"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, December 25, 2012

Ninth Drama - Chapter 5



Lee Ji Jeong POV

Tak terasa sudah dua bulan lebih aku di Seoul, pekerjaan ini ternyata sangat menyita waktuku. Aku belum bisa pulang ke Ulsan untuk menjenguk ibu dan Ji Han, untungnya mereka mengerti dengan kesibukanku. Mereka tak mengeluh meski aku hanya menelphone sekali seminggu.

Ibu baik-baik dan aku lega mendengarnya, Ji Sung yang tinggal bersama ibu adalah anak yang rajin, dia masih sekolah di SMU dan sering membantu ibu untuk berjualan. Sedangkan Ji Han, perutnya mulai terlihat membesar, aku kasihan padanya, rupanya mual-mual karena kehamilannya cukup parah. Dia hanya bisa tiduran seharian diranjang, syukurnya ibu mertua dan suaminya sangat menyayanginya, aku bisa bernafas dengan lega. Hanya satu yang aku takutkan, tak bisa pulang ke Ulsan lagi bulan ini.


“Manajer Lee..” panggil anak buahku, aku sedang berada di dalam kantor darurat yang dibangun disamping lahan.

Saat ini aku sedang berada di areal proyek, bangunan rumah sakit belum banyak terlihat berdiri, aku masih mengerjakan bagian bawah tanah yang akan digunakan sebagai tempat parkir dan store room.

“Bahan-bahan untuk pondasi gedung C sudah tiba, dimana kami harus meletakan bahan material besi dan baja ini?” tanyanya lagi.

“Baiklah, letakan di aula barat. Kumpulkan dengan besi baja dari gedung D, mereka akan merakitnya disana sebelum dipasang” jawabku tanpa menoleh, masih sibuk dengan kertas-kertas blue print gedung yang ada diatas meja.

“Ehem..” suara deheman seorang wanita dibelakangku.

“Kamu datang?” tanyaku. Bae Eun Suh, pemimpin kontraktor milik pemerintah yang bertanggung jawab mengurus gedung ini bersamaku.

Kami sudah bekerja bersama sejak dua bulan terakhir, dia wanita yang menawan dan terpelajar, setahuku usianya lima tahun lebih muda dariku.

Wajahnya yang cantik kontras dengan lingkungan tempat kami bekerja. Tempat ini penuh debu dan material bangunan yang berantakan. Dia tak takut kulitnya yang putih mulus terpapar sinar matahari yang panas.

Keringat yang menetes dilehernya hanya menguatkan godaan yang bisa diberikan tubuhnya pada laki-laki. Dia terlihat sangat seksi dan menarik.

Eun Suh memamerkan senyum termanisnya, aku tak bisa menampik kenyataan bila dia tertarik padaku. Karena padatnya pekerjaan, aku tak sempat memikirkan untuk berkencan, untuk menghibur diri, meski dengan Eun Suh sekalipun.

Kami bekerja siang malam demi untuk mengejar target, karena tahun depan proyek rumah sakit ini harus sudah selesai. Target yang sangat berat namun aku merasa sangat tertantang untuk mengerjakannya. Tak boleh salah perhitungan sesenti-pun. Bila tidak, semua kerja keras ini akan sia-sia.

“Ayo kita makan siang dulu. Kamu terlalu keras pada dirimu, jangan salahkan aku karena tak mengingatkanmu bila suatu hari tubuhmu kelelahan dan jatuh sakit” dia duduk di depanku dan menopang dagunya, memperhatikan wajahku.

Aku mengangkat wajahku dari kertas-kertas itu, melihat wajahnya yang tampak terpesona memandangku.

“Memang ada sesuatu diwajahku?” tanyaku iseng. Dipandangi oleh wanita secantik dia siapa yang tak akan gugup.

“Tidak. Aku hanya mengagumi wajahmu saat bekerja. Kamu terlihat sangat bahagia, tak ada kelelahan yang tersirat” dia semakin menjadi-jadi dengan pujiannya. Membuatku tergelak.

“Kamu tak tahu bagaimana sakitnya seluruh tubuhku saat bangun keesokan paginya. Tubuhku serasa remuk” rintihku tertahan, mulai merasakan pinggangku yang encok.

Terlalu lama berdiri membuat tubuhku pegal-pegal. Aku harus sering-sering berolahraga untuk menjaga staminaku.

“Kamu tak punya seseorang yang bisa memijat tubuhmu saat baru bangun?” pertanyaannya mendesak. Aku menangkap perubahan nada suaranya disana. Aku hanya tersenyum simpul.

“Tidak. Aku tak punya” jawabku. Mata kami bertatapan lama, saling mencoba menerka jawaban dari pertanyaan yang kami miliki di dalam hati.

Aku tak menyangka dia akan berdiri menghampiriku. Bibirnya yang terbuka perlahan mencari bibirku dan menciumnya. Bibirnya begitu manis, nampaknya dia baru saja meminum kopi moka.

Kupagut bibirnya dengan mesra, telah lama aku tak berdekatan dengan wanita, terakhir kalinya aku bercinta sekitar enam bulan yang lalu, dengan seorang kenalan yang bahkan tak aku ingat namanya. Kami hanya melakukannya semalam saja, tak cukup memuaskanku memang.

Eun Suh semakin panas dalam pelukanku, nampaknya dia telah cukup terangsang, dia wanita yang cukup agresif. Tangannya mencoba membuka kancing kemejaku, namun kutangkap tangan itu.

Dengan serak kukatakan padanya “Kita sedang berada diareal kerja, akan terlihat sangat memalukan bila ada yang memergoki kita kan?” aku pun tersenyum, melepaskan pelukannya dari tubuhku.

Akan terlihat munafik bila kukatakan aku tak terangsang, hell no.  Aku sangat terangsang, kejantananku telah mendesak dengan sangar dibalik celanaku, dia pun melihatnya. Tapi aku tak ingin mengkhianati kepercayaan Presiden Choi yang memberikanku tanggung jawab untuk membangun gedung ini. Tidak ditempat kerja..

Eun Suh tersenyum kikuk di depanku, dia merapikan kembali pakaiannya yang sempat terkuak saat dengan tak sengaja tanganku bermain diperutnya.

“Well.. Kita jadi makan siang?” dia memaksakan sebuah senyuman dibibirnya.

Akupun mengangguk, menggulung kembali kertas-kertas yang tadinya aku amati. Aku memang perlu makan siang, dan sebuah rokok agar rasa frustasi ini hilang.

Park Jung In POV

Kehidupan di Seoul tak sengeri bayanganku, buktinya aku berhasil bertahan hingga hari ini. Sudah dua bulan aku kuliah di kampus ini, dan tak ada seharipun So Bin tak menggangguku.

Dia lebih tua dua tahun dariku, gedung kampus kami berbeda, namun dia akan dengan sengaja menungguku di depan gerbang kampusku dengan mobil Ferrari merahnya. Anak itu sangat suka memamerkan kekayaannya.

Seperti hari ini, sebuah mobil BMW hitam mengkilap telah terparkir didepan pintu gerbang kampus. Seorang laki-laki muda dengan pakaian necis dan kacamata hitam tersenyum menyapaku. Dia bahkan tak perduli dengan gadis-gadis lain yang terpesona disekelilingnya. Mengapa dia harus menyusahkanku seperti ini...

“Aku tak menyuruhmu untuk menjemputku” kataku kesal. Senyumnya membuatku mual.

Andai dia tak selalu menggangguku waktu kecil, mungkin aku akan jatuh hati padanya, dia tampan, dia tahu bagaimana memikat hati wanita, tapi mengapa aku tak suka padanya?

Leluconnya tak lucu, dia sering menakut-nakutiku dengan ular-ularan plastik dan dia menerima akibatnya. Pipinya ku tampar, mungkin sejak saat itu semakin menjadi-jadilah dia menggodaku. Untungnya keluarga kami pindah ke Ulsan dan dia tak bisa menggangguku lagi.

Tapi sungguh sial, kami bertemu lagi disini.

“Aku hanya ingin melihat pujaan hatiku” huekk..laki-laki yang suka bergombal, aku tak suka.

“Aku bawa mobil sendiri, kamu tak usah menjemputku lagi. Karenamu mobilku menginap disini berminggu-minggu, aku tak bisa kemana-mana karenanya” sungutku kesal.

Aku melangkah ke tempat parkir kampus, mencari mobilku yang telah dipindahkan ke dalam gedung tempat parkir khusus untuk dosen. So Bin memindahkannya, karena dia merasa berhak untuk menjadi sopirku. Thanks to my mother karena telah memberikannya peran itu.

“No..no.. I’m your Guardian Angel, baby. Aku akan mengantarkan Angelku kemanapun dia mau” dia melangkah disampingku, masih dengan senyumnya yang memuakan.  

Aku tak bisa menolaknya lagi, aku memang malas untuk mengemudikan mobilku, hitung-hitung dia akan mengajakku makan di restoran, sehingga aku tak perlu memasak makan malamku. Senyum licik tersungging dibibirku.

“Rasakan pembalasanku, Cha So Bin. Muahahahah..” gelak tawaku dalam hati.

Ninth Drama - Chapter 6 
Ninth Drama - Chapter 4 

17 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. ahhh, jung in ad saingan
    sini aq bantuin *siap2 tang*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah gk pas rasanya jk buat drama gak ada saingannya. hm...

      Delete
  3. wah wah ternyata ji jeong ngga sepolos itu hha
    jung in kerjain aja tu so bin belagu biar tau rasa hha..
    kayaknya kisah jung in bakalan sulit ya mba?
    sakit hatinya kayaknya bakalan 2x lipat dari ji han *nebak aja*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehhehe Ji Jeong juga manusia sist... punya hati punya nafsu,,, kwkwkwkkw

      Delete
    2. nafsu nya salurin aja ke jung in jangan ke yang lain #eh
      hha

      Delete
    3. hahahaha emang dikasi ama jung in??? kata jijeong "ayokk siapa takut" lol

      Delete
    4. pasti dikasih dong kan jung in cinta ama ji jeong hhi

      Delete
  4. "kamu tak punya sesorang yg bisa memijatmu saat bangun" eyaaaa.....cuit2 (>y<)

    ReplyDelete
    Replies
    1. cuit cuit.. mijat yg mana ni nee...???

      Delete
    2. ciee,,,,Nene mw jadi tukang pijat pribadinya Kangmas Ji Jeong?? langkahi dulu mbak Ina Green,,,whuahhahahhaaaa

      Delete
    3. jd ingat gambar yg di bagi di G+
      yg tangan cewek garuk2 krna banyak semut..
      itu termasuk pijitan ga mbaaak???
      wuahahahahahaha

      Delete
    4. hahahaha itu bukan pijitan sist.. itu kremesan. di remes2. ahiahiahia

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.