"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, December 22, 2012

Ninth Drama - Chapter 2



Lee Ji Jeong POV

Gedung tempat pemberkatan pernikahan Ji Han dan Jung Min telah ramai didatangi oleh keluarga dan tamu undangan. Mereka telah bersiap-siap di dalam gedung untuk menunggu dimulainya acara. Jung Min dengan gelisah berdiri disamping ibunya menyalami setiap tamu undangan yang tiba.

Jung Nam dan adiknya berada diruang rias lain yang terletak disamping ruang rias utama untuk pengantin, mereka akan menjadi pengiring pengantin bersama dengan dua orang bocah lucu dan menggemaskan yang akan menabur bunga menuju meja altar dimana Jung Min akan menunggu mempelainya.


Ji Han keluar dari bilik riasnya, dia terlihat begitu cantik dan anggun dalam balutan gaun pengantinnya yang indah. Rangkain bunga mawar merah ditangan, dan dia siap menuju pernikahannya.

Ibu memeluk Ji Han erat, matanya meneteskan air mata yang diusapnya dengan gemas. Tak ingin air mata itu menghalangi penglihatannya dari anak gadisnya yang begitu cantik dan bahagia.

Ji Han bahagia, aku tahu. Senyum tak pernah pudar dari wajahnya meskipun begitu melelahkannya acara ini.

Dia harus bangun pukul empat pagi dan berada digedung ini untuk segera dirias. Memakan waktu delapan jam untuk merias seluruh tubuhnya agar tampak secantik itu. Namun tak sia-sia.

Dia terlihat begitu rupawan. Jung Min pasti terkena serangan jantung saat melihat betapa cantik mempelainya, bila tidak, akulah yang akan membuat laki-laki itu sadar betapa berutungnya dia memiliki Ji Han.

“Kamu terlihat sangat cantik Ji Han..” dadaku sesak dipenuhi kebanggaan.

Adikku begitu cantik dan tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku melihatnya bahagia. Aku sungguh lega.

Dia meneteskan air mata karena haru. “Jangan menangis, kamu akan terlihat jelek bila menangis” kataku saat dia berada dalam pelukanku.

“Aku sayang kamu kak. Terima kasih..” kata Ji Han padaku.

Bila lebih lama lagi, aku tak mungkin menahan air mataku. Aku tak ingin mereka melihat air mataku, air mata bahagia pada hari bahagia ini.

Jung Nam dan Jung In muncul di pintu, mereka tampak terkesima melihat kecantikan Ji Han. Jung Nam menggodanya, entah apa yang dikatakannya, dia berbisik pada Ji Han.

Mereka mengajak ibuku kembali masuk ke dalam gedung tempat acara dilaksanakan. Kemudian petugas gedung memberitahu bahwa acaranya akan segera dimulai.

Denting piano mengiringi langkah kakiku dan Ji Han menuju pintu gedung itu. Ji Han menarik nafasnya dalam-dalam. Tangannya gemetar, dia gugup.

“Kamu siap?” tanyaku padanya.

Aku menggandeng tangannya, menepuknya lembut. Menenangkannya, semua akan baik-baik saja.

“Kakak disini.. Jangan takut” hiburku. Aku tersenyum dan memintanya agar mengikutiku. Bila kamu tersenyum, maka seluruh dunia akan ikut tersenyum bersamamu.

Kupandu langkah Ji Han masuk melangkah menuju meja altar, menuju mempelai prianya, suaminya, Park Jung Min. Tak lama lagi dia akan menjadi besanku.

Tawaku hampir pecah saat melihat betapa gelisahnya Jung Min, wajahnya putih pucat seolah dia takut Ji Han akan meninggalkannya dan tak muncul disana. Aku bisa mengerti kekhawatirannya, namun dia sungguh berlebihan. Ada aku disini, dan tak akan kuizinkan apapun menghalangi kebahagiaan adikku.

Saat kami telah sampai di depan meja altar, kutepuk lembut tangan Ji Han yang sedang kugenggam. Mengantarkan tangan mungil itu kepada suaminya, tangan yang akan menggantikanku untuk menjaga dan melindunginya, menyayangi dan menghiburnya.

“Kuserahkan adikku yang berharga padamu. Hormati dan jagalah dia seperti menjaga kristal yang rapuh. Sayangi dan cintailah dia sepanjang nafasmu. Segeralah hapus air matanya bila kamu membuatnya menangis. Sediakanlah maaf tak terhingga dalam hatimu. Karena dia sangat berharga dan tak tergantikan” aku merasa tenggorokanku tercekat menahan isak tangis yang mungkin keluar sedetik kemudian.

Aku bahagia sekaligus sedih, karena inilah terakhir kali aku bisa melakukan semua itu untuk Ji Han. Dia akan pergi kerumah keluarganya yang baru.

Jung Min mengangguk, matanya mengucapkan terimakasih padaku. Akulah yang berterimakasih padanya. Dialah yang membuat adikku bahagia, membuat Ji Han merasakan cinta yang begitu indah.

Aku bergabung dengan Jung Nam dan Jung In yang berdiri disampingnya. Laki-laki itu menepuk pundakku, seolah mengerti komitmen apa yang baru saja ku serahkan pada Jung Min. Akupun tersenyum lemah.

Pendeta memandu mereka mengucapkan sumpah perkawinan, begitu suci, begitu sakral. Dadaku penuh sesak oleh kebahagiaan yang akan tumpah bila aku tak berada di depan umum. Aku akan menangis dengan tersedu-sedu saat semua ini berakhir.

Aku tak pernah menangis di depan siapapun, mungkin hanya ibuku, tapi sejak menginjak remaja, aku tak pernah menangis lagi, setidaknya tidak di depan orang lain.

Jung Min mencium mempelainya dengan hangat, semua orang bertepuk tangan meriah, ciuman mereka sangat lama. Membuatku senewen karena melihat laki-laki itu tak tahu malu karena mencium adikku seperti itu di depan semua tamu undangan.

Tapi aku mendengus tak perduli. Mereka telah resmi menikah, apapun yang mereka lakukan, mereka melakukannya karena cinta. Senyum terpasang diwajahku.

Mobil telah menunggu, mereka akan langsung kebandara dan terbang ke Hawaii. Tempat bulan madu yang eksotik kata Jung Min dulu.

Aku tak bisa membayangkan berada ditempat ramai seperti itu. Aku lebih suka menyendiri di sebuah rumah kayu dipegunungan. Memandangi hutan, berjalan-jalan menikmati pemandangan alam, menghabiskan waktu didalam rumah saat hujan turun dan menyalakan tungku kayu bakar untuk menghangatkan badan. Suatu hari nanti mungkin aku bisa melakukannya.

Setelah berpamitan, mereka masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan. Aku akan merindukan mereka, mengetahui mereka berada diluar Korea membuatku sedih. Dua minggu dan mereka akan kembali.

Lama kupandangi mobil mereka yang telah menghilang diujung jalan, setelah ini kami akan makan siang bersama para tamu undangan. Aku menghela nafas panjang, akhirnya selesai sudah. Namun Jung Nam menyenggol bahuku. Laki-laki iseng.

“Ya.. Ji Jeong..” katanya.

Sambil berjalan kembali ke dalam ruangan, aku menjawabnya pendek. “Apa?” kataku.

“Adikmu sudah menikah.. Kamu kapan?” tanyanya lagi.

Aku memandangnya sekilas, mendengus. “Aku belum memikirkan kesana. Aku ingin mewujudkan mimpiku dulu” memikirkan mimpi yang akan segera ku kejar membuat hatiku damai.

Di dalam ruangan, kami menempati meja utama. Duduk bersama dengan keluarga nyonya Park, bersiap untuk menyantap makanan.

Sudut mataku memperhatikan Jung In. Gadis itu nampak murung, dia hanya memainkan garpunya di piring, tak benar-benar menikmati makanannya.

Dia sedih? Di hari pernikahan seperti ini seharusnya semua orang berbahagia. Kakaknya menikah namun dia tak dapat menikmati kebahagiaan itu. Entah apa yang mengganggu pikirannya.

Lama kuperhatikan wajahnya, tanpa sadar debar jantungku semakin cepat. Kupalingkan wajahku, tak ingin dia mengetahui aku telah memperhatikannya.

“Dia anak kecil, aku tak boleh memandangnya seperti itu” desisku dalam hati. 

~~~~

Park Jung In POV

Ya Tuhan.. Mengapa dia begitu tampan?? Hatiku melompat-lompat girang saat melihatnya didalam ruang rias Ji Han Unnie. Berdiri disana, senyum terpasang diwajahnya. Senyum yang selalu ku-impikan setiap malam. Lee Ji Jeong..

Dia mengenakan setelan jas dan celana panjang berwarna cream, dengan dasi berwarna kuning telur yang serasi dengan warna jasnya. Sebuah saputangan dan bunga mawar putih terselip didalam saku jasnya. Memandang bangga pada adiknya, Ji Han Unnie.

Unnie terlihat sungguh cantik, dia membuat gaunnya terlihat indah. Senyum bahagia dibibirnya menular pada semua orang. Aku mendekatinya, memeluknya, mengatakan betapa cantiknya dia.

“Sayang sekali bukan aku yang akan berdiri di depan altar bersamamu Ji Han. Aku mulai menyesali keputusanku mundur dari pertarungan untuk memperebutkanmu” bisik Kak Jung Nam saat kami menghampiri Unnie.

Dia sangat tak sopan menggoda Unnie seperti itu. Bila Kak Jung Min dengar, dia pasti mati. Aku tertawa kecil mendengar ucapan Kak Jung Nam.

Sebentar lagi upacara pernikahan akan dimulai, kami pun kembali ke dalam ruangan bersama dengan nyonya Lee, ibu Ji han Unnie. Untuk terakhir kalinya sebelum keluar, aku mencuri pandang pada Ji Jeong. Aku akan memberikan apapun agar bisa berdua bersama dengannya diruangan itu.

Mobil limousine yang membawa Kak Jung Min dan Ji Han Unnie telah berangkat. Aku melihat Kak Jung Nam menyenggol Ji Jeong dengan sikutnya. Mataku mendelik, apa yang dia lakukan pada laki-laki-ku? Tapi kemudian, telingaku menangkap pertanyaan yang dia ajukan pada Ji Jeong.

“Adikmu sudah menikah.. Kamu kapan?” tanya Kak Jung Nam padanya.

Tanganku berkeringat karena jantungku berdebar kencang, mungkinkah mereka bisa mendengarnya?

Aku menunggu jawaban yang akan diberikan Ji Jeong pada kakakku, tapi betapa sedihnya aku saat mendengar jawabannya.

Jawaban Ji Jeong menghancurkan mimpi-mimpiku. Laki-laki itu tak ingin menikah sebelum mewujudkan mimpi-mimpinya? Aku merasa air mataku mendesak keluar, namun aku tepiskan. Aku tak boleh menangis disini. Di depan laki-laki ini.

“Kamu tak mengenalnya Jung In. Dia bahkan tak tahu kamu menyukainya. Dia tak mungkin melihatmu, kamu hanyalah anak kecil dimatanya. Dia laki-laki dewasa. Dia telah matang dan kamu hanyalah anak gadis yang masih bau kencur. Kamu hanya akan membebaninya” ratapku dalam hati.

Aku sangat sedih, aku ingin menghilang dari sana saat itu juga. Mengubur wajahku dalam bantalku, menangis sekencang-kencangnya. Aku hanya anak kecil jelek dan cengeng. Tak mungkin dia menyukaiku seperti aku menyukainya..

“Ya, Tuhan.. Aku menyukai seorang om..om..” teriakku dalam hati. 

Ninth Drama - Chapter 3 
Ninth Drama - Chapter 1 

7 comments:

  1. Baru 31 koq si Ji Jeongny,,,,blum masuk kategori tuwir utk aq,,,

    Dy "Matang" bangetz,,,,**minjem kalimatny mba Ina,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya kl untuk kita sih belum tuwir sist.. cocok malah. tp untuk jung in yg br 18 taun?? wkwkwkkw...

      Delete
    2. tapi klo di jaman2 inggris kuno yg masih ada duke dan duchess gitu, perbedaan umur segitu masih lazim...

      Jung In, kamu pasti bisa ngedapetin Ji Jeong..
      FIGHTING!!!!
      hahaha

      Delete
    3. hahahahaha... Merry.... di Korea jg lazim kok. rajanya 50, selirnya 20 tahun.. lazim... tapi itu doeloee.. lol

      Delete
  2. Semangat jun in... Sapa bilang laki" susah d goda apalagi ji jeong... Pasti milih kamu deh dr pada cita"nya, kamu kan imutz unyu unyu
    caiyoooo

    ReplyDelete
  3. Ihhh ya ampun, ceritanya hampir mirip kyk pertemuan aku dan suami. Beda umurnya jg

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.