"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, January 14, 2013

Engagement Bliss - Short Story



Lia memacu mobilnya dengan kencang menuju jalanan perkotaan yang ramai. Sesekali tangannya mengusap air matanya yang mengalir deras, mengganggu pandangan jalan di depannya. Dia berusaha menghentikan tangisannya yang mengganggu konsetrasi mengemudinya. Bus, mobil dan kendaraan bermotor yang lalu-lalang dengan cepat sewaktu-waktu bisa dihadangnya bila dia tidak menenangkan emosinya.


Dia baru saja memergoki tunangannya Enrico sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita di dalam kamar apartemennya. Dengan kunci yang telah dimilikinya sejak mereka bertunangan setahun yang lalu, Lia bebas keluar masuk apartemen Rico. Hanya saja dia tak menyangka akan menemukan pemandangan itu di siang bolong, saat untuk pertama kalinya dia bersedia berkunjung ke apartemen laki-laki itu. Sejak pertama mereka ditunangkan.

Itupun hanya karena perintah ayahnya lah yang memintanya untuk memberikan sebuah amplop yang berisi surat penting kepada Rico, Lia bersedia datang kesana. Selama ini dia selalu menghindari laki-laki itu dan tak ingin hanya berduaan dengannya meski dalam ruang publik terbuka. Lia merasa tak nyaman berada disamping Rico. Laki-laki itu membuatnya merasa gelisah, dengan cara yang tak dikenalnya.

Sebuah sedan Ferari merah menyalip disampingnya, memotong jalur di depan mobilnya dan dengan terpaksa Lia menginjak pedal remnya keras-keras hingga tubuhnya terguncang ke depan. Dia beruntung masih ingat memakai sabuk pengamannya, bila tidak, mungkin tubuhnya akan membentur kemudi dan membuatnya terluka.

Karena air mata yang masih membasahi dan menyamarkan pengelihatannya, Lia tak mengenali laki-laki yang menarik tangannya keluar dari mobilnya. Dengan putus asa Lia menghapus air matanya, berjalan dengan terseok-seok mengikuti laki-laki yang berjalan di depannya, mencekal lengannya dan tak berencana untuk melepaskan lengan itu.

“Lepaskan! Apa yang kamu mau dariku!” teriak Lia putus asa. Dia mencoba membuka cekalan tangan yang kuat itu dari tangannya, dia tak berhasil dan justru hanya melukai pergelangan tangannya yang kini telah memar kemerahan.

Mobil-mobil dan kendaraan dibelakang dan samping mereka telah membunyikan klakson dengan marah, memaki dan mengumpat skenario yang dilakukan laki-laki itu dan Lia.

“Woe! Cepat singkirkan mobil kalian! Dasar orang kaya congkak!” maki seorang pengendara sepeda motor kesal.

Laki-laki yang sedang menarik Lia itu mendongak dan menatap tajam pada pemilik suara tadi, alhasil yang ditatap langsung mengkerut ketakutan. Laki-laki itu terlihat menakutkan karena amarahnya yang berkobar. Entah apa yang telah membuatnya marah.

Karena Lia meronta dan memukul tanpa henti, laki-laki itupun menarik tubuhnya mendekat, menempelkan tubuh mereka dan menatap Lia dengan tajam. Lia merasa bulu kuduknya berdiri, dia tidak merasa bersalah namun tatapan laki-laki itu membuatnya berada dalam posisi itu, padahal dialah yang bersalah.

Meski mereka hanya ditunangkan dan tidak ada perasaan cinta yang bermain disana, Lia tidak pernah berniat untuk bermain api dibelakangnya. Laki-laki yang menatapnya dengan tajam didepannya itu, tunangannya, Enrico Valerio Atmaja. Dialah yang bermain api dibelakang Lia.

“Bila kamu masih bergerak dan meronta, aku akan membuatmu malu di depan orang-orang ini” Rico terdengar sangat marah, tetapi Lia tak mau kalah.

Dia tidak merasa bersalah dan Rico tak berhak untuk merasa marah padanya. Laki-laki itulah yang semestinya meminta maaf padanya. Dan Lia bahkan tidak perduli bila dia meminta maaf, mereka sudah tamat, putus, titik. Karena Lia akan meminta orangtuanya membatalkan pertunangan mereka. Sekarang dia punya alasan kuat untuk membatalkannya.

Dulu alasan-alasan yang diberikannya selalu dibantah oleh ayahnya. Kini, Lia akan menang dan orangtuanya akan mengaku kalah. Dia tak akan menikah dengan Enrico maniak di depannya ini.

“Kamu tak bisa menakutiku, bila kamu berani melakukannya, aku akan melaporkanmu pada polisi!” bentak Lia pada Rico.

Rico merasa bergairah mendengar Lia menantang kekuasaannya disana. Matanya sekilas bersinar senang, meski wajah itu masih sedingin es yang membeku di atas lautan.

“Kamu telah menantangku, Lia. Dan aku menerimanya”

Mata Lia pun terbelalak saat bibir Rico menciumnya dengan buas, di hadapan masyarakat umum yang menonton drama mereka. Massa yang awalnya mengumpat dan memaki marah, kini berteriak riuh rendah, bersiul dan bersuit-suit tinggi, sesekali terdengar suara jepretan kamera yang mengabadikan foto ciuman terlegendaris di kota Surabaya itu, bahkan mungkin di Indonesia.

~~~~

“Sungguh lucu, kamu bilang tak ingin melanjutkan pertunanganmu dengan Rico, kini justru semakin terjatuh dalam perangkap laki-laki itu. Lama-lama aku akan menang taruhan dengan Jordy” Susan, kakak perempuan Lia menggoda adiknya setelah membaca tajuk utama koran lokal pagi itu.

Dengan judul “Pemuda-pemudi dimabuk asmara memacetkan jalanan padat dengan ciuman mereka yang panas membara, ditengah jalan raya” Lia menjadi bahan olok-olokan kakak-kakak dan adik-adiknya.

Contessa Amelia Subrata, anak dari Teddy Subrata, pengusaha garment terkenal di Surabaya yang memiliki cabang diseluruh pulau jawa dan kota-kota besar Indonesia, kini dua puluh empat tahun, sedang mengusahakan kuliah semester akhirnya di Universitas Airlangga, fakultas ekonomi.

Selama enam tahun kuliah disana, Lia sering dianggap mahasiswa abadi, meski pada kenyataannya Lia terpaksa mengambil cuti selama dua tahun setelah terjatuh dari tangga rumahnya dan membuatnya harus beristirahat total selama setengah tahun, sisanya dia gunakan untuk pemulihan dan karena mood belajarnya yang tak kunjung muncul.

Setelah bermalas-malasan selama setahun lebih, kepala Lia menolak untuk menerima pelajaran-pelajaran baru sehingga kuliahnya pun terbengkalai.

Dengan dua orang kakak, satu laki-laki dan satu perempuan dan dua orang adik laki-laki, Lia memiliki sebuah keluarga yang sangat ramai. Ayah dan ibunya adalah pasangan yang unik, mereka ditunangkan saat masih kecil dan beruntung karena cinta perlahan-lahan tumbuh diantara mereka meski pada awalnya ayahnya terkesan cuek dan tak perdulian pada ibu mereka.

Itu hanyalah caranya agar tidak terlihat posesif pada ibu mereka. Namun setelah mereka saling mengungkapkan perasaan, kini mereka memiliki lima orang anak dan itu bukanlah jumlah yang sedikit. Hanya karena kedua adik nya kembar dan lahir dengan cesar baru kemudian ayahnya menghentikan proyek menambah adik untuknya.

Dan setahun yang lalu, pada hari nahas itu, saat Lia baru saja pulang dari kampusnya setelah jadwal pelajaran yang padat dan membosankan, dia dikejutkan oleh ucapan ayahnya yang telah menjodohkannya dengan anak sahabatnya yang baru saja kembali dari Amerika.

Oh, apa hebatnya kembali dari negeri itu hingga ayah begitu terkesima dengan semua gelar yang telah diperoleh oleh calon menantunya. Dan Lia tidak bermaksud untuk menikahinya, dia hanya mengikuti permintaan ayahnya karena pada akhirnya Lia tak akan menyetujuinya.

Dia hanya tak ingin berdebat dengan ayahnya yang cukup keras kepala. Ayahnya begitu percaya dengan kalimat yang dibuatnya sendiri “cinta tumbuh dalam pelaminan” dan Lia akan selalu menutup telinganya saat ayah dan ibunya menceritakan kisah cinta sukses mereka untuk yang ke ribuan kalinya.

Bukannya Lia tidak suka mendengarkan kisah cinta orang tuanya, hanya saja keadaan Lia sangat berbeda dengan kisah orang tuanya. Ayah dan ibunya telah dipertemukan semenjak mereka kanak-kanak, mereka telah memiliki bibit-bibit cinta saat mereka beranjak remaja, dibangku sekolah menengah, bahkan saat mereka kuliah dan mulai membangun usaha garment milik mereka.

Saat menikah pun, ibunya telah mengandung kakak laki-lakinya, Jordy. Dan orang tuanya sangat bangga dengan pencapaian cinta mereka.

“Oh Ibu dan Ayah.. Aku juga akan bangga bila kisah cintaku seindah kisah kalian.. Tapi tidak.. tak seindah itu” teriak Lia dalam hati setiap keluarga mereka duduk-duduk santai dan mengobrol sambil lalu diruang keluarga.

Karena setiap kesempatan berkumpul itu, masalah pertunangan Lia pasti akan disebut. Dan Lia memilih untuk kabur sebelum dia dipaksa untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan Rico. Yang selalu dihindarinya.

Lia tidak pernah menerima undangan laki-laki itu untuk datang ke setiap pesta yang diadakannya. Lia merasa risih dengan kehidupan glamour yang dimiliki tunangannya itu. Walau Rico adalah jebolan negeri paman Sam, tak berarti Lia harus mengikuti seleranya dengan ikut berpesta a la Rico, dimanapun dia mengadakannya karena Lia tak perduli sama sekali. Nothing at all.

“Lia, kamu dicariin tuh, sama Kang Mas mu.. Kang Mas Rico...” goda Susan pada adiknya Lia yang sedang membuat oret-oret tugas akhirnya di sebuah kertas kosong.

“Apa sih? Gak lihat orang lagi sibuk ya? Bilang aku lagi gak ada, gak pengen ketemu dia” jawab Lia malas.

Tapi rupanya Rico telah masuk ke dalam kamarnya dengan tak sopan, dan Lia merasa heran orang tuanya tak melarang laki-laki itu untuk masuk kesini.  

Tanpa suara, Susan meninggalkan mereka dan dengan sengaja menutup pintu kamar Lia. Kalian tak akan ingin memiliki kakak jahil seperti dia.

Lia masih memunggungi Rico, tak memperdulikan kehadirannya di dalam kamar. namun Lia merasa gelisah, sangat gelisah. Pancaran aura laki-laki itu saja mampu membuatnya merasa tak nyaman dan ingin segera kabur dari kamar itu.

Lia tidak menyadari pintu kamarnya telah tertutup, karena bila dia tahu, dia akan panik dan Rico akan menutup mulutnya dan mereka akan berada dalam posisi yang kurang menyenangkan, bagi Lia..

Karena itulah yang terjadi saat ini. Lia menoleh kebelakang, pada Rico, namun matanya tertumbuk pada pintu yang tertutup, mengira laki-laki maniak yang menjadi tunangannya itu lah yang menutup pintu kamar.

Tanpa berpikir panjang, Rico menutup mulut Lia saat dia berteriak keras, agar orang rumahnya tidak masuk kesana dan mengira Rico memperkosanya.

“Kau ingin cari mati, ya? Teriakanmu seperti perawan yang akan diperkosa” Rico mendekap mulut Lia dari belakang, kepalanya disandarkan pada dada laki-laki itu, bahunya dikunci oleh tangan kiri Rico yang kokoh.

Lia menggelengkan kepalanya, tidak pada pertanyaan Rico, namun pada aroma tubuh laki-laki itu yang membuyarkan konsentrasinya. Membuatnya melayang, laki-laki ini memakai parfum yang mampu membuat Lia merasa terbuai dengan aromanya. Atau itu hanya aroma tubuh laki-laki ini?

Lia menggelengkan kepalanya lagi. Menepis pikiran itu. Dia tak boleh tertarik pada laki-laki ini. Mereka tidak akan menikah, tidak, titik, not.

Saat dia mampu mencerna kata-kata yang baru saja Rico ucapkan, pipi Lia merona merah. Dia benar-benar tak bermaksud membuat Rico berpikir seperti itu dengan teriakannya. Dan satu menit lewat sudah, tangan Rico masih mendekap mulutnya, lengan laki-laki itu masih melingkar di dadanya, tubuh mereka yang begitu dekat melekat saling menggemakan detak jantung yang semakin mengencang. Sesuatu sedang terjadi di antara mereka.

Dengan kikuk Rico melepaskan dekapannya dari mulut Lia, namun tanganya masih disana, memeluk erat bahu Lia dan tubuh mereka masih menempel, tak ada yang ingin melepaskan sentuhan fisik yang mendebarkan itu.

Lia merasa wajahnya memanas karena ini pertama kalinya dia bertemu kontak sedekat ini dengan seorang laki-laki. Dan laki-laki itu adalah Rico, tunangan yang begitu tidak disukainya, terlebih setelah Lia menemukannya sedang bercumbu dengan wanita lain di apartemennya.

Demi mengingat hal itu, Lia menyentakan lengan Rico dan berdiri menjauh darinya. Melepaskan kontak tubuh mereka yang diterima Rico dengan sedikit terguncang. Dia rupanya belum siap melepaskan kontak mereka secepat itu.

“Mau apa kamu kesini?” tanya Lia ketus. Dulu dia sebal pada laki-laki ini, karena dia ditunangkan dengannya.

Dan kini Lia ketus pada Rico, karena dia membenci laki-laki seperti dirinya. Pemain wanita. Kategori laki-laki paling menjijikan di dunia, dan herannya dia tidak merasa jijik saat berada dalam rengkuhan laki-laki itu. Wajahnya pun memerah lagi mengingat sentuhan tubuh mereka.

Rahang Rico bergemeretak, dalam usianya yang ke dua puluh delapan tahun, laki-laki itu terlihat lebih dewasa dalam artian sebenarnya, terlihat lebih tua dua tahun. Wajah seramnya tak membantunya terlihat awet muda.

Dan mengapa dia harus memasang wajah seperti ingin menelan manusia bulat-bulat dan bukannya tertawa dan tersenyum seperti pertama Lia melihatnya di pesta itu. Rico terlihat begitu berbeda, tampan, muda, pintar, dan ramah.

Sangat jauh berbeda dengan laki-laki dihadapannya, angkuh, sombong, arogan dan berada dalam kategori sama, karena sebanyak itulah kearoganan aka keangkuhan aka kesombongannya saat berada disamping Lia.

Rico tidak pernah menyapanya terlebih dahulu, laki-laki itu akan diam dan lebih memilih bermain dengan iPhone ditangannya saat mereka mendapat kesempatan yang sangat langka untuk berduaan.

Namun saat dia kembali berkumpul dengan teman-temannya, Lia akan mendapati laki-laki itu begitu ceria, banyak bicara dan percaya diri. Seolah saat bersamanya, Lia hanya membuatnya bosan. Dan sejak saat itu, Lia tidak menyukainya sama sekali. Mencoba pun dia tak ingin.

“Aku ingin bicara” jawabnya dingin.

“Bicaralah. Lima menit, kamu punya waktu lima menit” Lia memangku tangannya, merasa terlindungi bila tangannya berpangku di depan dadanya.

Dia merasa lemah dan terbuka bila tak menutup dadanya meski pakaian yang dia kenakan terlihat sopan dan tak mungkin memancing gairah Rico. Satu hal yang tidak diketahuinya dengan pasti, karena Lia salah besar mengenai hal itu.

“..Lima menit tak akan cukup untuk mengatakan semua yang kusimpan selama setahun belakangan ini. Kamu sudah menghindariku selama ini, lima menit tidaklah cukup untuk membayar semua waktu yang kamu sia-siakan” Rico menggeram marah dan membuat Lia bergidik ketakutan.

Dia berharap orang tuanya atau salah satu anggota keluarganya akan membuka pintu itu dan menolongnya dari amarah Dewa Maut di depannya ini, entah apapun yang akan dia katakan, Lia memiliki firasat buruk.

Lia menelan ludahnya, tak tahu harus menjawab apa. Karena tak ada pilihan lain, karena jalan menuju pintu keluar kamar telah dijaga oleh Rico, laki-laki itu bisa dengan mudah menyambar tubuhnya yang berlari mencoba meraih pintu. Dan Lia pun mengalah. Tapi dia tetap bersedekap dan berdiri, tak ingin duduk di kursinya semula, karena Rico menjulang tinggi disamping meja belajarnya, tidak pula diatas ranjangnya, karena ranjang memiliki konotasi negatif dengan laki-laki di depannya. Maniak seks, panggilan baru Lia untuk Rico.

Laki-laki yang dimaksud menghela nafasnya dengan berat. Mengambil kursi yang tadinya dipakai oleh Lia, menjatuhkan pantatnya dengan frustasi, kursi yang malang.

“Kamu tak akan duduk? Bagaimana kita bisa berbicara bila kamu berdiri seperti patung disana? Duduklah disini” kata Rico sembari menepuk-nepuk ranjang yang empuk.

“Tidak, aku akan berdiri disini” dia tak berani menyingung kata “ranjang” terlalu memancing.

Rico mengepalkan tinjunya, membuka jaketnya dan meyampirkan di atas ranjang. “Terserah kamu sajalah” dia menyerah dengan kekeras-kepalaan Lia.

“So..?” tanya Lia tanpa basa-basi.

“So..? So.. So why don’t you sit down? Damn you, Lia!!” maki Rico. Lia terperanjat saat Rico mengumpat dan meraih tubuhnya dan menciuminya lagi, kini lebih lembut dari yang dia ingat, ciuman pertama mereka.

Lia meleleh dibawah ciuman Rico. Bibir laki-laki itu melemaskan tubuhnya, membuat badannya gemetar dan kepalanya melayang, ringan, seolah tak berbeban.

Saat bibir mereka terpisah, sorot mata sendu dalam mata Rico dan mata Lia tak bisa membohongi apa yang ada dalam hati mereka. Mereka saling mencintai, hanya tak sempat untuk mengungkapkan perasaan masing-masing karena yang satu terlalu sibuk menghindar dan yang satu terlalu sibuk menolak.

Lia sibuk menghindari pengaruh yang Rico berikan padanya, bagaimana dia tertarik pada laki-laki itu saat mereka bertemu, saat Lia melihatnya di pesta itu sebelum para orang tua mengenalkan mereka. Lia telah jatuh hati padanya saat Rico dengan sifat aslinya begitu bercahaya di depan teman-temannya, menguasai pembicaraan mereka dan membuat takjub gadis yang polos ini.

Sedang Rico, penolakannya yang menyakitkan Lia terlebih karena dia tak bisa menahan perasaannya yang meluap-luap untuk gadis itu. Saat pertama melihatnya dengan gaun pesta berwarna biru gelap itu, yang memperlihatkan bahunya yang sedikit terbuka, Lia telah mencuri hati seorang playboy bernama Rico.

Dan sungguh sangat kekanak-kanakan bila kemudian dia memohon pada ayahnya agar menjodohkannya dengan Lia. Memberikan dirinya kesempatan untuk membuat Lia jatuh cinta padanya.

Namun setiap mereka memiliki kesempatan untuk berduaan, Rico semakin tak mampu mengontrol gairahnya. Lia membuatnya tergila-gila. Dan Rico tak pernah tahu bila Lia juga tertarik padanya. Perasaan saling menyangka sebaliknya lah yang menghalangi mereka untuk mengungkapkan perasaan, karena sama-sama terlalu angkuh untuk mengaku terlebih dahulu.

Tapi disini, didalam kamar Lia, dengan impuls Rico telah menciumi bibir gadis itu dengan penuh gairah. Membuka dirinya, melepaskan keangkuhan dan egonya, dan mengaku pada gadis itu, apapun jawabannya, akan diterimanya. Dia terlalu lelah hidup seperti ini. Setahun..siksaan setahun tak mungkin bisa lebih menyakitkan daripada ditolak oleh gadis yang dicintainya.

“Aku mencintaimu, Lia. Apakah kamu tahu hal itu?” tanya Rico pada Lia yang membelalak mendengar pengakuannya.

Lia menggeleng, dia hanya mengira Rico membencinya dan merasa bosan dengan kehadirannya.

“Aku kira kamu membenciku dan tak ingin bersamaku. Kamu lebih senang bersama dengan teman-temanmu. Saat bersamaku..kamu lebih banyak diam dan..mungkin aku membuatmu bosan” jawab Lia sedih. Dia tak tahu harus bereaksi seperti apa pada penemuan barunya.

Lia mencoba mencari tahu bagaimana perasaannya pada laki-laki ini. Dan tiba-tiba semuanya menjadi jelas. Mengapa dia begitu bodoh dan langsung berlari dari apartemen Rico saat melihat laki-laki itu bersama wanita lain, bercumbu dengan panas dan air matanya jatuh dengan deras.

Lia mulai menyadari perasaannya pada Rico. Dia telah jatuh cinta padanya saat melihat laki-laki itu untuk yang pertama kalinya. Di pesta itu..

“Aku mencintaimu, Lia. Sejak dulu. Sejak pesta sial itu. Sejak kamu masuk dengan gaun biru yang memporak-porandakan pertahananku selama setahun lebih bila mengingat dirimu kala itu. Aku selalu dingin saat berada didekatmu, karena aku tak bisa dekat denganmu..tanpa memiliki pikiran untuk mencumbumu” Lia nampak terkejut dengan pengakuan Rico.

“Ya, aku seperti itu. Aku bukanlah laki-laki mesum yang melihat semua wanita dengan itikad tidak baik. Tak pernah aku seperti itu, Lia. Hanya padamulah aku merasakan kegilaan ini. Kamu sudah mencuri hatiku sejak hari itu. Dan kamu membuatku semakin gila dengan penghindaranmu. Aku senang bisa berada didekatmu walaupun aku selalu berpura-pura sibuk dengan handphoneku. Handphone sialan itu telah rusak karena menerima semua pelampiasan kemarahanku saat semestinya aku berbicara denganmu, aku justru memainkannya. Aku bersalah”

Lia memandang tak percaya pada Rico. Wajahnya kini tak seseram tadi, di depannya hanya terlihat seorang Rico yang rapuh, seorang Rico yang letih karena menyimpan semua perasaannya seorang diri dan Lia juga tak membantunya dengan menghindari Rico di setiap kesempatan mereka bertemu. Bahkan undangan-undangan pesta formal dan tak formal yang dia berikan padanya tak pernah diterimanya.

“Tapi.. Aku melihatmu siang itu dengan wanita lain..” bisiknya lirih.

“..Aku tahu, aku minta maaf Lia. Dia..adalah mantan pacarku, yang tak terima karena aku memutuskannya. Dia telah mengembalikan kunci apartemenku, namun rupanya dia mempunyai kunci yang lain yang telah diduplikatnya. Aku tak tahu dia akan muncul disana siang itu, dan..dia melemparkan tubuhnya. Kamu melihat pada saat yang tidak tepat. Aku tak pernah ingin menyentuhnya, Lia. Aku.. aku sedang mengusirnya saat dia mencoba menciumku dan kamu muncul dari balik pintu..” Rico menyisir rambutnya dengan gemas.

Kini dia duduk diranjang, merasa cukup frustasi dan kebingungan. Dia tak ingin Lia salah paham padanya, terlebih masalah dengan mantan pacarnya. Dia tak menduganya sama sekali.

“Kamu..tidak berbohong kan?” tanya Lia ragu-ragu. Dia ingin mempercayai Rico, tapi merasa kenyataan dihadapannya terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

“Demi Tuhan, Lia. Aku akan bersumpah atas nama ibu dan ayahku. Aku tak berbohong, semua yang aku katakan benar adanya. Tanyakan saja pada orang tuamu. Mereka.. mereka menyetujui perjodohan ini karena mereka tahu aku adalah laki-laki baik yang pantas menjadi menantu mereka..”

“..Kamu terlalu sombong, aku tak suka” kata Lia sebal. Dia memunggungi Rico demi mendengar jawaban laki-laki itu. Namun sebuah senyum manis tersungging diwajahnya.

Rico bangkit dari duduknya, mengacak rambutnya hingga berantakan. Bingung dengan dirinya, setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu membuat Lia marah. Dia pun menghela nafas, pasrah dengan nasibnya bila gadis itu memutuskan pertunangan mereka.

“..Jadi.. kita tak ada harapan lagi, Lia?” tanya Rico lemah. Wajahnya menunduk, merasa begitu sedih.

Dia tak akan bisa melihat Lia lagi. Dia tak akan bisa mencuri-curi pandang pada gadis itu lagi saat keluarga mereka berkumpul atau saat mereka berada dalam ruangan yang sama. Dia tak akan bisa menyapanya lagi. Dan dia tak akan bisa ceria lagi, karena Lia lah yang mampu membuat hari-harinya ceria. Bila Lia menolaknya, dunianya akan jatuh dan akan sulit baginya untuk bangkit lagi.

Lia tidak memberikan jawabannya. Hanya berdiri diam membisu, memunggungi Rico yang lemas tak berdaya. Dia pun menyerah, tak ingin memaksa gadis itu lagi.

“Maafkan aku..bila membuatmu sedih selama ini, Lia..” dengan sedih, Rico memungut jaketnya dan bergerak menuju pintu kamar Lia.

Tubuhnya begitu lemas dan tak bertenaga, semangat hidupnya telah hilang. Mungkin dia akan mabuk-mabukan bila itu bisa mengurangi sakit hatinya.

“..Aku juga mencintaimu..” ketus Lia sebelum Rico membuka handle pintu kamarnya. Laki-laki itu membeku tak bergeming disana.

“Aku bilang aku juga mencintaimu.. Kamu tidak dengar?” Lia merengut dan merasa putus asa.

Dia telah membuat Rico menunggu terlalu lama dan laki-laki itu mungkin tak tertarik lagi. Dia merasa tangisnya akan jatuh.

Tapi Rico bergerak secepat kilat mendekatinya, kini mereka berhadap-hadapan, begitu dekat.

“Bisa kamu ulangi sekali lagi?” tanya Rico padanya.

Lia membuka mulutnya, mencoba mengatakan kalimat itu, namun suaranya tercekat. Ternyata jauh lebih sulit mengatakan kata-kata itu saat matamu ditatap begitu tajam oleh orang yang kamu cintai.

“..Aku mencintai..” hanya itulah kata-kata yang terdengar dari mulut Lia.

Mulut itu telah dikuasai oleh mulut Rico. Memagutnya dengan penuh kerinduan, tampak wajah laki-laki itu begitu menderita saat menciumi bibir Lia. Dia pasti sangat menginginkan bibir itu di setiap malam-malam nya yang sepi.

Lima menit kemudian, Rico melepaskan pagutannya dari bibir Lia. Meski merasa belum puas mengecap manisnya bibir gadis itu, namun dia harus. Nafas mereka terengah-engah oleh gairah dan bibir mereka begitu bengkak dan panas. Sepanas gelora asmara dalam dada mereka, yang menunggu untuk disatukan saat akhirnya mereka menikah nanti.


~~~~#@@Tamat@@#~~~~

27 comments:

  1. yaaah mbaa,,cm sebatas cipokan aja niiihh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah maklum indonesia sist... kl bule mungkin aku kasi lebih HOT....

      Delete
    2. Mbakk shinnnn.. D lnjutin aj..:d
      Psti bgus deh..:d

      Delete
    3. hahaha.. ntr musti bikin komflik baru donk cin.. ya ya ya.. kita liat nanti ya, kl emang bs dikembangin, akan kita kembangin ^^. makasi..

      Delete
  2. Wkwkwk....
    rara kurang puas tuh mba shin....

    knpa ga lanjutin dikit lg ya....??

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah dilanjutin dimananya sist??? bagian ehem ehemnya? lol

      Delete
  3. heeemm keyeeen2 mau dilanjutin lagi gk mbg....

    kisahnya susan yg jail,trus sisip khidupan rmh tangganya lia ma akang rico gitu... :)
    ngarep.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaa ndak tahu sist, mgkn ndak... hehehehe... we'll see later ya :D

      Delete
  4. kurang panjang mba. Malah jadi penasaran sama lanjutan hubungan mrk..hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha ini aja 4 jam bikinnya sist.. wkwkkwkww... brp page ya? 20 page kl gak salah nih lol udah panjang..

      Delete
  5. Pengen Πγª lbh hot Shin.. Heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. ntr ya aku posting gambar api.. biar puanass.. wkwkwkwk :peace sista:

      Delete
  6. Mbak shinn.. 11th drama kpan lgi nih?:D

    ReplyDelete
  7. aaaaaaakkkkk... keyeeeennnnn
    (telaaaattt ru smpt bacaaa)
    sukaaaa sama Rico,, sukaaaa sama gayany Lia...
    keyeenn..keyeeennn...
    smpet pnya ide cerita yang sama tapi pnya Mba lebih keyeenn xixixi

    ReplyDelete
  8. wah..ternyata ceritanya haru sesuai dengan budayanya ya....
    heheheheehhe...tapi aku suka kok mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya sist. di indo budayanya belum kyk di western.. jd kl pengen bikin citra baik utk tokohnya, aku belum berani kasiin mereka ML. ahahhahaha sip sip.. makasi ya :D

      Delete
  9. Replies
    1. haahahaha... boleh jg tuh idemu Ren.. :D

      Delete
  10. Ternyata d jodohin tuh gak cuma kyak siti nurbaya ya mbak shin..
    Cerita siti nurbaya tuh ngerusak image bangat dah...
    Termasuk aku..padahal dulu aku dah d jodohin ma cowok guanteng..terpaksa menolak gra" st nurbaya..lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkww... mungkin karena siti nurbaya terkenal duluan sist drpd Engagement Bliss. coba deh kl Engagement Bliss terkenal lebih dulu.. dijamin banyak yg nikah krn dijodohin, malah anak2nya pengen dijodoh2in dah wkwkkwkw...

      wah sayang sekali ya kl gitu.. yah anggap aja belum jodoh sist :)

      Delete
  11. Mbak shin.... aku cinta pd hasil krymu..... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahha makasi banyak sista.. aku jg cinta pada komen2 mu hehehehehe

      Delete
  12. hai mba shin.. Pengunjung baru nii.. Salam kenal ya mbk..

    Story'y keren banget mbk.. Klu dijadiin novel pasti keren.. Diceritain awal mula mereka ketemu smpe malu2 tapi mau hehee..

    Story'y keren2 mba.. Mba suka korea jg ya.. :)
    ttp semangat ya mbk.. Salam kenal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai juga sista.. :D wah, keren kyknya ide itu ya sist?? hehehe.. mgkn setelah VE kelar ini yg akan lanjutin Piter hehehehe... sip sip sip.. salam kenal jg ya sista. jgn kapok2 komen disini ya ehehhehe... n makasi banyak atas apresiasinya :)

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.