"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, December 20, 2012

Loves In The Parks 2 - Ninth Drama - Prologue



Lee Ji Jeong Point Of View (POV)

Udara malam begitu dingin menusuk tulang, mengkerutkan sel-sel terkecil tubuhku. Gigiku bergemerutuk saat kumasukan kedua tanganku ke dalam saku. Bagaimana aku bisa begitu lupa untuk menyambar jaketku yang tebal? Aku bahkan meninggalkan rokokku di kamar. Tak menyangka harus menunggu selama ini disini. Untungnya tukang kebun rumah ini cukup baik menawarkanku secangkir kopi panas.

Sudah satu jam aku menunggu, Ji Han belum keluar juga dari dalam rumah itu. Aku harap semua baik-baik saja, sehingga aku tak perlu mendobrak semua pintu dalam rumah itu untuk mencari adikku.


Aku tak tahu ada hubungan apa Ji Han dengan penghuni rumah ini, sehingga dia merasa perlu untuk kembali setelah matanya bengkak dan sembab karena menangis semalaman. Seseorang atau mungkin orang-orang dirumah ini telah dengan tak sengaja menyakitinya.

Dari dalam rumah terlihat bayangan sosok manusia menuju ke arah kami. Tukang kebun yang kemudian aku tahu bernama Ok Gil menghampiri sosok itu dan membungkuk memberi hormat. Aku pun berdiri dengan sigap, Nyonya Park dengan wajah cemas melihat keluar rumah itu diikuti seorang gadis belia yang tak kukenal. Namun aku menebak gadis itu adalah adik terkecil dari Jung Min, boss ditempatku bekerja.

Bagi masyarakat awam yang tinggal di sekitar pabrik milik keluarga Park, keluarga itu adalah keluarga terpandang, keluarga terhormat. Mereka memiliki garis keturunan bangsawan semasa dinasti terakhir Korea masih berkuasa.

Tuan Park Song Min, kakek dari Park Jung Min adalah pahlawan nasional yang ikut andil dalam pertempuran melawan penjajahan Jepang dan perang saudara dengan Korea Utara. Dia merintis salah satu pabrik penggilingan gandum dan jagung terbesar di Korea. Setelah tiga generasi, kini pabrik itu berkembang menjadi perusahaan berskala internasional dan bergerak di berbagai industri.

Pertanyaan nyonya Park pada Ok Gil membuyarkan lamunanku, aku tak menangkap utuh apa yang mereka bicarakan karena pikiranku melayang memikirkan Ji Han dan sedang apa dia saat ini. Aku tak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang lain, karena akan sangat tidak sopan bila aku ikut campur mengenai hal yang bukan urusanku.

Akupun mengundurkan diri kembali duduk di samping pos penjaga gerbang rumah itu.

Gadis itu, aku tak ingat namanya. Aku hanya mengenal Park Jung Min dan Park Jung Nam, namun tidak dengan adik bungsu mereka. Dalam keluarga itupun hanya Jung Nam lah yang paling dekat denganku. Dia biasa singgah ke toko dan akan menghabiskan beberapa jam untuk mengobrol denganku.

Aku tak tahu harus salah tingkah atau hanya tersenyum karena memergoki gadis itu mencuri-curi pandang ke arahku. Dia pasti bertanya-tanya apa yang dikerjakan seorang ajusshi sepertiku tengah malam seperti ini di depan rumahnya.

Well.. Dia tak salah curiga seperti itu, aku sendiri bingung mengapa aku masih berada disini sementara tempat tidurku yang nyaman menunggu untuk kutiduri. Demi adikku semata wayang, yang hampir saja tak bisa aku lihat lagi setelah sepuluh tahun pencarian yang sia-sia. Aku tak akan melepaskan pandanganku dari Ji Han. Dialah alasan aku masih berada di kota kecil ini, dan ibu kami.

Lima tahun yang lalu, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi bangunan tertarik untuk menggunakan keahlianku dibidang arsitek bangunan gedung, namun dengan terpaksa aku menolaknya.

Aku harus mencari adikku ke seluruh Korea saat itu dan aku tak bisa meninggalkan ibu sendirian disini. Setelah ayah memisahkan Ji Han dari kami, ibu sangat terpuruk, sering aku menemukannya sedang menangis terisak memanggil-manggil nama Ji Han. Aku tak mungkin meninggalkan ibuku sebatang kara. Karena hanya akulah alasan dia masih bisa tersenyum sebelum Ji han kami pulang.

Namun kini, setelah semua kembali normal, godaan untuk mengejar mimpiku muncul kembali. Sejak kecil aku bermimpi membangun gedung-gedung tinggi dan megah seperti yang sering aku lihat sewaktu ayah mengajakku pergi ke Seoul.

Gedung-gedung di ibukota begitu luar biasa, dibutuhkan ketepatan dan kecekatan untuk mewujudkan sebuah gedung yang kokoh dan megah. Suatu waktu nanti, akan berdiri gedung-gedung hasil ciptaanku dan akan aku namakan sesuai nama ibu dan adikku. Karena merekalah hidupku.

Kupandangi lagi ke arah orang-orang yang berbicara itu, gadis itu masih mencuri-curi pandang padaku. Entah kenapa aku menjadi salah tingkah karenanya. Gadis yang lucu, dia seperti anak kecil berusia lima tahun yang bersembunyi dibelakang tubuh ibunya. Sebuah boneka beruang besar dipeluknya erat, seolah dia takut aku akan menyerangnya. Saat dia menyadari aku sedang melihatnya, gadis itu berlari dan menghilang ke dalam rumahnya. Aku tersenyum geli. Sungguh gadis yang aneh.

~~~~



Park Jung In POV

Aku hanya mengikuti ibu karena dia takut keluar malam-malam, ibuku begitu takut pada hantu. Aku juga takut, tapi mana mungkin aku menolak permintaan ibuku. Dia sangat cemas karena kak Jung Nam belum juga pulang. Dengan keadaan babak belur seperti itu, entah apa yang dia lakukan diluar sana.

Kakiku berjinjit melompat-lompat disetiap pijakan batu, mencoba mengalihkan perhatianku dari sudut-sudut gelap rumah ini. Rumahku sangat besar, sejak kecil sampai umurku delapan belas tahun, aku tak pernah menjelajahi rumah ini dikala malam.

Dan sekarang sudah hampir pukul satu pagi, suara bergemerisik di pohon pun bisa membangkitkan bulu kudukku. Dengan erat kupeluk boneka beruangku, pemberian kak Jung Min, dia memang sangat menyayangiku meskipun dia seperti itu. Aku tak akan berani memancing-mancing emosinya. Dia sangat jelek bila marah.

Kak Jung Nam juga menyayangiku, namun dia lebih sering menggodaku daripada membelikanku hadiah. Kakak yang pelit.

Paman Ok Gil menghampiri kami saat tiba di depan rumah, jalanan sepi tak ada satupun mobil yang lewat. Hanya sebuah mobil sedan putih terparkir di samping pintu gerbang rumahku, aku tak tahu siapa pemilik mobil itu.

“Jung Nam sudah pulang?” tanya ibuku cemas pada paman Ok Gil.

Laki-laki tua itu membungkuk pada ibuku, kemudian disampingnya berdiri seorang laki-laki lain, aku tak pernah melihatnya, wajahnya tampak samar dibawah lampu penerang yang redup. Dia membungkuk pada ibuku memberi hormat, dia bukan sopir pribadi keluarga kami kan?

Saat dia mengangkat wajahnya, aku merasa jantungku mulai berdebar kencang. Nafasku tercekat, dia begitu tampan dan dewasa.. Senyumnya yang teduh membuatku memeluk Piko-boneka beruangku lebih erat. Aku merasa tubuhku tersengat, laki-laki itu menatapku, dan aku memalingkan wajahku. Mengapa??? Aku malu? Kenapa aku harus malu padanya??

Dia kemudian pergi, duduk disamping pos penjaga rumahku. Dia mengambil gelas disampingnya dan menghirupnya perlahan. Mungkin dia minum kopi. Aku tak dapat menahan keinginanku untuk melihatnya, memandanginya. Aku ingin mengingat wajah itu. Senyumnya membuatku lemas. Mengapa dia harus tersenyum seperti itu?

Aku bisa melihat wajahnya, begitu tampan, hidungnya mancung, mulutnya begitu tipis menggoda, rahangnya yang lebar, aku bisa melihat rambut-rambut kecil mulai tumbuh dibawah dagunya. Oh dia sungguh seksi.

Namun kenyataan lain menghantamku. Aku tahu usianya tak kurang dari usia kak Jung Min. Bergaul dengan kakak-kakak seperti mereka, aku bisa mengenali dengan mudah usia laki-laki yang sebaya dengan kakak-kakakku. Laki-laki yang sedang kulihat ini meski tak terlalu tua, kutebak usianya sekitar dua puluh sembilan tahun ke atas. Pastinya lebih tua dari kak Jung Min.

Aku tak memperhatikan ketika aku meneliti wajahnya, mata laki-laki itu menangkap tatapanku. Dia memergokiku memandanginya. Aku tak bisa menyembunyikan rasa maluku. Jantungku berdebar semakin kencang, tanpa memberitahu ibuku, aku berlari ke dalam rumah. Tak ingin dia melihat wajahku yang panas dan merah seperti udang rebus. Ya Tuhan, dia pasti berpikir kalau aku gadis yang aneh.

Dalam kamarku, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Senyum laki-laki itu selalu terbayang dikepalaku. Aku bahkan tak tahu siapa dia. Mungkin paman Ok Gil tahu. Aku akan menanyakannya besok. Sekarang, aku ingin bermimpi tentang laki-laki itu. Tuhan kabulkanlah mimpiku, aku ingin bertemu dengannya malam ini meski hanya dalam mimpi.

Akupun memejamkan mataku, berharap kantuk segera menyerang dan membawaku ke alam mimpi bersama laki-laki misterius itu. 

Ninth Drama - Chapter 1 
Loves In The Parks 1 (Main Cast) 


15 comments:

  1. ayo mari dilanjut,sk malu2 gt ah jung in :)

    ReplyDelete
  2. Piko?????
    Harusnya Hugo mba Novi,,,xixixixixixixiiii,,,
    Kabuuurrr,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hee... kata Piko aja yg muncul tadi wkt ngetik sih ahahaha

      Delete
  3. Piko?????
    Harusnya Hugo mba Novi,,,xixixixixixixiiii,,,
    Kabuuurrr,,,

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. emang aku habis dari mana sist... hee.. ^^ :makasi jg ya dirimu udah kembali jg:

      Delete
  5. penasaran sama cerita awalnya. em, kayaknya emang harus baca dari eight drama-chapter 1 ya mbak?.
    OMG,eight drama ada 49 chapter. 2 hari gak selesai nih baca_nya :(
    duh, aku ketinggalan jauh banget..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaha... yg tabah ya sist.. jalan menuju roma memang banyak dan berat, lol... wkkwkwkw

      Delete
  6. Aduh jung in kamu lucu imut" tp khayalan tingkat tnggi yah...
    Ku doain ntar mlm mimpiin ji jeong deh lg nyelametin kmu dari hantuu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa.. makasi sista.. Jung In pasti seneng tuh ^^

      Delete
  7. mbg nanti ada lanjutan jung nam sm rossy gk...???

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada sist.. khusus Jung Nam & Rossy itu di TENTH DRAMA nanti, setelah NINTH DRAMA tamat :D

      Delete
    2. thank sist....
      aduh senengnya bisa liat jung nam lagi nanti..

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.