"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, January 25, 2013

Looking To You - Chapter 12



Aku tak kuasa melepaskan ciuman bibirku dari bibir manis Calley, meneguk dengan rakus memenuhi dahagaku akan ciuman bibirnya. Nafas kami menderu desah dan debar jantung kami bertalu-talu dibawah dada kami yang menempel.

Perlahan tanpa diperintah, jari-jari tanganku dengan ahli melepaskan kancing-kancing blazer Calley, menguak kain biru muda itu untuk mencari payudaranya yang menyembul dari bra berendanya yang juga berwarna biru muda.


Hari ini Calley memakai warna biru, aku ingin tahu warna apa kain yang membungkus lembah kenikmatannya yang menghanyutkan gairahku dalam denyutan nadi-nadi dalam otot-otot tubuhku yang menegang. Apakah berwarna biru muda, sama seperti warna kain yang kugenggam saat ini?

Bibirku beralih menciumi dagu Calley, mengecup sudut dagunya hingga turun di atas jakunnya yang terlihat samar dari balik kulit lehernya yang mulus. Aku merasa Calley telah meleleh dibawahku, selama ini wanita-wanita yang kugauli selalu memberikan reaksi yang meledak-ledak dan spontan, liar dan berbahaya. Mereka akan memekikkan suara-suara yang menggangguku, hampir mengenyahkan nafsuku pada tubuh mereka.

Namun bersama Calley, cumbuanku diatas tubuhnya begitu sunyi.. Begitu sakral.. Seolah kami melakukan hal ini untuk menyatukan dua jiwa yang telah terpisah ribuan tahun. Begitu tepat.. Hatiku merasa sanggup untuk menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan aku dapati nanti setelah menyatukan tubuh kami.

Hidungku kini tepat berada ditengah belahan dadanya, menghirup wangi melati dari tubuh Calley. Lembut menerpa hidungku, nyaman, menenangkan.. Aku tak pernah merasa ingin melakukannya dengan begitu pelan..

Oh betapa aku ingin melakukannya dengan pelan. Menikmati setiap detik yang kami lewati, menikmati setiap jengkal kulit tubuhnya dengan rabaanku, elusanku, lidahku, kecupanku, pelukanku. Menguasai setiap bagian dari tubuhnya hingga dia tak bisa melarikan diri dariku meski berlutut dan menyembah-nyembah memohon untuk kulepaskan.

Lekuk tubuh kami mengunci bagai puzzle yang disatukan dengan bagian-bagiannya yang hilang, sehingga memunculkan sebuah gambaran sempurna dari penyatuan setiap puzzle-puzzle itu. Tubuh kami yang terpaut.

Dengan nafas menderu menerpa kulit halus Calley, hidungku menyentuh bagian terlunak tubuhnya dibarengi kecupan bibirku yang membasahi permukaan kulit payudara Calley. Kaitan bra berendanya kini telah menggantung, terlepas dari pasangannya oleh tanganku yang kini mengelus punggung Calley dengan rayuan kenikmatan yang kujanjikan untuknya.

Tubuhnya melengkung mendesak wajahku, memerintahkanku untuk mengambil lebih, memberi sebanyak-banyaknya yang bisa kuberikan pada wanita ini. Calley mendesah, melenguh dan mengerang nikmat. Saat lidahku dengan bergairah mencicipi pucuk payudaranya yang mengeras, warna coklat kemerah mudaan pada ujung buah dadanya semakin memudar, membesar.

Lidahku kumainkan disana, memilin dengan pelan puting yang kudambakan. Bagai anak kecil yang mengulum permen lolipop kesukaannya, mencoba menghabiskan dengan cepat hingga tak tersisa lalu dia bisa mengulangi lagi pada permen berikutnya. Itulah yang aku lakukan pada kedua puting Calley yang merona basah oleh salivaku.

Aku merangkak lagi diatas Calley, menyusuri tubuh bagian atasnya, mencari letak bibirnya yang membuka mendesah nikmat untuk kuciumi lagi. Tangan kananku menelusup dalam terusan rok selututnya, menyingkap kain biru itu hingga membuka di atas pahanya. Jari-jariku mengelus pelan belahan paha Calley membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang menggelinjangkan tubuh Calley dibawahku. Kakinya merapat namun kubuka selangkangannya mengklaim kepemilikanku disana.

Dari bagian luar kain yang membungkus daerah kewanitaannya, jari tanganku dapat merasakan betapa basahnya Calley dibawah sana, darahku berdesir mengetahui kenikmatan apa yang bisa kurasakan saat diriku merasuk dalam liang kenikmatan yang sering ku-impikan, milik Calley.

Perlahan tanganku sepenuhnya menyibak kain berenda biru itu dari bawah pusarnya, merapat menempel pada kulitnya yang bergelinjang geli. Tebakanku benar. Kain itu berwarna biru yang sama dengan warna bra yang dia kenakan, warna biru sama dengan blazer dan rok terusannya.

Kini aku tahu, bila esok Calley mengenakan blazer putih, kuning, atau warna lain.. Maka dengan mudah aku bisa menebak warna pakaian dalamnya. Kau begitu mudah ditebak Calley..honey..

“Darren..” bisik Calley padaku. Matanya membuka menatap mataku sayu.

Dia sedang larut dalam gairahnya yang membara. Calley tak mungkin bisa membedakan salah dan benar saat ini. Apakah dia tahu setelah kami melakukannya, aku dengan mudah menghiraukannya seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara kami. Apakah dia bisa menerima hal itu? Sanggupkah “Perawan Calley” menerima laki-laki yang merenggut kesuciannya melenggang bebas tanpa pertanggung jawaban?

Kuberitahukan kau satu hal Calley, di zaman modern seperti ini kau tidak menagih pertanggung jawaban pada laki-laki pertama yang menidurimu. Kau bisa menghujatku nanti, tapi aku..tak akan pernah bersedia menikahimu atau menikahi siapapun. Tidak akan pernah.

Lalu kenyataan lain menyengat kesadaranku. Mampukah aku berbuat seperti itu pada Calley? Calley yang lugu dan polos? Tidak. Aku tak sanggup. Tapi mengapa bibirku justru semakin menekan diatas bibir Calley? Menenggelamkan suara yang mungkin keluar dari mulut manisnya. Tanganku tak ingin pergi dari liang hangat itu yang menarikan jari jariku dengan bebas dibawah sana. Bermain bagai tarian di bawah hujan, jari-jariku basah oleh cairan pelicin yang keluar dari daerah kewanitaan Calley. Menyihir dan menjebakku dalam keinginan yang mendesak.

Mungkin Calley akan membunuhku bila aku menghentikan permainan jariku sebelum memberinya sebuah hadiah yang aku tahu belum pernah dia alami, sebuah pelepasan kelegaan yang nikmat yang akan membuat tubuhnya mendamba lagi dan lagi. Semoga dia tidak kecanduan karenanya. Aku tak ingin merubah wanita polos dan lugu ini menjadi seorang pelacur yang haus seks. Meski akan lebih mudah bagiku untuk membawanya ke dalam apartemenku atau tempat-tempat lain yang pernah aku pikirkan.

Aku memutuskan memperlama kepemilikanku atas tubuh Calley dan menepiskan semua pikiran-pikiran bodoh yang bisa membuatku melepaskan kesempatan emas ini untuk merasakan tubuhnya. Kulepaskan bibirku dari bibir Calley, matanya masih terpejam dan nafasnya memburu. Tanganku telah bergerak menggoda daging kecil di atas bibir kemaluannya dengan permainan jari yang lihai, memutar dan menekan dalam irama yang teratur.

Mulutku mendesis menyaksikan desahan yang semakin meningkat dan mengeras dari mulut Calley. Hanya dengan mempermainkan daerah itu sejenak, perawan ini telah menggelinjang dibawahku.

Tubuhku bergetar, hasrat untuk memandangi daerah kewanitaan Calley begitu membuncah tinggi. Aku bisa membayangkan bibir sempit berwarna merah muda yang telah basah itu berdenyut-denyut mengundangku untuk menerobosnya.

Tapi tidak.. Aku bisa bertahan. Ketakutanku lebih besar daripada keinginanku untuk memerawani Calley. Mungkin aku bisa bertahan sehari lagi, sebelum menghubungi David untuk sesi lain dengan wanita kenalannya. Aku tak mungkin melampiaskan nafsuku pada Calley, terlebih karena wanita ini masih perawan. Aku tak ingin terjebak dalam tanggung jawab yang akan merantaiku dalam ikatan seumur hidup yang tak bisa aku janjikan.

Dengan sebuah tarikan nafas panjang, aku berguling dari atas tubuh Calley. Menginjakkan kakiku di atas karpet, menyambar kemeja putihku dan memakainya lagi. Kulihat pergelangan tanganku dimana jam tangan kulitku kupasang. Kami bercumbu selama satu jam penuh, sungguh mengesankan. Cara yang luar biasa untuk melewatkan satu jam yang membosankan.

Kuputar tubuhku, Calley membelalakan matanya menatapku bingung, sedikit rasa benci dan tak percaya disorotkannya padaku. Aku menarik beberapa lembar tissue dan membersihkan daerah kemaluan Calley tanpa kata.

Dia terdiam menungguku membersihkan kemaluannya tanpa memandangku lagi. Rahangku hanya bisa bergemeretak menahan rasa benciku pada diriku. Bagaimana aku bisa melarikan diri dari percintaan panas yang membakar tubuh kami sampai hangus. Calley tak akan tahu, aku pintar menyembunyikan nafsuku. Selama aku bisa mendapatkan pelampiasanku dengan maksimal.

Kuperbaiki letak rok terusan yang Calley kenakan. Membantunya duduk di atas sofa, tanganku masuk ke bagian belakang punggungnya yang masih terbungkus blazer biru itu dan mengaitkan kembali kawat bra berenda yang tak sempat kulepaskan. Dengan sikap setenang air danau mati, kukancingkan kembali setiap anak kancing blazer Calley dan memandang hasil karyaku dengan kagum.

Aku tak ingin menatap mata Calley. Mata itu ingin membunuhku, mungkin sorot mata lasernya bisa melubangi tubuhku bila dia menatapku lebih lama dengan memusatkan seluruh kebenciannya padaku.

Aku tak tahu, Calley lebih membenciku karena tidak menuntaskan permainan kami atau lebih pada kenyataan bahwa aku memanfaatkannya agar dapat mengecap tubuh telanjangnya dengan percuma. Sehingga frustasi yang aku alami selama hampir tiga bulan ini bisa tersalurkan, meski hanya seujung kecil dari puncaknya.

Calley masih tak ingin memandangiku, akhirnya aku memecahkan kesunyian dengan suara beratku.

“Kita akan mendarat lima menit lagi. Aku akan menemui pilot” kataku.

Semoga Calley berpikir aku menghentikan permainan kami karena kurangnya waktu yang diperlukan untuk sebuah sesi mile high di atas awan.

Sekembalinya aku dari ruangan pilot, Calley telah kembali duduk di sofanya. Dengan santai aku mengambil tempat di depannya, tanpa memperlihatkan sedikit pun bekas-bekas gairah yang masih menggangguku pada bagian selangkanganku. Perlu waktu lebih dari lima menit untuk meredakan desakan gairah yang tak tersalurkan ini. Setibanya di hotel, mungkin aku masih punya waktu untuk mengeluarkan pelepasanku sebelum makan malam bersama Calley. Bila tidak, Darren White akan berubah menjadi Darren Dark. Darren yang gelap mata dan frustasi karena nafsunya tak tersalurkan.

“What a bullshit” sungutku dalam hati.

Sebuah mobil limo mengantarkan kami ke loby hotel The Jeffersons. Calley membisu dalam perjalanan, memandang keluar jendela mobil yang gelap tanpa berusaha untuk menatapku. Dia mengambil tempat paling jauh dariku, dia tak ingin berdekatan denganku. Tak apa. Aku akan memuaskan diriku sebentar lagi. Aku tak akan frustasi lagi malam ini.

Bagasi kami yang tak seberapa diangkat oleh seorang bell boy yang mengikuti Calley ke bagian penerimaan tamu. Calley mengeluarkan tanda bukti kamar yang telah Diane pesankan untuk kami. Namun sedikit keributan terdengar disana. Aku sedang menyesap segelas whisky di meja bar yang ada di samping lobby ketika Calley memanggilku.

“Darren, ada sedikit masalah” katanya murung.

Aku mendekatinya ke meja resepsionis.

“Masalah apa?” tanyaku.

“Kamar yang Diane pesankan untukku telah terisi dan mereka tidak memiliki cadangan kamar kosong lagi untuk malam ini. Besok siang barulah ada sebuah kamar yang tersedia. Tapi.. untuk malam ini, mungkin aku akan tinggal di hotel lain. Kau bisa tinggal disini, aku akan menemuimu besok pagi setelah makan pagi” Calley menjelaskan padaku dengan wajah murung.

Resepsionis meminta maaf padaku, namun aku tak menggubrisnya.

“Tinggal di hotel lain? Dimana kau akan mencari hotel di Washington pada pukul delapan malam, Calley?” tanyaku gusar. Apa dia tidak tahu bagaimana liarnya Ibukota saat malam tiba? Terlebih malam ini menjelang sabtu, akhir pekan.

“Apa kalian tidak punya kamar kosong satupun? Kelas apapun tak masalah” bentakku kasar pada resepsionis itu.

Wanita muda dengan senyum meminta maaf yang tak pernah lepas dari wajahnya berbicara dengan sopan dan meminta maaf untuk kesekian kalinya padaku. Aku tak mungkin membiarkan Calley jauh dariku. Aku tak mungkin melepaskannya sendirian di hotel lain. Bagaimana bila dia bertemu dengan seorang laki-laki yang..yang mungkin akan diundangnya masuk ke kamar hotelnya setelah percintaan kami yang gagal?

Tidak bisa!! Dia tidak boleh melakukan itu padaku! Setan! Aku cemburu.. dan kehilangan akal sehatku, membahayakan hidupku.

“Kau bisa tidur di kamarku. Kamar suite itu luas, kan? Kita bisa berbagi ruangan atau ranjang. Bukan hal yang baru, kan. Atau kau lebih ingin memesan extra bed, bila kau tak ingin seranjang denganku” aku tak mengerti mengapa aku meracau seperti itu. Aku tahu Calley tak akan mau seranjang denganku. Dia membenciku.

Calley tak menjawabku, pertanda dia tak membantahku. Well, 1 extra bed kalau begitu. Untuk Calley Conahan, si perawan tanggung. Akupun menghela nafasku resah.

Bellboy mengantakan kami masuk ke dalam Suite Presiden yang terletak di lantai sepuluh hotel The Jeffersons. Dari kamar itu, kau bisa melihat pemandangan kota Washington dari teras luar kamar dan menikmati pemandangan itu dengan segelas sampanye terbaik yang bisa mereka hidangkan.

Terdapat sebuah tempat tidur lebar dengan empat buah bantal dan selimut kuning emas terlipat rapi dikaki ranjang. Mini bar dengan deretan minuman beralkohol dan sebuah kulkas kecil tempat kau mengambil es batu untuk minumanmu. Meja kerja yang bisa aku gunakan untuk membuka laptopku dan mengerjakan pekerjaan yang tertunda dan membalas email-email yang masuk hari ini, dan mungkin sedikit mencari informasi di internet tentang cara menahan nafsu yang tak bisa dilampiaskan.


Aku tak mungkin melakukan hal itu di dalam kamar mandi, kan? Bisa saja Calley mencuri dengar erangan yang akan keluar dari mulutku saat aku mencapai pelepasanku. Dan akan sungguh memalukan bila dia mendengarnya. 


34 comments:

  1. Mbak..;;)
    Lnjut dong..:p
    Nanggung..
    Great story..:d
    Ap yg darren n calley lkukan jika tdur 1 kmar?;;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha besok ya seperti biasa.. :D

      kl Darren N Calley sekamar tentunya tidur bareng donk ^^>

      Delete
  2. Hmmm,,,,great job, Darren,,
    But,,who knows what will happen in that damn Suite???

    Owh,,,can't wait for next chapt,,
    Sistaaa,,,danke so much,,,
    Hug & kiss for u,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaa who knowwss?? thank you sista.. hug n kiss for u too...

      Delete
  3. Whöa teganya kau bikin calley mendamba darren, tar balas dendam aja calley di hotel wkwkkk biar 1 sama skorna *emang bola* mksh ya mb shin he.he..

    ReplyDelete
  4. Whöa teganya kau bikin calley mendamba darren, tar balas dendam aja calley di hotel wkwkkk biar 1 sama skorna *emang bola* mksh ya mb shin he.he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha biar klepek2 si Darren ya sist? lol sip sip sama2 sista..

      Delete
  5. hhhhhuuuuuuaaaaaa......darren emang hebat....
    sedang berlari kencang eeehhh...bisa langsung berhenti tanpa terseret2....hehehehehehe
    ooohhh....bisa cemburu juga toh darren (dijadikan pasangan ngak mau tapi diambil orang lain juga ngak mau).......wkwkwkwkwkwk.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. haahahah egois itu namanya si Darren sista.. mau make tp gk mau tanggung jawab kl kenapa2.. lol.kyk mobil perusahaan gitu...

      Delete
  6. mba shin aku penasaran sama sudut pandang calley. Bencikah dia diperlalukan kayak gitu sama darren? Suka kah dia sama darren? Intinya penasaran sama perasaannya calley ke darren

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. kita lihat nanti ya, kl cukup menarik mgkn bisa ditulis. lol

      Delete
    2. wah curiga bakalan ada cinta segitiga hha

      Delete
  7. Situasi dan kondisi berpihak pd Darren...
    cihuy.....
    apa yg akan terjadi sodara2.....
    Silahkan lanjutkan mBa Shin.....
    hehehe....

    ReplyDelete
  8. *plak ! Nampar daren

    kau benar2 memuakkan *kt calley

    Wkwkwk mba shin, as always ,,, breatth taking stories hun !! ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkkww...

      thank you Darl.. ^^>

      Delete
    2. my pleasure hun, ;)
      *menderita prahara kentang

      Delete
    3. urs tooo... i really want to know about the kissing in lift.. lol

      Delete
  9. Ternyata akang darren cembokur...hahaha*ketawa licik*
    mbak....munculkan tokoh yg suka sm calley,biar kebakaran janggut tuch...si akang,hohoho....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha tenang tenang.. lg 2 chapter ada kok.. ada tokoh baru yg akan muncul ^^>

      Delete
  10. Wadech... Kuyup kuyup basach...... Hahhaaa
    Lanjutannya aku menanti babe.....
    Makasih .. :)

    ReplyDelete
  11. ga jadi deh ngejebol cally, semoga secepatnya terjadi... semangat darren !!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw... sip sip... doakan semoga lain x Darren berhasil ya sista lol

      Delete
  12. Eee si Darren perjaka tangguh rupay
    Upz,,, slh pria tangguh
    gak bisa ngebayagin perasaany si calley
    Di lecehkan kyk gitu ama si darren
    si darren si y mulai klo gak berani jng di sentuh doong

    Jdi emosi ni kak !
    Lanjuty jgn lama2 yaa,gak sanggup nunggu niii:-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. jiahahahha.... Darren udah gak perjaka lagi kok sista.. wkwkkwkwkw... sip sip sip.. besok ya :)

      Delete
  13. Darren setengah2 deh,,nanggung tuh,,Calley udah terlanjur basah,,,hehehe.
    lanjutkan,,,

    ReplyDelete
  14. Hihiihhiih
    Aiiish~
    Masih bisa nahan jg rupanya si Darren
    Hahhahahah
    Ga sabar nunggu kelanjutannya mb shiiin :3

    ReplyDelete
  15. Kasian Πγª Darren.. Perang batin tahap II .... Heheh.

    ReplyDelete
  16. ohh Tuhan kenapa aku baru bacaa story ini sekarangg. ....
    kak shin aku merasa bersalah nih hahahaha...
    "perawan tanggung" aduhh ngakak bangettt

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.