"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, January 3, 2013

Eleventh Drama - Chapter 17



Hyun Jae berdiri di sisi jendela, matanya menerawang keluar pada langit biru di angkasa. Jas biru nya disampirkan disisi kursi, nampak tubuhnya yang atletis nan ramping, berdiri tegap memunggungi para pelayan yang sedang membantu memakaikan pakaian ganti pada tubuh Linda yang berbaring lemah di atas ranjang.


Sudah dua bulan Linda kembali kerumah ini, kali ini Hyun Jae menempatkannya di sebuah kamar di lantai satu. Kamar yang tadinya merupakan kamar utama yang dulunya ditempati oleh orangtuanya. Kamar yang biasa dia tempati bila menginap dirumah ini.

Linda siuman dua minggu setelah peristiwa itu, selama beberapa minggu kemudian dia masih dirawat secara intensif dirumah sakit. Hyun Jae dan Hyun Jung bergantian menjaganya, bukan karena Hyun Jae tidak memiliki waktu atau tidak bisa menyempatkan waktu untuk menunggui wanita itu, namun dia mencoba untuk bersikap adil pada adiknya. Linda bukan miliknya lagi, dia tak ingin memonopoli wanita itu untuk dirinya saat dia tahu Linda seperti itu karena keposesifannya.

Namun Hyun Jung telah berjanji untuk menyerahkan perawatan dan penyembuhan Linda padanya, saudaranya itu kini berada di Inggris untuk mengatur persiapan kedatangan Linda bila dia sembuh. Di satu sisi Hyun Jae berharap Linda akan sembuh dengan cepat, namun hati kecilnya menginginkan wanita itu tetap terbaring diranjang, sehingga dia bisa menjaganya seumur hidupnya.

Meski Linda tak akan memaafkannya, namun dia tak akan punya pilihan lain selain berada dibawah perlindungannya.

Linda belum mampu bergerak banyak, tubuhnya seringkali ambruk bila berdiri terlalu lama, tulang punggungnya retak meski tidak sampai membuatnya lumpuh seperti Eun Ji. Dia juga bisa berbicara, namun hanya pada pelayan. Karena Linda menolak berbicara pada Hyun Jae.

Dia akan membelalak sengit setiap kali Hyun Jae mendekatinya. Seakan menyalahkan laki-laki itu karena telah menyelamatkannya, karena telah mencegahnya melepaskan semua beban dan masalah dalam kehidupannya. Karena menurut Linda, bila dia mati, dia akan terlepas dari obsesi laki-laki ini, ayahnya dan keluarganya pun tak perlu ketakutan untuk terhubung lagi dengan Choi Hyun Jae.

“Tuan, nona sudah mengenakan pakaian baru” kata seorang pelayan wanita pada Hyun Jae.

Dia memutar tubuhnya, menatap pada ranjang tempat Linda berbaring tak berdaya.

“Baiklah. Kalian boleh keluar” katanya.

Empat orang pelayan yang khusus merawat Linda keluar dari kamar itu dengan pakaian-pakaian kotor dan perlengkapan lain yang mereka gunakan untuk merias Linda. Wanita itu terlihat cantik dan rupawan, Hyun Jae baru belakangan ini mampu melihat kecantikan wanita itu yang tak pernah diperhatikannya dengan sungguh-sungguh.

Hanya dengan melihat wajahnya mampu memperbaiki suasana hati Hyun Jae yang sedang gundah.

Linda harus melewati satu operasi lagi pada kepalanya agar gumpalan darah yang tersisa bisa dibersihkan dan tidak mengganggu aliran darah pada otaknya. Resikonya sangat fatal. Selama dua bulan terakhir, Linda telah keluar masuk rumah sakit tak kurang dari empat kali.

Meski tidak semuanya terkategori sebagai operasi berat, namun tak kurang juga rasa khawatir yang melingkupi hati Hyun Jae. Khawatir bila sewaktu-waktu operasinya gagal dan dia akan kehilangan Linda.

Hyun Jae melangkah perlahan menghampiri Linda, sesampainya di sisi ranjang, dia membantu wanita itu untuk duduk dengan menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang. Setelah memperbaiki letak selimut Linda, Hyun Jae menarik sebuah kursi dan duduk disampingnya.

“Waktunya makan, Lin..” katanya.

Sudah menjadi kebiasaan bagi Hyun Jae untuk menyuapi Linda. Makan pagi, makan siang dan makan malam. Tak satupun pernah dia lewati. Dia selalu berada disana, menyuapi dengan sabar hingga wanita itu mau menghabiskan makanannya.

Pada awalnya Linda selalu melawan dan tidak mau menerima makanan yang disuapkan oleh Hyun Jae. Namun seiring waktu, Linda mulai luluh meski belum bersedia bicara dengan laki-laki itu. Setidaknya dia menghabiskan makanan yang Hyun Jae suapkan untuknya.

Seperti kali ini, Linda menghabiskan makanannya tanpa banyak protes. Setelah itu Hyun Jae akan membaringkan tubuhnya lagi agar dia beristirahat. Namun nampaknya kali ini sesuatu berbeda akan terjadi. Linda berbicara untuk pertama kalinya pada Hyun Jae.

“Terima kasih..” ujar Linda pelan.

Tubuh Hyun Jae membeku, tidak mempercayai pendengarannya. Dia menatap mata Linda, menacari tanda bahwa memang wanita itu berbicara padanya. Wanita yang ditatap dengan intens itu hanya bisa tersipu malu, pipinya bersemu merah. Dengan memalingkan wajahnya, Linda mengulang lagi ucapannya tadi.

“Aku bilang terima kasih..karena sudah menyuapiku selama ini..” suaranya berbisik hampir tak terdengar, namun bagi telinga Hyun Jae, suara bisikan Linda bagai lantunan lagu terindah yang pernah didengarnya. 

Dia bahkan tidak bisa berkata-kata. Otaknya terkesima dengan pendengarannya hingga tak bisa membalas ucapan terima kasih Linda. Mulutnya menganga tak percaya. Namun sedetik kemudian dia kembali pada kesadarannya.

“..ah..itu bukan apa-apa” jawabnya kikuk.

Hyun Jae meletakan piring makanan Linda diatas meja. Mengelap bibir Linda setelah wanita itu meminum segelas air. Hyun Jae kini membujuknya untuk meminum obatnya.

“Minumlah..” katanya pada Linda sembari menyodorkan butir-butir obat warna warni diatas piring kecil kehadapan Linda dan segelas air putih.

Linda menurutinya, dia tak pernah sepenurut ini sebelumnya. Mungkin Linda telah berubah? Mungkin dia telah melihat sisi baik dari seorang Choi Hyun Jae yang arogan? Mungkin Linda perlahan-lahan telah jatuh hati padanya?

Harapan dalam hati Hyun Jae membumbung tinggi, namun tak ditunjukannya dipermukaan. Wajahnya setenang samudera lepas, meski kini jantungnya berdebar-debar kencang karena begitu gembira. Linda akhirnya mau berbicara dengannya. Wanita itu bahkan mengucapkan kata yang tak pernah dibayangkannya akan diucapkan oleh Linda setelah apa yang dia lakukan padanya.

Linda mengembalikan gelas yang airnya telah habis diminumnya pada Hyun Jae. Sebuah senyum samar terlihat sekilas disana yang tak luput dari mata Hyun Jae. Darahnya berdesir menyadari arti senyuman itu. Dia kini bisa masuk lebih dekat lagi ke dalam hati Linda.

“Beristirahatlah..” kata Hyun Jae padanya. Dia hendak membantu Linda berbaring, namun tangannya dihentikan oleh wanita itu. Hyun Jae menatapnya bingung.

“Aku ingin berjalan-jalan dikebun..” katanya pelan.

Sudah pukul sembilan pagi, matahari mulai menyingsing meski belum terasa terik menyengat kulit. Hyun Jae memandanginya lagi. Menimbang-nimbang keputusannya. Kemudian dia berdiri tegap. Berjalan ke arah pintu dan memanggil pelayannya yang berdiri siap menunggu perintah darinya.

“Siapkan kursi roda, Linda akan jalan-jalan di taman” dia kemudian kembali menghampiri Linda. Seorang pelayan mendorong kursi roda dari belakangnya.

Selama ini, Linda hanya menghabiskan hampir seluruh waktunya berbaring diatas ranjang. Terkadang Hyun Jae akan membopong tubuhnya dan membawanya duduk di sebuah sofa panjang yang sengaja ditaruhnya di ruang piano. Kemudian Hyun Jae akan memainkan sonata lembut untuk Linda hingga wanita itu tertidur. Hyun Jae akan menungguinya disana, tertidur didalam kursinya yang sengaja diletakannya berdampingan dengan sofa panjang tempat Linda berbaring.

Setelah waktunya tersita sepenuhnya untuk Linda, Hyun Jae hampir tidak memiliki waktu lagi untuk kakaknya Eun Ji. Dia merasa bersalah karenanya. Namun dia beruntung, karena Ki Joon ternyata mampu mengganti kekosongan yang ditinggalkannya.

Pernah dia tak sengaja memperhatikan Ki Joon saat kepala pengawalnya itu mengajak Eun Ji menikmati pemandangan kebun rumah mereka. Ki Joon yang tak banyak berbicara dan selalu terlihat murung, berubah menjadi pria hangat dan senyuman selalu terlukis diwajahnya.

Bahkan, Hyun Jae tak perlu bersusah payah lagi untuk memandikan Eun Ji atau menyuapinya makanan lagi. Eun Ji dengan sendirinya mau melakukannya. Dia tidak pernah merengek lagi, tidak pernah merajuk lagi, bahkan menurut laporan Ki Joon padanya, kini Eun Ji mulai belajar berbicara lagi.

Kata pertama yang diucapkannya adalah kata “oppa” yang berarti kakak laki-laki pada bahasa Korea. Eun Ji memanggil Ki Joon, oppa. Nampaknya cinta sedang bersemi diantara mereka. Hyun Jae hanya bisa tersenyum dan mendoakan yang terbaik bagi hubungan Eun Ji dan Ki Joon. Dia mempercayai nyawanya pada Ki Joon. Dia pun pasti akan mempercayai kebahagiaan kakaknya pada laki-laki itu.

Hyun Jae mengangkat tubuh Linda dan menurunkannya dengan perlahan diatas kursi roda. Linda memeluk tubuhnya erat dan getaran-getaran yang terjadi diantara mereka hanya merekalah yang bisa merasakannya. Percikan-percikan api panas terlihat jelas dimata Hyun Jae saat menatap wajah Linda yang tersipu malu dengan kedekatan tubuh mereka.

Saat tubuh Hyun Jae menunduk untuk meletakan Linda diatas kursi roda, dia menghirup wangi tubuh Linda dalam-dalam. Wangi tubuh yang membuat darahnya berdesir dan kakinya lemas. Matanya yang gelap, menatap ke dalam mata Linda yang masih menunduk tersipu malu. Tak berani membalas tatapan mata Hyun Jae.

Tubuh Hyun Jae menegang, dia masih membungkuk diatas tubuh Linda yang telah berhasil duduk dikursi roda. Wajah mereka begitu dekat, Linda dapat merasakan hangat nafas Hyun Jae yang terdengar berat ditelinganya.

Hyun Jae bisa dengan mudah mencium bibir tipis dibawahnya. Mengecap rasa manisnya yang telah lama dirindukannya. Merasakan lembut bibir Linda dalam mulutnya, memagut hangat bibir merah itu.

Namun dia menahan gairah dalam dadanya yang dirasanya akan segera meledak. Setelah berdehem untuk membersihkan kecanggungan mereka, Hyun Jae kemudian mendorong kursi roda itu menuju taman kebun disamping rumah itu. Tanah berumput yang luas dengan dihiasi bunga-bungaan warna-warni dari sekumpulan bunga-bungaan liar hingga angrek dan tanaman hias lain yang diatur sedemikian rupa hingga menciptakan sebuah taman kebun yang indah.

Hyun Jae mendorong kursi itu hingga mereka sampai disebuah gazebo yang dibangun sekitar dua tahun yang lalu. Tempat dimana Hyun Jae biasa menghabiskan waktunya merenung bila pikirannya kalut. Dia ingin membopong tubuh Linda dan duduk bersama dengan wanita itu diatas karpet rumput hijau tebal yang tumbuh didalam kebun. Hyun Jae ingin Linda merasakan nyamannya merebahkan tubuhnya diatas rumput sambil memandang ke atas langit cerah dan melepaskan beban pikiran mereka.

Pelayan membawakan sepoci teh hijau dan dua cangkir kecil beserta penganannya untuk mereka. Hyun Jae kemudian menuangkan secangkir teh untuk Linda dan dirinya. Meniup-niup cangkir itu sebelum meletakannya disamping Linda.

Semilir angin dingin berhembus melewati mereka, membuat tubuh Linda menggigil kedinginan. Dengan sigap Hyun Jae memasangkan jubah hangat untuk Linda sebelum wanita itu menyadari apa yang dilakukannya. Dia merasa terharu dengan perubahan Hyun Jae. Tak menyangka laki-laki itu bisa seperti itu.

Yang diketahuinya dari Hyun Jae hanyalah sisi keras dan kejam laki-laki itu. Dia begitu arogan dan sombong, tak bisa berbelas kasihan pada orang lain. Namun setelah memperhatikan kebaikan-kebaikan Hyun Jae pada dirinya selama tiga bulan belakangan, Linda merasa kebencian dalam hatinya perlahan-lahan sirna dan digantikan oleh perasaan hangat dan merindu pada laki-laki itu.

Dia akan selalu menantikan kedatangan Hyun Jae untuk menyuapinya, untuk menemaninya mengobrol meski dia tidak pernah menyahut perkataan laki-laki itu. Linda memiliki hobby yang baru beberapa lama ini diketahuinya. Dia suka melihat Hyun Jae saat laki-laki itu berbicara. Seolah dia sedang mencurahkan isi hatinya pada Linda. Wajah laki-laki itu begitu damai saat dia bisa mengeluarkan isi hatinya, meski yang dia bicarakan hanya seputar masalah pekerjaannya dan hal-hal yang sebenarnya membosankan bagi telinga Linda.


Namun tidak, dia tidak bosan. Sesuatu dalam diri laki-laki itu kini telah mencuri perhatiannya. Linda mengagumi sisi lain Hyun Jae yang baru kali ini diketahuinya.

Eleventh Drama - Chapter 18 
Eleventh Drama - Chapter 16 

25 comments:

  1. Replies
    1. sweey dnk cin.. ehheheh
      @fathy : siapa yg dipilih?

      Delete
    2. aku tetep mas jae dung mba shin hehehehe

      Delete
  2. horeeeeeeeeeeee linda jatuh cinta sama jae,,,,
    jung jangan berni deka2 linda yah,,,,
    nti klo ada apa2 sama linda itu salah dirimu bukan jae :P

    ReplyDelete
  3. So sweet..<3<3

    D tnggu klanjutanny..:d

    ReplyDelete
  4. Lindaaaaaaa... ternyata diam2 mulai cinta ya Hyun Jae..
    malu2 tapi mauu..
    malu2 kushiiiiiing... :D

    makasih mbak Shiiiiiinn

    ReplyDelete
  5. jatuh cintakah linda sama hyun jae?
    hyun jung udeh ye di inggris aje sana kagak usah ganggu lgi hyun jae sama linda

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... kita tunggu kisah selanjutnya..

      Delete
  6. Yeaaaayyyyyy,,,akhrnyaaaaaaaaa...
    N brhrap pake sangaatttt pas dy udh pulih bkln milih Hyun Jae bkn Hyun Jung...
    Mksh Mba Shin...

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. gitu doank??? arghh... kyaaa...!!!

      Delete
    2. Iyah,,,gitu adja,,,
      Kalimatku dagh ke ucap smua diatas,,,hahahhahahahaa

      Delete
  8. Wuaaah...co cuit sekale mbak..
    Baca ini di kampus,,cengar cengir sndiri,di ketawain temen2,,hadeeehh,,

    Mreka akan bersatu kan mbak??

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhahahaha... wah wah.. jgn sampe dikira gmn gmn ya sist krn cengar cengir sendirian. lol.

      untuk pertanyannya kita tunggu bersama ya jawabannya ^^

      Delete
  9. Aku turut berbahagia untukmu mbak shin..
    Eh salah, jae mksudnya dah tring tring lagi ma linda :-)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.