"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, December 7, 2012

First Drama - Chapter 11



“Tidurlah di kamar ini, kamar tamu belum aku bersihkan, aku akan tidur di sofa ruang tamu” kata Lee Han sambil menarik sebuah bantal dan selimut dari lemarinya. Dia tak ingin tidur seranjang dengan wanita itu.

“Ranjang ini begitu lebar, aku tak keberatan bila kamu tidur disampingku, Lee” kata Yu Na membujuk.

“Aku yang keberatan Yu Na. Aku tak mempercayaimu, dan aku tak mempercayai diriku. Jangan buat aku menyesal mengizinkanmu tidur disini malam ini” katanya tegas. Dia tak ingin Yu Na mempermainkannya.


“Tapi, kamu bisa mengambil ranjang ini dan aku tidur di sofa. Bagaimanapun juga, aku menjadi tamu disini, tak mungkin aku tidur dikamar utama kan?” katanya lagi, dia masih belum ingin melepaskan Lee Han.

“Tidurlah” kata Lee Han sambil menutup pintu kamar itu.

Yu Na memandang kepergiannya dengan getir. Dia telah menduga Lee Han akan membencinya setelah apa yang dia lakukan padanya dua tahun lalu. Tapi dia punya alasannya.

Namun apakah Lee Han akan memaafkannya bila dia tahu alasannya? Dia harus mencobanya, dia tak ingin Lee Han membencinya seumur hidup, dia ingin laki-laki itu mencintainya seperti dulu.

Yu Na mengintip dari balik pintu kamarnya ke ruang tamu tempat Lee Han berbaring. Laki-laki itu terlelap dengan televisi yang masih menyala. Suara dengkurannya yang halus membangkitkan getaran-getaran kecil dibawah kulit Yu Na.

Dia teringat saat mereka masih bersama, saat Lee Han berbaring disampingnya dan memeluknya erat. Dia sangat merindukan dengkuran khas laki-laki itu selama dua tahun ini. Mendengarnya sekarang membuatnya sadar betapa dia tak bisa kehilangan laki-laki itu.

Sambil menjinjit kakinya, Yu Na mendekati Lee Han yang sedang berbaring di sofa, selimutnya terjatuh di lantai dan memperlihatkan dadanya yang telanjang. Dada yang dulu menjadi tumpuannya saat dia sedih, dada yang selalu merengkuhnya dengan lembut saat mereka bercinta.

Dia duduk dilantai didekat Lee Han tidur. Tangannya meraba permukaan dada laki-laki itu, memunculkan hasratnya yang telah lama dipendamnya. Selama dua tahun, dia merindukan sentuhan laki-laki itu.

Tapi karena kejadian itu, dia harus bersembunyi selama dua tahun dari laki-laki yang akan dinikahinya. Air matanya menetes di atas tubuh Lee Han dan membuat laki-laki itu terbangun. Dia menatap bingung pada Yu Na yang sedang menangis di depannya.

“Yu Na..? Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu menangis?” tanyanya ditengah rasa kantuk yang berat.

“Dua tahun lalu, mobil pengantin yang aku tumpangi kecelakaan, aku tak sadarkan diri selama tiga bulan. Sopir yang mengemudikan mobil itu telah tewas sehingga tak ada yang tahu identitasku. Mobil itu disewa oleh ayah, saat dia tahu keadaanku, aku mencegahnya untuk memberitahumu Lee.. Aku malu untuk menemuimu saat itu. Luka-lukaku parah Lee, bekasnya pun masih ada hingga saat ini meski sebagian besar telah dioperasi plastik” Yu Na menangis dengan keras.

Akhirnya isi hatinya tertumpahkan juga setelah dua tahun yang panjang tersimpan dalam hatinya tak bisa dia ungkapkan pada Lee Han.

Lee Han bangkit dari tidurnya, dia memandang Yu Na tak percaya. Tangannya menyentuh pundak wanita itu, menyibak rambutnya yang panjang tergerai, dan dilihatnya garis bekas operasi disana.

“Mengapa kamu tak memberitahukanku dulu Yu Na?” tangannya bergetar saat menyentuh tubuh wanita itu.

Yu Na membuka kancing baju tidurnya, memperlihatkan tubuhnya yang memiliki beberapa bekas kecelakaan yang mulai memudar dan bekas jahitan benang operasi dipinggang dan perutnya.

Lee Han berlutut disamping Yu Na dan meraba bekas-bekas operasi itu. Hatinya bagai disayat-sayat sembilu saat melihat bekas-bekas luka itu ditubuh Yu Na. Apa yang telah dia percayai selama ini, bahwa Yu Na meninggalkannya demi laki-laki lain, salah.

Yu Na-nya mendapat kecelakaan saat mobil yang membawanya ke upacara pernikahan mereka mendapat kecelakaan..

“Yu Na.. maafkan aku..” kata Lee Han saat merengkuh tubuh wanita itu kedalam pelukannya.

Dia tak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Dia bingung, hatinya memikirkan Soo Hyun, namun dia tak dapat menepiskan Yu Na disampingnya. Wanita itu tak bersalah, keadaan lah yang membuatnya begitu.

“Apakah aku harus melepaskan Soo Hyun? Yu Na lebih membutuhkanku saat ini. Bukankah laki-laki itu juga mencintai Soo Hyun? Akankah dia baik-baik saja bersamanya?” kata bathin Lee Han bimbang, dia belum bisa memutuskan apapun.

Dia harus bertemu dengan laki-laki itu dan menjelaskan masalah di antara mereka. Dia akan menemui laki-laki itu dikantornya.

~~~~

“Shin Jae.. Sampai kapan kamu mau mengunci diri dalam kamarmu? Kamu tak bermaksud membuat kakakmu ini satu-satunya orang waras dirumah ini kan? Setelah ayah, apakah kamu berikutnya yang akan menjadi gila?” teriak kakaknya dari luar pintu kamarnya.

Sudah dua minggu sejak kecelakaan yang menewaskan Soo Hyun dan bayi dalam kandungannya. Polisi yang bertugas menyelidiki kecelakaan itu tak berhasil menemukan tubuh Soo Hyun atau petunjuk dimana kemungkinan mayatnya berada.

Bangkai mobil yang telah diangkat dari dalam laut menggambarkan betapa parahnya keadaan didalam mobil itu saat terpelosok dan membentur karang sebelum tenggelam ke dasar lautan.

Direktur Shin merasa seluruh tubuhnya lemas saat bangkai mobil itu diangkat ke permukaan. Mobil itu hampir tak berbentuk, kap depan dan belakang mobil mercy itu telah memipih dan atapnya terbuka karena tajamnya karang.

Tak akan mungkin ada yang mampu selamat dari kecelakaan naas itu. Namun dia tak ingin mempercayai kata-kata polisi yang memberitahunya bahwa Soo Hyun telah tewas. Sebelum dia melihat dengan matanya sendiri mayat Soo Hyun, dia akan terus mencari wanita itu kemanapun laut itu mengalir.

Direktur Shin membuka kunci kamarnya. Dia terlihat sangat berantakan, rambutnya mulai memanjang menyentuh kerah kemejanya, wajahnya tirus dengan kelopak mata hitam karena tak tidur berhari-hari.

Dia tak pernah menyentuh makanannya. Hanya whisky dan rokoklah peneman hidupnya sehari-hari. Dengan tatapan kosong dia membiarkan kakaknya masuk ke dalam kamarnya.

“Kamar ini bau minuman, Shin Jae, sampai kapan kamu akan menyiksa dirimu?” kata kakaknya sambil menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar itu.

Dia duduk di kursi dan menyuruh Direktur Shin untuk mengikutinya. Mereka harus bicara.

“Apa maumu Shin Jae? Kamu mau mati? Kamu mau menyusul Soo Hyun? Lakukan!! Bila itu bisa membuatmu normal kembali” teriak kakaknya kesal. Dia sudah muak dengan tingkah adiknya.

Direktur Shin hanya mematung mendengar ceramah kakaknya. Dia mendengarkan namun dia tak punya energi untuk membalas kata kakaknya. Hatinya terlalu sakit, dia menyesali semua perbuatannya kepada Soo Hyun. Bila memang kematiannya bisa menghidupkan Soo Hyun kembali, dia rela.

“Kamu begitu yakin dia masih hidup, maka carilah!! Carilah dia sampai kamu mati Shin. Buktikan bila memang cintamu sebesar omonganmu. Dan pergilah dari rumah ini. Aku sudah muak melihatmu” kata kakaknya lagi.

“Jangan jadi anak kecil Shin. Jadilah laki-laki, kamu harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu. Jangan mati sebelum kamu menemukan Soo Hyun” kata kakaknya sebelum meninggalkan kamar itu bersama pelayan yang telah membersihkan kamar.

Setelah pintu kamar itu tertutup, Direktur Shin menghela nafas panjang. Matanya masih menerawang, dia telah memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu semua lokasi kemungkinan hanyutnya Soo Hyun.. bila wanita itu masih hidup..

Dengan langkah berat, dia bangkit dari kursinya dan menyambar kunci mobil di atas meja.

Dari kaca jendela, kakak Direktur Shin menatap kepergian adiknya dengan sedih. Dia berharap adiknya akan menemukan Soo Hyun kembali.

“Temukan mereka Shin, hidup atau mati.. kamu harus menemukannya. Setidaknya bila mereka memang sudah tiada, kamu harus memberikan mereka sebuah batu nisan yang cantik” tangis kakaknya jatuh dengan deras. Dia merasa sangat kehilangan, kehilangan calon adik iparnya, kehilangan calon keponakannya..

17 comments:

  1. biarin aja tuh direktur shin mati,,,,,

    tega misahin lee sama soo hyun .....


    jitakin shin bolak-balik

    hihihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga boleh gitu mba Fathy,,,

      harus teteup positif thinking donk..

      Delete
    2. wkwkwkwkwkw... sist fathy galak..

      Delete
  2. lhaaaaaa???? koq jadi gini mba Shin?????

    ReplyDelete
    Replies
    1. tetep positif thinking sist. lol...

      Delete
    2. nanti si Soo Hyun bakal ga mau lagi ma Direktur Shin kan??

      Delete
    3. ^__^ kl boleh tahu kalian lebih milih siapa sih yg akhirnya sama Soo Hyun?

      Delete
    4. aq milih si Soo Hyun jadian ma Lee Han,,,,

      secara pan dy yg pertama ktemu ma Soo Hyun ^__^

      Delete
    5. hahah gitu ya sist? hmmm :memutar otak dulu:

      Delete
    6. yeeeeeesss!!!!!

      bakal ada plot baruuu,,,

      Delete
    7. hahahahah tidakkkkk..... rencana awal berjalan seperti semula. lol

      Delete
    8. ayolagh sistagh.....hehhehheheee

      Delete
  3. eriska baru sadar jadinya dia kalap hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhahahaa,,,,,,,,iya mba Fathy...bingung aq jadinyaaaaaa,,,,hehhehhee

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.