"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, December 31, 2012

Ninth Drama - Chapter 19



Warning : 18 yo or older

“Kak Jung Nam sudah pergi?” tanya Jung in pada Ji Jeong yang baru saja kembali dari mengantar Jung Nam keluar.

“Baru saja” jawab Ji Jeong pelan.

“Oh.. Aku kira Kak Jung Nam akan menginap, Incheon kan lumayan jauh”


“Haha.. Tidak, dia punya rencana lain dengan mantannya” Ji Jeong terkikik geli. Dia tahu siapa wanita yang hendak Jung Nam temui.

“Ehem... Masakanmu cukup enak..untuk pemula” Ji Jeong memeluk tubuh Jung In dari belakang. Gadis itu sedang mencuci peralatan makan bekas makan siang mereka. Tangannya mengunci pinggang gadis itu.

“Aku anggap itu sebagai pujian. Aku sudah bersusah-susah belajar memasak pada ibu temanku. Bila kamu katakan tidak enak, aku tak akan memaafkanmu” mulut Jung In mencucut sebal. Ji Jeong tergelak dibelakangnya.

“Makanan utama sudah dihidangkan.. Kapan aku akan mendapat makanan penutup, Jung In..?” bisik Ji Jeong disamping telinga Jung In. Membuat darah gadis itu mendesir seketika. Nafas Ji Jeong memburu, dia ingin mencium gadis itu.

Dan dia melakukannya. Piring ditangan Jung In terjatuh ke dalam wastafel penuh air. Dia membalas pagutan bibir Ji Jeong pada bibirnya, memegang kepala laki-laki itu dengan tangannya yang masih basah.

Perlahan ciuman itu berubah semakin panas. Ji Jeong melepaskan pakaian Jung In satu per satu. Meninggalkan pakaian itu berserakan di lantai dapur hingga menuju kamar Jung In. Mereka telah berada di dalam kamar itu dan Jung In membuka kancing kemeja Ji Jeong lalu melepaskan kemeja itu ke lantai. Kini mereka sama-sama bertelanjang dada.

Ji Jeong meraba kulit wajah Jung In dan mengelusnya lembut dengan jari tangannya. kemudian dirangkumnya wajah itu dengan kedua tangannya dan kembali memagut bibir Jung In lebih dalam, lebih keras. Menghisap dan merasakan bibir gadis itu dalam mulutnya.

“Jeong..” rintih Jung In saat Ji Jeong mengecup ujung payudara Jung In.

“Aku menginginkanmu, Jung In.. Sangat..” katanya parau. Dia bisa merasakan kejantanannya telah mendesak perut Jung In di depannya.

“Aku juga menginginkanmu, Jeong..” Jung In mendesakan wajah Ji Jeong ke dadanya, membiarkan laki-laki itu mendengarkan degup jantungnya yang berdebar kencang.

Ji Jeong menghisap pucuk payudara Jung In dan memainkan lidahnya. Tangannya meremas-remas buah dada Jung In, seirama dengan ciumannya disana. Kemudian dia beralih menciumi payudara yang satu lagi. Jung In semakin mendesakan dadanya dan meremas rambut Ji Jeong gemas. Matanya terpejam merasakan sensasi desiran darah dalam tubuhnya saat Ji Jeong menikmati payudaranya.

Ji Jeong mengangkat tubuh Jung In dengan mudah, membaringkan tubuh gadis itu diatas ranjang dan berbaring disampingnya. Bibirnya mencari-cari bibir Jung In, merayunya dengan kecupan-kecupan ringan pada pipi, mata, hidung dan dagunya kemudian memagut bibirnya dengan mesra.

Tangan laki-laki itu perlahan bergerak membuka rok mini yang Jung In kenakan, menghempaskan kain halus itu kesamping ranjang, mengelus paha mulus Jung In dan membuka kakinya lebar.

Jari tangannya menyentuh permukaan celana dalam warna putih milik Jung In yang telah basah oleh cairan pelicinnya. Jung In sudah sangat terangsang oleh cumbuan Ji Jeong. Dia sudah siap untuk laki-laki itu.

Ji Jeong menggesek-gesekan jari tangannya pada permukaan celana dalam Jung In, mempermainkan klitoris gadis itu yang mulai mengeras dan membengkak. Dia memandang wajah Jung In yang menggeliat gelisah memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang diberikan jari tangan Ji Jeong padanya. Wajah laki-laki itu sendu memperhatikan setiap desahan nafas Jung In yang terangsang.

Jung In mengerang tertahan saat merasakan orgasme pertamanya, stimulasi jari tangan Ji Jeong pada klitorisnya mampu membuat Jung In mencapai klimaks. Tubuh gadis itu mengkerut masih dalam sensasi kenikmatannya.

“Kamu suka rasanya, Jung In..?” tanya Ji Jeong serak. Nafasnya berat dan terputus-putus. Menyaksikan Jung In mendesah nikmat disampingnya telah menguji pertahanannya.

Dengan pipi bersemu merah, Jung In mengangguk malu. Ji Jeong tersenyum kecil lalu menciumi bibirnya lagi.

Bibirnya turun dengan pelan kebawah mencari leher Jung In yang jenjang, menciumi seluruh permukaan tubuh gadis itu dan berhenti pada payudaranya. Ji Jeong mengecup pucuk payudara itu dan berlanjut turun kebawah, pada pahanya yang putih mulus. Lidahnya ikut bermain disekujur tubuh Jung In, mengecap rasa tubuh gadis itu hingga ke ujung jari kakinya.

Kemudian Ji Jeong merangkak ke atas tubuh Jung In, memagut bibir gadis itu lagi dan lagi hingga mereka hampir kehabisan nafas.

Ji Jeong membuka lebar paha Jung In, memandang diam pada kemaluan gadis itu. Ekspresinya tak terbaca.

“..Kenapa kamu diam, Jeong..? A..apakah ada yang salah dengan..itu?” tanya Jung In ragu.

Ji Jeong menatap wajah Jung In, senyum tersungging diwajah tampan itu.

“Tidak, manis.. Tidak ada yang salah. Kamu sungguh sempurna” Ji Jeong kemudian membungkuk dibawah kaki Ji Han dan mendekatkan wajahnya pada daerah kewanitaan gadis itu.

Jung In mendesah keras saat mulut Ji Jeong menempel pada kemaluannya. Dia menggigit bibir bawahnya dan merasakan cairan pelicinnya keluar lagi, membasahi kemaluannya yang telah banjir dengan cairan kenikmatannya.

Ji Jeong menggunakan mulut dan lidahnya yang terampil untuk membuai daerah kewanitaan Jung In, hingga gadis itu mendesah kesakitan karena merasakan siksaan permainan Ji Jeong pada kemaluannya.

“Jeong.. .ah.. aku menginginkanmu, Jeong..” rintihnya disela-sela desahan tertahannya. Ji Jeong tidak menggubrisnya, lidahnya tetap bermain dengan liar dan menghisap-hisap kuat daerah kewanitaan Jung In.

Jari tangan Ji Jeong mulai menggantikan lidahnya masuk ke dalam lubang kewanitaan Jung In. Gadis itu mencengkeram seprai ranjangnya saat merasakan jari tangan Ji Jeong bergerak keluar masuk tubuhnya. Pertama-tama bergerak pelan, membiasakan dindingnya agar menerima jari tangan itu lebih dalam.

Jari tengahnya bergerak semakin cepat menghujam kemaluan Jung In, telapak tangannya dengan kejam menghantam klitoris milik gadis itu dan membuatnya menggelinjang kesana-kemari menahan siksaan kenikmatan yang dirasakan tubuhnya.

Berbaring miring disamping tubuh Jung In, Ji Jeong dengan intens menyaksikan wajah penuh derita Jung In, matanya berkobar-kobar penuh gairah menatap setiap erangan kecil yang dikeluarkan bibir gadis itu.

Jung In menangis kencang dibawahnya, tubuhnya bergetar tak beraturan saat gelora klimaks menyerangnya. Mulutnya mengucapkan nama Ji Jeong disela-sela tangisnya itu.

Ji Jeong mencium bibir Jung In dan memainkan lidahnya lagi didalam mulut gadis itu. Jung In telah lemas dibawahnya, tak berdaya menggerakan tubuhnya sama sekali.

Lama Ji Jeong menciuminya seperti itu. Memberikan Jung In waktu untuk menenangkan debaran jantungnya yang hampir meledak. Dia tak tahu bila dia bisa menerima lagi rayuan Ji Jeong padanya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ji Jeong pada Jung In.


“Emp..” angguk Jung In. Dia merasa lemas dan bahagia. Bersama dengan laki-laki ini membuatnya bahagia.

Ninth Drama - Chapter 20 
Ninth Drama - Chapter 18 

24 comments:

  1. aku mau komment dulu sblum baca...
    suertekewerkewer deh mbak,,,
    merinding disko liat poto itu *nunjuk2 di atas,,
    ^^

    ReplyDelete
  2. yeaaaaaaaaaaaaaaaaayyy,,,
    tak perlu bujuk rayu,,
    smuanya segera dlaksanakan & dieksekusi dengan sempurna,,,,

    aku sukaaaaaaaaaaaaaa,,
    thanks bonusnya sistah,,
    thanks chapter ini sistah,,

    ReplyDelete
  3. mba fto nya,aq padamu jeong.ikt berdesir,mantab,panas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahah apalagi keliatan ujungnya ya sist? wkkwwww

      Delete
  4. horeeeeeeeee,,,

    tpi kenapa blom gol mba??
    kapan yah??
    jeng menghormati jung in sekali
    salut untuk jeong

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha semua suka ngegolin aje... hadehhh..hadehh..... ya jeong kan emang gitu cin... kan dia pengen serius ama jung in ^^

      Delete
    2. sebenernya mau serius sama aku, mba,,,,
      cuma aku kasihan liat jung in jadi aku ikhlas deh...

      Delete
  5. thx alot mba shin,bonusnya mantab.happy new years all :)

    ReplyDelete
  6. Sik asik...mlm taon br dpt bonus half chapter 20, ;-):-) tengkyu sist Shin..
    trus, yg happy lg, senengnya hatiku..
    Tp, ad yg ngeganggu Sist, poto yg di atas, jiahh...nt Jung in nya marah loh sist kok potonya yg imut tiba2 diganti sm cw laen yg udah agak2 'ber-mutu', xixixixi, pisss #don't be mad, lol#

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. abis foto nya jung in yg 18 tahun belum ada yg sampe begindang.. wkkwkwkwkwk kl ada mah udah eike pake cin.. ^^

      Delete
  7. Jo jeong seperti biasa, always sweeeeeeeeeeeeeeettt.....
    mbak shiiin.. itu setengah dari chap 20 kan?? bearti besok nambah lagi yaa..
    horaaaaaaaaaaaaaaayy...
    makasih mbaaaaaaaaaaaaakkk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya belum full chap 20. kl aku potong cuman chap 19 nanggung, ntar berikhlasnya nanggung jg pahalanya. hauhauhahuaa...

      Delete
    2. nah brtul tuh mbak..
      ga boleh tanggung2.. mesti pooolll...
      jd klo gitu mari bikin Jeong dan Jung In poooll
      ga tangung2 lagi...
      hahahahaha.. *maunya.. kekeke

      Delete
  8. hha ngakak bca komennya mba novita. Mba shin kukira mau langsung gol hha

    ReplyDelete
  9. hahahah seruuu hebat nih...hebat niih penulisnya

    ReplyDelete
  10. Uhuhuh...merananya jung in... D godain abisbisbis ampe lemes.
    Kmu kuat bgt sih jeong nahan pipis hekhekhek

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.