"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, January 19, 2013

Betrayal In Motion 12th Drama - Chapter 3



Selama sebulan kemudian Rin tak pernah muncul lagi di kantor Jin Ho, bahkan wanita itu sengaja menghindar darinya. Kedekatan mereka telah membuktikan betapa rapuhnya mereka bila berduaan. Rin tak ingin kejadian yang sama terulang kembali yang hanya akan menghancurkan rumah tangganya yang normal dan bahagia.

Setidaknya dia menikahi suaminya dua tahun yang lalu atas dasar cinta. Mereka saling mencintai, meskipun suaminya tak pernah memberikannya kepuasan yang dia inginkan.


Suaminya akan selalu mendahulukan kepuasannya sendiri dan Rin akan selalu berusaha membesarkan hati suaminya dengan berpura-pura menikmati percintaan mereka. Padahal jauh dalam hatinya dia menangis dan tersiksa karena tak pernah sekalipun mengecap nikmatnya penyatuan sakral hubungan suami istri.

Saat seorang laki-laki tampan, maskulin dan bergairah seperti Jin Ho menghampirinya, Rin tak dapat menolak kebangkitan hasrat yang telah coba dia kungkung dalam tubuhnya selama dua tahun ini. Jin Ho memporak-porandakan kehidupan rumah tangganya yang damai dan tak bergejolak. Kini laki-laki itu mengintimidasinya dengan hasrat seksual yang menyala-nyala diantara mereka.

“Kamu tak mau ikut menemaniku ke gedung itu? Mengapa?” tanya suaminya sambil lalu sembari mengancingkan jas hitamnya yang kebesaran.

Dia telah dua kali mengganti jasnya karena kekecilan. Rin, istrinya telah mencoba segala cara agar dia tak menambah berat badannya lagi. Dengan berkilah karena memiliki istri yang begitu mencintai dan merawatnya dengan baik, Tuan Kim pun membenarkan perubahan berat tubuhnya yang naik dengan cepat.

“Tidak apa-apa, aku hanya sedang tidak enak badan. Mungkin aku akan ke supermarket membeli bahan-bahan untuk makan malam kita nanti” jawabnya setengah berbohong.

Rin tidak pernah berbohong sebelumnya pada suaminya, saat dia melakukannya untuk pertama kalinya, dia merasa sangat bersalah. Suaminya begitu mencintainya, mereka saling mencintai, kehidupan rumah tangga mereka bahagia, tak pernah diwarnai dengan pertengkaran.

Namun mungkin Rin ingin lebih dari sekedar kedamaian dan kebahagiaan, dia ingin kehidupan rumah tangga yang bergairah, yang tak bisa dia dapatkan dari Tuan Kim, suaminya.

“Baiklah kalau begitu, mungkin aku pulang malam. Aku akan mengabarimu. Bila aku belum pulang lewat pukul sepuluh malam, kamu tak usah menungguku. Jangan membuat dirimu sakit, jangan makan terlambat ya” Tuan Kim mencium bibir istrinya mesra.

“Aku berangkat. Love you..” katanya sebelum meninggalkan istrinya seorang diri di dalam apartemen mereka yang lengang.

“I love you too..” bisik Rin pada punggung suaminya yang menghilang dibalik pintu.

Rin sedang memasukan cuciannya kedalam mesin cuci ketika handphone yang diletakannya diatas meja berbunyi.

“Siapa yang menelphone sesore ini? Apakah oppa sudah pulang?” tanyanya pada dirinya sembari memasukan cuciannya yang terakhir dan memencet tombol ON pada mesin cucinya.

Setengah berlari Rin mengambil handphonenya, bingung dengan nomer yang tak dikenal yang muncul dilayarnya.

Dengan segan dia menjawab panggilan itu. “Hallo?” sahutnya tak lama kemudian.

“Mengapa begitu lama bagimu untuk mengangkat telphoneku? Apakah kamu menghindariku? Kamu bahkan tak datang dengan suamimu ke kantorku siang ini” suara laki-laki itu mengejutkan Rin. Nada suara yang tersinggung karena merasa Rin telah menghindarinya sebulan belakangan.

“Aku tidak mengerti maksudmu. Siapa ini?” tanya Rin bingung. Dia tidak tahu siapa yang sedang diajaknya berbicara, suara itu tak asing namun dia tak dapat mengingat dimana pernah mendengar suara berat itu.

“Aku.. Jin Ho”

Jawaban laki-laki itu membuat tubuh Rin membeku, handphone ditangannya pun terjatuh ke atas karpet dibawahnya. Rin tak mempercayai pendengarannya, kini Jin Ho telah mengganggu hidupnya yang tenang. Rin tak akan memaafkan laki-laki itu bila dia menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya.

“Haloo? Rin? Kamu disana? Halo?” teriak Jin Ho panik karena tak mendengar jawaban wanita itu.

Dengan tangan gemetar Rin mengambil handphonenya dan mendekatkannya pada mulutnya.

“Apa maumu menghubungiku?” tanya Rin datar.

Jin Ho bukan tak menyadari betapa dinginnya suara Rin padanya, hanya karena wanita itu telah memenuhi pikirannyalah Jin Ho tak mampu untuk melupakannya. Tidak saat dia merasa tubuh wanita itu meleleh dalam pelukan dan cumbu rayunya.

“Aku merindukanmu” jawabnya tanpa malu.

“Apa?! Kamu sebaiknya menjaga mulutmu Tuan Han! Aku adalah istri orang, dan perbuatanmu ini tak terhormat sama sekali. Aku tak akan mengatakan hal ini pada suamiku, tapi bila anda kelewatan, aku tak akan segan-segan” Rin menutup handphonenya dengan kesal. Nafasnya menderu kesal dan debar jantungnya mengencang.

Rin merasa begitu kesal pada laki-laki itu karena telah lancang merayunya, Rin juga kesal pada dirinya karena terbuai oleh bujuk rayu laki-laki itu yang membuat jantungnya berdebar tak menentu. Laki-laki itu telah menggoncang dunianya.

“Maafkan aku, tapi aku adalah orang jujur. Dan saat aku mengatakan aku merindukanmu, karena memang aku sangat merindukanmu” Rin menerima sebuah pesan dari Jin Ho. Tanpa membaca dua kali, dia menghapus pesan itu dari handphonenya. Dia tak ingin suaminya melihat pesan itu yang akan menimbulkan perselisihan dan salah paham diantara mereka.

Selama dua bulan kemudian Rin berhasil menghindari segala upaya yang Jin Ho lakukan untuk mendekatinya. Laki-laki itu selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Bahkan Jin Ho pernah menungguinya di depan toilet wanita hanya untuk memandang wajahnya sekilas dan kemudian laki-laki itu akan pergi dengan wajah tertekuk. Rin tak habis pikir mengapa Jin Ho menyakiti dirinya dengan mengejar wanita yang telah bersuami. Dia seharusnya tahu bagaimana bahagianya Rin dengan suami yang sangat mencintainya, yang sangat dicintainya.

Jin Ho..hanyalah sebuah selingan ringan yang pernah hadir dalam hidupnya dan akan segera mati bila mereka tak saling bertemu.

Namun saat malam-malam tiba, saat suaminya telah tertidur pulas disampingnya, saat suaminya merangkak turun dari tubuhnya setelah percintaan mereka yang monoton, Rin selalu memikirkan Jin Ho dan ciumannya yang panas. Wanita itu akan berjinjit masuk ke dalam kamar mandi dan memuaskan dirinya dengan membayangkan tubuh Jin Ho mencumbunya. Dengan imajinasi itu Rin mampu melewati dua bulan hidupnya tanpa frustasi karena tak bisa berdekatan dengan Jin Ho. 


12 comments:

  1. oh...oh...oh...segitu rindunya....
    ayo jin ho serang terus....jangan kasih kesempatan untuk mengelak.
    hehehehehehe...jin ho emang hebat...

    ReplyDelete
  2. Jully say:

    singkat bgt mbak.....??
    Kasian rin...Gk terbayang jika aq ada di posisi rin...aq gk akn mampu.sabar ya rin...akang jin ho akn memuaskanmu,hahaha...
    Konflik ya rumit ini mbak.....ckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya nih. ntr malem deh lg 1 ya ^^

      Delete
  3. Degh,,,,kasian si Ririn,,
    Suaminy dmatiin adja sistah,,,spya Ririn happily ever after ama si Jin Ho,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw kejammm suaminya kan gak salah cinnnn.. Ririn mana nih???

      Delete
    2. Ntuh si Kim -ri-Rin,,,
      Hahahahhhaaaaa

      Delete
    3. ahahahhaa cocok dah namanya lol...

      Delete
  4. Mia tunggu chap brikutnya...
    thanks mba shin...

    ReplyDelete
  5. Mmg berat godaan Πγª .... Hrs Πγª tuan Kim sadar dong ga bsa mmuaskn istri Πγª ya dcerai aja biar sma Jin ho Ɣªήğ hot.. Heheh.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.