"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, December 25, 2012

Eleventh Drama - Chapter 5



“Atau kamu lebih suka bertemu dengan laki-laki tua yang kamu maksud? Aku dengan senang hati akan mencarikan laki-laki tua yang sesuai bayanganmu mengenai diriku” matanya menyipit menatap Linda yang diam membisu.

“Aku..Aku ingin membicarakan tentang ayahku, denganmu” kata Linda akhirnya.

Presiden Choi bangkit dari duduknya, memutari kursi dibelakang Linda. Menekuk tubuhnya hingga kepala mereka bersisian. Dengan lembut, dia berbisik disamping telinga wanita itu.


“Jadi dia mengutusmu untuk langsung melakukan penawaran, ha?” senyum jijik bermain diwajah laki-laki itu.

Linda merasa harga dirinya diinjak-injak oleh perkataan Presiden Choi itu. Dia mencoba berdiri namun pundaknya ditahan oleh kedua tangan laki-laki itu agar tetap duduk diam dikursinya.

“Aku sudah katakan aku tak tertarik lagi padamu, tapi setelah melihat dirimu  yang asli, mungkin aku berubah pikiran bila.. kamu mau melepaskan sedikit kain yang membungkus tubuhmu” katanya kasar.

Dia merasa laki-laki itu benci padanya karena bersedia menjual tubuhnya demi menolong ayahnya.

Dia akan menelan kehormatannya, namun sebelum itu dia ingin menceramahi laki-laki sombong itu dengan sedikit caci maki darinya.

“Aku adalah wanita terhormat, tuan. Hanya laki-laki hidung belang sepertimulah yang bersedia membeli seorang wanita untuk ditidurinya” katanya dingin.

Presiden Choi mencekal pundaknya dengan keras. Laki-laki itu mendekatkan bibirnya pada pipi Linda, berbisik mengancam wanita itu.

“Aku tak perlu membayar untuk membuat wanita melayaniku di atas ranjang, nona. Ayahmulah yang menawariku tubuh putrinya. Tak lebih. Mungkin lebih baik kamu memberikan ayahmu kata-katamu tadi” desisnya. Linda bisa merasakan tubuh mereka bereaksi oleh kedekatan itu.

Nafas Presiden Choi memburu ditelinganya. Dia sendiri hampir tak dapat menahan emosinya untuk tak menampar wajah tampan laki-laki itu.

“Dan aku tak rugi apa-apa meski kamu pergi dari sini. Ayahmu tetap akan membusuk dipenjara, dan itu bukan urusanku” dia melepas cekalannya dari pundak Linda dan menyuruh wanita itu keluar dari kantornya. Matanya tajam mengancam.

“Bila tak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, keluarlah. Aku punya pertemuan yang lebih penting daripada ini” senyum culas terukir diwajahnya. Licik dan arogan.

Linda bangkit dari kursinya. Wajahnya menunduk, pikirannya dipenuhi dengan pikiran-pikiran tentang apa yang akan dia lakukan. Dia tak akan punya kesempatan lagi untuk menemui laki-laki ini selain saat itu. Bila dia keluar dari pintu itu sekarang, ayahnya tak akan tertolong lagi.

Namun bila dia menyetujui perintah laki-laki itu untuk melepaskan pakaiannya, apakah yang akan terjadi padanya? Dia merasa seperti wanita murahan yang dibayar untuk memuaskan laki-laki hidung belang yang ditemuinya dipinggir jalanan kumuh.

Presiden Choi berbalik dan hendak membuka kenop pintu kantornya ketika Linda memanggilnya. Laki-laki itu kemudian menoleh ke arah wanita itu. Matanya membelalak, mulutnya terbuka. Samar dia menelan ludah yang mengumpul dimulutnya.

Tubuh Linda yang hanya terbalut bra dan celana dalam biru membuat kakinya lemas. Nafasnya berat saat dia melangkah mendekati wanita itu.

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan, kan? Aku akan memintamu untuk menandatangani perjanjian, dan kamu tak akan bisa lari, kecuali aku melepaskanmu” matanya berkabut saat menatap wajah Linda yang menunduk karena malu.

Wanita itu hanya mengangguk, tak ingin melihat wajah Presiden Choi yang mengeras.

“Tentang perjanjiannya.. Aku tak ingin dibagi-bagi..” kata Linda pelan.

“Dibagi-bagi? Apa artinya itu?” Presiden Choi mengangkat alisnya. Dia tak pernah melakukan hal ini sebelumnya dan pernyataan Linda membuatnya bingung.

“Aku tak ingin kamu memberikanku pada orang lain juga. Aku hanya akan melayanimu” katanya cepat. Pipinya merona merah saat mengucapkan kata-kata itu.

Presiden Choi menggeram. Nafasnya tersenggal-senggal. Matanya membelalak marah.

“Kamu kira aku laki-laki apa? Meski aku bersedia melakukan hal ini, aku tak serendah itu. Aku tak suka membagi-bagikan milikku nona. Atau Linda.. terdengar lebih menggairahkan..” tangannya meraih wajah Linda dan mengelus kulit halus wanita itu.

“Aku.. Aku harus pergi, sebentar lagi aku harus bekerja. Kamu bisa menghubungiku, aku akan memberikan nomberku” kata Linda terbata.

“Kamu tidak akan kemana-mana Linda.. Urusan kita belum selesai. Dan aku tak suka menunda-nunda pekerjaan” tangan laki-laki itu kini merayap dilehernya yang jenjang.

“Kamu begitu cantik, kamu tahu itu?” bisik Presiden Choi di depan bibirnya.

Linda menelan ludahnya, debar jantungnya mungkin bisa terdengar oleh laki-laki di depannya.

“Kenakan pakaianmu lagi. Akan ada orang yang datang dan mengurus semuanya. Dan besok, setelah perjanjian itu ditanda-tangani,  ayahmu akan bebas. Aku harap kamu tak melarikan diri setelah ayahmu bebas. Karena aku tak akan memaafkanmu.. atau keluargamu” ancamnya.

Semenit kemudian masuk dua orang laki-laki berjas hitam gelap memberi hormat pada Presiden Choi. Mereka berdiri disamping Linda yang telah memakai pakaiannya kembali.

“Mulai hari ini, kamu adalah milikku Linda. Seluruh hidupmu ada dalam genggamanku. Hanya aku yang boleh menemuimu” katanya pada wanita itu, sebelum menyuruh pengawalnya membawa Linda keluar dari ruangan kantornya. Senyum licik bermain diwajahnya.

“Ki Joon” panggilnya pada pengawal yang menunggu di depan pintunya.

“Bereskan masalah ini” lanjutnya lagi.

Laki-laki yang bernama Ki Joon kemudian membungkuk memberi hormat dan berlalu setelah menutup pintu ruangan itu. Presiden Choi duduk dibelakang mejanya, tangannya bertumpu  dikepala. Seringai lebar terlihat diwajahnya.

Dia terlihat sangat senang, sesuatu yang jarang terlihat pada wajah dingin itu.

~~~~

Linda mendekap tangannya di dada. Dua orang pengawal itu membawanya ke dalam sebuah mobil van besar dan mendudukannya di kursi penumpang. Mereka tak mengatakan akan membawanya kemana, dia bahkan tak tahu apa yang akan dilakukannya saat ini.

Presiden Choi, begitu dia dipanggil. Linda tak tahu nama asli pria itu, berapakah umurnya, dimanakah dia tinggal, seperti apakah dia, sudah beristrikah dia, atau sudah punya anakah dia?

Linda tak dapat membayangkan dirinya akan menjadi apa yang paling dibencinya. Wanita simpanan. Dia tak ingin menjadi penghancur rumah tangga orang lain, walau semenarik apapun laki-laki itu.

Akan lebih nyaman baginya bila mengetahui Presiden Choi adalah laki-laki tua jelek seperti yang pertama dibayangkannya. Namun saat menemui Presiden Choi yang begitu tampan, dia merasa bersalah pada istri laki-laki itu.

“Aku menjadi apa yang aku benci, bu. Maafkan aku..” bisik Linda. Tangisnya jatuh tanpa suara. Dia tak ingin pengawal laki-laki itu mengetahui kelemahannya.

Mereka tiba di sebuah rumah dengan pintu gerbang yang membuka menggunakan remote control. Kedua pengawal itu menggiring Linda ke dalam rumah berarsitektur Eropa kuno. Rumah mewah nan megah pertama yang pernah dimasukinya.

Cat tembok putih pada dindingnya terlihat masih baru, mungkin rumah itu sedang direnovasi menyeluruh karena terlihat bahan bangunan yang terkumpul di sebuah sudut rumah itu.

Linda tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada gaya klasik rumah itu. Ruangannya yang tinggi lega begitu anggun dan elegan. Terdapat banyak pintu yang setiap pintunya menuju ke ruangan berbeda-beda, dia tak akan pernah tahu apa isi dibalik pintu itu. Mereka tak akan mengizinkannya, bukan?

Sebuah piano hitam mengkilap berdiri ditengah-tengah sebuah ruangan yang menghadap ke arah kebun. Kebun itu hanya berpagar tak lebih dari satu meter, namun dibalik pagar itu terdapat sebuah jurang terjal yang langsung tembus ke hamparan batu-batu sungai yang berasal dari sebuah air terjun yang nampak dikejauhan. Pemandangan yang sungguh mengagumkan.

Jendela-jendelanya tinggi lebar bertirai merah beludru, masih terikat menggantung dipinggirnya, memamerkan nuansa luxury pada seluruh ruangan dirumah itu. Seorang pelayan wanita paruh baya menghampiri Linda. Wanita itu tersenyum padanya.

“Nona Linda, nama saya Rong Ji, pelayan pribadi anda. Saya bertanggung jawab dalam menyediakan semua kebutuhan anda. Saya akan selalu menemani anda” katanya sopan.

“Dimana aku?” tanya Linda tak memperdulikan pelayan barunya. Kedua pengawal yang membawanya kesini telah menghilang entah kemana.

Rumah itu memiliki penjagaan yang cukup ketat. Ketika Linda tiba dirumah itu, dia melihat dua orang penjaga keamanan berjaga-jaga di depan pos pintu gerbang, dia tak mungkin bisa melarikan diri dari sana tanpa tertangkap kembali.

“Anda berada dirumah milik Tuan Choi Hyun Jae. Namun beliau jarang datang kesini, karena beliau tinggal dirumah utama” senyum Rong Ji mengerti apa arti keberadaan Linda disana.

“Kalau dia tidak kesini, berarti aku sendirian?” tanya Linda lagi. Kepanikannya karena ketatnya penjagaan rumah itu mulai mengurang setelah mengetahui Presiden Choi tak akan datang kerumah itu.

Namun, apakah mungkin laki-laki itu tak ingin memakai apa yang baru saja dibelinya?

“Mungkin saja, tapi saya rasa kemungkinan itu kecil. Rumah ini adalah rumah yang sangat berarti bagi Tuan Choi, beliau tak pernah mengizinkan siapapun tinggal disini selain keluarganya, namun anda disini. Beliau pasti sangat menghargai anda” jelas pelayannya itu.

“Ya, dia menghargaiku 500 juta Won. Harga yang sangat tinggi, aku heran mengapa laki-laki seperti dia perlu melakukan hal itu” kutuknya dalam hati.

Setidaknya laki-laki itu tak akan menyentuhnya malam ini kan? Dia belum siap. Dia tak tahu apa-apa mengenai hubungan seksual. Apa yang harus dia lakukan.

Apakah laki-laki itu tahu bahwa dia masih perawan? Oh tentu saja dia tahu, kalau tidak mengapa dia mau menghargainya dengan sangat tinggi.

“Laki-laki hidung belang” desis Linda tanpa sepengetahuan Rong Ji.

“Mari, saya antarkan ke kamar anda” kata Rong Ji sopan, Linda mengikuti langkah wanita itu dengan malas.

Dia ingin pulang. Ingin memeluk bantal gulingnya yang nyaman. Bukan berada dirumah seluas ini, sendirian. Dia tak tahu siapa-siapa disini. Dia merasa kesepian. Andai laki-laki itu disini, setidaknya ada yang bisa diajaknya mengobrol.

Tapi bila laki-laki itu disini, mereka tak akan mengobrol. Sudah tugasnya untuk melayani laki-laki itu, kan?


“Haiz.. Apa yang aku pikirkan” ketusnya kesal. Dia membenci pikirannya yang selalu berakhir pada pertanyaan seputar apa yang akan mereka lakukan saat Presiden Choi tiba dirumah itu. 

Eleventh Drama - Chapter 6 
Eleventh Drama - Chapter 4 

29 comments:

  1. aih aih makin penasaran.
    berharap cerita ini happy ending.
    bis drama yg dah tamat di sini endingnya aneh2.
    hehe

    ReplyDelete
  2. kirain lgsng dterkam si linda ama direktur choi hahahhaa

    ReplyDelete
  3. wuahhh
    emang dasar laki yah katanya udah ga minat tpi, liat linda cuma pake bra sama cd aja langsung dipenjarain *hadeuh.*

    ReplyDelete
  4. macan kale mba diterkam,kren euy.lanjut ah,heheh

    ReplyDelete
  5. aneh tapi bgus ko mba sin.
    hehe
    aq cman penggemar happy ending ky critanya ji han dan jung min.
    jd agak nyesek pas bca ending drama yg ke 6 sama ke 5..
    hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha... kedua cerita ini, 9th n 11th kyk nya bakal happy ending kok sist. mdh2an aj ehhehehhe

      Delete
  6. i hope so.
    abis suka uring2an sendiri mpe g bz tdur klo bz bca ternyata akhrnya sad ending..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah... sneng donk sist, krn bisa mendalami cerita seperti itu. kadang kalau baca cerita trus gak bisa masuk ke hati akhirnya gak jd baca krn gk dapet emosinya. kmrn aja beli novel judul n deskripsinya bagus tp setelah dibaca ternyata gak doyan, yah akhirnya drop deh gk bs lanjutin. percuma puluhan ribu untuk satu novel hehehehehe

      Delete
  7. Huaa,,huaaa...makiiinn g sbaaaarrrr sm lnjutannyaaa....
    *melupakan Ji Jeong smntr* xixixi..
    Mksh Mba Shin..

    ReplyDelete
  8. hehehe.
    suka agak lebay emang klo udah bca novel.
    klo blm selesai suka greget sendiri.
    klo dah selesai tp endingnya g sesuai suka kesel sendiri.


    ia tuh sist aq juga sering bli novel tpi g sesuai sama hati akhrnya bru stengah dibaca udah dilempar tuh buku

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha betul betul.. drpd kita tersiksa sist... percuma baca kl gk bisa meresapi. ehehhehee

      Delete
  9. hmmmmmmmmm,,,malam pertamanya pasti bakal hancur tuh kasur & sgal2nya,,whuahahhah

    good job sistah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang mencuri perhatianku itu justru yg terakhir sist. "& sgal2nya.." segala2nya dihancurin. ehem... apakah aku tahu yg manakah itu? ehhehehe

      Delete
  10. rong ji???
    aku tadi bacanya tong ji,,, merek teh yg sering ku minum...

    coi, gw jitak loh nyakitin linda....

    ReplyDelete
    Replies
    1. tong sam cong kali sist..ah.. choi choi choi.. bukan coi.. apalagi cui.. iya ndak coi? wkkkkwkw

      Delete
  11. gen tong aja sekalian mbak

    hahahaha.....

    gak berenti ketawa,,,,

    ReplyDelete
  12. to ke cang sama cu kong lagi berantem,,,,

    mba ii apa2n sih kok jadi ngelawak gini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. siapa ngelawak? aku lg ngelamun nih :p

      Delete
    2. ngelamunin adegan aku sama ji jeong y mba??

      hehheeh
      nti aku ty ji jeong maunya gmna??

      Delete
    3. adegan ngapain sist ama jijeong? adegan lg minum es ya? hahahaha

      Delete
    4. di kamar berduaan mba,
      pegang2 tangan,,,,

      Delete
  13. Replies
    1. ahahhahaa.. trus maunya ngapain aja sist???

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.