"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


COVER NOVEL YG PALING KAMU SUKA (PILIH 1)

Wednesday, December 26, 2012

Ninth Drama - Chapter 7



“Ayo masuklah” kata Jung In setelah membukakan pintu apartemennya pada Ji Jeong.

Gadis itu menyalakan lampu-lampu di dalam apartemennya, namun saat menyadari ruang tamunya yang berantakan, dengan cepat dia memungut pakaian-pakaian yang tak sempat dibereskannya sebelumnya. Ji Jeong hanya tersenyum kecil melihat tingkah gadis itu.


“Ah.. Duduklah dulu. Aku akan membuatkan kopi untukmu” katanya sambil menyembunyikan pakaian kotor dibelakang punggungnya.

Tanpa menghiraukan wajah gadis itu yang telah memerah karena malu, Ji Jeong menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah sofa putih yang berada diruang tamu. Mungkin tak sampai lima menit dia menunggu namun Jung In tak kunjung keluar dari kamarnya.

Nampaknya dia masih sibuk membereskan apartemennya yang berantakan.

Saat gadis itu telah mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar, matanya menangkap sosok Ji Jeong yang telah tertidur di atas sofanya. Tangan laki-laki itu bersedekap di dadanya, kepalanya menggantung di atas bahu sofa.

Dia nampak sangat kelelahan. Dua hari libur yang dimilikinya dia gunakan untuk bepergian pulang-pergi Seoul – Ulsan – Seoul. Tak heran bila laki-laki itu langsung tertidur saat tubuhnya merasa rileks diatas sofa milik Jung In.

Tak banyak kesempatan seperti ini menghampiri Jung In. Dengan leluasa dia dapat memperhatikan lekuk wajah Ji Jeong di depannya. Gadis itu menunduk untuk melihat lebih dekat wajah Ji Jeong, hangat nafasnya menerpa wajah laki-laki itu.

Keinginan untuk mencium kening Ji Jeong tak dapat dielakannya. Dengan malu-malu, Jung In mencuri sebuah ciuman di keningnya. Wajahnya memerah setelah itu.

Tanpa membuat suara berisik yang dapat membangunkan Ji Jeong, Jung In menyelimuti tubuh laki-laki itu. Satu hal yang dia lupakan adalah saat keesokan harinya Ji Jeong terbangun dan menemukan Jung In tertidur diatas pangkuannya, kepala gadis itu bersandar pada pahanya dan wajahnya terlihat tanpa dosa.

Ji Jeong merasa sesuatu dalam hatinya berubah saat melihat wajah gadis itu. Wajah yang begitu damai dan menenangkan.

Dia sadar sepenuhnya saat tangannya mengelus pipi Jung In. Merasakan halus kulit gadis itu ditangannya, bahkan hidungnya yang tak terlalu mancung terlihat serasi dengan bibir tipisnya.

Keinginan untuk mencium bibir tipis itu mendesak dalam dadanya. Nafasnya tercekat, tangannya seperti tersengat listrik saat menyadari apa yang ingin dilakukannya. Jung In pun terbangun karena gerakan kaget Ji Jeong.

Dengan kikuk Ji Jeong menyapa Jung In yang terlihat setengah jiwanya masih berada di alam mimpi.

“ehm..Pa..gi?” sapanya pada Jung In.

Gadis itu menggosok-gosokan matanya. Saat melihat Ji Jeong di hadapannya, Jung In berteriak kencang, lupa sama sekali dengan keberadaan laki-laki itu.

Namun dengan sigap Ji Jeong mendekap mulut Jung In dan menahan tubuh gadis itu dalam dekapannya. Kini tubuh mereka berdesakan satu sama lain, punggung Jung In pada dada Ji Jeong.

Teriakan Jung In telah lama hilang setelah gadis itu menyadari kesalahannya. Namun Ji Jeong belum juga melepaskan dekapan tangannya dari mulut gadis itu.

Debar jantung mereka bertalu-talu saling bersahutan. Tatapan mata mereka terkunci, perlahan-lahan wajah Ji Jeong mendekat pada Jung In yang sedang memejamkan matanya, bersiap untuk menerima bibir Ji Jeong yang merekah.

Saat bibir mereka bersatu, sebuah lenguhan kecil keluar dari mulut Jung In. Pagutan bibir Ji Jeong pada bibirnya terasa begitu menggoda, mengalirkan pijar-pijar listrik dalam sistem syarafnya. Memacu jantungnya untuk memompa lebih cepat dan mengalirkan darah keseluruh pembuluh di dalam tubuhnya.

Ciuman itu berubah menjadi ciuman yang panas, Ji Jeong tak dapat mengendalikan dirinya kali ini. Dia tak pernah kehilangan kendali sebelumnya pada gairahnya. Namun dengan Jung In, dia tak dapat menahan gairah yang muncul dalam tubuhnya. Dia menginginkan lebih dari sekedar ciuman dengan gadis itu.

Jung In telah membuka kancing-kancing kemeja milik Ji Jeong, kini tangannya telah meraba dada bidang laki-laki itu. Memuaskan tangannya mengembara diatas tubuh laki-laki yang disukainya.

Namun suara alarm dari handphone Ji Jeong menyadarkan mereka kembali. Membanting gairah yang telah memuncak kedalam kenyataan yang pahit.

Saat bibir mereka terlepas dan tubuh mereka terpisah, Jung In memalingkan wajahnya dari Ji Jeong. Gadis itu merasa sangat malu karena telah melakukan hal yang sangat tak pernah dibayangkannya akan dia lakukan pada Ji Jeong.

Dia hampir menelanjangi tubuh laki-laki itu dengan kedua tangannya.

Meraba tubuh Ji Jeong untuk memenuhi gairah yang muncul dalam tubuh mungilnya, Jung In tak berani memandang wajah laki-laki itu lagi. Mereka hanya terdiam membisu, tak ada yang berani bersuara. Ketika Ji Jeong akhirnya berkata-kata, hanya kata maaf yang keluar dari mulut laki-laki itu.

“Maafkan aku. Aku menyesalinya..” wajahnya gelap, menunduk dan menyesali perbuatannya pada Jung In.

Setelah mengancingi kembali kemejanya, Ji Jeong berdiri dan berjalan menuju pintu apartemen Jung In. Hatinya dipenuhi perasaan bersalah pada gadis itu. Dia memaki dirinya karena tak bisa menahan gairah yang terlarang itu.

“Aku tak boleh melakukan hal itu dengan gadis ini. Dia adalah adik ipar adikku. Dia bahkan tak boleh untuk kusentuh. Aku tak bisa memberikan apa-apa padanya. Bagaimana mungkin aku menciuminya seperti itu, saat pertama kali kami bersama. Dia masih anak-anak, mungkin tubuhnya belum tumbuh maximal. Bagaimana mungkin aku membayangkan telah bercinta dengannya. Sial!!” makinya dalam hati.

Ketika Jung In tak berkata apa-apa lagi padanya, Ji Jeong pun keluar dari apartemen itu tanpa memandang wajah gadis itu lagi. Dia benar-benar tak tahu mengapa dia mencium gadis itu pagi ini.

Saat dia telah berada dibalik kemudinya, Ji Jeong menghisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asap rokok itu kuat-kuat sehingga gairah didalam tubuhnya ikut keluar bersama dengan asap rokok itu. Dia tak tahu apa yang akan dikatakannya bila Jung Min mengetahui dia telah mencium adiknya.

Jung Min adalah laki-laki keras, dia sangat protektif pada keluarganya dengan cara yang lebih kejam daripada Ji Jeong. Dia tak ingin kemudian hal ini membuat rumah tangga adiknya hancur. Dia sedang mengandung, dan tak membutuhkan masalah dalam rumah tangganya.

~~~~

“Mengapa wajahmu seperti itu? Kamu baru pulang dari Ulsan?” tanya Eun Suh padanya.

Ji Jeong sedang mengukur luas pondasi gedung C yang akan dipasangi besi baja untuk menopang bangunan gedung itu, ketika Eun Suh muncul dibelakangnya dengan dua gelas kopi, satu untuk dirinya, satu untuk Ji Jeong.

“Ya, aku tak sempat kembali ke apartemenku. Thanks” jawabnya singkat dan menerima gelas kopi yang Eun Suh berikan padanya.

Suasana hatinya sangat buruk setelah peristiwa di dalam apartemen Jung In. Dia tak dapat menghilangkan ingatan tentang bagaimana Jung In menghindarinya setelah ciuman panas yang mereka lakukan. Dia membenci dirinya karena telah memanfaatkan keluguan gadis itu.

“Kamu kurang tidur? Pasti kelelahan karena perjalanan panjangmu” Eun Suh duduk di sebuah batu besar disampingnya.

“Mungkin” jawabnya pendek. Ji Jeong terlihat menyebalkan bila dia tak memandang lawan bicaranya seperti kali ini.

Dia tak ingin memandang wajah Eun Suh, wanita itu mungkin bisa menebak mengapa Ji Jeong terlihat sekacau itu siang ini. Laki-laki itu terlalu lama tak menyentuh wanita. Dan Eun Suh menyadarinya.

Laki-laki tak bisa menahan gairahnya seharipun. Bila mereka tak menyentuh wanita, maka mereka harus melakukannya seorang diri, dan Ji Jeong bukanlah type laki-laki yang akan melakukan hal itu  seorang diri.

Dia lebih memilih menahan gairahnya dan melakukannya dengan wanita yang sama-sama menginginkan hal itu  seperti dirinya.

“Bagaimana kalau kita makan malam bersama malam ini? Di apartemenku?” tanya Eun Suh sembari memperhatikan gerak tubuh Ji Jeong saat mendengar pertanyaannya.

Laki-laki itu terdiam sejenak. Memikirkan kata-kata Eun Suh padanya. Kemudian jawabnya sambil memandang wajah wanita itu.

“Baiklah. Aku akan menemuimu setelah pulang dari sini, jam sepuluh malam mungkin? Apa terlalu malam untuk sebuah makan malam?” tanya Ji Jeong.

“Tidak juga. Kamu bisa langsung ke apartemenku, agar tidak kemalaman bila harus kembali ke apartemenmu lagi. Akan memberikanku cukup waktu untuk memasak untuk kita” dia mengedipkan sebelah matanya pada laki-laki itu.


Karena Eun Suh adalah pegawai pemerintahan, maka dia memiliki jam kerja yang teratur. Pukul lima sore wanita itu telah pulang ke apartemennya dan menyiapkan masakan untuk makan malam mereka.

Ninth Drama - Chapter 8 
Ninth Drama - Chapter 6 

17 comments:

  1. Mmm..
    Mba shin, ji jeong play boy yah?
    *merana*

    ReplyDelete
  2. beuh malesin ni,ntr ma si eun suh.aq bt :( heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. kwkwkwkw.... yg tabah ya sist... namanya hidup... lol

      Delete
  3. Replies
    1. emang apaan sist dihajar? hadeh.. anak orang e.. udah gt kakaknya sadis lg.. lol

      Delete
    2. Kakany pasti ngerti sistah,,,,heeeehehee

      Lha adekny si Ji Jeong juga lgs dhajar,,,wuahahhaha

      Delete
    3. muahahahhaa... artinya si jijeong musti ngancem jungmin sist "kl lu gak ngasi gw ama adik lu, balikin adik gw" kwkwkwkw...

      Delete
    4. Boleh tugh ideny,,,,whuahahahaaa,,,

      Delete
    5. dikata barang kali ya jung in n ji han ,,,,

      getok juga nih riska n mba shin,,

      Delete
    6. puahahahaha, mbak2ku error..
      sama errornya kayak aku..
      *hbs ini kepalaku dijitakin berjamaah

      Delete
    7. ih pada galak2.. hihihiihhiihhi

      Delete
  4. kyaaaa mba shin knp ga berlanjut? Hha
    ji jeong pliss jangan ngelakuin itu sama eun suh pliss pliss

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha masak br deketan pertama kali udah begituan sist?? belum ada "cinta" udah begituan ntr perasaan mereka gak kuat donk wkt "badai" menerpa. ehehhehee

      Delete
  5. Iya bner mbak shin, tp naga naganya knapa ke arah situ tuh si eun suh....
    Udah ngereting kedip" segala

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.... kyk motor aja sist pake reting segala

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.