"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, January 4, 2013

Eleventh Drama - Chapter 18



Linda telah kembali kekamarnya, berbaring diatas ranjang dan memejamkan matanya. Dia tertidur dikebun dan Hyun Jae membopong tubuhnya dari atas kursi roda dan membaringkannya diranjang. Matanya menatap sendu pada wajah Linda yang sedang tertidur pulas. Ingin tahu apa yang dimimpikan oleh wanita itu saat tidurnya.


Hyun Jae melirik jam tangan rolex yang terpasang dipergelangan tangan kirinya, jam tangan berlapis emas milik ayahnya yang diwariskan padanya. Sudah pukul dua belas siang, dia harus mengurus beberapa pekerjaan dan bertemu dengan beberapa klien. Dia tidak dapat menemani Linda makan siang hari ini. Ketika hubungan mereka mulai membaik, dia justru tak dapat menemani Linda. Dengan sedih Hyun Jae keluar dari kamar itu menuju mobil Mercedes Bens yang telah menunggunya untuk membawanya ke kantornya.

Saat waktu makan malam tiba, Hyun Jae belum juga kembali dari pekerjaannya. Dia mungkin tak akan pernah tahu, Linda menunggu kedatangannya di kamarnya. Menunggu laki-laki itu untuk menyuapinya lagi setelah siang itu dia tak juga menemaniya. Linda merasa hatinya kesepian bila Hyun Jae tak ada disisinya. Terasa hampa, terasa kosong bila dia tak merasakan kehadiran laki-laki itu disampingnya.

Hyun Jae akan selalu ada menemaninya, bahkan ketika Linda telah terlelap, Hyun Jae akan dengan setia menemaninya walaupun dia akan sibuk dengan pekerjaan yang dibawanya kerumah, kemudian laki-laki itu akan terlelap di atas meja kerjanya dan Linda akan diam-diam memperhatikan wajahnya yang terlelap tanpa beban.

Linda senang memperhatikan wajah pulas Hyun Jae. Laki-laki itu begitu tampan, air muka dingin yang dulu selalu dia tampilkan diwajahnya kini perlahan-lahan mencair, dia sudah banyak tersenyum, meskipun setengah dari senyumnya itu hanya berupa senyuman miris karena penolakan Linda selama tiga bulan belakangan ini.

Linda mencoba untuk mengusir Hyun Jae namun laki-laki itu selalu kembali padanya dengan wajah tersenyum dan ketenangan luar biasa, tak terpengaruh oleh tatapan sinis yang disorotkan oleh mata Linda. Dia bahkan tidak pernah mengeluh kelelahan karena menemani dan meladeni kebisuan Linda yang pasti membuatnya frustasi, namun Hyun Jae mampu menjaga wajahnya agar tak menampakan isi hatinya diluar.

Dia tak ingin Linda tahu betapa tersiksanya dia tak bisa memeluk wanita itu dan menghiburnya dalam pangkuannya untuk menghapus segala luka yang pernah diberikannya pada Linda.

Linda menghabiskan makanannya dalam kebisuan. Meminum obatnya dalam kesunyian. Telinganya mencoba menangkap setiap suara derap sepatu yang berjalan menghampiri kamarnya. Mencari suara yang sangat dihafalnya setelah dua bulan berada dirumah ini.

Namun hingga matanya terserang kantuk dan terlelap akibat pengaruh obat yang diminumnya, Linda tak juga mendengar suara langkah kaki yang dirindukannya itu.

Barulah ketika keesokan harinya Linda membuka matanya, dia menangkap sosok Hyun Jae sedang menghisap cerutu di kursi malasnya yang terletak disisi jendela. Laki-laki itu sangat suka duduk disana sambil melemparkan pandangannya menerawang ke arah luar.

Dia telah terbiasa dengan pemandangan para pelayan memandikan Linda di depan matanya. Dia tak akan mencoba untuk mencuri pandang pada tubuh Linda yang terbuka, namun kali ini Hyun Jae mengatakan sesuatu yang mengejutkan wanita itu.

“Kamu mau mandi di bath tub? Selama ini mereka hanya membasuhmu. Dokter mengatakan luka ditubuhmu telah sembuh, jadi kamu tak usah khawatir akan ada luka yang terbuka. Kamu sudah bisa mandi didalam air” matanya menatap mata Linda.

Tak ada emosi dimata itu, dia mengucapkannya seolah Linda hanyalah seekor binatang yang biasa dia mandikan setiap hari. Seolah dia tidak akan bergairah melihat tubuh telanjang wanita itu.

Linda merasa hatinya perih, meskipun Hyun Jae pernah memperkosanya, memaksa menyetubuhi tubuhnya dengan kasar, hanya laki-laki itulah yang pernah melihat tubuh telanjangnya. Bagi Linda, Hyun Jae adalah laki-laki pertamanya, dia tetap akan terangsang melihat tubuh telanjang laki-laki itu.

Namun saat mengetahui tak ada reaksi apapun di mata Hyun Jae ketika dia mengatakan ide itu, Hyun Jae telah melukainya. Membuatnya merasa kecil hati karena laki-laki itu ternyata tidak menginginkannya lagi. Dalam hati Linda, dia merasa Hyun Jae tidak tertarik padanya lagi setelah berhasil merasakan keperawanannya. Mungkin dia sudah tak sanggup membangkitkan nafsu laki-laki itu.

Dengan sedih Linda menggelengkan kepalanya. Tak ingin menerima ide Hyun Jae yang dirasanya merendahkannya. Namun kali ini Hyun Jae tidak menerima penolakan. Dia yang biasanya lemah lembut pada Linda kini berbeda 180 derajat. Dengan gemas dia mematikan cerutunya dan berjalan mendekati Linda. Menghampiri ranjang tempatnya masih berbaring.

“Siapkan air hangat” perintah Hyun Jae pada pelayannya.

“Kamu akan mandi hari ini, Lin. Aku akan memandikanmu” suaranya bergetar saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Linda menatap wajah Hyun Jae, laki-laki itu memandangnya intens.

Linda kini dapat melihat wajah asli Hyun Jae, topengnya telah dia lepaskan. Linda dengan jelas melihat gairah yang menyala-nyala di dalam mata coklatnya yang gelap. Degup jantung Linda semakin kencang, menyadari letupan gairah diantara mereka yang selama ini tak pernah Hyun Jae keluarkan di permukaan. Dia begitu pintar menjaga ketenangannya. Namun tidak kali ini.

Pelayan memberitahukan Hyun Jae bahwa bath tub telah siap, setelah melepaskan seluruh pakaian Linda, Hyun Jae membopong tubuh telanjangnya ke dalam kamar mandi, menurunkannya dengan perlahan ke dalam bak mandi.

Linda menghela nafas panjang saat air hangat meraba tubuhnya. Dia memejamkan matanya merasakan hangat air pada tubuhnya. Saat membuka kembali matanya, Hyun Jae telah bertelanjang dada di depannya, berdiri dengan angkuh, menatapnya tajam.

Baru kali ini Linda dapat melihat dada bidang laki-laki itu, kulitnya yang putih bersih, perutnya yang kokoh, lengannya yang kuat, lalu mata Linda menangkap sebuah tato lambang keluarga Choi di atas dada kiri laki-laki itu.

Seluruh keturunan laki-laki dari keluarga Choi pada usia lima belas tahun wajib memiliki tato itu pada tubuhnya. Tato itu telah berada disana selama lima belas tahun dan tak pernah pudar dikikis waktu.

Hyun Jae membiarkan mata Linda mengembara pada tubuhnya, dia dengan sengaja memperlihatkan dadanya yang telanjang pada Linda. Meski dia beralasan pada dirinya agar pakaiannya tidak teciprat air saat hendak memandikan wanita itu, namun hati kecil Hyun Jae ingin melihat reaksi Linda saat memandang tubuh telanjangnya.

Kemudian Hyun Jae berlutut disamping bath tub. Tangannya menjangkau sabun cair yang digosokannya pada kedua telapak tangannya, membentuk busa-busa harum yang akan digosokannya pada tubuh Linda.

“Berhenti..” Linda menahan nafasnya, membelalak pada tangan Hyun Jae yang bersiap menempelkan busa-busa itu pada lengan Linda.

“Kamu akan menggosokannya pada tubuhku?” tanya Linda cemas.

“Apa kamu lebih suka aku menggosokannya pada bagian tubuhmu yang lain?” tanya Hyun Jae, matanya melirik pada bagian payudara Linda yang sebagian tertutup batas air bath tub.

Refleks wanita itu menutupi dadanya dengan kedua tangannya.

“Tidak. Maksudku, aku bisa melakukannya sendiri..” mukanya memerah akibat ucapan Hyun Jae padanya sebelumnya.

Hyun Jae hanya diam tak bersuara. Tanpa basa-basi, dia menarik lengan Linda dan mengusapkan busa-busa itu pada lengan wanita itu dan menggosok-gosokan tangannya secara perlahan. Linda tak berkutik setelahnya, membiarkan Hyun Jae meraba tubuhnya dengan kedua tangannya yang dipenuhi busa.

Dia akan berlama-lama disuatu tempat, meski mereka berdua tahu tempat itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dibersihkan.

Linda menahan nafasnya saat tangan Hyun Jae merangsek kebawah dadanya, mengelus payudaranya yang kini mengeras pada pucuknya setelah tersenggol oleh jari tangan Hyun Jae yang sengaja dia sentuhkan disana. Wajah Linda memerah dan panas, bukan karena pengaruh air hangat yang terlalu panas. Tapi gerak tangan Hyun Jae pada tubuhnya membuatnya tak mampu menahan gairah yang muncul dalam tubuhnya.

Dia mendesah tertahan saat Hyun Jae menyentuh daerah kemaluannya dengan tangannya, mengelus pahanya yang mulus di dalam air hangat yang kini terasa panas oleh gairah mereka. Hyun Jae dengan sengaja berlama-lama disana, meraba-raba permukaan kemaluan Linda dan menggoda daerah itu dengan sentuhan-sentuhan nakal yang menyentakan seluruh tubuh Linda dengan aliran listrik tinggi dan mematikan.

Barulah kemudian ketika dia tak sanggup lagi menahannya, Linda menarik kepala Hyun Jae mendekati wajahnya. Mulut mereka bersatu dalam sebuah ciuman terpanas yang pernah dirasakan Linda.

Hyun Jae merangkum wajah Linda, menangkupkan tangannya pada pipi Linda saat mereka berciuman. Mulutnya dengan rakus memagut bibir Linda dan menciumi semua bagian bibirnya, pipinya, dagunya dan kembali lagi menguasai bibirnya dengan lebih rakus.

Saat bibir mereka terpisah, bibir Linda telah bengkak dan panas oleh ciuman bibir Hyun Jae. Dia merasakan bibirnya itu kebas berdenyut-denyut seperti habis disengat lebah. Begitu panasnya ciuman mereka hingga Linda menginginkannya lagi.

Dia pun menarik tubuh Hyun Jae, mengalungkan tangannya pada leher laki-laki itu dan menciuminya dengan mesra. Kini lebih perlahan, dia ingin mengecap rasa bibir Hyun Jae untuk pertama kalinya. Dia tidak pernah benar-benar bisa merasakan bibir laki-laki itu sebelumnya. Kenangan percintaan mereka sebelumnya tak bisa disamakan dengan percintaan mereka kali ini.

Kali ini, mereka melakukannya tanpa kekerasan, tanpa paksaan, mereka sama-sama menginginkannya.

Para pelayan mengundurkan diri dari sana dan menutup pintu kamar itu setelah menyampirkan handuk kering pada kursi dimana Hyun Jae biasa menunggu Linda dibasuh.

Hyun Jae pertama mengangkat wajahnya dari ciuman mereka. Dengan serak dia bertanya pada Linda.

“..Apakah..aku akan melukaimu bila kita melakukannya, Lin..?” katanya pelan.

Linda menggelengkan kepalanya, sejujurnya dia tidak tahu. Namun dia menggelengkan kepalanya, dia menginginkannya juga. Dia menginginkan Hyun Jae berada didalam tubuhnya, memberikannya kepuasan tanpa paksaan, menyentuhnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bukan secara paksa yang tak ingin dirasakannya lagi.

“Ya..Tuhan.. Aku begitu menginginkanmu. Sialan!” Hyun Jae frustasi. Dia tak yakin akan perbuatannya. Dia tak ingin menyakiti Linda sama sekali.

Bila dia melakukannya dengan wanita itu, akankah dia menyakiti tulang punggungnya? Sedikit gerakan tak wajar pada tubuh Linda akan membuat wanita itu menjerit kesakitan, dan Hyun Jae tak pernah bermain cinta dengan lembut sebelumnya. Mungkinkah dibawah sadarnya dia masih ingat untuk memelankan gerak tubuhnya yang intens saat memasuki tubuh Linda? Dia tidak tahu, dia tidak berani menebaknya.

Mungkin dia harus puas hanya dengan menciumi bibir Linda. Dia akan melakukannya perlahan, sampai wanita ini sembuh, dia akan bertahan. Dia pasti bisa bertahan, kan? Hyun Jae pun meragukan dirinya sendiri. 

Eleventh Drama - Chapter 19 
Eleventh Drama - Chapter 17 

34 comments:

  1. OMG,,bath scene skalian bgituan???

    i loph u so mad sistah,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. eyke nglompat bacanya sistah....hhhehehehheeheeheehe

      Delete
    2. walah kyk kodok nih lompat2 ahahahha

      Delete
    3. kodok??? cakep ga kodoknya???

      ntar bakal berubah ga jadi pangeran charming??

      Delete
    4. kan kamu kodoknya sist.. berubah ndak ntr km? wkkwkw :peace:

      Delete
  2. aduh,nanggung bgt.mba shin mw lg dunk,udh dag dig dug,eh blm gol.more :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan udah gol kapan hari.. ahhahaha

      Delete
    2. gol yg kmrn gak bgs mba,,,
      bikin yg bgs nya dong hehehe

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. aihhhh kentaaanggggg hahahha....
    eemmmm......(mencoba mengalihkn perhatian) *abaikan*

    ReplyDelete
  5. omagot #rada alay mba dikit hhe
    panas mba suer deh. Dari td siang dikasih yg bkin panas terus sama mba shin hha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. jgn lupa mandi sist.. kasian tuh tubuhnya kebakar panas2 mulu...

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. leli demam? hehehe
      mba shin monggo dikasih obat,,,

      Delete
    4. cukup wedang jahe aja mba hoohoho

      Delete
  6. mba,,,,
    aku cinta sama ini, aku suka akhirnya linda mengakui keberadaan jae,,,
    mba love u so much,
    hopely hyun jung mw menerima dengan lapang dada...
    jung mau sama aku gak??
    wkwkwkwkwk
    *desperado krna jae dh ma linda

    ReplyDelete
  7. mba shin n mba fathy : saya udah mandi mbak.. Saya sukanya bajigur mba bukan wedang jahe hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah.. udah mandi ya cin?? aku belum nih ^^

      Delete
  8. udah dommg mba tadi pagi. Kalo skrng mah belum bru pulang kerja hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dong mba bukan dommg terlalu semangat ngetiknya. Hhe

      Delete
    2. leli semangat sekali,,,,,
      y dah nti aku kasih deh bajigur, mau banyak apa dikit??

      Delete
    3. mau donk bajigur :bajigur apaan yak?:

      Delete
    4. sini mba k jakarta,,,
      enak itu minumannya tpi dah jarang yang jual,,,,

      Delete
    5. jauh amat sist buat nyari bajigur doank hee...

      Delete
    6. mending ke tasik aja mba yang dagangnya di deket lho sama rumahku *malah lebih jauh harus ke tasik hha*

      Delete
  9. iya mba fathy aku semangat bnget nih nungguin chap selanjutnya dipublish sama mba shin hha
    yg bnyak mba bajigurnya. Biar anget disini lgi ujan mulu.. Hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wewwww,,,
      abang bajigurnya lgi libur neng

      Delete
    2. yah mba.. sini deh aku beli sendiri bajigurnya. uang nya mba transfer ke rekening aku hha

      Delete
  10. salam kenal mbak shin...moga2 hari ini ada yang posting lanjutannnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal jg sista Zhuzhy.. ada kok. ntr agak maleman ya cin.. :mwah:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.