"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, December 28, 2012

Ninth Drama - Chapter 11



Dia menungguku di depan pintu apartemennya, mengapa dia melakukan itu lagi. Bagaimana bila ada yang memanfaatkannya atau mengancamnya saat melihat dia di depan pintu kamarnya. Gadis bodoh.

“Mengapa kamu menungguku disini? Jangan melakukannya lagi. Kalau tidak aku tak akan mau datang kesini lagi” ancamku galak.


“Maaf.. Aku hanya mencemaskanmu karena belum  datang juga..” anak kecil ini terlalu sering merajuk. Seperti kali ini.

“Ya sudah, ayo masuk kedalam” kataku sambil mendorong tubuhnya masuk ke dalam apartemennya. Bibirnya merengut mematuhiku.

Aku meletakan makanan di atas meja, membuka jaket kerjaku dan mengendorkan dasi dileherku. Malam ini udara cukup dingin, aku tak perlu mandi mungkin.

“Kamu beli apa?” tanya Jung In padaku. Tangannya bertumpu pada meja makan, memandang wajahku dengan riang.

“Hanya makanan kecil, kamu punya minuman? Kopi? Teh? Apa saja untuk menghangatkan badan”

“Aku punya kopi, teh, tapi aku tidak punya minuman beralkohol” jawabnya polos.

“Aku tak perlu minuman beralkohol untuk mabuk dalam gairahku karena berdekatan denganmu, Jung In” mataku menatapnya tajam. Aku bersyukur dia tidak bisa mendengar kata hatiku ini.

“Kopi cukup” kataku.

Kami berdua menikmati makanan itu sambil bercanda, Jung In ternyata gadis yang lucu. Tak ada hentinya dia membuatku tertawa, beban pekerjaan yang melingkupi dadaku terasa ringan dan tak perlu kupikirkan lagi. Dia juga cukup ahli mencuci piring, meski aku yakin dia tak pernah mengerjakan hal itu sebelumnya dirumahnya. Nampaknya hidup sendiri membuatnya mulai mandiri.

Sudah pukul satu pagi dan Jung In belum juga tertidur. Kami masih mengobrol dengan santai diruang tamu apartemennya. Aku merasakan handphoneku bergetar tiada henti sejak menginjakan kakiku di apartemen Jung In. Eun Suh pasti sedang kesal setengah mati karena aku tak mengabarinya.

Aku ambil handphoneku, setelah getar terakhir langsung kumatikan. Aku akan menjawab wanita itu besok pagi.

“Siapa?” tanya Jung In ingin tahu.

“Bukan siapa-siapa. Hanya rekan kerja, mungkin dia perlu bantuanku. Namun sekarang sudah terlalu larut, dia bisa menanyakanku besok pagi” kataku sambil menyunggingkan senyum terbaikku padanya.

Nampaknya berhasil, pipinya bersemu merah hanya karena senyumku. Anak yang menarik.

“Kamu siap untuk tidur?” tanyaku. Mataku sudah terasa berat dan gadis ini belum juga terlihat bosan.

“..Aku belum mengantuk.. Maaf..” dia tidak berani memandang wajahku, merasa bersalah.

“Kemarilah” kataku padanya. Dia duduk di sofa disampingku dan aku memanggilnya agar semakin mendekat.

Ku rentangkan tanganku agar Jung In masuk kedalamnya dan duduk diatas pangkuanku. Lalu ku peluk tubuhnya dari belakang. Menyandarkan tubuhnya yang mungil di dadaku.  Daguku kuletakan diatas kepalanya, mencium wangi rambutnya yang harum.

“Tidurlah. Aku sudah mengantuk. Setidaknya cobalah, karena aku sudah tidak kuat lagi untuk membuka mataku”

Kepalaku bersandar pada pegangan tangan sofa, perlahan-lahan kurebahkan tubuhku hingga posisi kami berbaring saling bersisian di atas sofa yang lebar. Aku merasakan debar jantung Jung In yang tak wajar saat tubuh kami menempel sedekat itu. Debar jantungnya begitu kencang, dia gugup.

Kueratkan pelukanku pada pinggangnya, lenganku mengunci bahunya. “Aku tak akan membiarkanmu lepas malam ini Jung In. Kamu harus merasakan siksaan yang juga kamu berikan padaku” senyumku licik. Aku memang licik saat terpikir hal ini dalam hati.

Kubiarkan Jung In merasakan desakan kejantananku yang menegang dibalik punggungnya. Menyentuh dengan paksa punggung Jung In dan membuat debar jantungnya semakin cepat. Debar jantungku pun semakin berpacu seiring dengan nafas kami yang semakin berat.

Kupejamkan mataku, berpura-pura terlelap. Aku tak akan melakukan apapun pada Jung In malam ini..kecuali dia menggodaku. Aku sungguh tak bisa menahan godaan malaikat kecil ini.

Entah bagaimana bisa terjadi, karena kini Jung In telah berada di atas tubuhku, mengendarai tubuhku seperti menaiki kuda. Kukatakan menaiki kuda, karena tubuhnya begitu mungil untukku. Tubuhnya tak berbeda jauh dengan Ji Han, umur mereka memang sama.

Tapi dibandingkan denganku, dia terlihat kecil. Apakah aku harus senang mengetahui isi kepala Jung Min saat dia merasakan tubuh mungil adikku dibawahnya? Karena saat ini, aku merasakan hal yang sama. Bila aku bercinta dengan Jung in, tidakah aku akan menyakitinya? Dia pasti terasa sangat sempit di dalam sana.

Jung In memandangku intens, tak berkedip. Kejantananku ditutupi oleh pangkal pahanya yang menjepit pinggangku. Kurasakan perlahan-lahan dia mulai menggerakan tubuhnya maju mundur diatasku, menggesek kejantananku dengan kejam.

Tanganku menyingkap rok mininya, memandang celana dalam putihnya yang terlihat basah, samar klitorisnya terlihat menyembul dari lapisan kain tipis yang telah basah dan membuat transparan pemandangan di depanku.

Aku menggertakan gigiku. Merasakan kejantananku semakin berdenyut-denyut mendesak, nyeri karena tekanan celana dalamku yang tak memberikannya ruang untuk berkembang.

Kutarik tubuh Jung In mendekati wajahku, merangkum wajahnya dan memagut bibirnya yang terbuka. Tubuhnya masih bergoyang diatasku, menyanyikan nada cinta yang menggelora. Ketika akhirnya tubuhnya menegang diatasku karena getaran orgasme pertamanya, dia pun rubuh, tubuhnya lemas. Aku yakin seyakin-yakinnya inilah pertama kalinya Jung In merasakan kenikmatan seperti ini. Dia benar-benar polos. Bagaimana mungkin aku tega memerawani gadis sepolos dia.

Wajahnya bersemu merah diatasku, menyadari apa yang baru saja dirasakannya. Celana dalamnya kini telah basah kuyup berisi cairan orgasmenya. Dia hendak bangkit dan membersihkan dirinya, namun aku menarik tangannya. Mencegahnya meninggalkanku.

“Tidurlah seperti ini. Aku tak akan melakukan apa-apa padamu malam ini.. aku berjanji” kataku.

Jung In merebahkan kepalanya di atas dadaku, masih dalam posisinya menunggangiku. Kamipun tertidur dalam posisi itu, posisi terseksi yang pernah aku lakukan dengan seorang wanita sepanjang tiga puluh satu tahun hidupku. 

Ninth Drama - Chapter 12 
Ninth Drama - Chapter 10 

16 comments:

  1. kyaaa mba shin knp cuma jung in yg ngera nikmat hhe?
    ayo bilang i love u dunk...
    eun suh pasti kesel bnget. Mba jangan bilang bsk nya ji jeong ngelakuin nya sama eun suh ga ridho bnget nget nget

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... belum cin.. i love u, gak segampang itu lah tumbuh dalam hati manusia..

      Delete
    2. eun suh lagi memuaskan dirinya sendiri hahahaha

      Delete
    3. kalo gak dia lagi cari kim in, mba cari pelampiasan,,,


      parah...........

      Delete
    4. hahahaha boleh jg tuh idenya. kim in kan sohibnya jeong. ntr dikenalin ama jeong. jd side story deh kim in n eun suh. lol

      Delete
  2. jgn i love u dlu ah,mw tw perasaan mreka msg2 dlu.pknya ji jeong hrz jaga jung in :) ya mba shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. iya iya iya.. tp kl jijeong -pengen- boleh ama eun suh ndak sist?? ^^V

      Delete
    2. jitaki mba shin,,,,,

      culik anak2'a ,,,,
      awas y mba klo ji jeong sama eun suh

      Delete
    3. yeee ngancem lage ngancem lagee...

      Delete
    4. kalo gak aku ke rumah nya mba shin,,,,
      nemenin mba shin, baik kan aku,,,

      Delete
    5. temeni hugo aje dhe... dia ndak punya temen main tuh hee...

      Delete
  3. aaaaaaaaa... Jung In berhasil membuat Ji Jeong blingsatan
    asiiiiiikk..
    teruskan Jung In, bikin Ji Jeong makin panas dingin, hihihihi

    ReplyDelete
  4. Posisi paling seksi sepanjang 31thn hidupku..
    Wah sesuatu bgt nih kalimatnya mbak shin..

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.