"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, December 28, 2012

Ninth Drama - Chapter 12



Hari ini minggu, dan aku mengambil liburku setelah berjam-jam lembur yang selalu aku lakukan. Namun aku tak pulang ke Ulsan. Disinilah aku, berbaring di atas sofa di apartemen Jung In, dan gadis itu tertidur pulas diatasku. Sudah satu jam aku terbangun, namun aku tak ingin membangunkan Jung In dari tidurnya.

Aku membelai lembut tubuhnya, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang memabukan, mengingat sensasi menempelnya tubuh kami seperti ini. Aku tak bisa menyentuhnya, bukan karena tak ingin, tapi lebih karena takut akan menyakitinya.


Selain itu, aku tak tahu bagaimana harus menghadapi nyonya Park bila wanita itu tahu aku memiliki hubungan seperti ini dengan Jung In. Akankah hubunganku mempengaruhi hubungan Ji Han dalam keluarga Park? Aku tak tahu, aku tak ingin memikirkannya.

Namun aku merasa, hubunganku dengan Jung In tak akan berhasil. Aku bukan orang kaya raya, setidaknya belum. Aku masih harus mengejar mimpiku dan aku belum ingin mengikat komitmen apapun dengan seorang wanita, atau gadis lugu seperti Jung In.

Bila dia jatuh hati padaku dan tak mampu menerima penolakanku, maka dia akan hancur. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada ditolaknya perasaanmu oleh cinta pertamamu. Aku tak tahu apa yang aku rasakan pada Jung In, cintakah? Sukakah? Sayangkah? Atau hanya nafsu? Aku tak tahu.

Saat ini semua terasa indah, meski fisikku belum terpuaskan, namun jiwaku puas melihat Jung In orgasme di atas tubuhku. Puas karena akulah laki-laki pertama yang melihatnya seperti ini. Bagaimana aku harus menyebutnya? Kami tidak bercinta, tidak juga melakukan masturbasi atau apapun istilahnya.

Begitu banyak waktu bisa kami habiskan bersama, aku tak yakin bila suatu hari nanti aku tak akan tergoda untuk tidak merenggut tubuhnya dalam pelukanku. Tapi, hubungan apa yang bisa aku tawarkan pada gadis ini? Mana mungkin dia bersedia menjadi teman tidurku, tanpa mendapat penjelasan tentang masa depan hubungan kami.

Apakah aku harus mundur? Tidak menemuinya lagi? Dan hidup seperti biasa? Mungkin dengan Eun Suh? Wanita itu tak kalah menariknya dari Jung In, bahkan dia jauh lebih berpengalaman. Dia juga masih sempit bila itu yang aku cari.

Aku memejamkan mataku, semenjak berada di Ibukota, kepalaku dipenuhi dengan pikiran-pikiran vulgar, aku tak pernah sefrustasi ini sebelumnya dalam memilih teman kencan ataupun teman tidurku. Tidak kali ini.

“Selamat pagi..” sapa Jung In dengan tersenyum diatas tubuhku.

Wajahnya terlihat cantik tanpa dosa saat terbangun dari tidurnya. Ku kecup bibir tipisnya sebagai ucapan selamat pagiku padanya.

“Pagi, manis..” ujarku. Wajahnya seketika bersemu merah. Begitu mudah bagiku untuk mendapatkan Jung In bila aku mau.

Tapi sesuatu dalam diriku melarang tangan ini untuk menyentuhnya lebih jauh. Aku harus memikirkan hidup Ji Han dan anak dalam kandungannya. Bila karena hubunganku dengan Jung In rumah tangga Ji Han berantakan, aku tidak akan memaafkan diriku.

Namun bagaimana aku bisa menolak gadis ini saat dia mencium bibirku dengan mesra, memagutnya dengan begitu posesif, mencoba memberikanku kenikmatan dari pengalamannya yang tak sebrapa.

Aku yakin dia pernah berciuman sebelumnya, namun ciuman gadis ini masih terasa kikuk saat menyentuh bibirku.

Nafas Jung In tertahan saat kulumat bibirnya dengan panas, mengajarinya bagaimana cara berciuman yang akan membangkitkan gairahnya seketika. Aku suka mengecap rasa bibirnya yang manis, berlama-lama menghisap bibirnya dan mempermainkan lidahnya didalam mulutku.

Jung In melepaskan kancing bajuku, membuka satu persatu kancing yang tak berdaya itu dari lubangnya. Tangannya yang mungil menyingkap kemejaku kesamping, memperlihatkan dadaku yang bidang dibawah tubuhnya.

Jung In senang meraba dadaku dengan tangannya, mengusap-usap pelan pundak dan bahuku dan kini dia menciuminya, nafasku terasa berat saat gadis ini mengecup dadaku, memainkan lidahnya yang tak terlatih pada putingku yang juga mengeras.

Aku tak tahu darimana Jung In belajar memperlakukan laki-laki seperti ini, pikiranku berkabut membayangkan apalagi yang akan dia lakukan padaku.

Aku membiarkan Jung In mengeksplorasi tubuhku yang sedang didudukinya, pahanya menjepit erat pinggangku, menahan kejantananku yang kian mengeras dan tegang dibawah kemaluannya.

Jung In mengangkat tanganku, membimbingnya menyentuh bagian payudaranya yang telah mengeras dan padat. Kuremas-remas payudara itu, terasa kenyal memenuhi tanganku. Meski tubuhnya mungil, Jung In memiliki buah dada yang bulat dan besar. Aku tak sabar untuk mencicipinya.

Kaos tipis yang dia kenakan kini telah teronggok dilantai, kemudian menyusul bra putih polos yang menyembunyikan betapa indahnya payudara itu. Jantungku semakin berdebar kencang menatap buah dada Jung In di depan mataku. Bergerak naik turun mengikuti nafasnya yang berat.

Dia memajukan tubuhnya, mendesakan payudaranya yang indah pada wajahku, dengan tak sabar kupagut buah dadanya itu dan menghisapnya nikmat. Kumainkan lidahku dengan ahli pada putingnya yang mengeras, menghisap lagi dan lagi sehingga menimbulkan suara berisik dari hisapanku pada ujung payudaranya.

Jung In memejamkan matanya menikmati perlakuan mulutku disana, tangannya meremas rambutku, mengacak-ngacak rambut tak berdosa itu sebagai pelampiasan kenikmatan yang dirasakannya.

“Ji Jeong..Aku menginginkanmu...” rintih Jung In diatasku, tubuhnya telah terangsang hingga dia tak sanggup untuk menyembunyikannya lagi.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Melakukannya dengan gadis ini? Mengambil keperawanannya? Sementara aku belum tahu apa yang aku inginkan?

Tidak mungkin aku menjerumuskan Jung In dalam hubungan tanpa komitmen ini, aku tak ingin merusaknya.

Kulepaskan mulutku dari payudara Jung In, menatap matanya dengan penuh perasaan. Kutanyakan padanya bila itu yang memang diinginkannya.

“Kamu yakin, Jung In? Aku..aku tidak bisa menjanjikanmu apa-pun. Bila menuruti nafsuku, aku sudah menindih tubuhmu dan menyatukan tubuh kita sekarang juga. Tapi, ada alasan mengapa aku bisa bertahan hingga saat ini. Keluarga. Aku memikirkan apa yang akan keluarga kita katakan mengenai hubungan kita. Aku menyukaimu, sangat. Aku tertarik padamu, ya. Aku menginginkanmu, sampai aku merasa frustasi karena menginginkanmu setiap waktu. Tapi, aku tak tahu bila hubungan kita akan berhasil. Aku tidak cukup baik untukmu..” kataku lirih. Aku tak tahu bila aku telah memilih kata-kata terbaik agar tidak menyakiti Jung In.

Namun apa daya, tangisan gadis itu turun menetes di pipinya. Aku telah mengecewakannya.

Dia bangkit dari atas tubuhku, berjalan memunggungiku dan masuk ke kamarnya. Pikiranku kacau, kuhirup nafas dalam-dalam agar sesak di dada ini berkurang. Kurapikan rambutku dengan frustasi, berharap ucapanku akan membuatku lega, namun bukan kelegaan yang menghinggapi hatiku kini. Hanya penyesalan dan rasa bersalah pada Jung In. Hatiku sesak menyadari telah menyakiti gadis itu.

Semestinya aku tak mengangkat telephonenya waktu itu, ketika dia meminta pertolonganku saat ban mobilnya meletus dijalan. Semestinya aku tidak menciumnya pagi itu, tidak pula saat kami berada di dalam lift. Karena hanya membayangkan wajahnya membuat hatiku sesak. Kami tak mungkin bersama.

Kuketuk pelan pintu kamar Jung In, tak ada sahutan darinya. Kubuka kenop pintu, melihat tubuhnya bergetar didalam selimut diatas ranjangnya. Dia sedang menangis. Hatiku sakit melihatnya seperti itu.

Kuhampiri Jung In dan duduk disisi ranjangnya, menyentuh pundaknya yang memunggungiku. Kamar itu gelap, tak ada cahaya matahari yang bersinar masuk ke dalam kamar apartemen ini.

Lampu meja kunyalakan agar kulihat wajahnya yang sedang menangis. Tangisan yang disebabkan olehku.

“Jung In..” panggilku pelan. Dia tak membalasnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” aku benar-benar tak berdaya menghadapi gadis ini.

Kubaringkan tubuhku disampingnya, beringsut masuk ke dalam selimut yang sama. Memeluk tubuhnya yang kaku karena menahan isak tangis yang tak ingin terdengar olehku. Dia tak ingin terlihat menangis di depanku. Apa daya, aku telah melihatnya, dan aku lemah pada tangisannya.

Kupeluk tubuhnya erat, kuciumi pipinya. Lehernya yang terbuka menjadi sasaran bibirku berikutnya. Kurengkuh tubuhnya hingga wajahnya menatapku, matanya yang sembab karena tangisan membuat hatiku sedih. Kukecup matanya, pipinya, tak ingin air mata itu mengisi wajahnya. Kuhusap air mata yang tersisa, saat kurangkum wajahnya dengan kedua tanganku, bibirku mencium bibir Jung In mesra. Ciuman terhangat yang pernah aku berikan pada seorang wanita. 

Ninth Drama - Chapter 13 
Ninth Drama - Chapter 11 

31 comments:

  1. ji jeong bodoh,,,,,,,

    getok juga nih kaya jung min
    kpn lgi dpt cewe kaya jung in?
    polos, lugu, anything you want i'll do kata jung in...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kok bodoh sih?? :ngambek nih:

      Delete
    2. ya lah mba klo gak bodoh apa namanya???
      mang ya klo cowo itu musti liat yang real dulu baru deh tau,,,
      jeong mau keilangan jung in dulu baru sadar??

      Delete
    3. namanya jg cwok cin.. cowok gk suka ngayal.. kl cowok kebanyakan ngayal ntr dikira cewek. kwkwkwkkw :ups... mdh2an gk ada yg tersinggung hee..

      Delete
  2. hahah galau dy mba fathy,heheh jd iktn galau,dalam bgt dah

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku jg ikutan galau nih cinn... huahuahahua.. gak nyangka tulisan sendiri bisa bikin galau ati jg lol

      Delete
    2. ye,,,,
      mba shin napa jadi ikutan galau??

      aku n rena aja yang galau,,,

      Delete
    3. kl aku gk galau, gk bisa meresapi cerita. bikin lanjutane piye..

      Delete
  3. cuit2, jung in nakal deh...haha

    ReplyDelete
  4. punya julukan bru bwt mba shin. Mba shin pembuat galau.
    beneran dbuat galau ekeu sama part ini *maafin ye mba rada2 alay*hhe tpi, beneran mba part ini bikin galau, nyesek sama frustasi kayak ji jeong :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah jd tersanjung nih sist -ato tersandung? lol- hehehehhe.. kedepannya musti galau2 nih, biar gelar *pembuat galau*nya bertahan. ahahaha.

      Delete
    2. yah, jangan banyak galau nya dong bisa stress saya. Sesekali aja mba bikin galau nya. :D

      Delete
    3. yg penting kan heppy ending sist. hehehehhee

      Delete
    4. bener ya mba happy ending :)
      duh mba komen aku di hyun jae ga masuk2 eum. Bsk ya mba aku coba komen lgi :)

      Delete
    5. iya sist happy ending donk. ;) sip sip gpp... nyantai aja. mgkn masuk ke spam. soalnya kadang ada komen yg masuk ke box spam. mgkn ada ketikan yg kyk nama website

      Delete
  5. aduh....kirain udah mau ehm2 eh.....gagal maning2... (´ε` )♡

    ReplyDelete
  6. Hiks..hiks..tambah lg neh objek galaunya sist Shin :-(

    ReplyDelete
  7. aaaaaaaaaaaaaaa...
    Jung iiinnn...
    klo pun aku jadi cowok aku juga ga akan tega ngelihat Jung in nangis kayak gitu..
    nangis tanpa suara itu lebih nyesak drpd nangis meraung2...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah.. pengalaman pribadi pst ni sis merry ya? aaaaahahahaha

      Delete
  8. akika dah baca cyin yg nie,,,tp blom smpat koment,,
    Hadewh,,,si akang Ji Jeong,,,ga dhajar adja si Jung Innya,,,
    Si Jung In dah pasrah binti rela binti pewe gitu,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaa iya cin... enak gak dinnernya.. asiknyo dinner dinner.. akika udah lama gk dinner ama org banyak, dinnernya ama si kokoh doank...

      Delete
  9. Emang ga enak ya jung in klo d anggep anak kecil trus padahal kan kita dah gede ya kannn...
    Buktinya bisa main kuda"an iya gak...
    (hadoh gara" galau jg komen error)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.