"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, December 5, 2012

Sixth Drama - Chapter 20 (story idea by sy ana)



Yura terlihat sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu. Para perias dan teman-temannya yang mengunjunginya di ruang rias berdecak kagum karena begitu sempurnanya gaun pengantin itu dibadannya.

Tubuhnya yang tinggi langsing dan pinggangnya yang seksi terbungkus lekat menempel pada gaun itu. Tetsuya telah melihatnya dan mata laki-laki itu berkaca-kaca, dia tersenyum haru. Inilah hari yang dinanti-nantikannya selama hidupnya. Hari dimana Yura menjadi istrinya.

Hari ini mereka akan bediri di depan altar mengikat janji suci di depan para kerabat dan rekan bisnis. Tak akan ada yang mampu memisahkan mereka selain maut.


“Kami keluar dulu ya, nona. Sebelum berjalan ke altar kami akan memeriksa riasan anda lagi” kata wanita yang merias  Yura. Dia keluar bersama dengan dua orang pembantunya dan meninggalkan Yura seorang diri berusaha menenangkan debar jantungnya karena terlalu bahagia.

Dia melupakan sama sekali ancaman Keisuke kemarin. Dia tak ingin kabar itu menghalangi kebahagiaannya. Namun alangkah salahnya dia, saat sebuah pesan singkat dari Keisuke sampai di handphonenya.

“Kamu tak lupa dengan kata-kataku kemarin kan, Yura? Waktumu hingga siang ini, jangan salah memutuskan” begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Keisuke.

Yura menjadi panik. Dia ingin memanggil Tetsuya, tapi bila dia tahu, dia tetap akan melangsungkan pernikahan ini dan Keisuke masih sanggup untuk membunuhnya. Laki-laki itu bisa saja telah menyiapkan beberapa pembunuh bayaran berkeliaran di acara pernikahan mereka. Dia tak akan ingin melihat Tetsuya berlumuran darah saat mengucapkan sumpah pernikahan mereka. Dia akan gila bila itu terjadi.

Matanya sembab karena menangis, hatinya bimbang dengan pilihan yang harus dia ambil. Saat pintu ruang rias dibelakangnya terbuka, akhirnya dia memutuskan apa yang akan dia lakukan. Demi Tetsuya, demi dirinya.

“Panggilkan Tetsuya, aku ingin berbicara dengannya” kata Yura pada tukang rias yang berdiri di depannya.

Tetsuya berlari tergopoh-gopoh menghampiri Yura.

“Yura? Kamu kenapa, sayang? Kamu tak sakit kan?” tanya nya cemas.

“Aku tak apa-apa. Aku ingin berbicara denganmu, berdua” kata Yura.

Tetsuya yang tak mengerti apa yang terjadi menuruti kata-kata Yura dan duduk di samping wanita itu.

“Aku.. ingin membatalkan pernikahan ini” katanya datar.

Tetsuya terkaget dalam duduknya, dia mencengkeram lengan Yura dan bertanya ada apa dengan wanita itu.

“Mengapa Yura? Aku tak akan membatalkan pernikahan kita. Lima belas menit lagi kita akan resmi menikah, mengapa harus aku batalkan?” katanya memelas. Dia sungguh ketakutan saat ini.

“Sudahlah Tetsuya, aku menyadari antara kita tak akan pernah berhasil. Aku sudah bosan hidup seperti ini. Aku ingin hidup kaya lagi, dan kamu tak bisa memberikanku hidup seperti itu lagi” katanya. Hatinya terasa nyeri mengeluarkan perkataan itu pada Tetsuya. Namun dia harus.

“Ta..tapi.. bukankah selama ini kita bisa hidup bahagia meski tak bergelimang harta, Yura? Tak bisakah kita kembali? Aku berjanji akan secepatnya naik lagi. Tolong Yura, aku memohon jangan batalkan pernikahan kita ini” dia berlutut di kaki Yura. Memeluk kaki wanita itu agar merubah niatnya.

“Aku tak mencintaimu. Aku tak akan menghancurkan hidupku untuk menikahimu Tetsuya. Aku hanya mendekatimu karena dulu kamu kaya raya. Tapi sekarang, aku sudah tak ingin kamu lagi” katanya dingin. Dia bangkit dari duduknya dan mengibaskan lengan Tetsuya yang memegang lututnya.

Laki-laki itu masih berlutut dan memohon pada Yura. Namun hati gadis itu sekeras batu. Dia tak mau memandang wajah Tetsuya sekalipun.

Setelah hampir putus asa dengan semua usahanya membujuk Yura, Tetsuya pun berdiri.

“Katakan kalau hubungan kita ini tak ada artinya bagimu, Yura. Katakan kalau kamu tak menginginkanku sama sekali” katanya saat mencium bibir wanita itu dengan mesra.

Ciumannya semakin panas, Tetsuya mengerahkan seluruh keahliannya mencium bibir Yura. Wanita itu pun melayang, dia teringat malam-malam panas mereka saat bercinta. Dia teringat bagaimana tubuhnya begitu menginginkan laki-laki itu disetiap malam ranjang dingin mereka. Dia begitu haus pada laki-laki ini. Tangisnya mengalir tak tertahankan.

Dengan kasar dia mendorong tubuh Tetsuya hingga laki-laki itu terjerambab di lantai. Dia berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan Tetsuya yang tak berdaya. Dengan mengenakan gaun pengantinnya yang berat dan tas genggam di tangan, Yura berlari melalui koridor belakang sehingga tak ada yang melihatnya.

Di tengah jalan dia menyetop sebuah taksi yang lewat dan membawanya pergi dari tempat itu. Tetsuya mencari-carinya di dalam hotel dengan putus asa. Ditelphonenya Yura berkali-kali, namun wanita itu tak menghiraukannya. Yura sedang menangis menutupi mulutnya, hatinya hancur dan terluka. Dia lemas dalam duduknya.

“Maafkan aku Tetsuya, aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu juga” bisiknya lirih.

Taksi itu membawanya keluar kota menuju sebuah kawasan apartemen yang hanya diketahui oleh Keisuke dan dirinya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke pelukan Keisuke. Laki-laki yang pernah mengisi hidupnya dulu. Laki-laki yang pertama kali merenggut kesuciannya.

Sementara itu, Tetsuya mengendarai mobilnya seperti orang gila di jalan raya. Beberapa mobil lain hampir bertabrakan karena menghindari mobilnya yang mengambil ruas jalan mobil lain. Dia gelap mata. Dia mencari Yura-nya. Saat tiba di rumah mereka, dengan histeris dia berteriak-teriak memanggil nama Yura namun tak ada yang muncul. Dia menghancurkan seisi rumah untuk melampiaskan amarah dan kekecewaannya. Teriakannya yang terluka begitu menyayat hati, tak pernah terbayang olehnya Yura akan meninggalkannya setelah apa yang mereka lewati selama ini.

~~~~

“Halo? Apa? Kamu serius? Baik. Good Job” Keisuke menutup telphone yang diterimanya dari mata-matanya yang berjaga disekitar tempat pernikahan Tetsuya dan Yura. Senyum licik dan kemenangan bermain di bibirnya.

Keisuke tengah mengikuti rapat dewan direksi saat dia mengetahui kabar tentang batalnya pernikahan Yura. Pikirannya melayang tentang dimana Yura berada saat itu.

Dia bahkan tak mengindahkan pertanyaan salah satu direksinya mengenai rencana anggaran yang sedang mereka bahas. Keisuke bangkit dari kursinya kemudian berlari ke lobby untuk mencari mobilnya. Dia mengendarai mobilnya sendiri dan melarang sopirnya untuk ikut.

Dalam perjalanan, dia menelphone nomer handphone Yura namun tak diangkatnya juga. Dia teringat telah meminta Yura pergi ke apartemen yang dia belikan untuknya. Dengan menekan pedal gas sekeras-kerasnya, mobil Keisuke melaju kencang membelah jalanan kota.

~~~~

Dia memencet pasword untuk membuka pintu itu. Tanggal kelahiran Yura. Pintu itupun terbuka. Matanya mencari-cari keberadaan Yura disana. Debar jantungnya mengencang seiring dengan makin dekatnya dia dengan ruangan apartemen itu. Langkahnya pelan, tak ingin terlalu kecewa bila tak menemukan Yura disana.

Tapi harapannya melambung tinggi saat menemukan Yura sedang berdiri dipinggir jendela, menatap pemandangan diluar apartemen itu. Gaun pengantin putihnya berkibar ditiup angin.

“Yura..” panggilnya.

Keisuke memeluk pinggangnya dari belakang. Dia merasa telah menjadi laki-laki paling bahagia di dunia. Akhirnya dia mendapatkan kembali Yura-nya.

“Aku senang kamu akhirnya memilihku” katanya lembut di telinga Yura.

Yura memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan laki-laki itu. Dia membalas pelukan Keisuke dengan erat. Senyum terukir diwajah laki-laki itu.

“Aku akan membahagiakanmu Yura. Akan aku berikan apa yang tak bisa Tetsuya berikan padamu” kata Keisuke padanya.

“Tak usah kita bicarakan dia lagi. Aku ingin melupakannya. Bisa kan kamu membantuku melupakannya Kei?” tanya Yura.

Keisuke mengangguk, kepala mereka semakin dekat, bibir Keisuke terbuka di atas bibir Yura yang telah lama dirindukannya. Namun suara handphone Yura mengganggu keinginannya untuk menciumi bibir itu.

Yura melepaskan pelukan Keisuke dan mengambil handphonenya dari dalam tas, mencari tahu siapa yang menelphonenya. Ketika nama Tetsuya terlihat pada layarnya, dia hendak mematikannya namun handphone direbut oleh Keisuke. Laki-laki itu menerima panggilannya.

“Halo..” kata Keisuke pelan.

“Yura?? Dimana Yura? Siapa ini? Aku harus berbicara dengan Yura sekarang. Yura?? Yura?? Kamu dimana?” terdengar suara cemas Tetsuya dari speaker handphone.

Keisuke tertawa sinis dan muak dengan pertanyaan Tetsuya. Dengan ketus dijawabnya telphone itu.

“Yura sedang sibuk saat ini.. dia tak bisa diganggu..” katanya sambil menyentuh bibir wanita itu dengan jarinya.

“Dia sedang berdua denganku di sebuah apartemen.. kamu mau tahu apa yang akan kami lakukan..?” belum selesai dia berbicara Yura telah memagut bibirnya dengan keras. Dia tak ingin Keisuke berbicara apa-apa lagi pada Tetsuya. Dia tak ingin laki-laki di depannya ini mengumumkan kemenangannya pada Tetsuya. Cukup dialah yang menyakiti hati laki-laki itu.

Keisuke yang tak menyangka Yura akan menciumnya kini balas mencium wanita itu. Handphone ditangannya terjatuh saat tangannya sibuk melepaskan gaun pengantin Yura. Dia telah menunggu lama saat-saat seperti ini. Saat Yura berada dalam pelukannya lagi. Saat wanita itu bersatu dengan tubuhnya seperti dulu.

Diseberang sana, Tetsuya mendengar apa yang sedang Keisuke dan Yura lakukan. Desahan dan lenguhan nafas mereka bagai menusuk-nusuk jantungnya. Dia melemparkan handphonenya hingga hancur berkeping-keping, tak sanggup mendengarkan lebih lama lagi.

Dengan penuh gairah, Keisuke menindih tubuh telanjang Yura dan menyatukan tubuh mereka. Saat dia sedang memuaskan dirinya diatas tubuhnya, Yura memalingkan wajahnya dan tangisannya turun membasahi pipinya. 

12 comments:

  1. aaaaaaaaaaaaaaa.. ANDWEEEEEEEEEEEEEEE...!!!!
    YURAAAA... !!! kenapa kamu tegaaa???
    KEISUKE KEJAM!!!

    mbaaaaaakk.. ini konfliknya keren bangeeett...
    huhuhuhu. tetsuyaaa.. *pengen peluk tetsuya..

    ReplyDelete
  2. aq suka ma DRAMA yg bginian,,,

    bagus untuk jadi bahan pelajaran.,.hehheee

    ReplyDelete
    Replies
    1. pelajaran apa sist? matematika? fisika? sejarah? geografi? hihihiih peace..

      Delete
  3. huwa~~~~~~
    ngak jadi makan" dach aku,
    pernikahananya gagal kok. wkwkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. ^__^ tp kan kateringnya udah dibayar sist.... makan aja gpp... habisin jg gpp

      Delete
  4. ih,,,,,,,,,apaan sich yura cewek plin-plan dan labil,,,,,,meskipun untuk melindungi tetsuya ngk gini caranya *knp jadi kesel ya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahha :ngakak sendiri baca komenmu sist:

      Delete
  5. Aissh~
    Bete ama yura (⌣̯̀⌣́)

    ReplyDelete
  6. Huaaa knapa smua tokohnya jahat bgtu... Aku cuma respect ama rina doang deh.
    Huaaa pngen nangis.. Tega..tega

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.