"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, January 26, 2013

Looking To You - Chapter 13



Aku melewati mandi malam ku dengan tegang. Berusaha membuat suara berisik di dalam kamar mandi dengan menyalakan air shower dengan keras, sehingga Calley tak akan mendengar desahanku saat melayani diriku disini. Calley telah mandi sebelumku, mungkin saat ini dia sedang menonton televisi dan menungguku menyelesaikan urusanku sebelum kami makan malam diluar.

Kau tak akan tahu bagaimana kencangnya debar jantungku saat merasakan ereksi pada kejantananku yang telah menegang keras. Ingin rasanya aku membuka pintu itu dan memperlihatkan ototku yang keras ini pada Calley, memperlihatkan padanya pengaruh yang dia berikan pada nafsuku.

Dengan kencang aku mengurut kejantananku dengan mata terpejam. Sunguh nikmat dapat merasakan gesekan telapak tanganku pada otot yang mengeras ini. Pikiran mesumku membayangkan mulut Calley lah yang sedang mempermainkan kejantananku, sesekali aku akan mendesahkan namanya. Menahan erangan yang keluar dari mulutku terasa sangat menyiksa, begitu nikmat hingga kau ingin seluruh dunia ikut mendengarnya.

Damn you, Calley” sungutku saat puncak kenikmatan itu hampir kurengkuh.

Tanganku bergerak semakin cepat pada ujung kejantananku hingga akhirnya cairan itu keluar dengan deras. Nafasku tersenggal-senggal, aku bersyukur aku akhirnya memutuskan untuk onani, bila tidak mungkin aku tak akan bisa memejamkan mataku malam ini ketika menyadari Calley sedang berbaring pasrah di sisi lain kamar. Hanya berduaan denganku dalam kamar yang luas dan tak mungkin ada yang mengetahui apa yang kami lakukan.

Pikiran itu sungguh menggoda, mampukah aku bertahan malam ini? Aku tak tahu.. Sungguh godaan yang sangat berat. Aku bersandar pada dinding toilet sambil merbersihkan sisa-sisa sperma yang terasa licin menempel pada tanganku. Sedikit kelegaan kini bisa kurasakan, beban gairah itu tak lagi menghimpit seperti sebelumnya. Aku akan tidur dengan nyenyak malam ini.

Atau begitulah yang aku kira. Saat lampu kamar telah dimatikan, cahaya dari jendela kamar memantulkan bayangan lekuk tubuh Calley yang berbaring miring memunggungiku. Extra bed yang ditidurinya diletakan disamping kanan jauh dari ranjangku, Calley berbaring menghadap tembok. Aku bisa melihat dengan jelas tubuhnya yang bergerak perlahan naik turun saat mengambil dan melepaskan nafasnya. Dia telah terlelap dalam tidurnya.

Aku hampir tak bisa memejamkan mataku, dalam hatiku aku menyadari kedekatan kami, meskipun Calley masih memusuhiku karena kejadian di dalam pesawat jet pribadiku tadi. Dia tak banyak bicara saat makan malam kami, hanya sepatah dua kata yang terlepas dari mulutnya saat aku menanyakan beberapa hal yang tak penting.

Dia masih marah padaku. Calley..calley.. apa yang kau inginkan dariku? Bila hanya seks yang kau inginkan, maka aku tak akan segan-segan untuk itu. Namun, aku tak bisa menawarkan lebih dari..seks.. dan akupun memejamkan mataku.

Calley datang dalam mimpiku, dengan gaun putih melambai-lambai tertiup angin saat dia berlarian di sebuah padang lapang. Di atas kepalanya terpasang sebuah mahkota dari bunga melati dan sebuket bunga mawar putih indah dalam genggaman tangannya. Dia tersenyum..

Calley tersenyum bagai malaikat, senyum yang menular pada diriku. Tanganku meraih tangannya, aku bisa melihat dengan jelas lengan jas biruku menggandeng tangan Calley dengan mantap menuju kumpulan orang-orang yang berbaris dan bertepuk tangan memandang kami penuh suka cita.

Ada Paman Thomas dan Bibi Amanda disana, Daniel dan Diane, bahkan David yang begitu dibenci oleh Daniel pun hadir bersama dengan dua orang wanita yang tak aku ingat wajahnya. Dorothy..air mata menetes dipipinya, wajahnya muram, apakah ada upacara pemakaman? Pikirku.

Kemudian ada tetangga kami dulu, Mr. Alberto dan istrinya Camilla, teman lama keluarga Frances dan Lefrand beserta anak-anaknya yang telah remaja. Laki-laki dan perempuan yang belum pernah aku lihat wajahnya dan seorang pria tua dengan jubah pendeta dibelakang altar.

Aku menatap panik pada tangan Calley yang sedang ku gandeng, debar jantungku semakin kencang, keringat dingin membasahi tengkukku, aku merasa badanku menggigil kedinginan, mataku berkunang-kunang dan nafasku tersenggal-senggal, aku tercekat, aku tak bisa bernafas.

Aku tak ingin berada disana, aku tak ingin menikah. Tidak.. tak akan pernah..

“NOOO!!!” teriakku saat terbangun dari mimpi buruk itu. Tubuhku berkeringat dan jantungku berdebar kencang seperti yang kuingat dalam mimpi mengenaskan itu.

Aku harus mengatur debar jantungku agar nafasku tak tersenggal-senggal lagi. Aku bisa merasakan wajahku dingin tak teraliri darah, sepucat dinding putih di sampingku.

“Darren.. Kau tidak apa-apa?” Calley menyentuh lenganku. Aku tersentak, lupa dengan keberadaannya.

Calley melihatku seperti ini! Tidak!! Dia tidak boleh melihatku seperti ini. Tidak ada yang boleh melihatku dalam keadaan seperti ini. Terlebih Calley! Aku tidak boleh terlihat lemah di depan wanita ini.

Tapi tubuhku terdiam, Calley duduk disamping ranjangku, menyeka keringat yang membanjiri pelipis hingga ke leherku. Aku tidur tanpa kemeja, memperlihatkan dadaku dengan rambut tipisnya yang basah oleh keringat. Diane mungkin terlupa untuk memasukan piyama tidurku yang jarang aku pakai.

Bila keadaannya lain, aku akan merasa tubuhku sensual, tapi saat ini hanya ketakutan yang merayapi pikiranku. Tahukah Calley apa yang aku impikan? Tahukah dia apa yang aku takutkan? Aku menatap wajahnya nanar, mencari tanda bahwa dia mengetahui apa yang menyebabkan mimpi burukku tadi. Tidak, dia tidak tahu. Calley hanya tahu bahwa aku bermimpi buruk, yang ditanyakannya kemudian.

“Kau mimpi buruk, Darren” lebih seperti pernyataan.

Aku meringis, tak ingin dia berbicara lebih banyak. Aku tak bisa membuka mulutku, badanku masih bergetar bila mengingat perasaan itu.

“Thanks..” kataku lemah.

Aku tak ingin berdebat dengan Calley, aku tak akan menang. Saat keadaanku seperti ini, aku hanya memberi kesempatan pada Calley untuk mengorek informasi mengenai diriku. Aku tak mungkin mencegahnya, aku sangat memerlukan seseorang untuk ku ajak berbicara mengenai mimpiku, namun orang itu bukanlah Calley. Calley tak boleh tahu.

“Kau tak ingin membicarakannya? Agar lebih lega. Ibuku selalu menemaniku saat aku terbangun dalam tidurku, mimpi buruk. Kau tahu, dengan berbicara dengan orang lain, kau bisa mengurangi beban pikiranmu, bahkan mungkin semua masalahmu akan terangkat” Calley memandangku dengan yakin bila itu bisa membantuku mengurangi trauma masa laluku.

Tidak Calley, kau salah. Tak ada yang bisa membuatku melupakan trauma itu. Mimpi-mimpi seperti ini akan selalu menghiasi tidurku yang nyenyak, kau hanya kurang beruntung karena malam ini kita sekamar. Tak akan ada malam-malam lain dimana kita akan habiskan bersama. Hanya kali ini saja.

“Tak apa-apa, aku hanya bermimpi buruk dan aku sudah melupakannya. Seperti pengusaha yang kehilangan beberapa persen sahamnya. Itu saja” aku berusaha menampilkan senyum terbaikku agar Calley percaya.

“Kembalilah ke ranjangmu, atau bila kau lebih memilih seranjang denganku?” dia akan berlari menjauh bila kugoda seperti itu, kan?

“Mengapa tidak, kurasa ranjang ini terlalu lebar untukmu” jawaban Calley membuat jantungku berdebar kencang lagi.

Aku tak menyangka dia akan menerima tantanganku. Oh, alamat tak tidur semalam lagi karena godaan ini. Keluhku dalam hati.

Calley mengambil tempatnya disisi kiriku, menelusup ke bawah selimut dan memiringkan tubuhnya menghadap tubuhku yang terlentang. Aku tidak berani bergerak banyak, aku tak ingin tubuh kami bersentuhan. Memang efek mimpi buruk itu telah menghilang dari tubuhku, namun bila kami bersentuhan sedikit saja..efek lain akan menguasai tubuhku setelahnya.

Hanya memikirkan berduaan dengan Calley di atas ranjang, Darren junior telah terbangun dari tidurnya yang lelap.

“Kau nakal sekali, Darren Jr. Kau akan membuat kita malu” bentakku dalam hati.

Aku hanya mengenakan celana panjang tanpa celana dalam dibalik selimut ini. Bila Darren junior memutuskan untuk berdiri tegak seperti tower, maka Calley akan melihat tumbukan selimut yang menonjol karena ereksiku.

“Oh, cara yang sangat bagus untuk melewatkan malam” bisikku dalam hati.

“Kau tak tidur? Tak bisa tidur?” tanya Calley disampingku. Aku belum sanggup memejamkan mata ku kembali.

Calley terasa hangat meski tubuh kami tak berdekatan. Aku masih bisa mencium wangi melati dari tubuhnya. Calley mengenakan kemeja putih yang lebih besar dari tubuhnya, sehingga mampu menyembunyikan payudaranya yang ranum, penggoda iman sejati.

“Aku belum terlalu mengantuk. Kau tidurlah terlebih dahulu. Aku tak akan menyentuhmu” kataku untuk menyembunyikan hasrat dalam suaraku.

Meski tak bisa menyembunyikan hasrat itu terlalu lama, ucapanku pada Calley terbukti mampu mengusir gadis itu dari ranjangku. Dengan kesal dia berjalan kembali ke arah ranjang miliknya. Menyelimuti tubuhnya dan memunggungiku lagi. Aku sungguh kebingungan dengan sifatnya. Wanita.. mereka puzzle yang sulit untuk dipecahkan.

Keesokan harinya aku terbangun dengan ereksi yang telah berdiri bagai menara eiffel, aku tak tahu bila Calley menyadari tonjolan dibalik selimutku karena dia tak berada dalam ruangan ini. Calley sedang berada dikamar mandi, membersihkan tubuhnya. Nampaknya sudah pukul delapan pagi, tiga jam lagi kami harus sudah berada di convention center di Washington untuk mengikuti pameran. Kami tak boleh terlambat.

Dengan sedikit excercise di teras luar kamar, akhirnya Darren junior bersedia untuk tidur kembali. Butuh waktu sepuluh menit untuk menenangkannya dan saat aku kembali ke dalam ruangan, Calley telah mengenakan pakaian kerjanya.

Pakaian yang membosankan itu lagi, kini dengan warna hijau muda. Dan akupun bisa menebak warna pakaian dalam yang Calley kenakan hari ini. Hmm.. menarik..

“Pagi, Calley” sambutku saat masuk ruangan.

“Pagi, Darren. Bagaimana pagimu?” tanyanya datar.

Hoho.. perawan tanggung ku masih marah. Ehem..

“Bagus, bagaimana dengan pagimu?” tanyaku menimpali.

“Biasa-biasa saja. Tak ada yang menarik, selain menyaksikan sepasang burung kenari hinggap disebuah tiang tinggi diluar sana. Mereka nampaknya sedang memadu kasih” jawabnya datar tanpa ekspresi.

Kata ‘tiang’ yang dia ucapkan memancing kecurigaanku. Calley tahu, dia melihat tonjolan itu. Shit!!

“Oh, Ok. Aku akan mandi, kalau begitu. Kau bisa memesan tempat untuk kita direstoran, aku akan menyusulmu bila aku selesai” kataku sebelum berlalu ke dalam kamar mandi. Calley hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya.

Setengah jam kemudian aku telah duduk satu meja dengan Calley. Kami baru saja mengambil sarapan pagi kami dari meja prasmanan restoran. Calley mengoleskan mentega pada croissantnya, sepotong muffin raisin kecil dan dua potong roti panggang yang berikutnya diolesinya dengan selai stroberi. Sepiring kecil buah-buahan segar dan secangkir kopi manis serta segelas jus apel. Cukupkah dia dengan makanan sekecil itu?

Aku memandangi piring dihadapanku, sarapan pagi raksasa. Dua potong roti panggang yang telah kuolesi dengan butter, bawang bombay karamel kesukaanku, dua sosis breakfast dengan bumbu, seporsi lamb chopped dari pemanggangan, beberapa lembar bacon kering dan semangkok green peas rebus. Tak lupa kopi pahit dan segelas jus jeruk.

Seorang pelayan membawakan telur rebus setengah matang pesananku.

“Kau tak ingin sesuatu dari piringku?” tanyaku pada Calley, iba dengan selera makannya yang tak menggugah minatku.

“Tidak usah, aku cukup” dia tersenyum kecut.

Aku menikmati makan pagiku sambil membaca berita di koran, hanya berisi informasi mengenai pemilihan Presiden dan senator yang akan berlangsung bulan september nanti. Berita mengenai negara lain, perang, embargo, film dan hal-hal tak bermutu lainnya. Aku pun menyingkirkan koran itu dan menghabiskan sarapanku. Handphoneku berbunyi saat aku selesai menyesap jus jerukku.

“Halo?” jawabku.

“Oh, Ok. Baguslah. Ya..ya. lima belas menit lagi kami tiba disana. Ok, thanks” jawabku.

Limousine yang akan membawa kami ke convention center itu telah tiba di loby parkir hotel. Kami akan berangkat kesana lima belas menit lagi. Limousine ini juga yang akan mengantarkan kami menghadiri undangan pesta makan malam bersama pengusaha-pengusaha kelas kakap di Amerika yang berkumpul dalam rangka pengumpulan dana amal untuk korban badai di Amerika serta lelang benda-benda berharga.

Aku tak menyukai pesta seperti itu, dulu aku bersedia mengikutinya karena dari tempat ini lah aku bertemu dengan wanita-wanita yang bisa aku tiduri tanpa perlu untuk membentuk ikatan dengan mereka. Itu sebelum aku dan David menciptakan ide gila kami.

Kali ini, aku menghadiri pesta ini karena ingin menemui Mr. Huntington yang memiliki pengaruh besar dalam membuat keputusan penting dalam perusahaan yang sedang ku ajak bekerjasama. Aku perlu meloby orang ini untuk menyetujui gagasan kerja sama baru yang perusahaanku pelopori. Misiku harus berhasil.

“Limousine telah menunggu kita di loby. Lima belas menit lagi kita berangkat” kataku sembari membersihkan bibirku dengan napkin.

“Semua siap?” tanyaku lagi pada Calley yang membisu. Dia sungguh menguji kesabaranku.

“Semua siap, Darren” jawabnya akhirnya.


Kami pun berjalan ke arah loby dan bellboy membukakan pintu limousine untuk kami. Mobil panjang itu masuk ke jalan raya dengan elegan dan mengantarkan kami ke tempat tujuan. 


34 comments:

  1. Nanggung mbak..--
    Good job mbak..:d
    Lnjut yah..;)

    ReplyDelete
  2. penasaran ma si calley mba,hemm thx ya :*

    ReplyDelete
  3. kya... Kasihan... tp bingung, kasian Darren ato Calley??
    Xixiixixi
    Mantap mba shin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kasian Calley lah... wkwkkww.. kl Darren kan bisa sendiri.. -eh tp Calley bisa aja ngelakuin sendiri di kamar mandi jg kan- wkwkkwkw

      Delete
  4. Mang enak Darren,,,
    Hahahaha
    Dia terjebak sama permainannua sendiri...

    Piss mba...
    Good job

    ReplyDelete
  5. hihiii... yg awalnya tower, berubah jadi menara eifell...
    *SLAAPP!!! otak nyeleweng..
    Calley, ayo, taklukan Darren dibawah kuasamu, hahahahaha...
    mbak shiiiiiiiiiinn...
    thank sooooooooo much... *kiss*

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalah towernya cin ama menara eiffel.. wkt jd tower belum 1000% wkwkkwkw... mwahh..sama2..merry...

      Delete
  6. hha
    rasain kang darren. Emang enak dicuekin calley
    hhi, pengen tau gmn malam mrk yg berikutnya

    ReplyDelete
  7. hmm,,,,,danke darl',,,
    loph this story so much,,
    maaciiiiie,,,,, *alay mode : on

    ReplyDelete
  8. hahaha darren mupeng hasrat yg tak tersalurkan, sampe darre jr tegak seperti tower dan sengak setinggi menara eiffel... lanjutkan mbk shin...

    ReplyDelete
  9. darren unyu,,,,apalagi darren jr hahahaha thanks mbk shin ngk bisa comment di g+ hp beserta jaringan masihn koma :(

    ReplyDelete
  10. Hmmm,,,Gaun pengantinny itu bukanny salah satu karya klasik dari Alexander McQueen??
    Aduwh,,,,desainny sungguh cuaantiikk skali,,
    Mirip ama punya na Duchess of Cambridge,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kurang tau cin.. aku nyomot2 doank nih.. mdh2an gak di sue aja lol

      Delete
    2. Klo dliat2 emg mirip ama ciri khasny Alexander McQueen, Darl',,,
      Karyany bliau emg sungguh Sophisticated,,,its kind edgy but of course its Hi-Fashion,,

      Delete
  11. Darren junior tersiksa,,,,hahaha..

    ReplyDelete
  12. Hahhahaha lucu lucuu
    Kasian juga si darren
    Hahahahah
    Keren mb shin

    ReplyDelete
  13. Darren kau buat calley pergi dr ranjangmu...gimana sie.. lol ..good sist lanjutannya ku tunggu ya;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahaha... Darren terlalu takut cin...

      Delete
  14. ni si Darren phobia pernikahan ya??/
    hm....
    mearik ni...
    asak ngak mau punya keturunan om Darren ,
    kkkekek
    padahal tante Calley kayknya siapa.
    wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. kwkwkkww.. mau donk pst.. tp nanti.. lol

      Delete
  15. Pengaruh perawan tanggung kuat bgt sma Darren Jr ya... Klo sekamar trus bsa2 Darren Jr bsa ngamuk Shin. Heheh.

    ReplyDelete
  16. Pengaruh perawan tanggung kuat bgt sma Darren Jr ya... Klo sekamar trus bsa2 Darren Jr bsa ngamuk Shin. Heheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkkwkwkwkwk... emang sukanya ngamuk2 tuh si junior lol

      Delete
  17. Apasih maksudnya si darl perawan nanggung..
    Padahal si caley nunggu nunggu tuh! Ampe mau seranjang segala

    ReplyDelete
    Replies
    1. mwkwkwkkwww.... jgn ngamuk2 cin... maklum cowok traumaan dia ehehehe

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.