"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, January 24, 2013

Looking To You - Chapter 11



Setelah take off yang mulus, kami pun membuka sabuk pengaman.

“Kau ingin minum sesuatu, Calley?” tanyaku sambil bergerak membuka lemari pendingin di samping tempat duduk kami.

“..Aku tidak biasa minum, Darren” senyumnya meminta maaf.


“..Kau yakin? Wine? Sampanye? No alcohol, well, hanya sedikit.. Tak akan membunuhmu, hanya untuk menghangatkan badan. Ok?” aku menuangkan segelas wine merah untuk Calley, dia menungguku menuangkan segelas whisky untukku.

“Bersulang..ehm.. untuk penerbangan yang menyenangkan” kataku, mataku tak lepas dari wajah Calley. Seperti dugaanku, dia mengenakan pakaiannya yang membosankan itu lagi. Tak apa, aku tak akan tergoda. Dan itu bagus.

Sebuah blazer polos berwarna biru muda, dengan rok terusan sepanjang lutut, dia terlihat tak menarik sama sekali..bagi laki-laki normal lain. Entah mengapa, reaksi yang sama tak ditimbulkannya padaku. Mataku selalu bisa menemukan imajinasi dalam setiap lekuk tubuh Calley yang dipetakan oleh otakku. Otakku yang mesum.

“Ehem.. Bagaimana perayaan itu? Sukses? Aku harap sukses” kataku memulai pembicaraan. Udara terasa sedikit kaku saat aku tak memegang data-data pekerjaan yang bisa aku diktekan padanya sekarang.

“Puji Tuhan, perayaan itu berhasil mengumpulkan dana sebesar US$ 134,000.00. Dan kaulah penyumbang utama malam itu” wajah Calley bercahaya saat membicarakan kegiatan malam amal itu.

Membuatku merasa begitu picik karena hanya memikirkan diriku sendiri selama ini. Diluar sana ada orang-orang seperti Calley yang mendedikasian hidup mereka untuk menolong sesama dengan cara yang mereka bisa. Sementara aku menghambur-hamburkan jumlah yang sama untuk kegiatan yang tak bermanfaat. Mabuk-mabukan? Wanita? Judi?

Well, sesekali aku bermain judi di kasino milik David, meski aku bukanlah pejudi handal, karena aku tak pernah memenangkan uang yang aku hamburkan disana. Hanya untuk kesenangan semu.

“Aku senang mendengarnya. Bila ada penggalangan dana lagi, pastikan kau memberitahuku. Dengan senang hati aku ingin membantu” jawabku tulus. Aku tak berbohong, aku senang bisa membantu..meski setengah alasanku adalah agar bisa selalu dekat dengan Calley.

Aku menuangkan segelas lagi whisky untukku, sementara wine yang Calley minum hanya tersentuh seper-empatnya.

“Kau tak ingin menghabiskannya? Tidak enak? Apa mau minuman lain?” tanyaku.

“Tidak..tidak usah. Aku baik-baik saja. Aku hanya tidak terbiasa minum-minuman seperti ini, kau tahu.. ayahku adalah pendeta dan dia berusaha meyakinkan kami semua bahwa alkohol tak baik untuk tubuhmu”

Aku mencibir ucapan Calley. Pendeta mana yang akan menyemangatimu untuk meminum alkohol dan meracuni tubuhmu dengan zat adiktif itu? Aku benci ceramah yang membosankan, karena aku tahu ceramah itu benar.

“Maaf. Aku hanya..sudah terbiasa seperti ini” kataku pelan. Aku tak ingin Calley menganggapku tak sopan pada ayahnya.

“Oh, tidak..tidak.. Aku tak bermaksud membuatmu merasa tidak enak. Sudah, tak usah kau pikirkan” katanya cepat.

Kami menjadi kikuk satu sama lain, hampir tak ada lagi yang bisa kami bicarakan.

“Diane sudah memberitahumu dimana kita akan menginap?” tanyaku memastikan.

Meski mencari hotel mewah tak susah di Ibukota, namun bila kau tiba disana lewat dari pukul delapan malam, aku tak yakin masih banyak kamar yang tersisa untukmu, terutama di akhir pekan seperti ini. Orang-orang memiliki jadwal bepergian yang sama diseluruh negeri. Apalagi Washington adalah ibukota Amerika, seluruh pengusaha dan politikus dari seluruh dunia berkumpul disini.

“Sudah, dia telah memesankan kita, maksudku untukmu sebuah suite di Hotel The Jefferson” aku menunggu lanjutan kalimat Calley, namun dia tak berbicara lagi.

“Dan kau? Dimana kamarmu?” tanyaku bingung. Apakah Diane melupakan memesan kamar untuk Calley?

“Oh, kamarku di sebuah room VIP, lima lantai dibawah kamarmu” Calley menyeringai. Tak merasa informasi itu perlu dia ungkapkan untukku.

Kenyataannya, informasi itu sangat perlu untuk aku ketahui. Sehingga aku tak akan perlu untuk berpura-pura mabuk dan mengetok pintu setiap kamar di hotel itu untuk mencarinya.

Aku menganggukan kepalaku. Dan suasana kembali sepi. Kulirik jam tanganku, masih satu jam lebih perjalanan, dan aku tak menemukan topik aman yang bisa aku bicarakan dengannya. Aku tak ingin membahas kehidupan pribadi Calley walau aku sangat ingin tahu mengenai kebiasaan-kebiasaannya dirumah atau hal sekecil apapun yang dia senangi. Aku tak ingin terlalu dekat dengannya, secara bathin. Aku lebih memilih untuk lebih dekat secara fisik dengan wanita ini.

“Aku akan menemui pilot, kau tunggu disini” akupun beranjak ke ruang pilot dan menyapa para pilot yang menerbangkan dengan teliti besi baja ini di udara.

“Semua baik?” tanyaku.

“Semua baik dan terkendali, Darren. Kau bisa menghabiskan waktu berharga dibelakang sana sebelum kita mendarat” kata Paul penuh makna.

Aku hanya mendengus dan Jimmy tersenyum simpul.

“Kau salah Paul, dia tak bisa disentuh. Dia bukan kelasku” kataku lirih.

“Apapun yang kau katakan, Darren. Kau lebih tahu itu daripada orang lain” jawab Paul masih tersenyum.

“Ya..ya.. Akan aku tinggalkan kalian memperhatikan angka-angka dan meteran membosankan itu” sungutku sembari memutar tubuhku untuk kembali menemui Calley.

Dia masih duduk di sofanya seperti semula, hanya saja wine di dalam gelasnya telah habis setengah. Aku melewatinya dan berbaring di sofa lebar yang ada dibagian belakang pesawat. Merebahkan tubuhku, meregangkan otot-ototku yang kaku. Aku hampir lupa melepaskan jasku.

“Kau tak ingin berbaring bersamaku disini?” godaku pada Calley saat aku menyampirkan jasku di punggung sofa, melepaskan dasiku dan membuka beberapa kancing atas kemejaku. Memperlihatkan rambut dadaku yang halus.

Calley menggeleng lemah menatap tubuhku. Aku memasang senyum terbaikku, berharap dia akan mendekatiku. Namun tidak, dia masih kaku di atas sofa itu. Hingga aku terpaksa memanggilnya.

“Kemarilah. Aku rasa aku memerlukan tanganmu untuk memijit tengkukku” pintaku.

Dengan enggan Calley meletakan wine nya diatas meja dan menghampiriku. Aku kemudian menelungkupkan badanku di atas sofa, meminta Calley untuk duduk disampingku dan mulai memainkan tangannya yang lembut diatas punggungku. Memijat pelan bahu dan tengkukku yang pegal.

“Sebentar, aku akan melepaskan kemejaku agar pijatanmu lebih terasa. Keluarkan tenagamu Calley. Bila tidak, aku akan menjejalimu dengan makanan saat kita tiba di D.C dan kau tak boleh menyisakan sedikit pun remah di atas piringmu” ancamku.

Calley cemberut, memonyongkan mulutnya mendengar ideku yang tidak masuk akal. Aku melepaskan kemejaku dan meletakannya disamping. Dapat kurasakan kedua tangan gemetar Calley menyentuh pundakku. Rupanya api yang aku mainkan telah mulai membakar gairah kami. Kulit kami yang saling bersentuhan memercikan nyala-nyala api yang semakin berkobar dengan semakin lamanya tangan Calley berdiam di bahuku.

Seolah tersengat dia mengangkat tangannya dari kulitku. Mengepalkan tangannya seakan dia baru saja mencelupkan kedua tangan mungilnya itu ke dalam seember air panas yang mendidih.

Aku memutar tubuhku, kini posisi badanku terlentang. Calley membelalakan matanya melihat dadaku yang kekar dengan dihiasi rambut-rambut halus dari bawah leherku hingga ke batas celana panjangku yang menyembunyikan tempat dimana kumpulan rambut-rambut itu bertemu.

Mungkin Calley tak menyadari arti tatapan mataku yang telah menguncinya. Aku teringat pada saat pertama kali aku memerawani mantan pacarku yang baru saja lulus sekolah menengah. Hadiah kelulusannya..untukku. Bagaimana aku bisa menolak?

Saat itu aku adalah seorang pemuda yang duduk dibangku kuliahan yang sedang tergila-gila dengan seks. Gadis itu gadis yang lugu, seperti Calley. Tapi kami putus setengah tahun kemudian, dia pindah ke California mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan sebagai polisi. Sejak saat itu kami tak pernah berhubungan lagi.

Dalam hatiku aku berbisik.. “Kutuklah aku bila memang aku salah karena menuruti nafsuku pada perawan suci ini..”

Dan tubuh Calley pun mendarat di atas tubuhku. Tanganku merengkuh tubuhnya, memenjaranya dalam tautan tanganku yang mengungkung tubuhnya. Bibirku mencari-cari bibir Calley dan mengulumnya dengan nikmat.

Ah..aku merindukan rasa bibir ini. Mengapa begitu manis dan sempurna, diatas bibir-bibir yang pernah aku cicipi. Bibirnya yang lunak kupagut dan kuhisap tanpa ampun. Membengkakan bibir Calley yang indah.

Dengan sedikit tenaga, aku membanting pelan tubuh Calley hingga berbaring disampingku dan akupun menindih tubuhnya setelah berguling kesamping. Kedua pahaku mengunci kaki Calley, melarangnya bergerak bebas dibawahku. Namun demikian, aku merasa Calley tak berdaya melawanku, melawan apapun yang ingin aku lakukan padanya.


Matanya.. mata Calley.. dia pasrah dalam kekuasaanku. Dan aku merasa sedikit takut dengan kemampuanku. Kemampuan untuk memilikinya, kemampuan untuk menyatukan jiwa dan raga kami saat ini juga. 


42 comments:

  1. Aaaaapa yg akn trjadi selanjut nya mba??? Bkin penasaran..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhahaha ade dehhh... tunggu besok yaa ^^>

      Delete
  2. uwoooooooooo..
    maennya diatas langiiitt...

    mbak shiiiiiinn..
    kenapa ngegantung??
    kasihan si darren disuruh nunggu.. hahahaha
    *peluk erat mbak shin*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha soalnya chapter berikutnya agak panjang mer. kl dijadiin satu ntr kepanjangan ehhehee

      Delete
  3. Whoaaaaaaa,,,,
    Apa yg akan t'jadi??
    Hohohohoohohooo,,,

    *thanks God already read d' Spoiler for LTY chapt 12,,,wkwkwkwk

    Danke Darl',,loph u so much degh.,,,
    Mmuuuaacchhh

    ReplyDelete
  4. berlanjutkah......???? atau tidak....?????
    terpaksa ditunggu aja nih....hikhikhikhik......

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan.. adegannya terpotong.. wkkwkwkwk..

      Delete
  5. kepoooo....brhasil gak yah c daren

    ReplyDelete
  6. mba shin mw nanya...ini tamat di chapter brp?

    maklum tiap x nanya pst nanya tamat di chapter brp....soalnya aq tipikal baca yg kl crt-nya dah tamat spy gk penasaran >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha belum tahu sist.. mgkn chapter 20-an :D

      Delete
  7. ragu lagi hha
    darren darren siksalah dirimu sendiri teyus2an hha *bahasaku mulai gaje*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa.. Darren emang suka menyiksa diri.. lebih suka berfantasy.. lol

      Delete
  8. Aaacchhh.....mbak shin.......plg bs dech nge Cut nya di bagian itu.....ckckck.lagi dong mbak.....plissss......?????*ngerayu smbil kedip2 mata*
    kira2 si darren bakalan ngeGOl gk yaaaaa......????
    *penasaran tingkat tinggi*

    ReplyDelete
  9. wuish om Darren,
    masih perawan tuch si Calley,
    hati-hati ya om. kekekekekeke

    ReplyDelete
  10. Mba shin nanti yang chapter ke 12 pasti warning yah mba shin ????

    ReplyDelete
  11. adegan lgi hot2'x yah di cut,,,ah nda Asyik,,,nda Asyik,,,nda Asyik....bikin penacaran aja nieh....!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. :kabur ah..ntr dijewer...ada yg ngamuk ntar:

      Delete
  12. Uwoooh mn shiin kentang bgt deh
    Hahahahah
    Semangaat terus ya mbaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha mnt kentang goyengnya donk sista. ehhee makasi... ^^>

      Delete
  13. *belly dance dulu sblm baca ! Love u babe ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aw... wanna watch u belly dancing darl.. lol..

      Delete
  14. waaaaa potato chips !!! u r fucking great memainkan emosi dan menjaga alur !! *bow

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah.. u're much better than me darl.. ur story always make me read it in a rush of bloood.. so damn exciting reading ur writing. :hug:

      Delete
  15. Apa yang terjadi selanjuty kak !
    Aduuuh kak Shin bikin penasaran aj nii,,
    Bab 12 y besok pagi yaaa,,,,
    good luck,,buat kak Shin ^^~~^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg terjadi selanjutnya?? ada dehhh... kita simak bareng2 besok sore ya ehehhe.. ^^>
      makasi banyak sista ^^

      Delete
  16. bru bca lngsng kesemsem :)
    mbak ini samapi chapter brp yah ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe makasi sista.. belum tahu lho bakal sampe chapter brp.. yg jelas gk sampe chapter 50 wkkwkwkw

      Delete
  17. HOHOHOHO,,,,calley skrg jadi tukang pijit :) thanks mbk shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe... tukang pijit spesial ne.. spesial pake telur dua heueueuhhue

      Delete
  18. nahhh urs r beta than mine :p *huggggggg

    ReplyDelete
    Replies
    1. then i will take it as compliment from u ^^> thank u Darl...

      Delete
  19. Perang batin ya Darren.... Heheh.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.