"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, December 27, 2012

Eleventh Drama - Chapter 9



Choi Hyun Jae berada dibalik mejanya, menatap kosong pemandangan di hadapannya.

“Tuan, Jun Dae Young dan keluarganya telah dipindahkan ke tempat yang anda perintahkan. Beberapa pengawal juga sudah mengawasi rumah nona Linda dua puluh empat jam penuh. Sampai sekarang belum terlihat tanda-tanda kedatangannya. Tempat-tempat lain yang kita ketahui mungkin menjadi tempat persembunyian tuan Hyun Jung, juga tak terlihat kedua orang itu”


Dia hanya mengangguk tanpa memerintahkan apapun pada Ki Joon, kemudian kepala pengawal itu mengundurkan diri dari hadapan Hyun Jae.

“Dimanapun kalian bersembunyi.. Aku tak akan mengampuni kalian bila tertangkap” rahangnya mengeras memikirkan kelancangan Hyun Jung menculik wanita simpanan saudaranya sendiri.

“Kamu memang selalu mengincar milikku Hyun Jung. Peluru yang menembus dagingmu hanya peringatan, lain kali mungkin peluru itu akan menembus jantungmu”

Hyun Jae bangkit dari kursinya dan melangkah masuk ke dalam sebuah kamar yang berada disamping ruangan itu.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Hyun Jae pada seorang dokter yang memeriksa tekanan darah milik seorang wanita yang sedang berbaring diranjang.

“Tekanan darah nyonya normal, tuan. Hanya saja nyonya tidak mau minum obatnya bila bukan anda yang menemaninya” dokter itu tidak berani menatap mata Hyun Jae, dia ketakutan setengah mati bila laki-laki itu marah besar karena tak sanggup mengatasi seorang wanita lemah dan tak berdaya.

“Keluarlah. Aku ingin berdua saja dengannya”

Setelah dokter dan kedua perawat yang mengikutinya keluar dan menutup pintu kamar, Hyun Jae duduk di sisi ranjang wanita itu.

Wanita dengan wajah pucat dan layu karena tak pernah keluar dari kamarnya, dia hanya menunggu Hyun Jae untuk mendorong kursi rodanya ke kebun. Disana Hyun Jae akan berbicara padanya meski wanita itu tak pernah membalas ucapannya.

Wanita itu hanya tersenyum memandangnya saat dia berbicara. Seolah dia mengerti apa yang Hyun Jae katakan padanya. Nyatanya tidak, wanita itu mengalami gegar otak saat terjatuh dari lantai dua rumah mereka.

Meski nyawanya terselamatkan, namun dia lumpuh, tulang punggungnya patah, bahkan cedera pada kepalanya membuatnya menjadi linglung dan tak mengenali siapapun kecuali Hyun Jae.

Sebelum dia berubah seperti ini, wanita itu adalah wanita yang sangat optimis, selalu menyemangati Hyun Jae dan adiknya Hyun Jung dan tak pernah menyerah untuk mempercayai mereka.

Namun saat seorang wanita lain hadir dalam hidup kedua laki-laki itu, perlahan-lahan posisinya digantikan dan wanita lain itu dengan akal liciknya mencoba menyingkirkan wanita ini dari rumah mereka.

Memakai segala ide busuk dan tipu muslihat untuk membuat Hyun Jae dan Hyun Jung membenci wanita ini. Tanpa mereka sadari, sedikit demi sedikit mereka telah terjerumus ke dalam kehancuran. Kehilangan banyak harta dan kepercayaan semua orang karena wanita lain itu telah merusak nama kedua bersaudara itu di hadapan keluarga dan rekan-rekan bisnisnya.

Menghancurkan perusahaan keluarga yang telah dibangun puluhan tahun, memecah hubungan kekerabatan yang paling dekat sekalipun menjadi musuh yang saling mendendam.

Hyun Jae membelai lembut rambut wanita itu, dia terlihat cantik saat sedang tertidur, senyum yang menghiasi bibirnya terlihat seperti malaikat yang sedang menari di khayangan. Begitu tanpa dosa, begitu menawan hati.

“Istirahatlah Eun Ji..” katanya saat mencium dahi wanita itu lembut.

Mata Eun Ji perlahan terbuka, menataap mata coklat di depannya penuh tanda tanya. Namun hanya sekejap kemudian, mata wanita itu tersenyum mengenali laki-laki di depannya. Tangannya menyentuh pipi Hyun Jae yang kemudian dicium oleh laki-laki itu.

“Kamu sudah bangun..?” tanyanya lembut.

“Ayoo kita mandi dulu ya..?” lanjutnya setelah tak mendapat balasan dari Eun Ji. Wanita itu hanya memandangnya masih dengan senyuman diwajahnya.

Dua orang pelayan masuk dan membantu Hyun Jae menyiapkan bath tub untuk Eun Ji. Dengan lembut dibopongnya tubuh Eun Ji ke dalam kamar mandi mewah di dalam kamar itu. Air hangat telah disiapkan untuknya.

Hyun Jae meletakan tubuh Eun Ji diatas sofa, membantunya melepaskan pakaiannya satu persatu hingga wanita itu tak mengenakan sehelai kainpun ditubuhnya. Pelayan kemudian membantu Hyun Jae melepaskan jas dan rompinya. Menggulung lengan  bajunya hingga dibatas bahu dan melepaskan ikatan dasi dilehernya. Dia memeriksa suhu air hangat di dalam bath tub dengan tangannya, memastikan suhu air itu sesuai dengan yang dibutuhkan Eun Ji.

Kemudian Hyun Jae mengangkat tubuh Eun Ji dan membaringkannya perlahan-lahan di dalam bath tub.

Dengan tangannya dibasuhnya tubuh Eun Ji dengan air hangat, menggosok tubuhnya dengan busa sabun yang telah disiapkan pelayannya untuk Eun Ji. Tubuh Eun Ji mulai terlihat memerah karena pengaruh air hangat, wajahnya terlihat lebih cerah saat darah mengalir pada kulit wajahnya yang tadinya pucat.

Tangan Hyun Jae dengan pelan menggosokan busa sabun pada leher Eun Ji, turun ke pundak dan lengannya. Membasuh payudaranya dan turun ke bagian tersensitif wanita itu melalui perutnya yang langsing. Mengangkat paha Eun Ji dan membalut kakinya dengan sabun.

Belum selesai Hyun Jae menggosok ujung kaki Eun Ji, wanita itu menarik tubuh Hyun Jae hingga masuk ke dalam bath tub.

“Apa yang kamu lakukan, Eun Ji?” teriak Hyun Jae panik, khawatir berat tubuhnya melukai wanita itu saat menimpakan badannya di atas tubuh Eun Ji.

Eun Ji menarik wajah Hyun Jae dan mendaratkan ciuman dibibir laki-laki itu. Tubuhnya menegang, tak menyangka akan dihadiahi ciuman oleh Eun Ji.

Dia ingin membalas ciuman itu, setelah hasratnya yang tak terpenuhi beberapa hari lalu karena Linda meninggalkannya. Namun dia lebih memilih akal sehatnya. Hyun Jae mengangkat wajah Eun Ji, dia bisa melihat wanita itu terangsang dan menginginkannya.

“Kamu tahu mengapa aku tidak suka memandikanmu? Karena kamu akan selalu seperti ini. Aku tak akan pernah menyentuhmu Eun Ji.. Kita tidak bisa.. Kamu adalah kakakku.. Meski kita tidak memiliki hubungan darah..tapi bagiku, kamu adalah kakakku. Anak ibu tiriku. Sebelum ayahku memperistri ibumu”

Eun Ji terlihat sedih, dia mengerti apa yang Hyun Jae katakan padanya. Namun dia memilih untuk tak berbicara, mungkin dengan begitu Hyun Jae akan selalu memperhatikannya.

Hyun Jae bisa saja menyuruh orang lain untuk merawat Eun Ji, dia telah khusus membayar seorang dokter dan dua orang perawat untuk mengontrol kesehatan Eun Ji. Enam orang pelayan yang khusus untuk merawat dan mengurusinya. Namun Eun Ji tak suka dengan ide itu. Dia akan menolak semua perawatan yang diberikan padanya.

Hyun Jae keluar dari bath tub itu dengan pakaian basah kuyup, dia meninggalkan Eun Ji dan pelayan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Seorang pelayan lain membawakan setumpuk handuk kering untuknya. Sepatunya yang basah menginjak karpet dibawahnya, menuju kamarnya sendiri dan berganti dengan pakaian yang lain. Dia tak bisa marah pada wanita itu. Tak ada gunanya marah pada orang yang tidak bisa membalas ucapanmu.

~~~~

“Bagaimana proyek ini? Lancar?” tanya Hyun Jae pada Ji Jeong. Dia sedang mengunjungi lahan proyek rumah sakit yang ditangani Ji Jeong.

Mereka berteman baik sejak delapan tahun lalu ketika bertemu di sebuah pameran arsitektur di Seoul.

“Macetnya penurunan material di pelabuhan membuat jadwal pemasangan pondasi terhambat satu hari. Aku harus mengusahakan sesuatu agar masalah ini tak berulang-ulang” kata Ji Jeong frustasi. Dia nampak kelelahan.

“Rileks. Hanya satu hari, belum satu minggu. Kamu terlalu keras pada dirimu. Kamu terlihat berantakan. Apa ada hubungannya dengan wanita?” Hyun Jae tergelak mengira temannya itu memiliki masalah dengan wanita.

Ji Jeong adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa melihat Hyun Jae tertawa lepas tanpa beban. Bersama sahabatnya ini, Hyun Jae kerap menghabiskan waktu bersama saat Ji Jeong berkeliling Korea untuk mencari adiknya. Hyun Jae terkadang mengikutinya saat ingin melarikan diri dari masalah-masalahnya.

“Justru itu. Karena tidak ada wanita, aku seperti ini” Ji Jeong ikut tertawa keras bersama Hyun Jae.

Hyun Jae bersiul-siul ringan saat melihat Eun Suh turun dari mobilnya, melambaikan tangan ke arah mereka.

“Itu bukannya wanita?” tanya Hyun Jae pada Ji Jeong.

“Aku tak tahu, mungkin aku akan menanyainya nanti, bila dia wanita” jawab Ji Jeong asal.

“Aku sedang tak ingin berurusan dengan wanita” dia berkacak pinggang menunggu Eun Suh menghampirinya.

“Haha.. Good luck kalau begitu. Jangan bilang kamu tidak perlu wanita. Semalam saja dan aku yakin besok pagi wajahmu yang merengut itu akan berubah lebih cerah” gelak tawa Hyun Jae tak henti-hentinya menggoda sahabatnya.

“Oh ya.. Sexpert berbicara..” balas Ji Jeong.

“Kamu tak akan tahu. Apa kamu ingat? Wanita yang aku ceritakan padamu tujuh tahun yang lalu? Aku akhirnya mendapatkannya. Tapi.. Hyun Jung merusak semuanya. Dia menculiknya..” Ji Jeong memandang sahabatnya itu. Nada suara Hyun Jae mengusik ketenangannya.

Ji Jeong tahu separah apa hubungan kakak-adik itu setelah kejadian itu. Bila dia tidak ada disana melerai mereka kala itu, mungkin kini Hyun Jae tak akan mampu tertawa sedikit pun.

Namun setelah kejadian itu mereka tak pernah bertemu lagi, Ji Jeong tak tahu apa yang terjadi dengan hubungan kakak beradik kembar itu lagi.

“Apa mungkin karena kamu terlalu agresif? Aku tidak lupa bagaimana wanita yang kamu temui di bar kabur dari kamar hotelmu saat aku membuka pintumu malam itu” Ji Jeong mencoba mengalihkan perhatian Hyun Jae.

“Ya.. Aku bukan psikopat. Wanita itu tidak tahu berhadapan dengan siapa. Dia menipuku dengan mengatakan dirinya masih perawan. Dia kira aku akan tertipu??” wajah Hyun Jae sungguh aneh saat dia kesal seperti itu.

“Haha.. Kamu masih juga tergila-gila pada perawan? Ya Tuhan Hyun Jae...” Ji Jeong mengusir Hyun Jae dengan tangannya saat Eun Suh telah sampai dihadapan mereka.

Hyun Jae hanya mengepalkan tinjunya dengan bercanda sebelum berlalu dari sana meninggalkan Ji Jeong dan Eun Suh dengan pekerjaan mereka. 

Eleventh Drama - Chapter 10 
Eleventh Drama - Chapter 8 

15 comments:

  1. eun ji aku pikir emaknya ,,,eh ternyata step sister... (´ε` )♡

    ReplyDelete
  2. eun ji aku pikir emaknya ,,,eh ternyata step sister... (´ε` )♡

    ReplyDelete
  3. owh tidak.
    aq tidak ingin keperawanku diambil hyun jung.
    aq maunya sama hyun jae.

    hahaha lol

    ReplyDelete
  4. Huaaaaa,,,beneraaaannnnnnnn ada Ji Jeong,,brrti nnti di ninth drama bkln d Hyun Jae yakz??xixixi
    Kiraiiinnn istriny,,
    Mba Shin,,mw tny yg dmksud wanita yg dtg dkehidupan saudara kmbar ntuh sp??bkn si kk tiriny ntuh pan mksdny?? #cerewet

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum tahu vie.. namanya hyun jae cuman disebut sebagai "Presiden Choi" aja disana. ;)

      bukan.. ada wanita lain ehehhehe yg bikin semuanya jadi kacau.. lol

      Delete
    2. Emmmm,,,jd cwe laen ntuh yg jd rbutan saudara kmbar ntuh pan yh??
      *sok tau*

      Delete
  5. whoaaaaa,,,
    Akang Ji Jeong temenan ma Kangmas Hyun Jae,,,???

    Aaah,,,ntar temani aku bobo yagh,,,??
    Sepi nihh ga ada kalian,,, ;):)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ais... ditemenin ama duo sohib.. gmn rasanya sist??

      Delete
  6. bukan vie.....
    aku yg jd rebutan mereka berdua hahaha....

    tuh kan bener kataku hyun jung jahat......

    ReplyDelete
  7. waaah, ternyata cewek itu kakak tirinyaaa...
    lalu cewek yg satu lagi siapa??
    makin penasaran

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.