"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, December 21, 2012

Ninth Drama - Chapter 1



Sudah lima menit aku menunggu di dalam mobil dan mereka berdua belum keluar juga dari dalam rumah. Wanita memang menyusahkan dan membuatmu menunggu saat mereka berias.

Sejujurnya aku tak bisa protes, malam ini adikku akan dilamar oleh besan kami, keluarga Park. Tak pernah terpikir olehku bila kami akan memiliki hubungan seperti ini, mereka begitu berbeda, aku tak tahu apakah hubungan kedua keluarga ini akan berjalan mulus. Aku hanya berharap adikku bahagia bila kelak dia telah menikah dengan Park Jung Min.


Laki-laki itu terkenal dingin, dia jarang berbicara. Meski kami sering bertemu saat masih kecil ketika dia berbelanja di toko ibuku, tapi kami tak pernah berbicara. Hanya adiknya Park Jung Nam yang berbicara, laki-laki yang barusan kusebut namanya itu jauh lebih ramah dari kakaknya.

Park Jung Min, dia tak memiliki rasa humor sama sekali. Aku tak tahu apa yang dilihat adikku dalam dirinya. Meski aku tak menampik dia adalah laki-laki sempurna terlepas dari amarahnya yang gampang meledak-meledak.

“Maaf kami lama, kini kami sudah siap” Ji Han tersenyum saat keluar dari rumah yang sekaligus adalah toko kami.

Rumah tua yang sudah kuhuni selama tiga puluh tahun lebih. Pernah kami ingin pindah ketempat yang lebih baik, namun kami tak bisa menepiskan kemungkinan Ji Han akan pulang suatu hari nanti dan bila dia tak menemukan kami disini, maka kami tak akan pernah bertemu lagi. Dan aku bersyukur kami tidak pergi dari rumah ini.

“Ya sudah, masuklah” kataku. Kami sudah hampir terlambat untuk pertemuan itu.

Mereka telah menunggu di dalam ruangan VIP. Kepala pelayan mengantarkan kami menemui mereka. Nyonya Park dan putranya Park Jung Min menyambut kedatangan kami, adik-adiknya berdiri dibelakang mereka.

Ku perkenalkan ibuku pada nyonya Park sekeluarga, mereka sudah mengenal Ji Han tentunya.

Jung Nam menepuk tanganku, kami memang berteman dekat dan aku senang mengenalnya, aku tahu dia adalah orang baik dan Ji Han-ku akan mendapat keluarga yang baik. Disampingnya berdiri gadis itu. Gadis yang selalu mencuri-curi pandang ke arahku.

Dia terlihat gugup, well siapa yang tidak gugup? Ini pertama kalinya keluarga kami bertemu secara formal, sedikit salah tingkah tentu tak akan membantu pandangan calon besan kepada kami kan?

Ketika tanganku terulur hendak menyalami tangannya, dia terlihat enggan, wajahnya selalu menunduk, apakah dia setakut itu padaku? Aku tak akan menelanmu, cilik.

Kusunggingkan senyumku, lalu kusambut tangannya dan menyalaminya pelan. Tangannya begitu dingin. Apa dia sakit?

Setelah kami semua duduk, akhirnya nyonya Park membuka acara dan berbicara dengan kami.

“Nyonya Lee, kami merasa sungguh terhormat anda sekeluarga bersedia hadir disini. Adapun maksud pertemuan ini adalah, niat kami untuk melamar putri anda Ji Han bagi putra tertua kami, Jung Min. Mereka saling mencintai. Sebagai satu-satunya orang tua Jung Min yang masih hidup, saya dengan penuh kerendahan hati, memohon kesediaan Nyonya Lee untuk menyetujui maksud hati kami ini. Demi kebahagiaan anak-anak kita” nyonya Park tulus dengan kata-katanya, kami merasa sangat terhormat.

Ibuku kemudian menjawabnya. Suaranya bergetar karena gugup.

“Nyonya Park anda sangat murah hati. Kamilah yang semestinya merasa terhormat karena anda mau menerima kami disini. Saya tak pernah bermimpi akan bisa berada dalam satu ruangan dengan anda sekeluarga. Kami hanyalah orang miskin yang tak punya apa-apa. Namun, jika memang mereka saling mencintai.. Tak ada yang bisa saya lakukan selaku orang tua Ji Han.. selain menyetujuinya. Saya juga menginginkan kebahagiaan yang terbaik untuk gadis kecil ini” ibu tak dapat menyembunyikan rasa haru dalam suaranya.

Siapa yang tak akan haru saat anaknya akhirnya menikah dengan orang yang dicintainya?

Suasana setelahnya menjadi mencair. Kami mulai makan malam dengan riang, lelucon yang dilemparkan Jung Nam mampu menghangatkan suasana.

Dia menggoda adiknya karena gadis itu tak berbicara sedikitpun, aku rasa dia telah membuat adiknya marah. Tersenyum geli, aku hanya bisa memandang kelakuan mereka yang saling mengejek.

Jung Min kemudian sibuk berbicara dengan adikku, sedangkan nyonya Park terlihat sangat gembira memiliki teman bicara yang sepadan, ibuku. Mereka suka bergosip.

Aku merasa sedikit risih saat Jung Min mencium tangan Ji Han disampingku, namun Jung Nam yang melihatnya tergelak dan menggodaku.

“Ya Ji Jeong, tak usah setajam itu memandangnya. Mereka sedang dimabuk asmara, kamu tahu?” dia merasa leluconnya lucu, tawanya tak ada habisnya.

Aku mendengus, menyadari kata-katanya yang seluruhnya benar. Aku hanya merasa terlalu protektif pada Ji Han. Kami baru saja berkumpul kembali, saat pikiran melepaskannya pada orang lain membuatku sedih.

“Aku hanya terlalu gembira. Aku senang akhirnya Ji Han akan memiliki seseorang yang bisa menjaga dan melindunginya.. saat aku tak bisa lagi” aku teringat kembali pada mimpi yang telah lama aku lupakan.

“Apa maksudmu? Kamu mau kemana memangnya?” Jung Nam menatapku bingung.

“...Aku memutuskan untuk mengejar mimpiku, Jung Nam. Aku ingin menjadi arsitek. Aku ingin membangun gedung-gedung impianku. Di Korea, di Asia, diseluruh dunia. Itulah mimpiku” aku merasa seluruh tubuhku damai saat membayangkan impian yang ingin kucapai nanti.

Wajahku pasti terlihat bodoh karena gadis itu melirikku lagi. Aku tak bisa tak salah tingkah bila dipandangi seperti itu terus.

“Ini.. Adikmu?” tanyaku pada Jung Nam.

“Yup. Yaa.. Jung In. Dari tadi kamu gelisah, apa kamu sakit?” tanya Jung Nam pada adiknya.

Dia terlihat tak nyaman karena kami memandanginya, dengan ketus dia menjawab kakaknya.

“Tidak. Aku hanya merasa kurang nyaman disini” wajahnya yang merengut terlihat menggemaskan.

“Ya.. Wanna die?” Jung Nam menggoda adiknya.

Yang digoda merasa semakin tersudut, wajahnya memerah karena marah. “Jiz.. Apa sih Kak Jung Nam? Resek deh” katanya sambil berdiri dan berlari keluar dari ruangan itu.

Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari punggungnya, ketika dia berbalik dan memandangku dengan tatapan aneh sebelum kemudian menghilang dibalik pintu.

Aku bertanya-tanya dalam hati apa yang telah terjadi, namun aku tak mendapatkan jawabannya. Setelah membuat adiknya berlari keluar, Jung Nam dengan tanpa dosa menyendok salad buah didepannya dan menyuapkan pada mulutnya.

“Ya Ji Jeong. Maafkan adikku, dia biasanya tak seperti itu. Mungkin sedang kedatangan tamu bulanan. Kamu tahu, wanita biasa suka emosi saat mereka mendapat periodenya” aku tak percaya dia bisa mengolok adiknya seperti itu.

Mungkin aku tak akan mengerti karena aku tak pernah melakukan hal itu pada Ji Han. Aku tak akan pernah menggoda adikku seperti itu.

Aku hanya mengangguk, masih terganggu dengan tatapan mata gadis itu. Apakah dia merasa terluka? Mengapa dia harus terluka? Well, kakaknya menggodanya. Mungkin terlalu keras.

Akupun membuang pikiranku tentang gadis itu. Masih banyak yang harus aku pikirkan setelah ini. Persiapan pernikahan Ji Han, dan persiapanku meninggalkan kota ini. Semoga ibu tak keberatan.

Tak lama kemudian, kami akhirnya harus pulang, mobilku sudah menunggu di depan lobby.

“Baiklah, kalau begitu kami pulang lebih dulu. Jung Min, Jung Nam, Nyonya Park” kataku sambil memandang sekeliling mencari anak bungsu keluarga itu, jangan katakan dia tersesat.

“Hati-hati di jalan Ji Jeong, kamu membawa calon besan dan calon menantuku” kata nyonya Park. Senyum kecil terulas diwajahku.

“Saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk mengantarkan mereka pulang dengan selamat nyonya” yang disambut dengan gelak tawa mereka. Mereka mengira itu lucu?

“Jung In mana?” tanya nyonya Park pada Jung Nam.

“Entahlah, dia menghilang setelah selesai makan malam. Nah, itu dia baru datang” jawab Jung Nam sambil menunjuk ke arah Jung In yang baru kembali dari arah kebun hotel.

“Kemana saja kamu Jung In...” tanya nyonya Park.

“Menghirup udara segar” dia masih merengut seperti terakhir kulihat.

Kemudian dia mendelik pada Jung Nam. “Kakak jelek. Aku benci padamu” teriaknya di depan wajah Jung Nam. Semua orang tertawa kebingungan melihat tingkahnya yang lucu. Gadis itu seperti anak kecil yang marah karena tidak dibelikan mainan.

“Ya.. Anak kecil. Malu pada calon besan” kata Jung Nam menggodanya lagi.

Aku memandangnya tanpa kedip, aku tak tahu mengapa aku melakukan hal itu. Dia membuatku tak bisa melepaskan tatapanku darinya. Nampaknya aku telah membuatnya tak nyaman.

“Ji Jeong..” suara Jung Min memanggilku.

Aku menoleh padanya, menunggu apa yang akan dikatakannya. Dia tampak gelisah. Aku tak bisa menyembunyikan kecurigaanku dengan apa yang akan dia katakan.

“Err.. Bolehkah aku mengantarkan Ji Han malam ini? Sudah lama kami tak bersama.. err.. Ada yang ingin kami bicarakan” dia merubah kata-kata terakhirnya.

Dalam hatiku aku ingin tertawa geli. Namun aku bisa menyembunyikannya dengan memasang wajah tanpa ekspresi, dia harus dikerjai karena telah membuat adikku menangis.

Aku mendengar Jung Nam bersiul-siul menggoda kakaknya. Wajah kakaknya itu memerah karena malu, tak kalah merahnya dengan wajah Ji Han yang juga tersipu malu disamping ibuku.

Aku tahu apa yang akan Jung Min lakukan dengan adikku malam ini. Laki-laki itu tak bisa menahan nafsunya seharipun. Dia datang hampir setiap hari kerumah dan menemani Ji Han berjam-jam, bukannya aku keberatan, aku senang mereka bahagia.

Aku hanya bersikap terlalu protektif pada Ji Han. Kini aku harus menyerahkannya pada laki-laki di depanku ini.

“..Jangan pulang terlalu larut” kataku akhirnya. Meski aku yakin, dia tak akan mengantarkan Ji Han pulang malam ini.

Wajah Jung Min masih tegang saat itu, aku kasihan melihatnya. Akhirnya aku mengalah.

Dia tersenyum lebar saat aku mengedipkan mata, mengerti dengan keinginan laki-laki itu.

“Jaga adikku baik-baik” pesanku sebelum meninggalkan tempat itu bersama ibuku.


Hari-hari selanjutnya disibukan dengan urusan pernikahan Ji Han dan Jung Min. Aku dan Jung Nam bertugas mengurus  kesiapan acara, meski tak akan ada pesta, karena setelah menikah Jung Min dan Ji Han akan langsung berbulan madu. Mereka akan mengadakan pesta pernikahan setelah kembali dari bulan madunya.

Ninth Drama - Chapter 2 
Loves In The Parks 2 Prologue 

12 comments:

  1. tapi ko jadi penasaran y????
    intip dikit ahhh...
    tangkiu mbk shin... g sabar nggu bab berikut'y..
    semangat....semanagat...
    ntar biz ngintip komen lg.. wkwkwkw

    ReplyDelete
  2. Owh Kang Mas Ji Jeong,,,u'r so suuuiiiitttt,,,, suit,,suit,,suit,,,hahahhahaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. cuit cuit... kl ada cowok kyk jijeong lewat depan mata mau disuitin gk tuh sist?

      Delete
  3. jung in:aku maluuuuu.....tp mauuuu....ku suka gayamu,matamu,alismu,hidungmu,tp ku maluuu.....tuk katakan padamu *nyanyi ala gita gutawa (∩_∩)

    ReplyDelete
  4. akhirnya bisa komen juga ^^
    ahh ternyata ceritanya dimulai pas ji han sama jung min baikan toh kirain mau dimulai pas ji han udah nikah :D
    jadi makin penasaran sama kelanjutannya..
    mba shin biasanya update nya berapa hari sekali? ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya... kl untuk ninth drama kyk nya cuman 1x sehari aja sist. ^^

      Delete
    2. berarti siangan kali yah mba?
      oke deh hrs lebih sbr nunggu mba shin update lagi :D

      Delete
  5. akhirnya aq bisa koment,...
    semangat tyuz mbak shin nulisnya,..
    hehehehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. asikk.. akhirnya.. :kelitikin lagi biar bisa komen lg:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.