"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, December 6, 2012

First Drama - Chapter 10



“Bagaimana dokter?” tanya Direktur Shin pada dokter yang memeriksa keadaan Soo Hyun.

“Selamat Tuan Shin, anda akan menjadi seorang ayah. Istri anda sudah hamil empat minggu” kata dokter itu dengan gembira. Dia tak menyadari emosi Direktur Shin yang mulai berubah saat dokter itu menjabat tangannya dan keluar dari kamar itu.

“Antarkan dokter keluar, ada yang ingin aku bicarakan dengan nona Soo Hyun” katanya pelan.


Setelah semua orang keluar dari kamar itu dan meninggalkan Direktur Shin duduk di sampingnya, Soo Hyun merasa ada yang tidak beres dengan laki-laki di depannya ini.

“Katakan, siapa ayah bayi dalam kandunganmu?” tanyanya dingin.

Soo Hyun terperanjat, mungkin Direktur Shin terlalu bodoh atau terlalu dibutakan oleh cemburunya yang tak masuk akal. Tapi untuk tak bisa berpikir jernih karena cemburu dan menanyakan hal ini membuat Soo Hyun kecewa. Dia benci memikirkan laki-laki itu mengira dia memiliki aktivitas seks yang sangat aktif seperti dirinya.

Saat dia berhubungan dengan Lee Han, mereka hanya melakukannya sebulan sekali atau dua. Lee Han tak pernah memaksanya bila dia tak ingin. Mereka hanya akan berpegangan tangan menghabiskan malam bersama. Tak seperti pikiran Direktur Shin yang menjijikan tentang dirinya.

“Perlukah aku jawab itu? Tidakah kamu tahu jawabannya sendiri?” tantangnya.

Dia begitu ingin menyakiti laki-laki ini sekarang. Bila dia benar-benar mencintainya, dia tak akan mempermasalahkan siapa ayah bayi dalam kandungannya bukan? Mungkinkah?

Direktur Shin menggertakan giginya, tinjunya mengepal. Dia sangat cemburu memikirkan bila ayah bayi dalam kandungan Soo Hyun adalah Lee Han. Dia tak ingin wanita yang dicintainya mengandung bayi laki-laki itu. Karena bila anak itu lahir, dia tak akan sanggup untuk melihatnya. Dia tak ingin menjadi ayah tiri yang kejam.

Karena Direktur Shin terdiam tak bersuara, Soo Hyun pun menantangnya lebih jauh, dia sudah pasrah dengan keadaannya. Dia tak mungkin bisa hidup dengan laki-laki yang tak mau mengakui anaknya sendiri.

“Ya... Seperti dugaanmu Shin” Soo Hyun memanggil nama depan laki-laki itu dan membuatnya menatap Soo Hyun tajam. Tak ada yang pernah memanggilnya seperti itu, sehingga ketika Soo Hyun dengan sengaja mengucapkan namanya seperti itu, dia semakin emosi.

“Apa maksudmu Soo Hyun?” katanya tajam, dia mencekal pergelangan tangan Soo Hyun dan menguncinya di ranjang.

“Maksudku... Ayah bayi dalam kandunganku bukanlah kamu. Bukankah itu yang kamu pikirkan juga Shin?? Bahwa ayah anak ini bukanlah dirimu??” Soo Hyun berteriak histeris.

“Kamu??!! Jadi maksudmu ayah anak ini adalah laki-laki berengsek itu??” dia bangkit dari duduknya dan dengan kasar menendang kursi dibawahnya hingga terpental mengenai cermin hingga pecah.

“Gugurkan.. gugurkan bayi itu!!” teriaknya kencang.

Soo Hyun menatapnya tajam, menantang laki-laki itu untuk melakukan yang diinginkannya, matanya nanar penuh kebencian. Dia bertekad akan melarikan diri bila mendapatkan kesempatan lagi. Dia tak akan berpaling meskipun laki-laki itu menangis darah untuknya.

Tangannya menarik tubuh Soo Hyun dan menyeret wanita itu keluar dari kamar mereka.

“Aku akan membawamu ke dokter, kita gugurkan anak itu” matanya sedingin es, saat dia berjalan sambil menyeret Soo Hyun dibelakangnya, bodyguardnya menepi karena takut menghalangi jalan Direktur Shin. Laki-laki itu bagai setan yang terluka saat ini.

Tanpa berpikir jernih, dia mendorong tubuh Soo Hyun ke dalam mobil dan kembali ke dalam rumahnya untuk memberitahu kakaknya.

“Awasi dia” katanya pada bodyguardnya yang berjaga di depan pintu rumahnya.

“Kak.. kakak?? Aku ingin kamu ikut menemani Soo Hyun” kata Direktur Shin tanpa emosi. Wajahnya mengkerut menahan amarah.

“Kemana Shin Jae? Sudah hampir gelap, jalanan disini tak ada lampu penerang. Kalau mobilmu terpelosok ke jurang dan jatuh ke laut, kamu bisa membunuh kita” kata kakaknya.

“Harus sekarang. Tak ada waktu lagi, sebelum janin didalam tubuhnya membesar. Dia harus aku singkirkan” giginya bergemeretak saat mengatakan hal itu.

“Apa maksudmu Shin Jae?? Ka..kamu?? Jangan bilang kamu ingin membunuh anakmu?? Menggugurkan anakmu sendiri?? Apa kamu gila??” teriak kakaknya histeris. Dia tak mengerti jalan pikiran adiknya.

“Bayi dalam kandungannya bukan anakku kak. Dia anak laki-laki itu. Dan aku tak akan membiarkannya tumbuh di dalam tubuh Soo Hyun. Tidak akan” Direktur Shin berteriak tak kalah keras dengan kakaknya.

Namun dia terdiam saat pipinya ditampar dengan keras oleh kakaknya. Barulah kemudian dia menjadi tenang dan mampu mencerna apa yang telah terjadi.

“Kamu gila!! Bayi dalam kandungan Soo Hyun..adalah anakmu!! Bayi itu berusia empat minggu dan kamu sudah menidurinya sejak lima minggu yang lalu” kata kakaknya kasar. Dia sangat ingin merobek isi kepala adiknya agar laki-laki itu mampu mencerna lebih baik tanpa harus dibutakan oleh kecemburuannya.

Direktur Shin merosot di kursi. Wajahnya menekuk, menyadari kesalahannya karena telah menyakiti Soo Hyun dan menuduhnya dengan tak berperasaan.

“Minta maaf padanya. Bila kamu tak bisa mendapatkan maafnya, jangan panggil aku kakak lagi” dan wanita itupun meninggalkan Direktur Shin sendirian hingga seorang bodyguardnya menemuinya dengan wajah pucat pasi.

“Boss...” kata bodyguardnya panik

“Apa yang terjadi??” teriaknya marah.

“Nona Soo Hyun.. dia mengendarai mobil.. Kami tak mengira dia akan melakukannya. Kunci mobilnya masih di dalam dan dia..dia menabrak pintu gerbang hingga roboh dan melarikan diri..”

Belum selesai dia menjelaskan, tubuhnya telah terjerambab mencium lantai. Direktur Shin menghajarnya hingga tak berdaya. Orang itu pasti mati bila tak dilerai oleh bodyguard yang datang kemudian.

“Apa yang kalian lihat?? Cepat kejar mobil itu” bentaknya.

Empat mobil sedan hitam mengejar dibelakang mobil yang Soo Hyun kemudikan. Wanita itu panik dan kebingungan tak tahu harus kemana. Jalanan yang gelap membatasi penglihatannya, dia tak tahu apa yang berada disamping kiri dan kanan jalan itu. Saat sebuah mobil milik bodyguard Shin menyalipnya, dia membanting stir karena terkejut dan mobilnya slip hingga terperosok ke jurang dibawahnya. Suara deburan ombak mengiringi tenggelamnya mobil itu ke dasar laut.

Di tepi jurang, Direktur Shin bertekuk lutut, mulutnya terkunci tak mampu bersuara. Otaknya tak sanggup menerima Soo Hyun dan anaknya terjatuh di dalam mobil itu.

“Tidak.. itu bukan Soo Hyun.. Soo Hyun tak akan jatuh. Tidak..” dia mengulangi kata-kata itu pada dirinya. Namun air matanya tumpah saat dia menyadari betapa salahnya dia memaksakan keinginannya. Meski laki-laki itu menangis darah namun tak akan ada Soo Hyun disampingnya lagi. 

6 comments:

  1. sukurin tuh shin mang enak....

    biarin aja dia gak bisa nemuin si soo hyun
    lee aja yg nemuin soo hyun biar tau rasa dia
    hheheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. mba shin jgn lg soo hyun mati???

      awas aja mba shin, ku jitakkin nanti
      heheheh

      Delete
    2. hahahahhaa............... tatuttt....

      Delete
  2. hayo~~~~
    nah lho~~~
    nyeselkan??? padahal itu anakmu lho. kekekekekek

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe seneng bgt kyknya ketawanya nih sis winda lol

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.