"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, December 26, 2012

Hard To Say I Love You - Short Story



“Apa?! Kamu gak jadi nyatain perasaanmu, ndi?” teriak Fitri ketika kuberitahu lewat telphone. Sepuluh detik kemudian dia mencapai pintu kamar kos ku dengan ngos-ngosan.

Kami adalah teman satu kos, satu kampus dan satu kampung. Bisa dibilang hampir sepanjang hidupku aku melihatnya. Tak  heran, rumah keluarga kami persis berdampingan. Kamar kos kami pun hanya terpisah satu kamar.


“Kamu BODOH!!” teriaknya lagi saat menjatuhkan pantatnya diatas kursi kesayanganku.

“Jiss... Kamu berlari hanya untuk mengataiku bodoh?” kataku tak sabar. Wanita ini bisa meledekmu habis-habisan bila dia tak setuju dengan tindakanmu.

Namaku Andian, saat ini aku, Fitri dan Elisa sedang menuntut ilmu di Universitas Maranatha. Meski berbeda-beda fakultas, kami berkenalan saat pendaftaran UMPT di kampus, hampir dua tahun yang lalu. Sejak saat itu, kami menjadi sahabat karib yang saling dukung dan menyemangati satu sama lain. Teringat dahulu ketika Fitri baru saja putus dengan pacarnya, dia akan menangis di kamarku seharian, dan terpaksa Elisa dan aku menemaninya hingga dia bersedia masuk kampus lagi.

Elisa... Nama gadis satu ini mulai memenuhi pikiranku sejak  dua bulan belakangan. Bukannya kami baru berkenalan, bukan. Kami sudah sangat mengenal sifat masing-masing sejak dua tahun yang lalu, atau itulah yang aku kira.

Elisa selalu ceria, tak pernah sekalipun dia mengeluh menjadi tempat kami mengadu. Hampir setiap bulan Fitri akan menginap di rumah Elisa agar bisa menumpahkan emosinya setelah putus-sambung dengan pacarnya, Ido. Dan aku, aku selalu menjejalinya dengan cerita-ceritaku bersama pacar-pacarku. Well, yah, aku memang terkenal playboy dan suka gonta-ganti pasangan. Aku hanya belum menemukan wanita yang bisa memiliki hatiku sepenuhnya, itulah alasanku pada mereka berdua. Terdengar egois kan? Bagaimana tidak, mereka tahu siapa-siapa saja yang aku pacari, dan tak ada satupun yang bisa dikategorikan “tidak cantik”. Mereka akan bergeleng-geleng heran saat ku beritahu jika aku telah berganti pacar yang baru.

Tapi sejak aku melihatnya dekat dengan seorang laki-laki, sesuatu di dalam hatiku mulai berubah padanya. Aku mendapati diriku selalu menjelek-jelekan laki-laki yang hampir setiap hari mengantarkan Elisa ke kampus dengan mobil Honda CRV putih. Ku katakan bahwa laki-laki itu terlalu tua untuknya atau dia mungkin sudah berkeluarga, yah mirip-mirip itulah, sehingga dia akan goyah dan memutuskan hubungannya dengan laki-laki itu. Karena sejak laki-laki itu mengisi hidupnya, dia sangat jarang bermain ke kos ku lagi. Selalu saja dia punya alasan untuk menghindariku. Bahkan Fitri tak membantuku sama sekali untuk membujuknya singgah.  

Aku geram, yeah.. aku cemburu. Selama ini aku tak menyadari betapa spesialnya posisi Elisa di hatiku. Hingga saat dia direnggut dari sisiku barulah aku menyadari alasan mengapa aku tak pernah merasa cukup dengan satu pacar. Karena orang yang bisa memenuhi hari dan hatiku selalu berada disampingku, tak bersinar tak tersentuh. Seolah dia tak ada.

Namun saat wanita itu mulai bersinar dan menyita hatiku, dia telah menjadi milik laki-laki lain. Bodohkah aku? Seperti kata Fitri yang asyik mengomeliku tiada henti? Dia memergokiku memperhatikan Elisa dari kejauhan. Bila kamu berteman denganku, kamu pasti tahu bagaimana wajahku bila sedang jatuh cinta pada seseorang. Namun kali ini berbeda. Aku tak pernah menyembunyikan perasaanku pada wanita-wanita lain. Tapi pada Elisa.. Aku merasa tak punya cukup nyali untuk mengutarakan isi hatiku padanya.

Selama ini aku tak pernah menyadari betapa cantik dan anggunnya dia. Dia wanita yang baik, pintar dan bersahaja. Tak pernah dia memamerkan kekayaan keluarganya meski setahuku ayahnya adalah pengusaha batik terkenal. Batik buatan ayahnya telah di ekspor ke seluruh penjuru dunia, bahkan batik karya ayahnya itu dipasang di wesbsite milik Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Cek saja bila kamu tak percaya.

“Hei Andian. Kapan lagi kamu bisa bilang ke Elisa kalau kamu suka sama diaaaaa?? Duh cowok satu ini. Tumben kamu keok. Kemana nyalimu yang biasanya?” Fitri mengepalkan tangannya gregetan padaku.

“Aku gak tahu Fit. Aku takut.. Kalau dia menolakku, persahabatan kita bisa bubar. Apa tidak lebih baik kalau seperti ini saja? Setidaknya aku masih bisa berada di dekatnya” kataku sendu. Yah, hatiku mulai mencelos memikirkan apa akibat bila Elisa menolakku. Aku tak sanggup melihatnya bersama laki-laki lain dan tak akan lebih baik bila dia menjauhiku.

“Cemen kamu ndi” kata Fitri sebelum pergi dari kamarku.

Yah, aku akui, aku memang cemen di depan Elisa. Tapi setidaknya Elisa bahagia kan bersama pacarnya? Apalah artinya dia bersamaku bila hatinya milik orang lain? Bila dia menerimaku hanya untuk mempertahankan persahabatan kami.. Aku tak akan memaafkan diriku bila itu menjadi pilihannya. Semoga kamu bahagia Lis dengan laki-laki itu.
~~~~
Sudah seminggu sejak Fitri mengomeliku karena ketidak”jantananku”. Sejak saat itu dia juga menghindariku. Menatapku dingin setiap kami berpapasan di toilet kos. Anak itu benar-binar bisul di pantat. Semestinya dia mendukungku yang sedang patah hati. Tak enak makan, tak enak mandi bahkan tak enak tidur.

Hari ini aku melihat Elisa turun dari mobil CRV putih itu, dia melambaikan tangannya pada laki-laki yang berada dibalik kemudi. Hatiku nyeri melihatnya. Jarang sekali aku melihat senyumnya lagi untukku. Senyum itu sudah menjadi milik orang lain.

“Hai Andian” sapanya. Aku hanya tersenyum ringan membalas sapaannya.

“Mana Fitri?” tanyanya kemudian.

“Tauk tuh anak, sudah seminggu dia menghindariku. Annoying banget” sahutku keki. Aku masih kesal dengan si Fitri.

“Siapa yang kamu bilang ANNOYING, hah? Dasar cowok cemenn!!” dia muncul dari belakang dan menarik kupingku.

“Shhh.. sakit tau” bentakku.

“Makanya, jangan ngomongin orang dibelakang punggungnnya. Dasar cemen” katanya lagi.

“Kenapa mesti cemen sih? Tak ada kata lain ya? Cakep kek? Tampan kek? Macho kek?” kataku tersinggung.

“Kek ka-kek...ka-kek.. baru ada buat loe ndi” dia mendesis di depanku. Nampaknya dia lebih kesal padaku daripada aku kesal padanya.

“Sudah..sudah.. kalian berantem mulu. Eh Fit, ntar aku mampir ke kos mu ya. Numpang bikin PR. Aku males kerumah, ntar sore ada kuliah lagi ama pak Tirta” kata Elisa menengahi.

“Ok choy.. Eh, kamu ikut nggak ndi? Kita ngerujak bareng deh ntar. Aku yang traktirr.. Mamiku ngirim mangga ama kedondong nih. Metik dari rumah. Hehehe” tawanya bangga.

“...ya udah, tapi aku pulang telat, mau kumpul anak BEM. Jadi bendahara yang bawa duit musti hadir buat bayarin konsumsi. Tsk” kataku malas. Aku tak tertarik dengan organisasi-organisasi seperti itu. Tapi pak Sembiring pembina BEM memaksaku. Hanya karena ayahku adalah bankir terkenal bukan berarti anaknya suka ngitung duit juga kan. Apalagi kalau duit orang lain. Halah!!

Setibaku di kamar kos Fitri, aku hanya menemukan Elisa yang sedang mengupas mangga. Dia tersenyum menyapaku. Duh, mami.. senyumnya bikin hatiku klepek-klepek. Aku menjatuhkan tas punggungku yang berat di kursi dan duduk disampingnya diatas lantai.

“Fitri kemana?” tanyaku.

“Lagi keluar beli cabe ama terasi. Ngajakin ngerujak tapi bahan utama gak ada” dia tertawa geli.

Kami hanya terdiam tanpa ada yang bersuara. Baru kali inilah aku tak punya bahan pembicaraan dengannya. Aku tak mungkin menceritakan tentang pacar-pacarku lagi kan? Karena sejak aku tahu hatiku telah dimiliki oleh wanita ini, aku tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun.

“Kalau.. aku bilang aku suka kamu, kamu benci gak sama aku Lis?” tanyaku tiba-tiba. Tanpa melepaskan pandangannya dari buah mangga yang sedang dikupasnya, dia menjawab pertanyaanku.

“Aku juga suka kamu kok ndi” jawabnya enteng. Hatiku mencelos. Tak sesuai harapanku.

“Oh.. “ jawabku.

“Aku suka kamu sejak kita pertama bertemu. Hanya saja, kamu terlalu sibuk dengan pacar-pacarmu. Saat kamu menyadari kamu mulai suka padaku pun kamu memilih untuk diam seribu bahasa. Apakah sesulit itu untuk bilang “suka” padaku ndi?” kini dia menatap wajahku muram.  Jantungku berdebar kencang, telingaku menguing. Apakah Elisa baru saja mengatakan dia suka padaku  seperti aku suka padanya?

“Iya. Aku suka kamu bodoh, cemen, jelek, tukang matahin hati cewek. Awas kalau kamu berani matahin hatiku. Akan aku suruh kakakku menabrakmu dengan CRV putih yang dia kendarai” dia tersenyum sipit menatapku. Mencubit pipiku dengan gemas.

Aku terduduk lemas disampingnya. Sesaat kemudian tawaku meledak, menyadari kebodohan dan ketololanku. Fitri yang baru saja kembali dari warung sebelah menatapku cemberut. Masih dengan kekesalannya padaku, dia melabrakku habis-habisan.

“Dasar cowok, ngaku pinter tapi bodoh. Untung akhirnya kamu bilang kamu suka dia, kalau tidak aku masukin tikus ke kamarmu ntar” tapi kemudian senyum bahagia terpasang diwajahnya. Dia berlari menghampiri kami dan memeluk kami berdua dengan erat.

“Aku sayang kalian. Aku senang kalian akhirnya bersama” katanya terharu, setitik air mata kebahagian terlihat dimatanya.

Sejak saat itu, kami selalu bersama-sama. Fitri mulai mengajak pacarnya Ido untuk ikut kencan dobel bersama kami. Kocak dan menyebalkan, tapi itulah yang membuat hubungan kami bertahan sampai sekarang. Hingga akhirnya aku meminang Elisa ke pelaminan..  

~~~~#TAMAT#~~~~

DRAMA INDEX

18 comments:

  1. adjuh,.. kw udah ada saingan baru dech ngrasa kehilangan,..

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D kan emang begitu manusia sist.. ahhahaha

      Delete
  2. wew,,, knp gak bilang2 yah kalo dah diposting, skt hati saya,,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu sibuk ngambek sist.. aku kan gak berani ama orang ngambek2 :p

      Delete
  3. siapa pula yang ngambek??
    lagi sibuk kelaperan nih,,,,
    brownies dh abis pula,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. jung nam n jung min kan brownies semua tuh sist... :D

      Delete
  4. brownies makanan mba,,,,
    jung nam n jung min untuk kekepan,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh kirain sayur.. aku paling suka kl sayur browncis ditumis.. :p

      Delete
  5. Replies
    1. hahhah kisah hidupnya siapaa?? mau donk kl kisah hidupku begini. wkwkwk. gak sist, ini nih cerpen yg aku lombain di PN kemarin :D

      Delete
  6. Mbak shin...
    Knapa mesti pak sembiring???
    Hahahaha..senang saia..ada marga bapak saia di cerpen mbak shin..
    Hihihihiih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha mungkin waktu bikin cerita ini aku teringat pada dirimu sista.. entah mengapa nama itu yg teringat wkwkkwkw.. :numpang make nama margamu ya sist ^__^V

      Delete
  7. mengapa....sulit ungkapkan cinta padahal dia ada~~~~ *nyanyi ala acha septriasa (-^〇^-)

    ReplyDelete
  8. mbak shin... ini cerpen yg ikut lomba HUT PN kan?. cerpen yang gak ada judul_nya itu kan?. cerpen_nya BAGUSSSS...

    nilai : 9,5

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya sist. ini dah cerpennya yg gk ada judul. gak kepikiran ngasi judul. udah dikirim br bertanya pada diri sendiri "eh, pelru judul gk ya?" ahhaha. wah, makasi banyak sist penilaiannya. :jd malu..:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.