"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, December 27, 2012

Ninth Drama - Chapter 10



“Aku tak mau menunggu disini seorang diri. Aku takut. Aku ingin ikut..” dia telah memutar tubuhnya meraih pintu kursi penumpang mobilku.

“Baiklah. Pakai sabuk pengamanmu”

Setengah jam kemudian kami kembali ke apartemen itu. Jung In memintaku mengantarkannya ke depan pintu apartemennya, sudah lewat tengah malam, mungkin lebih baik bila aku menemaninya hingga di depan pintu apartemennya.


Kuikuti langkah Jung in dari belakang, memperhatikan lekuk tubuhnya yang berjalan perlahan di depanku. Rambutnya yang panjang terurai menutupi lehernya, jatuh tergerai diatas bahunya. Tangannya bergerak mengikuti irama langkah kakinya, terayun perlahan ke depan ke belakang.

Kakinya yang langsing terbungkus celana jeans panjang warna hitam, aku bersumpah lekuk pantatnya membuatku bergairah hanya dengan menatapnya. Rahangku mengeras membayangkan bagaimana bentuk tubuh telanjang Jung In dibalik semua pakaian itu. Tak sadar aku mengerang tertahan.

Tak ada yang bisa menggambarkan ketegangan di dalam lift yang mengangkat kami berdua ke lantai sepuluh gedung itu. Terasa begitu lama dan menyesakan. Pikiranku kembali terngiang ciuman kami kemarin pagi, ciuman panas yang memabukan jiwaku. Ciuman yang mampu menggoyahkan kewarasanku.

“Jung In..” panggilku. Entah apa yang aku inginkan dengan memanggil namanya.

Dia tak menyahut panggilanku, dia hanya berdiri diam memandang ke depan. Aku menghela nafasku panjang. Tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Di depanku Jung In memutar tubuhnya, kini menghadap pada tubuhku. Aku menunggu apa yang akan dia lakukan, aku tidak bisa menebak arti tatapan matanya padaku.

Saat Jung In menabrakan tubuhnya pada tubuhku dan menarik kepalaku mendekati kepalanya, aku tahu dia juga menginginkannya. Menginginkan lanjutan dari ciuman panas kami pagi itu. Kakinya berjinjit mencoba menjangkau tinggi tubuhku, namun ku angkat pinggang Jung In dan mendekapnya dalam dadaku.

Ciuman kami semakin panas tatkala semakin kudesak tubuh Jung In di batas tembok lift. Aku tak perduli bila ada orang lain masuk ke dalam lift ini sekarang, aku hanya ingin melumat bibir Jung In dan memenuhi bibirnya dengan bibirku.

Nafasku tersenggal-senggal saat kuangkat wajahku, bibir Jung In begitu bengkak karena panasnya pagutanku pada bibirnya yang merah.

“Ji Jeong..” desahnya memanggil namaku. Tangannya merangkum wajahku, meraba kedua pipiku dan merasakan jari tangannya di atas permukaan bibirku. Bibir yang baru saja menciuminya dengan ganas.

“Jung In.. tamparlah aku karena menginginkanmu, bila kamu tidak menamparku sekarang, maka aku akan menjadi gila dan meraup tubuhmu dalam pelukanku. Aku tak mungkin melepaskanmu bila kamu tak menamparku sekarang. Karena Aku sangat menginginkanmu..” nadiku berdenyut-denyut kencang menahan gairah yang meledak-ledak dalam tubuhku. Aku tak tahu sampai seberapa lama aku bisa menjaga kewarasanku.

“Ji Jeong..” bisikannya tak membantuku sama sekali.

Suaranya hanya membuat gairahku semakin menggelora. Aku mengumpat dalam hati. Mengapa aku bisa terjatuh dalam posisi seperti ini dengan gadis didepanku.

Kupejamkan mataku, menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan jiwaku yang bergetar kencang. Kemudian Jung In memeluk tubuhku erat. Mengapa dia melakukannya aku tak pasti, mungkin dia ingin menenangkanku, menenangkan gairah yang melompat-lompat dalam dada.

Menghela nafas dan kupeluk erat tubuhnya yang mungil. Kami berdiam seperti itu lama, meski pintu lift telah terbuka dan menutup kembali di depan kami.

~~~~

“Kamu tidak mengangkat telephonemu semalam Ji?” tanya Eun Suh dibelakangku.

Kami sedang mengawasi proyek dan mengatur ketepatan letak struktur besi baja yang diinstal ke dalam pondasi beton.

“Aku sudah ketiduran semalam, maaf” kataku pelan.

Aku tak mungkin mengatakan aku sedang berada diatas ranjang wanita lain, kan?

“Oh, aku kira kamu menghindariku.. Aku kira setelah malam itu, kamu akan mengunjungi apartemenku lagi..” pipinya bersemu merah saat mengatakan hal itu.

Aku menatap wajahnya, meski aku tak pernah berkata akan kembali padanya, namun aku merasa bersalah karena telah memberikan wanita di depanku ini harapan tentang hubungan yang mungkin bisa kamu jalin.

Setelah melewatkan malam bersama Jung In, hatiku perlahan-lahan mulai diisi oleh gadis itu.

Aku memang berengsek bila berhubungan dengan wanita, selama ini aku tak pernah meminta wanita-wanita yang kutiduri untuk menjadi kekasihku. Hubungan kami hanya sekedar hubungan di atas ranjang, hubungan karena saling membutuhkan. Aku tak tahu apa yang aku harapkan dari hubunganku dengan Eun Suh.

Ya, dia memang cantik, seksi dan menggairahkan. Dia adalah salah satu dari sedikit wanita yang mampu memuaskanku di atas ranjang. Tak banyak yang bisa melakukan hal itu.

Namun, aku belum ingin meningkatkan hubunganku dengannya selain hubungan atas dasar saling membutuhkan ini.

“Tidak, mengapa aku harus menghindarimu? Kita bekerja bersama setiap hari. Akan sangat susah untuk menghindarimu” senyumku padanya.

Eun Suh tertawa renyah, tangannya memeluk pundakku, memijat-mijat bahuku dan membuatku rileks. Nampaknya aku membutuhkan sedikit pijatan pada tubuhku.

“Bagaimana kalau malam ini aku memijat seluruh tubuhmu? Plus plus?”

Haruskah aku menolaknya? Atau justru menerima ide yang sangat menantang itu? Tubuh Eun Suh yang telanjang duduk di atas punggungku di ranjang, memberikan pijatan erotis pada tubuhku. Terdengar sangat menarik.

“Baiklah. Pukul sebelas malam?” tanyaku.

“Perfect” jawabnya.

~~~~

Pukul sebelas malam dan aku masih di lokasi proyek bangunan. Larut dalam pekerjaanku dan melupakan janjiku pada Eun Suh. Handphoneku bergetar di atas meja, Eun Suh memanggilku.

“Halo..?” sahutku.

“Kamu tidak melupakan janji kita malam ini kan Ji? Aku sudah menunggumu” suaranya merajuk manja. Aku bisa membayangkan tubuhnya yang telanjang saat ini.

“Lima menit lagi dan aku akan meluncur kesana” aku perlu mandi setelah sampai disana.

Kertas-kertas di atas meja telah kuletakan ke tempatnya semula, menyambar jaketku dan berpamitan pada kepala mandor bawahanku. Saat meraba saku celanaku, handphoneku bergetar lagi, ada panggilan telephone lagi. Jung In. Dia menelephoneku?

“Halo?” jawabku.

“Ji Jeong.. Aku tidak bisa tidur.. Aku takut disini sendirian. Aku mendengar sirine mobil polisi lalu-lalang dan itu membuatku takut” dia terdengar cukup ketakutan hingga memberanikan diri untuk menelephoneku.

Tapi apa yang dia harapkan akan aku lakukan di apartemennya? Menemaninya tidur seperti kemarin malam? Godaan itu terlalu besar untuk aku hadapi.

Semalaman aku tak bisa tidur karena gadis itu terlelap dalam pelukanku. Tak bisa melakukan apa-apa pada tubuhnya yang menggoda membuatku frustasi.

Apakah aku harus melewati malam frustasi yang sama, lagi?

“Apa yang bisa aku lakukan Jung In?” kataku akhirnya.

“..Aku takut sendirian.. Bisakah kamu kesini? Sebentar saja. Aku.. kalau aku tertidur kamu bisa meninggalkanku..” aku merasa dia menahan tangisnya agar tak runtuh saat mengatakan hal ini.

Menghela nafas panjang dengan berat. Aku mempermainkan hatiku bila menerima tawarannya.

“Aku akan membawakanmu makanan, mungkin bisa membantu mengurangi kekhawatiranmu” kataku sebelum menutup handphoneku. Aku tak ingin mendengar tangisan Jung In. Aku lemah pada tangisan wanita.

Ninth Drama - Chapter 11 
Ninth Drama - Chapter 9 

19 comments:

  1. Yeaaay,,,akang Ji Jeong dilema,,,
    si Eun Suh dcuekin,,,Jung In menang,,
    Chapt 11 pasti adegan bikin dedek,,,,
    Howreeee,,,,, #jingkrak2 tak karuan,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. awas migrenmu tambah parah tuh sist habis jingkrak2.. heee

      Delete
    2. Udah bae,,, pan dah dtemani ma Duo Choi,,,,xxixixixxiiii

      Delete
  2. tu kan apa kubilang eun suh pasti pengen lebih. Dia atw pun si so bin menyebalkan itu pasti jadi penghalang bwt ji jeong sama jung in. Ayo dong mba plis bnget cepet mrk blang i love u biar ji jeong bisa tegas sama eun suh plis dong mba plis bnget

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl udah blg i love you langsung bisa :ehem:ehem: donk sist? hauhaauuauahuahuu

      Delete
    2. iya dong mba langsung dimasukin gkgkgkgk

      Delete
    3. whhahahahahwhhhwhwh wah sex bebas semua nih ceritanya wkkwkwkw

      Delete
  3. Cieehhhhh Ji Jeong.. *colek2*
    Tkt deh klo Eun Suh nglbrak Jung In *mengarang bebas*

    ReplyDelete
  4. ya ampun ya ampun ya ampun.

    ji jeong,

    ReplyDelete
    Replies
    1. kata Ji Jeong "ada apa cin?? ada yg salah ama eikee..??"

      Delete
  5. jijeon pasti delema nich pijet ++ atau jung in.... (-^〇^-)

    ReplyDelete
  6. jijeon pasti delema nich pijet ++ atau jung in.... (-^〇^-)

    ReplyDelete
  7. Sista..br sempat bc, akhr taon di ktr makin sibuk, hiks, bikin bete.. Tp senengnya daku, kuintip di sini, whoa..ternyata udah diposting, 2 bab lg!!! :-) love u, sist ;-) :-)
    Gmn neh Sis, pijat++ ato jung in???? please, kemaren kan udah lwt penyaluran nya, so skrg gak pa pa dunk, di 'tahan' dl, biar sekalian nt meledaknya sm Jung In aj, hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sist... biasa akhir tahun pst disuruh tutup buku tuh ya? hehe.. tp jgn lupa bonusnya diminta tuh ama bossnya, bilangin "bos, bonus akhir thunku mana nih?? buat liburan e,."

      ^^ hahaha.. pengennya sih gt, tp kasian si jung in ntr, kuat gk menahan serangan jijeong hehee

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.