"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, December 29, 2012

Ninth Drama - Chapter 14



Setelah permainan panas diatas ranjang Jung In yang memporak-porandakan pertahananku, kami akhirnya membersihkan tubuh kami dibawah shower air hangat yang mengalir. Aku mencoba menahan gairahku yang dipancing-pancing oleh kejahilan Jung In padaku. Gadis itu begitu nakal dan sangat senang menggodaku, mengetahui betapa rentannya aku didekatnya.


Kami berada diruang tamu apartemen Jung In, aku memasak sarapan pagi untuk kami meski matahari telah menyingsing di atas kepala. Dua potong roti tawar panggang, dua telor mata sapi untukku dan omelet untuk Jung In. Sepotong sosis breakfast dan dua helai bacon kering.

Jung In tidak punya makanan apapun dikulkasnya sehingga aku harus keluar membeli bahan-bahan ini dimini market terdekat. Dan betapa geramnya aku karena  gadis ini tidak pernah mengerti arti kata menunggu di dalam kamar. Dia dengan senyum jenakanya menyambut kedatanganku di depan pintu apartemennya.

“Aku bersumpah akan mencumbumu didepan sini bila kamu menungguku diluaran lagi..” ancamku sembari mencium lembut bibirnya.

Jung In menarik kerah kemejaku masuk ke dalam apartemen. Tertawa menggodaku dengan senyumnya yang manis. Aku menyerah.. aku telah takhluk dibawah kaki gadis ini.

Jung In menghabiskan sarapannya dengan sempurna, dia tak malu-malu untuk mengambil sepotong sosis dari piringku yang telah kupotong kecil-kecil. Aku hanya tertawa melihat kelakuannya. Aku rasa, hatiku semakin menyukai malaikat cilik ini.

Pukul empat sore dan aku berpamitan dari apartemennya, aku harus kembali ke apartemenku untuk mengganti pakaianku dan beristirahat sejenak. Malam ini kami akan berkunjung ke restoran favoritku untuk makan malam.

Sesampainya didalam apartemen, kuhidupkan kembali handphoneku yang telah mati semalaman. Dua buah voice mail dan sepuluh pesan singkat. Siapa yang sedepresi ini untuk menghubungiku sebanyak itu di hari libur?

Belum sempat aku membuka pesan singkat di handphoneku, handphone itu bergetar, Eun Suh memanggilku. Nampaknya dia telah mendapat pemberitahuan dari operator bahwa nomerku telah aktif kembali. Dengan segan aku terima panggilannya.

“Halo?” kataku.

“Ji... Akhirnya kamu menerima telephoneku. Kamu kemana saja Ji? Aku menunggumu semalaman. Aku mencemaskanmu. Kutelephone pegawai proyek yang masih bekerja, menanyakan kabarmu. Mereka mengatakan kamu pergi pukul sebelas malam, setelah aku menghubungimu. Tapi, kamu pergi kemana? Karena kamu tak juga muncul di apartemenku” suaranya terdengar tertahan, menangiskah dia sekarang?

Aku menghela nafasku, menyadari konflik apa yang telah kubuat. Jangan katakan Eun Suh mencintaiku, karena aku tidak ingin melukai hati siapapun.

“Maafkan aku, Eun Suh. Mungkin kita tidak perlu saling bertemu lagi selain di tempat kerja..” mungkin aku terdengar sangat kejam dan tidak adil pada Eun Suh.

Namun aku tidak ingin melukai hati wanita itu lebih lama dengan memanfaatkannya untuk kebutuhanku. Kini aku telah memiliki Jung In, aku tak ingin menduakan gadis itu hanya untuk kesenanganku.

“Aku tidak percaya kamu akan mengatakan hal itu, Ji.. Bukankah kita sangat cocok bersama? Aku merasa aman bersamamu, Ji.. Aku..aku mencintaimu Ji..”

Aku memejamkan mataku, Eun Suh mencintaiku. Aku tahu wanita ini telah tertarik padaku sejak pertemuan pertama kami, tapi aku tak menyangka dia akan mencintaiku. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi Eun Suh.

“Eun Suh.. Maaf, tapi aku tidak memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Aku akui saat kita bersama tak akan pernah kulupakan. Namun, aku menyukai wanita lain.. Maafkan aku. Aku tidak bisa menerima cintamu”

Semoga keputusanku ini yang terbaik untuk semuanya. Aku tidak pernah menduakan wanita, kenyataan yang ada, aku bahkan tidak pernah memiliki hubungan romantis dengan wanita manapun. Semua hubungan yang kumiliki hanya sebatas pemenuhan kebutuhanku dan atas dasar suka-sama-suka. Tak pernah aku mau mengikat komitmen dengan wanita manapun, selain Jung In..

“Tidak Ji.. Kamu boleh saja menyukai wanita lain, aku tetap akan menemuimu, hingga cincin  terpasang dijarimu, barulah aku akan mengikhlaskanmu pada wanita lain. Sebelum itu terjadi, biarkanlah aku mencintaimu. Aku tidak pernah meminta untuk mencintaimu Ji, kamu datang dan mencuri hatiku, aku tidak bisa berbuat apa. Jangan melarangku untuk mencintaimu, Ji..” kudengar isak tangis Eun Suh diseberang sana.

Sebelum aku sempat menjawabnya, dia telah menutup sambungan telephone. Meninggalkanku berdiri terpaku dalam apartemenku. Hatiku semakin berat memikirkan kekacauan yang telah kuperbuat.

“Maafkan aku, Eun Suh.. Maafkan aku..” kataku lirih.

~~~~

Makan malam yang tadinya kukira akan berakhir menyenangkan ternyata tak sesuai dugaanku. Karena pikiranku dipenuhi percakapanku dengan Eun Suh sore itu, aku tidak memperhatikan Jung In yang berada disampingku, mencoba menarik perhatianku dengan lelucon yang dibuatnya. Namun, aku hanya tersenyum simpul tidak sungguh-sungguh memperhatikan perkataannya.  

Setelah makan malam, kami singgah ke pantai. Kami berjalan-jalan di atas pasir putih, menyusuri pantai hingga malam larut. Kugandeng tangan Jung In dan bertelanjang kaki berjalan merasakan pasir yang lembut di bawah kaki kami. Ombak pantai yang bersahutan mengisi kesunyian diantara kami.

Jung In melepas gandengan tanganku, dia berlari ke dalam pantai dengan riang. Merasakan air pasang dibawah kakinya, berteriak memanggil namaku untuk mengikutinya.

“Jeong... Kesinilah.. Airnya pasang menerpa kakiku” Jung In berteriak riang, dibawahnya ombak mengalir dengan deras.

“Jangan masuk jauh ke dalam, ombaknya besar. Jung In..” kulemparkan sepatuku ke atas pasir. Menghampiri Jung In yang semakin jauh masuk ke dalam ombak.

Kini batas pinggang gadis itu telah tertutupi air pasang namun senyum masih menghiasi wajahnya. Dia tertawa keras, terlihat sungguh bahagia.

Gadis ini membuatku was-was, ombak akan menerjangnya. Apa yang dia inginkan masuk kedalam sana. Ketika akhirnya aku mencapai tubuhnya, tanganku mencekal bahu Jung In dan mengajaknya keluar dari sana.

“Apa yang kamu pikirkan Jung In? Disini terlalu berbahaya. Kamu bisa ditelan ombak” teriakku cemas.

“Aku hanya ingin mendapat perhatianmu Jeong.. Kamu terlihat sedih sejak kembali dari apartemenmu. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Namun aku sedih melihatmu sedih” mataku menangkap setetes air mata jatuh di pipi Jung In.

“Ya Tuhan, aku telah membuatnya menangis, lagi..”

“Jung In.. Maafkan aku. Kemarilah, aku mohon”  

Jung In menjatuhkan tubuhnya dalam pelukanku. Hatiku ingin menangis karena telah membuat gadis ini menangis. Aku tidak tahu dia begitu rapuh, apakah menyukai seseorang membuatmu rapuh?

Bila memang benar demikian, maka jalan di depan kami pastilah akan sangat terjal dan aku ragu bila kami akan sanggup menghadapinya.

“Maafkan aku Jung In. Maafkan aku..” kupeluk tubuhnya erat, kucium lembut rambutnya. Tubuh kami basah kuyup karena terpaan ombak besar.

Saat aku mengantarkan Jung In kembali ke apartemennya, aku mengecup kening gadis itu di depan pintu dan mengucapkan selamat malam padanya. Matanya masih merah saat kutinggalkan. Aku hanya berharap Jung In akan lebih kuat menghadapi hubungan kami yang tak biasa ini.

Ninth Drama - Chapter 15 
Ninth Drama - Chapter 13 

18 comments:

  1. konflik baru saja dimulaaaaii...
    Jung In, kamu harus kuat yaa..
    pertahan kan Jeong..
    FIGHTING!!!

    mbak shin juga nulisnya FIGHTING!!!
    semoga idenya lancaaaarrr cetaaaaaarrr badai lahaaarrr... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha ngerti aja Merry kl konflik baru dimulai.. tengg...... ronde pertama dimulai...

      makasi ya cin semangatnya. HWATITING!!!

      Delete
  2. jung in yang kuat ya sayang, abang jeong masih galau,,,

    jeong beneran deh aku timpuk nih,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya harus kuat cin.. kan Jeong godaaanya banyak tuh... hehehe

      Delete
  3. Sistah,,,,,bener2 menarik konflikny,,,
    Aq suka cara Jung In narik perhatian si Ji Jeong,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg mana sist? yg narik kerah bajunya? eh salah.. wkkwkwkw..

      Delete
    2. Yg itu juga bisaa,,
      Yg manjany juga bisa,,,hehheeeee

      Delete
  4. jung in,sbr sai.kalo km g kuat,jeong ny bwt aq ja.hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku ikut ngantri 1 ya sist buat dapetin jeong.. siapa tahu dicetak versi KW nya ^^

      Delete
  5. huh *narik nafas dalam* rumit rumit rumit masalah masalah masalah. Udah deh cerita cinta jung in ji jeong itu bola kusut cinta segi 4. Berjuang ya nak jung in, mbah yakin bakalan happy ending *lirik mba shin* hha

    ReplyDelete
    Replies
    1. oiya donk.. happy ending... :btw kok make mbak?? mbak duku?? hiihihhi

      Delete
    2. bukan mba saya cuma cenayang kkkkkk~ *ngelantur

      Delete
    3. wah, cenayang? bs terbang donk? :makin ngelantur:

      Delete
  6. ih mba shin,situ kw.aq mah yg orisinil dunk,hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahah... digilir aj deh kl gt cin..

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.