"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, January 19, 2013

Betrayal In Motion 12th Drama - Chapter 4



Namun tidak demikian halnya dengan laki-laki yang dibayangkannya. Jin Ho terlihat begitu mengenaskan di pesta itu. Pesta yang diadakan untuk merayakan kesuksesan peluncuran iklan mereka. Tanpa bisa menolak lagi, Rin terpaksa harus mengikuti suaminya menghadiri pesta yang dibuat untuk merayakan keberhasilan kerjasama mereka.

Sejak pertama menginjakan kakinya diruang pesta itu, Rin telah merasakan tatapan dingin sepasang mata yang memperhatikannya dari kejauhan. Dia mencari-cari dimana laki-laki itu berada, namun tak ditemukannya. Suaminya telah menghilang bersama dengan rekan-rekan bisnisnya yang lain dan berbaur untuk mencari klien-klien potensial diantara pengusaha-pengusaha lain yang berkumpul disana.


Rin tidak dapat menahan keinginannya untuk pergi ke kamar kecil, dia mencari-cari suaminya namun laki-laki gempal itu tak terlihat dimana-mana. Biasanya Rin akan dengan mudah menemukan sosok suaminya yang berdiri mencolok diantara tamu undangan. Dia memilih untuk menghilang malam ini diantara kerumunan jas hitam yang bertebaran disekeliling ruangan ballroom itu.

Dengan langkah cepat, Rin melangkah ke arah toilet khusus wanita. Menoleh kiri kanan nya mengantisipasi kemunculan laki-laki yang tak ingin dijumpainya. Rin tahu, laki-laki itu pasti berada disana, berdiri dan sedang mengawasinya. Telah lewat tiga bulan sejak ciuman pertama mereka yang membara, Rin bahkan tak dapat menghapus ingatannya akan ciuman yang panas itu. Dia masih menginginkannya. Menginginkan sesuatu yang tak pantas dimilikinya.

Rin membuka sebuah ruangan toilet yang kosong, bahkan hampir semua ruangan itu kosong, hanya sebuah ruangan yang terletak dipojok sedang terisi saat dia masuk kesana. Toilet itu bersih dan wangi, seorang petugas selalu membersihkan ruangan toilet itu setiap lima menit, mengawasi persediaan tissue dan air bersih.

Tubuhnya didesak maju ke depan, menguncinya dalam ruangan itu diantara tembok dan tubuh tegap pendorongnya. Jin Ho. Sedang berdiri nyalang di depannya, matanya menatap dingin penuh hasrat pada Rin yang meringkuk ketakutan.

“Apa yang kamu lakukan disini? Ini toilet perempuan” bisik Rin putus asa. Dia telah mencoba sekuatnya untuk menghindari laki-laki ini, namun mereka selalu dipertemukan lagi dan lagi. Laki-laki ini mengikutinya kemana-mana.

“Aku ingin bertemu denganmu, Rin. Aku tak pernah merasa sehancur ini saat tak berada disamping wanita. Kamu..wanita itu kamu.. yang menghancurkan hidupku yang sempurna dengan kehadiranmu” bisik Jin Ho lirih. Rin dapat melihat penderitaan laki-laki itu dimatanya. Jin Ho tersiksa oleh perasaannya pada Rin.

“Tidak benar. Kamu hanya membesar-besarkan sesuatu yang kecil. Aku tak ingin berurusan denganmu lagi. Pergi dari sini, aku tak ingin melihatmu lagi” teriak Rin pelan, dia tak ingin memancing keributan di dalam toilet sempit itu.

Rahang Jin Ho mengeras, kesal dengan perkataan Rin yang melukai harga dirinya. Wanita itu mengatakan dirinya hanya membesar-besarkan masalah. Padahal apa yang dia rasakan sekarang begitu menyiksa jiwa raganya, wanita itu tak tahu sedikitpun sakit yang dia rasakan.

Jin Ho merengkuh tangan Rin, membawa tangan itu ke dadanya. “Rasakan debar jantungku bila ini hanya masalah kecil, Rin! Rasakan bagaimana dia berdetak dengan cepat saat tubuh kita sedekat ini. Apakah ini kecil, Rin? Inikah yang kamu katakan kecil? Aku tersiksa disini, Rin. Dan jangan membohongiku bila perasaanmu tak sebesar yang aku rasakan. Karena aku bisa melihatnya dimatamu. Kamu..merindukanku, Rin. Kamu ingin keluar dari rumah itu, Rin. Kamu ingin bersamaku, seperti aku ingin bersamamu” Jin Ho menutup kata-katanya dengan mendaratkan sebuah kecupan ringan dibibir Rin.

Debar jantung mereka berpacu saling susul, kesunyian yang menyelimuti mereka menambah panas suasana dalam ruangan sempit itu.

“Katakan sesuatu, Rin. Bila kamu hanya diam seperti ini, aku tak tahu apa yang akan aku lakukan berikutnya. Katakan bagaimana perasaanmu, Rin. Tidakah kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku?” tangan Jin Ho masih menggenggam telapak tangan Rin yang didekapnya di dadanya.

“Aku tidak bisa..Jin Ho.. Aku.. Rumah tanggaku bahagia, aku tak mungkin melakukan ini pada suamiku. Tidak.. Aku tidak memiliki perasaan itu padamu. Aku akan melupakan ini pernah terjadi, sekarang lepaskan aku. Kita tidak bisa berada disini..” Rin memohon pada Jin Ho untuk melepaskan tangannya.

Laki-laki itu tak bergeming, wajahnya begitu sedih mendengar kata-kata yang Rin ucapkan.

“Katakan..katakan sekali lagi, Rin. Setelah aku menciummu”

Jin Ho memegang wajah Rin dengan kedua tangannya, menahan wanita itu agar tak meronta dari ciuman yang dia daratkan pada bibir indahnya.

Bibir mereka bersatu dengan begitu sempurna, Jin Ho menyesap bibir merah itu dengan sepenuh perasaannya. Melampiaskan seluruh penderitaannya pada bibir Rin yang dikuasainya sepenuhnya. Perlahan bibir wanita itu melunak dibawahnya, lengannya bergelung di leher Jin Ho dan mereka berpagutan dengan panas, memenuhi hasrat penyatuan jiwa mereka.

“Rin.. Katakan bila perasaan itu tak ada..” Jin Ho menciumi bibir Rin dengan penuh gairah, memainkan lidahnya didalam mulut wanita itu, memagut bibir bawahnya dengan posesif. Tubuh ramping Rin didesaknya ke dinding toilet dan tubuhnya merangsek mendesak tubuh itu.

Bibir Jin Ho perlahan-lahan turun mengecup leher Rin, menikmati permainan lidahnya di leher jenjang wanita itu.

“Jin Ho.. Jangan.. Kita sedang berada ditempat umum..” rintih Rin disela-sela desahannya.

“Kita pergi dari sini, Rin? Ikutlah aku ke apartemenku.. Kita lewatkan malam ini bersama..” bujuk Jin Ho pada Rin yang menatapnya sayu.

“Aku ingin, Jin Ho.. Tapi aku tidak bisa. Suamiku.. Dia akan bertanya-tanya.. Aku tidak bisa. Maafkan aku Jin Ho. Apa yang kita lakukan salah. Aku tak mungkin mengkhianati suamiku. Maaf” isak tangis Rin pun turun.

Tubuh Rin yang bergetar karena isak tangisnya direngkuh oleh tangan kokoh Jin Ho, membawa wanita itu kedalam pelukannya.

“Maafkan aku, Rin. Aku tak memikirkanmu.. Maafkan aku.. Kita akan memikirkan hal ini kemudian” Jin Ho berusaha menghibur Rin yang masih terisak.

“Tidak Jin Ho.. Aku.. aku akan pulang ke suamiku. Kita tidak bisa bertemu seperti ini lagi. Aku mohon..” bisik Rin di dada laki-laki itu.

“Sshh.. Jangan berbicara, Rin. Kita akan memikirkannya nanti” Jin Ho mengecup rambut Rin dan memeluk tubuhnya erat. Hampir setengah jam mereka berada dalam ruangan toilet yang hanya muat tubuh mereka berdua, berdiri kaku, namun saat itulah saat paling membahagiakan bagi mereka, bisa berpelukan dan menghabiskan waktu berduaan meski ditempat sesempit itu. 


18 comments:

  1. Aiiihh,,,si Ririn dilemaaa,,
    Kasiaan,,puk-puk Ririn,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahha mana nih sist Ririn... pst habis berduaan ditoilet am Jin Ho dia ngumpet dr suaminya wkwkkwkw

      Delete
  2. wah...semakin ngencar nih serangannya jin ho
    ayo jin ho serang terus....dor...dor...dor....(loh kok bunyi pistol ya, bingung sambil memukul jidat...hehehehehehehe)
    kasihan rin karena ngak ada kesempatan en tempat untuk mengelak..hikhikhik..( menangis sambil tersnyum simpul)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa.. tangisanmu palsu sistaa.. lol.. kyk Rin.. mau bilang ndak mau.. hadehh..

      Delete
    2. hehehehehe.....biasa lah mbak...gengsi...gengsi donk
      jadi harus dimanupulasi biar ngak malu-maluin (bilang ngak mau tapi di dalam hati mau bangeeeettt....)

      Delete
    3. hahaha ya donk cin.. jual mahal dulu... biar si cowok klepek2 n gak bs mundur.. saat kita udah megang *anu*nya br deh... wkwkwkw :ngomongin apa sih aku:

      Delete
    4. wah..kalo megang itu langsung mbak.jin ho nya langsung klepek2 mbak....huhahahahahaha....(hup langsung tutup mulut setelah ngakak sepuas hati)

      Delete
    5. wkkwkwkwkwkkwkww.... bisa2 Jin Ho makin terobsesi cin... skrg belum dpt aja udah kyk cacing kepanasan..

      Delete
  3. Ayo Jin Ho semangat.....aku mendukungmu
    jgn nyerah buat dapetin Rin

    °_° :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha kok malah pada setuju sih ama selingkuhhhh??? huaaaa.. wkwkkwkwkw

      Delete
  4. yach semakin galau aq antara kesetiaan dan kesenangan...
    pilih mna coba????

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha pilih dua2nya donk cin... lol

      Delete
    2. lha tyuz misuanya dikemnain donk mbak shin????? kw pilih dua2nya ki...

      Delete
    3. diselang seling donk cin. hauhahuauha... kyk film korea "Changing Partner" lol...

      Delete
  5. perasaan cinta emang gak bisa di tolak ya, jin ho juga gak bersalah atas perasaan tak terduganya cinta sama istri orang tapi beneran dari awal kasian sama suaminya >//< kalo pun mereka gak berjodoh semoga tuan kim dapet istri yang setia juga... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, nice said sist.. nice said.. :D amin.. lol

      Delete
  6. Mbaaa Shin mau tanyaaa,.. perasaan yg di no1 kmrn mrk akhrnya 'melakukan' khn?trz dr stu ketauan klo Rin msh perawan, tp di no 3 n 4 ini dbilang klo suaminya hny mncri kenikmatannya sndri trz trtdur pulas stlh prcntaannny yg monoton,vie jd bgung,, sbnrny Rin sm suaminya ntuh udh nglkuin or lumz Mba?? hehehe,,maap klo crewet..

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah donk.. n skrg lg kita bahas di WA.. wkkwkw Vie kepoo..

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.