"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, December 24, 2012

Eleventh Drama - Chapter 3



Linda tak menyangka akan bertemu dengan wanita itu lagi. Dia baru saja pulang dari tempat kerjanya sebagai kasir di sebuah toko kue bernama “Jung’s bakery and cake”

Dia menatap lurus ke depan, tak ingin terpengaruh oleh kehadiran wanita itu di sisi jalan menuju rumahnya. Namun langkahnya tertahan saat seorang anak kecil memanggilnya.


Noona...” panggil Hyun kecil padanya (Noona = panggilan adik laki-laki pada kakak perempuannya di Korea). Adik tirinya yang berumur delapan tahun menatapnya riang. Dia tak dapat mencegah senyuman muncul diwajahnya.

“Hyun..” balas Linda. Meski dia tak menyukai ibu kandung adiknya, namun dia menyayangi adiknya itu.

Bocah kecil itu juga menyayanginya meski mereka tak terlalu sering bertemu.

Hyun kecil berlari riang memeluk kakaknya. Dia terlihat senang berada didekat Linda.

“Linda.. “ kata ibu tirinya.

“Apa yang kamu inginkan?” tanyanya langsung. Dia tak ingin berlama-lama bersama wanita yang telah menghancurkan keluarganya.

“Apa kita harus berbicara disini? Sudah malam.. udara sangat dingin. Kamu tidak kasihan pada adikmu Hyun?” ibu tirinya yang bernama Seong Ri ikut menghampiri Linda yang berdiri di depan pintu masuk rumahnya.

Tak ingin berdebat didalam udara malam yang dingin menusuk, Linda membuka kunci pagar rumahnya dan mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya yang kecil.

Lampu neon putih menyala terang di dalam ruang tamu yang sempit. Terlihat sebuah ranjang kecil milik Linda dipojok. Lampu tidur berwarna hijau menghiasi meja pendek disamping ranjangnya. Tak banyak barang berharga yang dia miliki.

Setelah ibunya meninggal, Linda menggunakan tabungan yang diberikan ibunya untuk membeli rumah ini dengan menyicil. Perlu sepuluh tahun lagi baginya untuk bisa melunasi rumah itu. Hanya terdapat sebuah lemari tempatnya menaruh pakaian-pakaiannya, set dapur sederhana, sebuah kulkas kecil, mesin cuci, televisi berwarna, kipas angin yang digantung dilangit-langit kamar dan sebuah meja belajar yang penuh berderet buku-buku dengan rapi.

Kamar itu bersih, jendela-jendelanya pun terlihat sangat sering dibersihkan. Kamarnya rapi tanpa ada secarik sampah kertaspun berserakan dilantai. Juga terdapat sebuah kamar mandi yang tersambung dengan ruang tamu sekaligus ruang tidurnya.

“Kamu hidup cukup baik” kata ibu tirinya saat melihat-lihat kamar Linda. Mereka duduk di lantai kayu, Linda membuatkan teh hangat untuk ibu dan adik tirinya.

“Cukup baik untukku sendiri” dia mencoba menjaga nada suaranya agar tak terdengar sinis pada ibu tirinya itu.

Dia sungguh tak bisa berlama-lama didekatnya. Kebenciannya akan terkemuka ke permukaan.

“Jadi apa yang kamu inginkan?” tanya Linda lagi. Badannya terasa pegal karena melayani pembeli seharian. Dia bahkan hampir tak dapat merasakan kakinya yang kebas karena terlalu lama berdiri.

“Ayahmu ditahan siang ini. Dia sudah dipenjara dan tak tahu kapan akan dikeluarkan” nada suara ibu tirinya itu datar. Dia tak dapat menangkap emosi apapun dari sana.

Sejenak Linda membisu. Mengingat kembali percakapannya dengan ayahnya kemarin. Begitu cepatkah ayahnya harus dipenjara? Berapa lama dia harus meringkuk disana sebelum dibebaskan? Akankah dia dibebaskan?

Menggelapkan uang sebesar 500juta Won bukanlah perkara kecil. Ayahnya bisa menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara dan adik kecilnya tak akan sempat melihat ayahnya saat dia tumbuh remaja. Apa yang harus dia lakukan?

“Itu bukanlah urusanku” ketusnya akhirnya. Dia tak ingin dijadikan penyebab ayahnya masuk penjara, karena ayahnya sendirilah yang membuat dirinya berada dibalik jeruji besi itu.

“Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu Linda? Dia ayahmu” kata ibu tirinya tak percaya.

“Dia sudah punya keluarga baru yang akan mengurusinya, sehingga aku tak usah mencampuri urusan yang bukan urusanku lagi” jawab Linda dingin. Dia meneguk teh digelasnya. Membuang wajah dari ibu tirinya.

“Jika kamu tak menolong ayahmu, Hyun akan berakhir sepertimu Linda. Menyedihkan. Dia masih kecil, apakah kamu tega melihatnya hidup tanpa ayahnya saat usianya masih sekecil ini Lin? Aku tahu akulah yang menyebabkan keluargamu hancur, namun tolong lihatlah Hyun. Dia tak bersalah.. Tolonglah ayahmu. Tolonglah kami” wanita itu meneteskan air mata.

Linda merasa sebagian dirinya terenyuh dan bersalah karena tak menerima permintaan ayahnya. Tapi permintaan laki-laki itu bukanlah permintaan yang bisa dia setujui. Dia harus menukarkan kebahagiaannya agar ayahnya keluar dari penjara.

Dia tak ingin berkorban sebanyak itu, tidak, dia bahkan tak perlu melakukannya. Ayahnya tak pantas untuk diberikan sebanyak itu pengorbanannya. Dia tak pernah ada untuknya, mengapa dia harus ada untuk ayahnya.

Linda menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak. Aku tak bisa. Aku tak bisa menolongnya. Kalian sendirian sekarang. Aku tak akan menghancurkan hidupku lagi. Cukup sekali saja kalian merusak kebahagiaanku. Kini, kalian selesaikan sendiri masalah kalian tanpaku” dia bangkit dan berdiri di depan pintu, mengisyaratkan ibu tirinya untuk segera angkat kaki dari rumahnya.

“Aku lelah setelah bekerja seharian. Kalian pulanglah dan jangan kesini lagi” ketusnya dingin. Dia tak bisa memberikan apa yang mereka inginkan. Terlalu mahal untuk dia bayar.

Ibu tirinya berdiri dan menggendong Hyun kecil disampingnya. Berjalan pelan melewati Linda, wanita itu berhenti.

“Pikirkanlah lagi. Ayahmu tak akan hidup lama didunia. Apa kamu ingin dia menghabiskan sisa hidupnya didalam penjara dan menerima hukuman kejahatan yang tak dilakukannya?”

Dengan itu ibu tirinya pergi meninggalkan rumahnya. Linda terduduk diam diatas ranjangnya, memikirkan kembali kata-kata ayah dan ibu tirinya. Dia sungguh tak bisa. Andai ada jalan lain, dia tak ingin melakukan hal itu.

Menjadi wanita simpanan bukanlah cita-citanya. Dia ingin berjalan menuju altar dengan pangeran impiannya. Bukan dengan laki-laki hidung belang yang membelinya dengan uang 500 juta Won. Itupun bila dia tidak hanya menjadi penghias ranjang laki-laki itu.

Linda merenggut rambutnya dan berteriak kesal.

Keesokan harinya dia terbangun dengan wajah merengut karena tak bisa memejamkan matanya. Bangkit dari ranjangnya yang kecil, Linda mengisi gelas dimeja dan menuangkan air putih untuk diminumnya. Kebiasaannya setiap pagi untuk meminum segelas air putih diajarkan oleh ayahnya ketika mereka masih bersama. Bila dia tak meminum air putih saat bangun tidur, tenggorokannya akan tercekat kesakitan dan tak bisa bersuara.

Meletakan gelasnya, Linda termenung lagi. Mengenang semua kenangan indah saat bersama ayahnya. Terlepas kelakuan ayahnya yang meninggalkannya, laki-laki itu tak pernah menyakitinya. Dia adalah sosok ayah yang baik saat mereka masih hidup bersama.

Dia begitu merindukan kenangan itu. Namun, untuk melakukan hal yang ayahnya minta benar-benar tak bisa dibayangkannya. Masa depannya sudah terlalu rumit untuk ditambah lagi dengan masalah-masalah ayahnya.

Linda menghela nafasnya dan memakai sepatu larinya untuk berlari pagi mengelilingi kompleks perumahan tempat dia tinggal. Suasana pagi hari mampu mengusir ketegangan dan kesusahannya sejak dulu. Tak terkecuali hari ini. Dia akan berlari dan melupakan masalahnya sejenak.

“Kalian kembali lagi?” tanya Linda yang terkejut menemukan ibu tirinya menggandeng tangan Hyun kecil di depan pintu pagar rumahnya.

“Aku tak akan berhenti sebelum kamu bertemu dengan ayahmu dan menolongnya” kata ibu tirinya kukuh.

“Pergilah. Aku tak ingin berurusan dengan kalian lagi” katanya ketus. Suasana hatinya yang telah membaik kini kembali dihancurkan oleh kedatangan mereka.

“Noona.. Kamu membenci kami?” tanya Hyun kecil sedih.

Linda terkejut setengah mati, adiknya yang tampan menanyakan hal yang tak disangkanya. Dia terlihat begitu terganggu dengan pengusiran kakaknya.

“Hyun...hyun... tidak.. kakak tidak membenci kalian..” jawab Linda seraya memeluk adiknya.

“Tolonglah ayah noona.. Aku takut bila tak ada ayah..” kata bocah kecil itu lagi.

Linda dapat melihat mulut adiknya yang bersiap-siap untuk mengeluarkan tangisan. Anak kecil itu terlihat menggemaskan bila merengut.

“Hyun.. Kakak tak bisa.. kakak..” Hyun kecil merangkum wajah kakaknya dengan kedua tangannya yang kecil.

“Noona.. Ayah tak akan kembali lagi? Ayah tak akan bermain bersama denganku lagi? Bila ayah dipenjara, aku bisa bermain kesana kan? Aku ingin bersama ayah..” katanya polos.

Tak terasa ucapan anak kecil yang polos itu mampu membuat hatinya menangis. Dia sangat mengasihani adiknya itu. Hatinya mulai ragu bila dia harus bertahan. Dia tak mungkin menghancurkan masa depan adiknya kan? Tapi mengapa dia harus memilih masa depannya untuk dihancurkan.

Linda mengusap air matanya. Tanpa berkata lagi, dia masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian dia telah berganti pakaian dan menemui ibu tirinya yang masih berdiri di depan rumahnya.


“Ayo kita temui ayah” kata Linda pada adiknya. Senyum letih terukir diwajahnya yang cantik. 

Eleventh Drama - Chapter 4 
Eleventh Drama - Chapter 2 

30 comments:

  1. Yuhuu..
    Mba shinn..
    Fans baru nih..
    Hihihihi

    aduhh, kasian bgt si Linda nya ya.
    :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... halo fans baru.. hahahaa.. bisa aja sist ini. makasi ya dah main kesini :D

      Delete
  2. Haaaa..... Mba Shin wlw jd smpanan bs khn dy nkah normal??kshn Lindaa...
    *sok jd cenayang*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihihi... emang nikah yg gk normal itu yg gmn sist?

      Delete
  3. miris jadi linda. Sedih bca nya. Mba shin knp ayah nya linda jahat bnget sih? :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah. mgkn krn ayahnya linda pengen punya anak cowok, jd dia nikah lagi.. tp wkt dia jual anaknya ke presdir choi, itu krn dia gk ada pilihan lain... drpd jual anaknya ke lintah darat kan? wkkwkww

      Delete
    2. ke lintah darat???? itu lebih kejam mba...
      mending mati aja deh :D

      Delete
    3. mending ama presdir choi aja sist hihihihihhihiihih

      Delete
    4. iya dong itu mah sudah pasti... masih muda kaya pula hhahha

      Delete
  4. Replies
    1. mau apaan sist? mau ucrit? jangan... ntr di RW lg ^^

      Delete
  5. mba,,,,
    itu foto anakku knp dipasang yah???
    royalti nya mana sini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah ndak mirip mas bale.. gak caya aku :huh:

      Delete
  6. ni bukan anak sama mas bale mba...

    ma jung min mba...

    sumpah deh aku....

    ReplyDelete
    Replies
    1. boong.. jungmin rambutnya gk keriting sist. paman okgil br keriting wkwkwkkwkwkw :kabur:

      Delete
  7. ya ampun mba,,,,

    rambutku keriting
    jadi itu rambutnya ambil dari aku,,,

    ReplyDelete
  8. ya mba, aku cuma dksh rambutnya aja....

    yang laennya jung min bgt...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkw gak terimaa.... wkwkkwkwkw

      Delete
    2. knp sih mba tb2 teriak2 gak terima??
      mba blom terima gaju dari jung min?
      y nanti aku kasih tau dia yah

      Delete
  9. more,kepo,heheh mba fathy poliandri ni :)

    ReplyDelete
  10. Blom "menggigit" cz si Linda blom ktmu ma Si Presdir Choi,,,

    Ntar klo dah ktemu pasti langsung #Cetar Membahana Kece Badai,,,xixixiixxiiiii

    eehh,,,bukanny dulu jaman si Linda msih skolah dah ktemu yagh walo hnya skilas??

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan ketemu namanya itu sist... lagian kan belum tahu itu beneran mereka atau bukan hehehehhee

      Delete
    2. ahhh,,,itu pasti mreka,,,,yakin aku,,,seribu persen yakin,,,hahhahaa

      Delete
    3. trus kl ternyata bukan mereka gmn? hayoo...

      Delete
  11. Mb shin,ko chapter 1 & 2 gk ad ceritanya?
    Bsa dbuka tp muncul judulnya doang.
    Jadi gk nyambung lgsung ke chapter 3

    ReplyDelete
    Replies
    1. kyknya kl buka dari hp emang gak bisa sist, coba ntr aku siasatin ya. mdh2an bisa :)

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.