asal kamu tahu nona Ji..Han..” dia dengan sengaja melambatkan suaranya saat menyebut nama Ji Han. Begitu mengintimidasi.

“Asal kamu tahu.. disini, akulah yang membiayai semua pengeluaran rumah tangga. Dan aku lah yang berhak mendikte dan memutuskan apakah aku setuju atau tidak. Demikian juga dengan kontrakmu” matanya berkilat saat mengatakan kata terakhir.

Ji Han mulai tak suka dengan nada bicara Jung Min. Laki-laki ini terlalu gila kekuasaan. Dia ingin agar semua hal berada dalam kontrolnya. Tak bisakah dia membiarkan semuanya seperti semula, tanpa harus ikut campur pada sesuatu yang sudah teratasi dengan baik. Dia akan menghancurkan rencana kursus milik Ji Han. Laki-laki ini adalah orang yang sangat perhitungan.

“Diam mu pertanda kamu mengerti. Keluarlah” dia kemudian memejamkan matanya. Meninggalkan Ji Han yang masih duduk terpaku di sisi ranjangnya.

“Kenapa kamu masih belum keluar? Kamu ingin menemaniku tidur malam ini?”

“Oh Tuhan, mata itu begitu gelap. menenggelamkanku” pekik Ji Han dalam hatinya.

“Ti..tidak. saya akan keluar sekarang” dia buru-buru bangkit dari duduknya. Namun sebelum dia sempat memutar tubuhnya menuju pintu, Jung Min memegang tangannya. Menahannya.

“Jangan lupa apa yang aku katakan semalam. Jika kamu berani mengunci pintumu lagi, konsekwensinya akan sangat berat nona”

Betapa Ji Han ingin mencakar-cakar wajah dingin itu. Dia tak takut padanya, dia takut pada dirinya karena bisa meledak dan mencaci-maki laki-laki di depannya ini. Dia begitu geram akan ke arogansian Jung Min.

“Dasar orang kaya” ketusnya saat telah berada diluar kamar Jung Min.

Dengan langkah kaki sengaja didentumkan ke lantai, Ji Han masuk ke dalam kamarnya. Dia mengunci pintunya.

“Aku mau mandi!! Aku tak ingin ada yang masuk ke kamar ini. Salah??!! Aku tak peduli padamu” teriaknya pada dinding kamarnya.

Dia sedang asyik berendam di dalam bath tub kamarnya. Kamar tidur pengurus rumah di rumah itu cukup besar. Dengan luas 5 meter persegi dan sebuah kamar mandi lengkap dengan bath tub. Meski sederhana, fasilitas untuk seorang pengurus rumah tangga sangat memadai.

Ji Han menyukai ide merendam tubuhnya dalam air hangat. Suara air mengalir mengalihkan perhatiannya. Dia tak menyadari pintu kamarnya di gedor berkali-kali. Suara marah dan makian penuh umpat terdengar dibalik pintu. Dengan sekali dobrak, pintu itu kemudian terhempas ke dinding, terbuka.

Ji Han tak menyadari ada yang mengawasinya dari balik punggungnya. Dia sedang asyik mengelap tubuhnya dengan sebuah handuk basah. Pundaknya, lengannya, hingga kakinya yang langsing saat terangkat di udara memperlihatkan pahanya yang mulus.

Dia tak menyadari pengaruh yang dia berikan pada sosok laki-laki yang menatapnya tak berkedip dibelakang tubuhnya. Nafas laki-laki itu mulai memburu. Terbakar oleh amarah dan gairah yang muncul dari bawah tubuhnya.

Dia tak berharap menemukan pemandangan seperti ini kali ini. Saat pertama kali menemukan Ji Han hanya mengenakan pakaian dalamnya, gadis itu telah membangkitkan gairah yang telah lama tak terpuaskan.

Bagi laki-laki itu, mengawasi tubuh telanjang Ji Han di dalam bath tub, bagai membayangkan seekor singa yang sedang melihat mangsanya tak berdaya di depannya. Siap untuk diterkam dengan cakar-cakarnya yang tajam. Dilumatkan dengan taringnya yang runcing, mengoyak tubuh langsingnya dan menghisap habis darah segar hingga tak setetes pun yang tersia-siakan.

~~~~

Setelah mengenakan pakaian tidurnya, Ji Han hendak membuka kunci pintu kamarnya. Dia tak ingin “tuan besar” mendatanginya dan berteriak di depannya tentang masalah kunci pintu lagi.

Tapi dia kebingungan saat menyadari dia belum mengunci pintu kamarnya sama sekali. Dia hanya mengernyitkan dahinya.

“Rasanya tadi sudah aku kunci” katanya.

Masa bodoh, dia mengangkat bahunya kemudian naik ke atas ranjang dan meringkuk di dalam selimutnya yang hangat.

~~~~

Keesokan harinya, Bibi Ra Ni mengatakan padanya bahwa dia tak perlu mengantarkan sarapan pagi pada Jung Min.

“Tuan Jung Min akan sarapan di bawah, bersama keluarganya dan Tuan Kim In” jelasnya.

“Tuan Kim In? Siapa itu bi?” tanya Ji Han, dia menggigit sebatang asparagus panggang. Dia mulai menyukai makanan disini. Begitu banyak jenis makanan baru yang dia coba, diantaranya dia paling suka dengan asparagus panggang. Rasanya gurih dan segar, seperti kacang polong dan teksturnya lembut seperti brokoli.

“Tuan Kim In itu asisten nya tuan Jung Min. Tapi mereka sudah berteman dari kecil. Keluarga mereka sudah saling mengenal sejak generasi tuan Park Song Min, kakek dari tuan Jung Min”

“Tuan Kim In lebih tua setahun dari tuan Jung Nam, jadi dia lebih kecil dari tuan Jung Min. Mengerti kan?” jelas bibi Ra Ni.

“Ooo... Tuan Kim In orangnya seperti apa bi?” tanya Ji Han lagi, dia ingin tahu orang-orang yang akan dia temui di rumah ini.

“Dia senang bercanda, dia sangat akur dengan tuan Jung Nam. Selain karena umur mereka tak beda jauh tentunya” katanya sambil mengatur piring-piring dan meletakan makanan di atas meja.

“Pagi bibi Ra Ni” sapa seorang laki-laki muda. Dia baru saja datang. Pakaiannya rapi dengan rambut disisir tanpa cela.

“Pagi tuan Kim In. Kamu sudah datang” balas bi Ra Ni.

“Siapa ini bi? Pengurus baru?” Kim In menunjuk pakaian Ji Han yang sama persis dengan bibi Ra Ni.

“Ayo kenalkan dirimu pada tuan Kim In” kata bi Ra Ni pada Ji Han yang bengong memegangi nampan yang telah kosong.

“Ah.. Iya.. Saya Lee Ji Han. Saya baru bekerja disini beberapa hari, tuan” jawabnya sopan.

“Ah!! Lee Ji Han?! Adiknya Ji Jeong??” dia menghampiri Ji Han dan menarik nampan yang dia pegang, tangannya menyalami tangan Ji Han dengan kuat.

“Aku Kim In. Kakakmu dan aku berteman dekat. Aku tak tahu kalau adik Ji Jeong begitu cantik” katanya terpesona. Dia membuat pipi Ji Han merona merah.

“Tuan Kim In anda mengolok-ngolok saya” jawabnya tersipu malu.

“Panggil aku Kim In. OK” mereka masih berpegangan tangan saat Jung Min turun dari kamarnya. Dia menatap Ji Han tajam saat melihat mereka sedang berpegangan tangan.

“Kamu tak ada pekerjaan lain selain merayu tamuku?” bentaknya.

Ji Han terperanjat. Dia buru-buru mengundurkan diri dari sana dan bersembunyi di dalam dapur. Laki-laki ini terbuat dari besi, sangat cepat panas dan mendidih.

“Dia pasti mengira aku telah menyia-nyiakan uang yang dia bayarkan untuk gajiku” sungut Ji Han saat masuk ke dalam dapur. Dia duduk di kursi dan memandang keluar. Berharap tiga bulan itu cepat berlalu.

“Kamu tak perlu memarahinya. Aku lah yang memaksa menggenggam tangannya. Dia adiknya Ji Jeong, kamu tahu dia kan?” kata Kim In saat mereka duduk di kursi meja makan.

“Bukan urusanku” jawab Jung Min dingin.

Kim In hanya berdecak heran. Dia berdiri dan memeluk nyonya Park saat wanita itu tiba disana diikuti oleh Jung In yang tertawa cengengesan.

“Oppa.. kamu datang” rajuknya.

“Ya.. kamu tak ada kerjaan pagi-pagi sudah merajuk?” candanya pada Jung In.

Mereka makan pagi sambil bercakap-cakap. Bibi Ra Ni dan Ji Han mengawasi sambil mengisi gelas-gelas yang kosong dengan jus atau air mineral sesuai permintaan mereka.

“Kamu sudah makan Ji Han?” tanya Kim In padanya saat menuangkan jus jeruk di gelasnya.

“Sudah, tuan” jawabnya singkat.

“Kan aku sudah bilang, panggil aku Kim In. Aku tak mau mendengar kamu memanggilku tuan lagi, ya?” protesnya sambil tersenyum.

Dari kursi seberang, Jung Min mengawasi mereka berdua dengan pandangan sinis. Kedekatan mereka mengganggunya.

Suara Jung Min yang ditujukan pada Ji Han menghentikan percakapan kecil mereka.

“Tunggu aku di ruang kerjaku. Pembicaraan kita semalam belum selesai” perintahnya pada Ji Han.

Ji Han membungkuk memberi hormat, setelah meletakan pitcher berisi jus jeruk di atas meja, dia masuk ke dalam ruang kerja Jung Min. Dia menunggu laki-laki itu. Namun sepuluh menit kemudian dia belum muncul juga.

Karena bosan, Ji Han membuka-buka buku yang dilihatnya di rak lemari. Album kenangan yang berisi foto-foto anggota keluarga Park saat mereka kecil.

Dia melihat Jung Min kecil sedang tertawa lepas disana, usianya masih tiga tahun. Dia berlari bertelanjang kaki di pantai. Senyumnya begitu menawan.

“Kenapa dia tak pernah tersenyum lagi sekarang?” tanya Ji Han pada dirinya.

Dia sangat terkejut ketika Jung Min menjawab pertanyaannya dari balik tubuhnya.

“Aku rasa itu bukan urusanmu nona” matanya gelap bagai mendung tebal yang menyelimuti langit.

Ada apa dengan laki-laki ini dan suasana dingin di ruangan. Saat dia belum berada di ruangan ini, Ji Han tak merasa kedinginan. Mungkin mata laki-laki itulah yang selalu memancarkan udara dingin pada sekitarnya. Tatapan penuh kebencian. Dia akan gila bila setiap hari harus menghadapi tatapan dingin laki-laki ini.

7 comments:

  1. jung min rasakan pembalasan ji han :p

    ReplyDelete
  2. Aduhh,,aduuhhh...nih drama korea pan yh??tp knp yg jd Jung Min kbayangny Ethan Blackstone,,David Gandy yh klo g slh nmny?? *nunduk* (merasa bersalah)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha emang sifat mereka kyk jung min ya sist? aku belum pernah baca, kyk nya menarik tuh :D

      Delete
  3. Aku baca bagian ji han di KM dan reaksinya jung min... Ketawa ngakak hahaha .... :D

    ReplyDelete
  4. mbaaaa ituu si jung in nnti ama sapah???

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.