"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, December 23, 2012

TEMPTATION OF ANGELS - Eleventh Drama - Chapter 1


Linda menjambak rambutnya frustasi. Sepanjang dua puluh dua tahun hidupnya dia tak pernah mengeluh dan memaki semua kelakuan ayahnya. Bagaimana laki-laki itu meninggalkan dia dan ibunya dengan wanita lain yang lebih muda.

Ayahnya bahkan telah menikah sepuluh tahun yang lalu dan memberikannya seorang adik laki-laki yang kini berusia delapan tahun.

Dia juga tak memaki ayahnya meski laki-laki itu lebih memilih untuk menonton opera dengan istrinya yang baru dibandingkan dengan mengantarkan kepergian mantan istrinya –yaitu ibu Linda- ke peristirahatan terakhirnya. Dia tak pernah mengeluh dan menyalahkan laki-laki itu meski tak pernah memberikan sepeser uang yang dibutuhkannya untuk melanjutkan hidup seorang diri setelah kematian ibunya.


Tapi saat laki-laki tua itu berlutut di bawah kakinya agar dia mau menolongnya dengan permintaan GILA itu, dia tak bisa menahan emosi yang telah lama terkubur didalam dada.

“Bagaimana ayah bisa melakukan hal ini padaku, yah?” mondar-mandir di atas lantai kayu rumahnya, Linda merasa rambutnya akan tercabut putus dari akarnya karena begitu kuatnya tarikan tangannya pada rambut yang malang itu.

“Maafkan ayah Lin, ayah tak ada jalan lain selain melakukan hal itu” kata tuan Jun masih dengan kaki berlutut dilantai.

“Ayah tidak bisa melakukan hal ini padaku, yah. Ayah sudah tak berhak lagi. Sejak ayah meninggalkan kami, ayah sudah membuang semua hak itu. Ayah tak berhak!” teriaknya histeris.

“Linda.. Tolonglah ayahmu ini. Kamu tidak kasihankah pada ayahmu yang sudah tua ini? Setidaknya pikirkanlah adikmu Hyun. Bagaimana kalau ayah di penjara dan..dan.. apa yang akan terjadi pada adikmu itu.” ratap tangis ayahnya.

“Itu bukan urusanku yah. Dia punya seorang ibu yang akan mengurusnya. Seperti ibuku yang juga mengurusku setelah ayah meninggalkan kami” kata Linda menghindari tatapan memelas ayahnya.

Dia sungguh tak bisa melihat seseorang memohon seperti itu padanya. Tidak pula ayahnya yang sudah tua yang sedang mempermalukan diri untuk berlutut dihadapannya. Dia tak akan menghancurkan hidupnya untuk menolong laki-laki yang tak pernah memperdulikannya saat dia telah bahagia bersama keluarga barunya.

“Linda.. Tolonglah... Sebelum ayah bisa menemukan pelaku aslinya, ayah pasti sudah dipenjara. Ayah tak mungkin bisa mengusut hal itu Lin. Sama saja dengan ayah mengakui kesalahan yang tidak ayah perbuat. Apa kamu mau ayahmu membusuk dipenjara atas kesalahan yang dilakukan orang lain?” dia tak akan pergi dari rumah anaknya sebelum mendapat persetujuannya.

“Dan mengapa harus permintaan seperti itu yang ayah ajukan? Aku tak habis pikir apa tak ada pekerjaan lain lagi yang bisa aku kerjakan selain menjadi...!! Aku bahkan tak ingin menyebutkannya. Ayah merusak masa depanku karena permintaan ini yah. Tak cukupkah ayah membuat masa laluku seperti itu?” Linda membekap wajahnya, dia tak ingin mengenang kembali masa lalu menyedihkan yang telah dilaluinya bersama ibunya yang sakit-sakitan.

Sendiri, tanpa keluarga, tanpa ayahnya yang membantu mereka. Hidup terasa sangat kejam saat tak ada tempat untukmu bergantung.

“Ayah menyarankan pekerjaan yang lain Lin. Tapi dengan jumlah uang sebesar itu, dia ingin sesuatu yang setimpal Lin, atau setidaknya mendekati. Begitu katanya.. “ jawab ayahnya lemah.

“Dan sesuatu yang setimpal itu harus dariku?? Mengapa tidak ayah beli saja gadis lain dan menyerahkannya pada orang itu? Mengapa harus aku yah??” dia benar-benar membenci ayahnya kali ini.

“Dia tak percaya pada ayah Lin. Dia merasa.. ayah akan kabur bila menawarkan orang lain yang tak ada hubungannya dengan ayah, dia takut ayah akan melarikan diri tanpa mengembalikan uang itu pada perusahaan” jawab ayahnya terbata.

“Dan sebesar apakah hargaku yah? Sebesar apakah uang yang harus ayah kembalikan hingga tega menjual anakmu ini pada laki-laki hidung belang??!!” teriakannya menggaung memekakan telinga.

“Itu... 500 Juta Won..Lin...” dia sengaja memelankan suaranya. Tak ingin anaknya semakin histeris dengan jumlah yang dikatakannya.

Tapi Linda tak histeris, dia bahkan tak bergerak dari tempatnya berdiri. Terlalu kaget untuk mampu menggerakan tubuhnya. Hanya debar jantungnya yang bersiap-siap untuk meledak sebelum kemudian rutukan keluar dari mulutnya yang tipis.

“500 JUTA WON??!!! Meski ayah hidup seribu tahun lagi, ayah tak akan sanggup mengembalikan uang sebesar itu. Apa yang ayah pikirkan??” kini dia merasa wajahnya pucat seperti kapas.

Ayahnya menguras energinya untuk berpikir jernih. Ayahnya membunuhnya perlahan-lahan.

“Sudah ayah katakan, bukan ayah pelakunya Lin. Ayah dijebak oleh teman kantor ayah dan laki-laki itu melarikan diri. Hanya sampai kriminal itu ditemukan Lin.. Setelah itu ayah akan membersihkan nama ayah, dan kamu akan bebas lagi..”

Ayahnya tak tahu seberapa besar guncangan yang dia berikan pada Linda. Ayahnya sendiri menjual anaknya pada seorang laki-laki hidung belang yang bahkan tak dikenalnya. Bagaimana wajah laki-laki itu? Jelekah atau tampankah? Berapakah umurnya? Sudah tua atau bahkan sudah memiliki anak? Bagaimana sifatnya? Baik? Kejam? Apakah dia akan terluka bila menyetujui permintaan ayahnya yang tak masuk akal itu?

Linda mengulang-ulang dalam hatinya, mengatakan itu bukan urusannya. Dia tak harus perduli pada masa depan keluarga baru ayahnya. Dia tak harus perduli bagaimana laki-laki tua itu mendekam dalam penjara. Dia tak harus mempertaruhkan hidup dan masa depannya yang cerah untuk menjadi wanita simpanan yang bahkan memikirkannya pun telah membuat hatinya kecut.

Dia akan diperkosa dan dikasari karena tak mau melayani laki-laki itu. Laki-laki hitam keriput, rambutnya yang hampir habis dan perut buncitnya yang mengerikan. Tipikal laki-laki hidung belang yang sering dilihatnya di drama-drama yang diputar ditelevisi. Bagaimana dia bisa menghancurkan hidupnya ditangan laki-laki seperti itu?

“Aku masih perawan...Aku tak akan menyerahkan kesucianku pada laki-laki seperti itu..!!!” teriak Linda dalam hatinya.

Dia tak mungkin mengucapkan kata-kata itu di depan ayahnya.

“Tidak.. Aku tak akan melakukannya ayah. Tidak untukmu, tidak untuk Hyun. Meski aku menyayanginya, tapi aku tak bisa. Aku punya masa depan yang cerah ayah, dan aku tak akan tenggelam dalam kesengsaraan yang ayah berikan. Aku sudah cukup menahan semua ini. Pergilah. Ayah bisa mengusahakan hal lain. Dan aku tak perduli bila ayah dipenjara. Mungkin itu adalah balasan karena telah menelantarkan kami. Pergi!!” teriak Linda mengusir ayahnya.

Laki-laki tua itu terlihat terluka karena harapan terakhirnya telah sirna. Dia harus mendekam dibalik jeruji besi dan meninggalkan anak dan istrinya lagi, seperti dulu ketika dia meninggalkan Linda dan ibunya karena wanita lain.

Dia tak bersuara, tak pula mencoba memohon lagi pada anaknya. Dengan lemah, kakinya melangkah perlahan meninggalkan jalanan sempit rumah Linda yang mungil. Rumah yang dicicil oleh gadis itu dengan tetes keringatnya sendiri tanpa bantuan apapun dari ayahnya.

Linda menghela nafasnya panjang. Merasa sangat bersalah karena mengusir ayahnya seperti itu. Seburuk apapun kelakuan ayahnya, laki-laki itu tetap adalah ayahnya. Laki-laki yang membuatnya terlahir didunia.

Dia memandang keluar jendela kamarnya yang bersih, memandang menembus kaca tipis pada sekumpulan burung yang terbang dilangit, andai dia bisa terbang seperti burung itu, dia akan terbang dari sana meninggalkan semua kenangan masa lalunya yang tak pernah ingin diingatnya lagi.

~~~~

7 Tahun yang lalu

“Ibu... Bangun bu.. Aku sudah membawakanmu obat bu.. Ibu.. Jangan tinggalkan aku bu..” teriak histeris seorang gadis muda disamping jenazah ibunya yang telah dingin.

Ruangan rumah sakit itu menjadi begitu kelam karena sedu sedan gadis itu. Membuat orang-orang yang mendengarnya ikut merasakan kesedihannya. Tangisnya meledak tak putus-putus sejak dokter memberitahukan kepergian ibunya. Tak ada yang bisa dilakukannya, ibunya telah menderita penyakit yang sangat parah hingga sudah terlambat untuk menyembuhkannya.

Memandang wajah gadis itu dari kejauhan, meski tertutup air mata yang membuat wajahnya tampak mengenaskan, gadis itu masih terlihat cantik dengan rambut panjangnya yang terurai. Dia tak sempat mengurus dirinya, ibunya yang telah dirawat selama sebulan terakhir diruangan itu telah menyita waktunya antara sekolah dan rumah sakit.

Dia tak tahu mengapa dia begitu tertarik untuk melihat gadis itu. Sesuatu dalam dirinya menghidupkan kembali rasa ibanya pada manusia. Dia tak pernah mengizinkan dirinya untuk memperlihatkan perasaan itu pada orang lain.  Dia terkenal kejam, bahkan sangat kejam. Dia tak akan perduli dengan orang lain meski keputusannya mampu menghancurkan masa depan banyak orang.

Saat berdiri diam bersandar pada tembok rumah sakit, matanya tak bisa lepas dari tubuh yang bergetar itu. Tubuh itu tampak begitu lemah, begitu tak berdaya. Dan dia sangat ingin merengkuh tubuh itu dalam pelukannya, menenangkannya, menghiburnya dan melakukan apapun untuk mengurangi kesedihan gadis itu.

Tapi kakinya tak bergerak, matanya hanya memandang dingin dari kejauhan. Dengan kesal dia membuang puntung rokoknya ke dalam tempat sampah.

“Tuan, nyonya sudah boleh keluar” kata seorang laki-laki tua bungkuk yang menghampiri sosok itu.

Dia memalingkan tubuhnya, sebelum berbalik lagi untuk merangkum wajah gadis itu di dalam kepalanya. Kemudian dia melangkah meninggalkan tempat itu dan tak pernah memikirkannya lagi. 

Eleventh Drama - Chapter 2 


25 comments:

  1. kyaaaaaaaaaa,,,,
    plot baru yang pastinya akan *panas* seperti biasanya,,,

    ReplyDelete
  2. jangan lebar2 mba, ti pada masuk
    wkwkwkwkwkk


    btw aku matiin hp, bete pd maksa bgt ke aku....

    ReplyDelete
    Replies
    1. temen2 maen mba,,,,
      aku lagi gak pengen maen dipaksa,,,,,

      hehehehe
      knp jadi curcol gin aku..

      Delete
    2. hahaha maenn apa nihhhhh???? itut donkkkk..

      Delete
    3. jalan g jelas mba kdg ampe tengah malam baru pulang,,,,
      cape

      Delete
  3. Keyeeennnnn Vie sk iniiiiii sukaaaaa bgtz dbnding Ji Jeong (skt ht g d Jung Min) hahaha
    Mbaaa Fathy sp yg pd mksa??bkn Vie pan?? *muka pnasaran*

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan dong caantik....

      btw bolehkah minta pin bb nya???
      :)

      Delete
    2. @Vie puspitasari ada kok jungmin n jihan, jung nam jg ada di jijeong kwkwkw.

      @Fathy ellyasari : kl aku "boleh minta bb nya ndak sist? ^^V"

      Delete
    3. @fatty :Oh boleh aj ko fatty, ntr kl mau order baju biar gampang, hahaa d kira fatty online shop.
      @shin : minta bb yg udh ga bs idup lg , sama keypadnya udh ancur, mau? :D

      Delete
    4. @ina green : boleh banget sist suamiku kan tukang serpis blackberry, jd sparepartnya masih bisa dipkai ama dia wkwkkwkwkw

      Delete
    5. aku kasih bb ku, mba shin kasih bb nya mba shin gmna???

      Delete
    6. dah aku jual sist bb ku kwkkwkwkw bau badan kan? hm... lumayan laku seribu perak

      Delete
    7. mba shin....

      kalo itu aku gak mau lah yau...
      BB = Blackberry nya mba...

      Delete
  4. Btw,,btw,,ni eleventh??yg tenth mn??(Slh tulis g yh)??

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg tenth kayanya untuk kisahnya jung nam n rossu deh vie....

      Delete
    2. betul. seratus untuk sist fathy. ^^.

      Delete
  5. Yaaahhhh Mba Shin tegaaaa beudz hape atu2ny dpntaaaa...
    Boleh Mba Fathy,,Vie krm lwt email ajja yakz,,mw dkrm k email yg mana?? *sok artis*
    Xixixi

    ReplyDelete
  6. Cerita bru... Asyikkk
    bakalan seHot apa mba? Hhihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha maunya se apa sist?? wkwkkwkw... yg jelas masih dlm ukuran norma2 asia lah ^^ :indonesia khususnya:

      Delete
  7. Sukaaaaa......makasi mbak shin dah nulisin cerita yang keyennn!! cemangka...cemangka ( ala anak alayy ) ^0^ Copernya itu yang maen 49 days bukan lupa namanya miripppp hehehehehehe...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.