"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, December 30, 2012

Ninth Drama - Chapter 15



Bunyi alarm dari jam beker diatas meja membangunkanku keesokan harinya. Pukul enam pagi, aku masih memiliki waktu satu jam untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke tempat kerjaku.

Kusibakan selimut yang menutupi dadaku yang telanjang, melangkah ke arah jendela dan membuka tirai yang menghalangi sinar matahari pagi menembus ke dalam kamarku.


Udara pagi masuk ke dalam kamarku, menghembuskan angin dingin pada kulitku yang telanjang. Kuhirup dalam-dalam udara dari luar, lalu kuhembuskan. Satu kali, dua kali, tiga kali, kemudian kuhembuskan lagi. Ritual yang sama setiap pagi.

Handphoneku bergetar pagi itu, sebuah pesan singkat dari Jung In. Nampaknya dia juga bangun pagi-pagi sekali. Tak heran, hari ini Jung In kuliah, mungkin aku harus menanyakannya jadwal kuliahnya dan mampir saat makan siang.

“Selamat Pagi Jeong.. Miss you..”

Aku berdecak senang mendapat kiriman sms dari gadis itu meski aku tidak suka mengirim pesan pada orang lain. Aku lebih senang berbicara langsung daripada mengetik huruf-huruf kecil di keypadku.

Jari-jari tanganku selalu kewalahan untuk memencet satu tombol tanpa mengenai tombol yang lain, jari tanganku terlalu besar untuk keypad handphone sekecil ini.

Maka aku telephone Jung In, aku ingin mendengar suaranya pagi ini.

“Selamat pagi, manis. Aku juga merindukanmu..” dia tertawa riang mendapatiku menelphonenya.

Kami berbicara di telephone hingga setengah jam kemudian. Aku harus bergegas sebelum terlambat ke tempat kerjaku.

“Aku akan menutup telephonenya, kamu hati-hati dijalan, selamat belajar..” aku tergelak menggodanya.

Aku dengar Jung In merajuk didalam telephone. Anak ini, bila aku melayaninya terus, maka kami tak akan berhenti saling menggoda di dalam telephone.

~~~~

Eun Suh tidak muncul di lokasi proyek hari ini, karena pekerjaanku yang tiada habisnya aku tidak sempat menghubunginya. Aku harap dia baik-baik saja.

Tetapi saat lima hari berturut-turut dia tak kunjung datang ke tempat kerja, akhirnya aku mencarinya ke apartemennya.

Sengaja hari itu aku pulang lebih awal untuk singgah ke apartemen Eun Suh. Pukul tujuh malam aku sudah berada di depan pintu apartemennya.

Dia membukakan pintu untukku setelah bunyi bell ke empat. Dia terlihat berantakan, matanya sembab karena menangis sepanjang hari. Eun Suh tidak mau menemuiku, dia mencoba menutup kembali pintu apartemennya namun berhasil aku hentikan.

Aku memaksa masuk ke dalam apartemennya, Eun Suh pun tidak menghalangiku lagi. Dia duduk di sofa ruang tamunya, berdiam diri menolak untuk berbicara denganku.

Aku tidak pernah mengerti wanita, mereka bisa semanis madu saat bahagia, namun ketika marah ataupun sedih, mereka begitu sulit untuk dihadapi.

Hatiku tak akan bertahan lama menghadapi dua wanita yang memiliki kepribadian hampir sama ini bila mereka sedih.

“Kamu tidak pergi ke lokasi proyek, aku khawatir dengan keadaanmu, maka dari itu aku kesini..” Eun Suh tak menjawabku. Rupanya basa-basiku tak berhasil.

“Eun Suh.. Jangan seperti ini, hatiku tidak tenang melihatmu menderita” aku menyisir rambutku frustasi.

“Pergilah, Ji.. Aku baik-baik saja. Minggu depan aku akan kembali bekerja. Kamu tak usah mencemaskanku, aku akan segera kembali” Eun Suh tak mau memandangku sama sekali.

“..Apa kamu sudah makan? Kamu terlihat lebih kurus.. Eun Suh...” aku baru menyadari Eun Suh terlihat lebih kurus daripada saat terakhir aku menemuinya.

Dia tidak menjawabku, lagi. Memandang frustasi ke arah dapur, kulepaskan jas yang aku pakai. Beranjak ke arah dapur dan memeriksa makanan apa yang mungkin bisa kubuatkan untuknya.

Lima belas menit kemudian, aku duduk disampingnya, meniup sup kental panas yang kubuatkan untuknya.

Awalnya Eun Suh menolak makanan yang aku suapkan untuknya, namun aku memaksanya. Kupegang dagunya lembut dan mengarahkan sendok yang berisi sup hangat itu pada mulutnya.

“Cobalah.. Kamu harus makan, Eun Suh..”

Aku senang akhirnya Eun Suh mau memakan sup buatanku meski dia hanya menghabiskan setengah mangkoknya.

Setelah mencuci peralatan masak dan membersihkan apartemen Eun Suh, aku pun berpamitan padanya. Dia masih tidak membalas kata-kataku yang membuatku sedih.

Ketika langkah kakiku semakin dekat dengan pintu keluar, Eun Suh bangkit dari duduknya dan berlari mendekatiku, merengkuh pinggangku dan memeluk erat tubuhku dari belakang. Tangisannya kemudian runtuh dibalik punggungku.

“Ji.. Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku mencintaimu, Ji..” ujarnya disela-sela tangisnya.

Kubiarkan Eun Suh seperti itu beberapa lama, aku ingin dia mengeluarkan semua sakit hati dan tangis sepuasnya. Kemudian barulah kami bisa berbicara dengan akal sehat.

Setelah isak tangis Eun Suh mereda, kuputar tubuhku menghadap tubuhnya. Dia terlihat sungguh mengenaskan, wanita yang biasanya tangguh dan optimis ini juga tidak bisa berbuat banyak bila cinta datang padanya.

Kuhapus air mata di pipi Eun Suh dengan sapu tanganku, aku hanya merasa kasihan padanya sekarang, dia seperti ini karenaku.

“Duduklah, kita harus berbicara” kataku akhirnya sembari memapah Eun Suh duduk di sofa.

Aku mengambil tempat disisi Eun Suh, menopang tubuhnya yang lemah dan menyandarkannya ke punggung sofa.

“Eun Suh.. Aku berterima kasih karena kamu memiliki perasaan seperti itu padaku, meski aku tak pantas mendapat cintamu setelah apa yang aku lakukan..” aku mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataanku.

“..Aku..menyukai wanita lain, dan aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya.. aku hanya ingin berteman denganmu, seperti dulu..”

“Teman seperti apa maksudmu, Ji? Yang datang ke apartemenku dan tidur denganku?” aku tak menyangka Eun Suh akan menanyakanku hal seperti itu. Akupun membisu karena tak siap dengan pertanyaannya yang lebih berupa pernyataan.

“..Aku tidak bermaksud memberimu pandangan seperti itu terhadapku. Waktu itu..aku belum menyadari perasaanku pada wanita ini” jawabku.

“Jadi..wanita ini yang mencurimu dariku, Ji?” dia menatap mataku, nyalang.

“Bukan begitu maksudku, Eun Suh.. Dengarkan.. Aku tahu dan mengerti perkataanmu saat kamu bilang kamu tidak meminta untuk mencintaiku, karena aku juga tidak pernah meminta untuk menyukai wanita itu. Hubungan kami, entah..aku tidak tahu bila kami akan memiliki masa depan, tapi aku ingin menghabiskan waktu yang kami miliki bersama, Eun Suh..”

Aku memegang bahunya, berharap dia mengerti maksud perkataanku. “Tolong mengertilah. Jangan seperti ini pada dirimu. Aku benar-benar merasa sulit bila melihatmu menderita karenaku”

“Lalu.. hubungan kita, bukankah sama saja, Ji? Meski hubungan kita tidak memiliki masa depan, aku masih tetap ingin bersamamu. Meski kamu tidak memandangku sama seperti aku memandangmu. Aku tetap ingin bersamamu, Ji.. Jangan usir aku dari hatimu” mata Eun Suh berlinang air mata.

Bukankah sudah kubilang aku lemah dengan air mata? Wanita selalu tahu apa yang harus mereka lakukan padaku.

“Kemarilah..” kataku saat merengkuh tubuhnya. Eun Suh menangis dalam pelukanku, isak tangis tertahannya membuat tubuhnya bergetar. Air matanya membasahi kemeja putihku.

Bila Jung In mengetahui apa yang aku lakukan disini bersama Eun Suh, marahkah dia? Kami tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, kan? Aku tidak mengkhianatinya, kan?

“Ji..” panggil Eun Suh padaku. Ku tatap wajahnya, menunggu apa yang ingin dikatakannya.

“Menginaplah disini malam ini.. Untuk yang terakhir kalinya.. Setelah itu aku tidak akan memaksamu lagi. Aku akan bersaing dengan sehat dengan wanita itu. Untuk malam ini saja..habiskanlah malam bersamaku..”


Aku hanya bisa terdiam demi mendengar permintaan terakhir Eun Suh..  

Ninth Drama - Chapter 16 
Ninth Drama - Chapter 14  

27 comments:

  1. Enggak boleh nginap di tempat eun suh nanti *devil* muncul !

    ReplyDelete
    Replies
    1. sleep with the devil donk sist?? jd judul novelnya mbak santhy. ahahhaha

      Delete
  2. tu kan mba apa aku bilang? *ngambek manja* dari kemarin rasanya saya ngerajuk mulu nih sama mba shin hhe
    yg ini juga saya ga sanggup bca lanjutannya mba. Aku tunggu end nya aja boleh? #bingung

    ReplyDelete
    Replies
    1. hadehh... kl nunggu endingnya bisa2 kamu nunggu setahun sist... sampe ketemu tahun depan kl gt ya. ^^

      Delete
    2. huhu abis mba shin sih tega bnget mainin perasaanku *yaelah apalagi ini* hhu
      mbak taun dpn tinggal sehari bsk berarti minggu dpn udah tamat alias the end dong #eaaaaaa a

      Delete
    3. hahahhahaha :lebay cin: wkwkkwkw.. taun depan habisnya ya akhr desember cinnn... taun 2013...

      Delete
  3. KAGA BOLEH,jeong lau dcriin ma jung in.pulang pulang,w geret ah *betawi weww

    ReplyDelete
  4. aiihhh.......delima nich ji jeon (。'▽'。)♡

    ReplyDelete
  5. Jangaaaaaaaaaannnnnnnnnn....aaahhhhhh getokkk jg neh si Eun Suh.. #esmosi
    Mksh Mba Shin,,btw 11th drama tayang g hr ni?? ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ikutan getok eun suh jga....
      manja2 ga jelas!!!
      ji jeong!!!cepat pulang!!
      hahahha

      Delete
    2. @vie : tayang 1 chapter vie. agak maleman ya, ntr mau keluar belanja soalnya hee.. :gini dah jd IRT:

      @Novita : hahahaha.... kan mereka pernah ehem2 cin.. manja boleh donk.. lol

      Delete
  6. Ji Jeong,,dirimu nginap dkamarq adjaaa,,,,

    ReplyDelete
  7. Ji Jeong,,dirimu nginap dkamarq adjaaa,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ji jeong...habis dr kmar mbak riska,,ntar mampir di kos ku ya,,,(nah loh????)*dicubit jung nam..hahahah...
      *jung nam mana jung nam???

      Delete
    2. beres Novi,,
      ntar kita "gilir" si Ji Jeong yagh....??

      Delete
  8. mbak shin,,,,akang jung nam kapan munculnya????
    kangen ama dia,,,
    T_T...

    ReplyDelete
    Replies
    1. jung nam muncul besok cin, tunggu kehadirannya ya. hehehehe...

      Delete
    2. okeyyy....mbak.... kan ditunggu,,semoga bsa menghilangkan galauku krna ga bsa pulkam...T_T

      Delete
  9. Argggggg....ji jeong kamu bner" kyak kowok korea yg d tipi"
    Berputar" berbelit" gw bilanginloh ma jang in!

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.