"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, December 25, 2012

Eleventh Drama - Chapter 6



Rong Ji membuka pintu sebuah kamar dilantai dua rumah itu. Linda menganga saat menginjakan kakinya dikamar itu. Kamar itu begitu luas, lebih luas dari seluruh luas rumah kecilnya. Terdapat kursi santai, meja baca, lemari yang menyatu dengan dinding, televisi flat screen yang tertancap ditembok, meja rias dengan cermin yang mampu memantulkan seluruh tubuhnya. Dan sebuah tempat tidur luas ditengah-tengah kamar.

Rong Ji menunjukan kamar mandi padanya. Meskipun rumah itu bergaya klasik, namun fasilitas didalamnya tak kalah mewah dengan hotel berbintang. Bahkan kamar mandi itu dilengkapi sebuah jacuzzi elektrik yang bisa dipakainya untuk merendam tubuhnya yang letih.


“Saya akan meninggalkan anda, pakaian ganti anda sudah saya taruh dilemari. Semua kebutuhan rias anda juga sudah saya taruh pada tempatnya. Silahkan melihat-lihat, setelah anda selesai saya akan mengantarkan makan malam anda” Rong Ji mengakhiri kata-katanya dan menutup pintu dibelakangnya. Kini Linda sendirian dalam kamar itu.

~~~~

Linda terbangun dari tidurnya meski kegelapan masih menyelimuti malam. Pukul tiga dini hari dan dia merasa tenggorokannya kering. Dengan bertelanjang kaki, dia keluar dari kamarnya. Mencoba menemukan dapur rumah itu.

Hanya lampu redup yang menyinari koridornya yang panjang. Linda tak tahu dia berada dimana. Dia mengumpat pelan menyadari dirinya telah tersesat. Dia tak tahu dimana letak kamarnya.

Mencoba mengingat kembali arah ke kamarnya, Linda membuka setiap kamar yang dilewatinya. Dekorasi Kamar-kamar itu hampir sama persis dengan dekorasi kamarnya, hanya saja seluruh furniturenya ditutupi kain putih yang melindungi dari debu dan kotoran.

Saat mulai kelelahan karena tak menemukan kamarnya, Linda menjadi panik. Dia berada dirumah itu seorang diri, bahkan tak ada seorang pelayan pun yang terlihat. Dia tak tahu arah kekamarnya, tak pula tahu arah keluar dari rumah itu. Dia ingin berteriak dan menangis namun suaranya tak keluar. Dia membayangkan dirinya berada dalam rumah hantu yang menakutkan.

“Kyaaaaa!!!!” teriakannya bergema di dalam rumah itu.

Seluruh penghuni rumah yang terdiri dari lima orang pelayan dan dua tukang kebun tergopoh-gopoh mendatangi asal suara teriakan itu. Empat pengawal pribadi yang tak pernah dilihatnya pun terlihat berlari mendekat dengan panik. Semua orang memandanginya, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. 

“Kalian boleh pergi, tak terjadi apa-apa” kata suara dingin yang telah dikenalnya.

Semua pelayan dan pengawal itu kemudian meninggalkan mereka. Masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas sehingga mereka kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat. Para pengawal kembali ke posnya menjaga rumah itu.

“ng..ngg..nggg..” suaranya terdengar seperti rengekan. Mulutnya didekap dengan ketat oleh tangan laki-laki itu.

Tak ingin melepaskannya, dia justru mendekatkan wajah mereka. Memandang wajah wanita itu lekat-lekat, matanya tampak geli melihat ketakutan yang terpancar dari mata Linda.

“Kamu mengejutkan semua orang. Mengapa kamu bisa ada disini?” tanyanya. Namun dia masih tak melepaskan dekapannya dari mulut wanita itu.

Linda mencoba membuka dekapan tangan laki-laki itu dari mulutnya, namun tangan laki-laki itu kuat menahannya, dia tak bisa melepaskannya.

“Shh..shh...aku akan melepaskan tanganku, jangan berteriak lagi ya” senyum mengembang diwajahnya.

“Kamu? Kenapa bisa ada disini?” tanya Linda pada laki-laki di depannya.

“Ini rumahku, aku tak harus memiliki alasan untuk tinggal disini kan? Dan kamu, mengapa kamu berada disini?” tanyanya kembali.

“Bukankah kamu yang menyuruh anak buahmu membawaku kesini?” tanya Linda bingung.

Laki-laki itu membuka mulutnya hendak protes, namun ditutupnya kembali. Sinar didalam matanya berubah, namun Linda tak memperhatikannya.

“Ah ya.. Aku yang menyuruh mereka membawamu kesini. Dan apa yang akan kamu lakukan disini?” tanya laki-laki itu lagi.

“Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan disini, bukankah kamu yang seharusnya menanyakan dirimu, apa yang akan kamu lakukan padaku setelah kamu membeliku?” teriaknya kesal.

Laki-laki itu benar-benar membuatnya pusing. Tak cukupkah dia mempermalukannya di dalam kantornya tadi sore.

“Aku akan mengantarkanmu ke kamarmu. Dimana tadi kamu bilang kamarmu?” tanya laki-laki itu pelan.

“Aku tak mengatakan apa-apa, tapi kamarku dilantai dua. Entah sebelah mana aku tak ingat” jawabnya.

“Baiklah.. Aku tahu dimana kamarmu..” dia berkedip nakal.

Mereka tiba di depan pintu kamar yang Linda tempati. Laki-laki itu tak mencoba ikut masuk ke dalam kamarnya. Justru dia berhasil mencuri sebuah kecupan ringan dipipi wanita itu.

“Kita bertemu besok, ok?” laki-laki itupun berlalu dan turun ke lantai dasar sambil bersiul-siul dikesunyian malam.

“Orang yang aneh. Tapi aku bersyukur dia tidak meniduriku malam ini. Uhhh.. aku tak tahu apa yang harus aku lakukan”

Linda kembali bergelung dalam selimutnya yang tebal, dia terbangun saat seseorang menyibak rambut yang menutupi wajahnya.

“Kamu sudah bangun?” tanya laki-laki itu.

“Kamu? Kenapa kamu disini?” Linda menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia hampir lupa dimana dia berada.

“Bukankah sudah aku bilang ini rumahku?” dia terlihat senewen karena ditanyakan pertanyaan yang sama berkali-kali.

“Maaf.. maksudku mengapa kamu ada dikamar ini..” Linda masih meringkuk di atas ranjang, dia takut laki-laki di depannya akan mendekatinya dan memaksanya.

“Aku hanya ingin melihatmu. Seperti apakah wanita yang aku beli saat matahari terang bersinar. Aku tak bisa melihat dirimu dengan jelas pagi tadi”

Laki-laki itu bersedekap, mengira-ngira seperti apakah tubuh Linda saat wanita itu berdiri.

“Sudah pukul berapa sekarang?” tanya Linda mengalihkan perhatian laki-laki itu dari tubuhnya.

“Pukul sepuluh pagi, dan aku rasa kamu tertinggal sesuatu? Breakfast mungkin?” senyum jahil bermain disudut bibirnya.

“Apa? Aku.. Aku sedang diet” jawabnya tak ingin terlihat kalah darinya.

“Bangunlah, kamu harus segera turun. Wanita cantik sepertimu terlalu sayang untuk dibiarkan di atas ranjang seharian. Meski aku rasa banyak ide yang bisa kita lakukan diatas ranjang itu” tawanya terbahak-bahak menyadari pipi Linda merona merah.

“Apa yang kamu lakukan disini?” suara dingin menusuk terdengar dari belakang tubuh laki-laki itu.

Linda menoleh ke arah suara itu dan nafasnya tercekat menyadari betapa miripnya mereka. Mereka kembar???

“Aku bertanya sekali lagi, apa yang kamu lakukan disini? Kamu seharusnya berada di Inggris!!” teriaknya marah.

Linda merasa bulu kuduknya berdiri mendengar nada marah dalam suara Presiden Choi yang asli.  Dia akhirnya tahu perbedaan mereka dari raut wajahnya yang keras. Presiden Choi yang dilihatnya kemarin tak memiliki raut wajah santai seperti laki-laki yang membangunkannya pagi ini.

“Aku hanya sedang menyapa barang  yang baru saja kamu beli. Mungkin aku ingin mencobanya sesekali” katanya sinis.

Jantung Linda terkesiap mendengar ucapan laki-laki itu. Dia tak menyangka akan mendengar dirinya diumpamakan seperti barang yang bisa dicoba  seenaknya. Matanya menatap marah pada Presiden Choi palsu, namun laki-laki itu tak membalas tatapannya. Dia sedang berhadapan dengan Presiden Choi yang asli.

“Setan kamu Hyun Jung!!” pukulan telak mendarat di rahang laki-laki yang bernama Hyun Jung itu. Membuatnya terjerambab dilantai, tak siap menerima pukulan Presiden Choi.

“Pengawal!!! Usir manusia ini keluar dari rumahku!!” teriaknya pada pengawal pribadinya yang datang tak lama setelah itu.

Mereka menghampiri Hyun Jung dan membantu laki-laki itu berdiri.

“Bila aku melihat wajahmu dirumah ini lagi, aku akan menghajarmu hingga sekarat” gertaknya pada Hyun Jung.

Laki-laki yang bernama Hyun Jung tersenyum sinis dan mengelus rahangnya yang memerah.

“Ini rumahku juga Choi. Kamu tak punya hak untuk mengusirku dari sini” balasnya marah.

“Bukan!! Ini adalah rumahku. Rumah ini diwariskan untukku. Kamu telah mengambil bagianmu dan jangan pernah menginjakan kakimu dirumah ini lagi. Usir dia!!” perintahnya pada pengawalnya.

“Maafkan kami tuan, kami terpaksa mengawal anda untuk keluar dari rumah ini” kata Ki Joon, kepala pengawal milik Presiden Choi.

Hyun Jung tak berkata apa-apa. Dia hanya menoleh pada Linda yang masih menatapnya marah. Laki-laki itu telah menipunya dengan membuatnya percaya bahwa dirinyalah Presiden Choi yang asli.

Namun mata laki-laki itu terlihat menyesal, seolah meminta maaf padanya saat menatapnya. Pandangan mata Linda mengikuti tubuh Hyun Jung saat laki-laki itu akhirnya menghilang dikawal keluar dari kamar itu.

Eleventh Drama - Chapter 7 
Eleventh Drama - Chapter 5 

30 comments:

  1. aihh, ud mulai deh pemanasan critanya ya

    ReplyDelete
  2. ga nygka,hdeuh galau jd nya ngbyangin next chapternya?

    ReplyDelete
  3. baru mau nanyain kenapa di pic nya cowoknya ada 2 eh udah kejawab aja... ternyata kembar... masih penasaran sama cewe yang waktu itu siapa sih mba????
    dan jangan bilang pacar nya presiden choi yang ngehianatin dia itu sama kembarannya president choi... #nebak sendiri#

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehhe kl dijawab kan langsung the end ntr sista.. lol... btw cewek yg mana nih?

      Delete
    2. hhe
      itu mba yang waktu itu jatuh dari kasur...
      yang kata mba ceweknya masih muda...

      Delete
    3. oh ic ic heheehehe... we will see ^^

      Delete
  4. Huaaa,,kembaarrrr???
    Aduuhhhh,,,bsk bs fokus krja g yh mkrn jln crtany,,hahaha *lebayy*

    ReplyDelete
    Replies
    1. atas bawah sama2 lebay nih komentnya piye to? kompakan wkkwkwkwk

      Delete
  5. apaaaaaaa?? kembar....:)*gaya lebay

    ReplyDelete
  6. kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeenn,,,,,


    suka bangetz ma idenya,,,,
    *peluk mba Novi~~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. @riska : lah, baru baca to? kerennya panjang bgt. bikin shock barusan waktu ngecek komen terbaru hee.. wkwkkwkwk

      @fathy : wkkwkwkwwkwkkwk ada yg ngiri.. lol

      Delete
    2. iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,,
      aq baru baca mba Shin~Novi

      PELUK Mba FATHY jugaaaaaa,,,,,

      mari berpelukan,,,hehhee

      Delete
    3. mba shin,,,, syok?? dksh nafas buata gak sama hugo eh salah ma kokoh??

      ..
      riska kaya teletubies dong kita..

      Delete
    4. +riska : wah sebelum bobok ditemanin si kembar gmn rasanya sist? wkwkkwwk :p

      +fathy : udah baruan dikasi nafas buatan ama jung min. dia pan ahlinya tuh ngasi nafas buatan jihan aja jd hidup lg kan :p

      Delete
    5. wuih,,,,3some donk akunya nanti,,,whuahhahahaa

      adem juga~~~dpeluk dua org yang so Cakep bangetz,,,

      Delete
    6. mba shin wake uppppppp, jung min lagi gak bisa kasih nafas buatan,,,,,,

      riska mulai bandel yah bilangi sari nih,,,

      Delete
    7. +riska : wkkwkw bahasanya choi... trisam... asikk asoy geboy lol... makin malam makin ademmm..

      +fathy : apa apa apa dah bangun kok, td jijeong lewat trus ngasi nafas buatan :p

      Delete
  7. aku rasa kembarannya jahat...

    hihiihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah perasaanmu aja sisa.. hehehe..

      Delete
    2. mang makanan mba ada sisanya,,,,,

      aku kn cenayang mba,,,

      Delete
    3. apa? gentayangan?? :p wkwkkwkwkw

      Delete
    4. mba tuh malam2 masih gentayangan... :P

      Delete
    5. o.. kl itu sih layangan sist namanya.. gmn sih :(

      Delete
  8. ternyata kembaran yaw,,,hmmmm...
    makin seru ini critnya mbak,..
    dinanti klanjutannya...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.