"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, January 23, 2013

Looking To You - Chapter 10



Keesokan dan hari-hari setelahnya di kantor aku lewati seperti biasa. Kami tak membicarakan tentang ciuman di depan gereja itu, meski wajah Calley tak menunjukan bahwa dia perduli, namun aku dapat melihat tatapan matanya yang mulai melembut padaku.

Aku belum bisa memutuskan apa yang paling kuinginkan dan bisa kuatasi, Calley.. wanita ini tak mungkin bisa menjadi wanita yang aku harapkan. Maukah dia menjalani hubungan tanpa status dan ikatan denganku? Hubungan yang tak posesif, hanya atas dasar pemenuhan kebutuhan?


“Kebutuhan siapa, Darren?” umpatku pada diriku sendiri saat duduk di depan meja kerjaku. Sudah empat hari berlalu dan aku masih tak tahu apa yang akan aku lakukan terhadap Calley.

Aku tahu wanita ini juga menginginkanku, tapi dia tak mungkin bersedia kujadikan teman tidurku sewaktu-waktu aku menginginkannya. Aku anggap apa wanita selugu dia? Pelacur? Yang biasa kutiduri dengan David setiap akhir bulan?

Kulempar file ditanganku ke atas meja dengan frustasi. Diane terperanjat saat membuka pintuku, tak siap melihat pemandangan di depannya.

Sorry” kataku acuh.

“Rupanya kau sedang banyak pikiran, Darren? Nampaknya refreshing dengan Dave tak banyak membantu?” bibir Diane mencibirku dengan lancang.

“Ya..ya... whatever.. terserah, Diane. Apa yang kau punya untukku hari ini?” tanyaku sambil membenahi posisi dudukku yang tak nyaman.

“Kau akan menghadiri pameran di D.C esok siang kemudian jamuan makan malam di hotel Pearl, jadi kau harus berangkat sore ini dengan jet perusahaan yang sudah menunggumu di landasan Davenport tepat pukul enam sore nanti, dan seperti permintaanmu, Calley akan menemanimu disana dan lusa pagi kalian sudah kembali lagi kesini. Hingga sore ini, hanya sebuah janji makan siang dengan Mr. Truman di Colton Building. Itu saja, Darren” Diane mengintip dari balik buku agenda yang sedang dibacanya.

“Aku sama sekali lupa. Aku belum menyiapkan pakaianku” keluhku. Aku harus bergegas agar bisa mengikuti jadwal yang telah dibuat Diane untukku.

Kau tahu, aku hidup berdasarkan jadwal, meski hanya setengah jam terlewat aku harus mengatur jadwal itu lagi agar kegiatan lain tidak ikut menjadi kacau. Dalam dunia bisnis, kau berpacu dengan waktu. Waktu adalah uang dan mereka benar tentang hal itu.

“Apa kau ingin aku menyiapkan pakaianmu? Aku bisa mampir saat makan siang. Dan aku akan mengajak Calley” Diane menatapku penuh makna.

Aku mendongakan wajah menatap Diane, menangkap arti sorot matanya yang tersirat. Hah? Apa yang Diane pikirkan tentang hubunganku dengan Calley? Apa dia berpikir aku telah meniduri wanita itu? Andai kau tahu, Diane.. Aku bertempur melawan nafsuku tiap hari agar tak menyeret Calley ke atas ranjangku.

“Ide bagus, Diane. Aku mengandalkanmu, kalau begitu aku akan makan siang dengan Mr. Truman dan langsung ke Davenport untuk terbang ke Washington. Hm.. Aku akan tertidur dalam pesawat karena kelelahan” sungutku sembari menyambar jasku yang tergantung di sebuah tempat gantungan jas di sisi rak buku-bukuku.

Diane hanya tertawa renyah mendengar keluhanku. Bibirnya mengerucut mengejekku.

“Usiamu baru dua puluh tujuh, Darren. Dan kau sudah mengeluh seperti pria tua. Kakakmu tak pernah mengeluh meski usianya tiga tahun lebih tua darimu” cibir Diane padaku.

“Ya..ya..ya kau dan kakakku satu team, tentu kau akan membelanya” ejekku. Kucium pipi Diane sebagai ucapan terima kasihku.

“Dan Calley akan membawa bagasiku ke bandara kan?” tanyaku lagi sebelum keluar dari kantorku.

“Yup, dan dia akan membawa dirinya serta. Kau harus menjaganya. Dia masih perawan” Diane menyembunyikan kilatan matanya yang terlihat sekilas.

“..Kau sungguh lucu” balasku. Saat melangkahkan kakiku ke dalam lift, aku bisa mendengar degup jantungku yang berdebar kencang.

“Calley masih perawan? Hell NO! Aku makin tak bisa menyentuhnya. Shit!!” makiku di dalam lift yang membawaku turun ke lantai dasar.

Makan siang bersama Mr. Truman memuluskan langkahku untuk memenangkan tender di Alabama, bila aku beruntung proyek senilai seratus juta dollar itu akan jatuh ke tanganku. Tidak gampang untuk meloby Mr. Truman, hanya satu yang tidak boleh aku abaikan, dia tak suka disuap. Dan aku beruntung mengetahui tentang hal itu.

Aku mendekatinya selama tiga bulan terakhir tanpa henti, istrinya menyukaiku dan memuji kemahiranku, tentu dia pasti membujuk suaminya untuk menerima proposal perusahaanku. Aku tak akan lupa untuk mengundang mereka menikmati makan malam berkesan untuk perayaan hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke tiga puluh sebulan lagi.

Handphoneku berdering saat melangkah keluar dari lobby restoran tempat kami makan siang, Mr. Truman telah mendahuluiku keluar dari restoran ini.

“Halo?” tanyaku, aku tak tahu pemilik nomer baru yang memanggilku.

“Darren? Aku Calley, aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa penerbangan ke Washington sejam lagi, dan aku sudah tiba di Davenport. Semuanya telah disiapkan, jadi kau tak usah khawatir”

“Baiklah. Setengah jam lagi aku tiba disana” akupun menutup pembicaraan kami. Malam ini aku akan terbang ke Washington dalam jet pribadiku, ditemani wanita yang membuat gairahku meledak-ledak? Cobaan apa ini, Tuhan?

Dengan mudah bisa kubayangkan tubuh Calley kubaringkan di atas kursi sofa panjang yang empuk yang dipasang di badan pesawat bagian belakang, jauh dari dua orang pilot yang menerbangkan jet itu. Kami bisa memadu cinta dengan leluasa dibelakang sana.

Aku tak pernah ingin bergabung dalam komunitas mile high club, aku tak pernah berpikir untuk bercinta di dalam pesawat setinggi enam ribu kaki di atas permukaan bumi. Kecuali Calley membuatku bergairah di atas sana.. yang tak aku ragukan lagi. Akankah aku melakukannya di atas sana?

Menghabiskan waktu selama satu setengah jam diatas pesawat tanpa percakapan yang berarti nampaknya sangat membosankan dan pikiranku yang telah teracuni dengan ciuman panas kami di depan gereja waktu lalu bisa dengan cepat tergoda untuk merengkuh tubuh Calley dalam pelukanku.

Semoga Tuhan menyertaiku, aku tak ingin memerawani wanita suci itu. Aku tidak boleh..

Mobil yang mengantarkanku menuju landasan udara Davenport tiba di landasan bagian kiri bandara itu. Sebuah pesawat jet menungguku disana yang dibeli perusahaan setahun yang lalu setelah mengganti pesawat jet yang lama yang telah beroperasi lebih dari lima tahun mengantarkanku ke seluruh penjuru negeri.

Memiliki pesawat jet pribadi menghindarkanku dari delay yang biasa kutemui saat akhir pekan dan hari libur nasional. Sedangkan bisnis berjalan sepanjang waktu, bisnis tak mengenal hari libur.

“Dimana Calley?” tanyaku pada Paul, pilot utamaku yang telah menunggu kedatanganku di samping pesawat.

“Nona Calley berada di dalam pesawat, dia ingin menunggumu tapi udara terlalu kencang diluar sini dan aku memintanya untuk menunggu di dalam” jawab Paul dengan setengah berteriak. Suara pesawat yang lalu-lalang dibandara ini mengikis suara kami hingga hampir tak terdengar.

Aku hanya mengangguk sebelum menginjakan kakiku ke atas tangga menuju pesawatku. Berharap Calley memakai pakaiannya yang seperti biasa sehingga aku tak akan terangsang melihat tubuhnya.

“Kita berangkat lima belas menit lagi, Darren” teriak Paul lagi.

“Kau yang lebih tahu, Paul. Lakukan apa yang seharusnya. Aku mempercayaimu” jawabku.

Kemudian laki-laki itu menghampiri petugas bandara dan berbicara beberapa kalimat sebelum masuk ke dalam bilik pesawat dan bersiap di kursi pilot. Asistennya Jimmy menyapaku saat aku tiba di dalam.

“Malam, Darren? Nona Calley menunggumu di kursi belakang. Aku lupa memberitahukannya tentang kedatanganmu. Semoga dia tidak membenciku” kata Jimmy sembari tertawa kecil.

Aku menaikan sudut bibirku, memberikan senyum masam pada Jimmy.

“Baiklah, kau bisa kembali ke posisimu, Jimmy” aku berjalan ke bagian belakang pesawat, menemukan Calley yang sedang terlelap di sebuah sofa singel, dia nampak kelelahan.

Aku menghampirinya, memasangkan sabuk pengaman pada pinggangnya dan menyentuh bahunya pelan.

“Calley.. Bangunlah” panggilku. Dia kemudian membuka matanya, mengijap-ngijapkan bola mata birunya dengan bingung.

“Darren.. Oh, aku lupa. Maaf aku ketiduran” dia menjadi panik dan hendak bangkit dari duduknya namun lenganku menahan bahunya.

“Duduklah, pesawat akan berangkat sebentar lagi. nanti, kau bisa melanjutkan tidurmu” senyumku untuk menghiburnya.

“Maaf, aku tadinya bermaksud untuk menyambutmu, sofanya terlalu empuk sehingga aku menjadi..terlelap. Maafkan aku, Darren” suaranya pelan, dia merasa bersalah.

Sambil memasangkan sabuk pengaman pada pinggangku, aku tersenyum padanya. Aku mengambil tempat di depan Calley, sehingga kami bisa berhadapan saat penerbangan ini, mungkin aku bisa memandangi wajah damainya saat dia tertidur.

“Tak apa. Jangan terlalu dibesar-besarkan”


Aku bisa merasakan pesawat mulai memutar dan perlahan mengambil tempat di lintasan untuk bersiap-siap mengudara. Deru mesin jet terdengar dari belakang yang mendorong pesawat jet ini untuk mengangkat badannya tinggi di udara. 


37 comments:

  1. Can't wait what will happen in DC,,,,
    Darl',,,,,thanks so much,,,
    Mmmuuuaaacchhh,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah why dont u ask "what will happen in the jet plane??" lol

      Delete
  2. semoga terjadi sesuatu didalam pesawat...

    ReplyDelete
  3. Darren, tahan diri yaa...
    ingeeet, caley masih perawan, jd belum tersentuh...
    hehehe..
    makasih mbak shiiin ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha justru itu merr yg enakkk kata Darren. lol

      Delete
  4. Asek.. Darren dpt perawan.
    Kira2 kpn belah durennya ya?
    Tq mba shin :-P

    ReplyDelete
  5. Hmmmmm...apa yg terjadi berikutnya??saksikan hanya d dramastory..:-P
    tks mba shin

    ReplyDelete
  6. Oh mas darren my darling,Jika kamu ke jakarta aku akan menyambutmu dengan meriah yah kan mba shin ???
    *hahahahahaha*

    ReplyDelete
  7. Thanks sist..
    Kayaknya Calley yg bakal bikin si Darren tobat dech.....hehehehe.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaa iya donk. masak dorothy cin.. lol. insest donkk auhauahuahuha

      Delete
  8. jeng jeng jeng,,,,apa yang akan terjadi selanjutnya,don't go anywhere hehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe.... stay still until commercial break.

      Delete
  9. walau telat tetep hadir, ty hun ! love u ;)

    ReplyDelete
  10. uwaaah mb shiin
    ga sabar nunggu kelanjutannya
    makasih ya mbaa :D

    ReplyDelete
  11. penasaran cerita selanjutnya,,,,cayooo!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah2an besok bisa posting lg ya sist ^^>

      Delete
  12. mba shin...salam kenal yaa, senang membaca semua tulisanmu ataupun comment2mu untuk para readers, feels that u are a nice & warm person...take care mba shin
    # bighug ah
    _bee_

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal jg sist _bee_
      terimakasih atas pujiannya ^^> :jd malu:

      met gabung disini ya sist, semoga betah selalu n bs enjoy bacanya ya. kl ada kritik saran silahkan langsung aja jgn segan2 tulis di guest book ya ^^>

      Delete
  13. Fira hadir kak walaupun agak telat hihihi
    Wow,,,can't wait what will happen in the jet plane :-)
    Beranikah si darren melakukany ?
    Tnda ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.a.. sambil nyanyi2 lagu "leaving on the jet plane.." lol

      Delete
  14. hai hai mba shin semalam ada publish lagi ternyata hhe
    mba, ga kasian sama darren disiksa teyusss ntar dia stress enelan lho hha *nge-alay time* hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. huehuehueue... bialin aja Dallen seteles.. bial tau lasa dia.. lol

      Delete
  15. Tabahkan iman mu Darren... Calley msi lugu aplgi mslh 3some. Heheh.

    ReplyDelete
  16. Tabahkan iman mu Darren... Calley msi lugu aplgi mslh 3some. Heheh.

    ReplyDelete
  17. Baca sampai sini baru inget comment ... *usap keringet wkwkw.... Makasih mba sin saya penggemar anda di wattpad yg ngejar sampai di sini he he he.... Ceritanya bagus2 sich mbak nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah wah salut..salut.. akhirnya terkejar jg sampe sini ya sist? hihihi.. salam kenal ya.. selamat mengarungi blog ini, semoga puass dnegan cerita2nya hahaha.. happy reading aja. jangan sungkan/segan untuk komen, kl pas saya liat pst saya balas komennya. ;)

      makasi :hug:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.