"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, January 28, 2013

Looking To You - Chapter 14



Pameran siang ini aku bertemu dengan beberapa rekan bisnisku dan bertukar kartu nama dengan pengusaha-pengusaha baru. Kami bisa bekerjasama dikemudian hari tentu saja. Seharian ini Calley hanya mengikutiku dari belakang dengan mulut terkunci. Dia hanya menjawab apa yang aku tanyakan, tak seperti biasanya di kantor. Wanita memang menyusahkan.

“Kau sudah membawa gaun untuk pesta nanti malam, Calley?” tanyaku padanya saat kami sedang duduk di restoran menikmati secangkir kopi hangat setelah makan siang.


Nanti malam aku diundang untuk menghadiri pesta yang diadakan oleh Mr. Jackson yang memang sengaja mengumpulkan pengusaha-pengusaha sukses di seluruh Amerika. Dari perusahaan kami, tahun ini adalah tugasku untuk meloby beberapa pengusaha yang bisa aku temukan disini dan menjalin hubungan baik dengan para politikus yang juga menghadiri pesta kali ini.

Setahun yang lalu, Daniel lah yang menghadiri pesta ini bersama dengan Diane. Kami selalu bergantian menghadiri pesta semacam ini. Kadang kau terlalu muak bertemu dengan pengusaha-pengusaha yang hanya bisa memamerkan kekayaan mereka dan berbelit-belit dengan omong kosong yang mereka ceritakan. Namun setidaknya tujuan dari pesta ini adalah untuk mengumpulkan dana yang akan disumbangkan kepada mereka yang memerlukan.

“Sudah. Gaun warna putih bersih, tadinya Diane memintaku memakai gaun berwarna merah. Tapi aku tak mungkin memakai warna mencolok seperti itu. Jadi aku tak akan memakai gaun yang Diane berikan padaku” Calley tak mau menatap mataku saat kami berbicara. Pandangannya jauh ke arah sebuah piano yang berada ditengah-tengah panggung dalam restoran.

“Kenapa tidak? Kau akan terlihat menarik dan seksi dengan warna itu. Tubuhmu seksi” kataku. Mataku menatap matanya yang kini telah menangkap perhatianku.

“Kau hanya menggodaku. Aku tak percaya diri dengan pakaian seperti itu. Kau tahu, belahan pahanya terlalu tinggi, aku tak mungkin memperlihatkan tubuhku seterbuka itu di depan umum” dia kembali acuh tak acuh padaku.

“Kau berkata seolah kau tak keberatan memperlihatkan tubuhmu di dalam ruangan tertutup” entah apa isi kepalaku saat ini. Kata-kata Calley memancing gairah dalam diriku, meski aku tahu dia sama sekali tak sadar dengan apa yang dikatakannya.

“Lucu sekali, Darren” jawabnya merengut. Dan akupun terkekeh senang. Andai Calley terpancing oleh rayuanku, aku ingin sekali mencium bibir itu lagi.

~~~~

Aku bersiul rendah saat Calley keluar dari kamar mandi dengan gaun merahnya. Gaun yang dipilihkan Diane untuknya. Aku tak tahu mengapa Calley akhirnya memutuskan untuk memakai gaun itu. Si itik buruk rupa telah berubah menjadi angsa yang seksi dan anggun.

Aku sedang mengikat dasi kupu-kupuku saat Calley memintaku menarikkan retsleting gaunnya ke atas. Calley memunggungiku, sehingga dia tidak sempat memperhatikan tatapan mataku pada punggungnya yang seksi. Aku tak dapat menahan keinginanku saat jari tanganku menelusuri punggung Calley dari tengkuknya turun kebawah hingga batas pinggangnya, berhenti tepat di atas celana dalam berenda yang juga berwarna merah.

Aku menyipitkan mataku, apakah Diane mengatur semua pakaian ini? Diane yang memilihkan lingerie ini untuk Calley? Apa yang dia inginkan? Tak tahukah Diane bagaimana rapuhnya aku disamping Calley? Terlebih sedekat ini dengan tubuhnya, dan menatap tubuhnya yang sensual?

Nafasku terasa berat menerpa leher Calley, aku ingin bersandar pada punggung itu untuk sementara waktu. Menata kembali nafas dan debar jantungku yang tak terkontrol. Wangi tubuh Calley begitu menyegarkan, tanganku kini memijat kedua bahunya dari belakang, perlahan kusentuhkan hidungku pada kulit punggung Calley, menghirup lebih dalam lagi aroma tubuhnya dan tubuh Calley bergetar. Sedahsyat inilah pengaruh kedekatan kami.

Sudut bibirku terangkat miris, suasana begitu romantis. Tambahkan dua gelas wine dan lagu melankolis, kamipun akan berdansa dinamis. Kemudian tanganku akan melingkar pada pinggangnya, daguku bertumpu pada pundaknya dan kami akan bergerak seirama dengan musik.

“Calley.. Kau membuatku gila, kau tahu itu?” bisikku serak ditelinganya. Calley hanya terdiam, entah apa yang dipikirkannya.

“Aku sangat menginginkanmu..” aku dapat merasakan beban dalam dadaku perlahan terangkat. Aku mengatakannya juga. Mengatakan apa yang paling ku inginkan saat ini. Kuhela nafas panjang untuk mengendurkan kegugupanku. Aku takut reaksi yang akan Calley berikan padaku.

“Lalu mengapa tak kau lakukan Darren?” pertanyaannya tak kuduga sama sekali. Maukah Calley melakukannya bersamaku? Tanpa ikatan? Jantungku berdebar-debar memikirkan kemungkinan itu. Bukankah bila Calley bersedia, aku tak perlu frustasi membayangkan fantasy seks bersamanya setiap hari.

“Kau..mau?” tanyaku pelan.

“Bukankah kau yang tak mau Darren? Apa masalahmu? Aku rasa kau juga tahu aku telah pasrah dibawahmu saat kita berada dalam pesawat, kemarin” nada suaranya menuduh. Dia tahu aku menghindarinya karena aku tak ingin melakukannya saat itu juga.

Mulutku terasa pahit, aku tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Haruskah aku katakan bahwa aku hanya ingin seks dengannya? Setiap hari? Mungkin sekali atau dua kali sehari? Ini membuatku gila. Aku tak boleh terlalu berharap.

“Aku tak tahu hubungan seperti apa yang kau harapkan nantinya, Calley. Kau tahu.. aku tak ingin diikat. Aku tak ingin terikat. Aku tak mungkin menikahimu. Kau..wanita baik-baik, keluargamu pasti berharap lebih dari apa yang bisa aku berikan padamu Calley..” bisikku sedih. Hatiku benar-benar sedih saat ini.

“..Kalau begitu, lepaskan tanganmu Darren. Nampaknya kita memiliki tujuan yang berbeda dalam hidup ini. Aku..ingin memiliki keluarga besar, Darren. Dengan banyak anak, dan tentunya kau tak bisa..maaf sebelumnya, tolong pasangkan retsletingku dan aku akan keluar”

Kau tahu? Itu kata-kata paling menyakitkan yang pernah aku dengar dari bibir seorang wanita. Saat Calley menutup pintu suite itu, aku hanya bisa tertunduk lesu bagai prajurit kalah. Calley tentu tidak memiliki perasaan apa-apa padaku, jika tidak, dia tak akan melepaskanku semudah ini.

Tapi apa yang aku harapkan darinya? Berharap Calley akan mencintaiku? Dan berharap dia akan memohon padaku untuk hidup bersamanya? Agar dia mencium kakiku dan berkata betapa dia tak bisa hidup tanpa diriku? Tidak! Itu bukan Calley. Itu.. aku.. Darren White.. Aku tak bisa hidup tanpa Calley.. wanita ini selalu memenuhi pikiranku, aku tak bisa membayangkan bila dia bersama dengan laki-laki lain, aku tak rela. Tak ada yang boleh menyentuh tubuh Calley selain AKU. AKU!! Hanya aku!

Mungkin..mungkin kami tak perlu menikah? Mungkin tak perlu memiliki anak? Kami bisa mengadopsi seorang bayi.. tidak..tidak.. tidak bayi, aku hanya akan membuat hidup anak itu menderita. Tidak.. Tapi Calley menginginkan anak.. anak yang banyak..

Maka kau dapat membuatkannya panti asuhan, Darren. Ya! Aku akan melakukan itu. Aku akan membuatkan panti asuhan untuk Calley. Dengan anak-anak yang banyak dan aku tak perlu memiliki hubungan darah dengan mereka. Ya..ya..ya.. benar.. begitu lebih baik.

Kau pasti mengira aku sudah gila karena berbicara dengan diriku sendiri seperti ini. Aku bahkan merelakan diriku untuk mengikuti semua permintaan Calley, terkecuali menikah dan..anak.. Kami bisa menjadi partner.. seperti yang dilakukan kebanyakan orang sekarang ini. Itupun bila Calley setuju..

Aku hanya menipu diriku menganggap wanita itu akan bersedia. Oh Tuhan!!

Calley menghindariku sepanjang pesta itu, pada saat pesta dansa, pada saat pelelangan untuk pengumpulan dana pun dia duduk jauh dariku. Dia sengaja berlama-lama mengobrol dengan Elliot Webb, pialang saham dari Webb’s Finance and co. duda kaya dengan dua orang anak balita, istrinya telah tewas dalam sebuah kecelakaan jalan raya.

Dan mereka terlihat akrab. Apakah Calley mencari laki-laki itu sekarang? Ya, mungkin saja. Duda itu memiliki dua orang anak balita dan tentu Calley akan tertarik untuk menjadi ibu dari kedua anak itu dan mungkin si Elliot itu akan memberikannya belasan anak lagi. Shit!!

Wajahku mengeras sepanjang pelelangan, aku bahkan tak bisa berkonsentrasi mendengar harga-harga barang-barang yang di lelang. Perusahaanku harus ikut menyumbang dalam pengumpulan dana ini. Dengan acuh ku angkat papan nomer milikku saat mereka sedang melelang lukisan karya pelukis dari abad ke delapan belas yang bahkan tak aku mengerti arti lukisan itu.

Despair.. itulah judul lukisan itu. Dengan harga lima ratus ribu dollar, aku berhasil memboyong lukisan itu kembali ke New York. Aku tak memperhatikan lagi dimana Calley berada, aku terlalu marah pada dirinya. Semudah itu dia berpindah ke pangkuan laki-laki lain. Mungkin tubuhnya akan meleleh pula bila Elliot mencumbunya. Shit!! Wanita sialan!!

“Kenapa wajahmu merah? Kau demam?” suara Calley terdengar dari depanku. Dia sedang membawa segelas minuman ditangannya. Dia minum sekarang? Oh ya? Apa yang akan Mr. Pendeta katakan saat mengetahui anaknya menikmati minuman ini bila dia melihatnya? Dia pasti tak akan senang.

“Dari mana saja kau, Calley? Berusaha menjaring duda kaya, hah?” kataku kesal. Aku melangkah menjauh darinya, mengambil segelas whisky yang dituangkan bartender untukku.

Kami duduk di bar stand dalam ruangan pesta itu, acara pelelangan masih berjalan namun sebagian peserta telah kembali ke ruang dansa ini.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Darren? Aku hanya berbicara dengan Mr. Webb dan dia memperlihatkan foto-foto anaknya, mereka sungguh manis dan lucu. Pipi gemuk dan merah dengan senyum seperti ayahnya, benar-benar cetakan asli ayahnya”  aku dapat mendengar betapa bahagianya Calley saat menceritakan anak-anak dari si Elliot Webb itu, apa hebatnya laki-laki itu?

Bukankah setelah kematian istrinya dia terkenal mengurung diri dari wanita-wanita yang berusaha mendekatinya? Mengapa sekarang dia membuka diri pada Calley yang baru saja dikenalnya? Jangan katakan Elliot menyukai Calley?! Dadaku terasa sesak penuh dengan kecemburuan.

“Mungkin kau akan jatuh dalam ranjangnya nanti malam” kataku kesal sambil menenggak segelas whisky lain.

Calley menatapku nanar, dia terlihat marah. Hey, aku tidak perduli bila dia marah, karena aku lebih marah lagi. Kemarahannya tak ada artinya dibanding kemarahanku. Dia ke Washington bersamaku, untuk bekerja. Bukan untuk menggoda duda itu.

“Bila tidak ada orang lain disini, aku sudah menamparmu Darren” katanya berapi-api. Aku tak menggubrisnya, pandanganku tajam ke depan, tubuh Calley gemetar disampingku, menahan amarahnya.

“Jangan kau samakan aku dengan wanita-wanita penghibur yang biasa kau tiduri?!” kemudian Calley pergi. Meninggalkanku lagi. Ya, mungkin dia akan mencari si duda Elliot itu lagi. Mengemis padanya agar mengizinkannya tidur diranjangnya. Setan!!

“Berikan aku empat shot lagi” kataku pada bartender. Dia hanya menatapku tanpa berkomentar. Mungkin dia menyadari aku sedang tak ingin mendengar bantahan sekarang ini. Aku bisa saja meremukkan tulang rahangnya bila dia berani menolak pesananku.

“Setan kau Calley!!” dan ke empat shot itupun tergantikan dengan empat shot yang lain, hingga aku tak bisa membedakan angka-angka pada jam tanganku.

Sudah pukul berapa ini? Mengapa Calley tak mencariku. Kemana dia? Dan aku tertidur di meja bar, kepala tertumpu pada meja dan sebelah tanganku menggantung jatuh.

Aku tak tahu siapa yang memindahkan tubuhku ke dalam mobil, setahuku dia membantuku berjalan menuju mobil, badannya yang tak kalah besar dengan badanku berhasil menggiring tubuhku sampai ke dalam mobil. Samar-samar aku dengar orang berbicara, suara Calley? Dan seorang laki-laki yang tak aku kenal?

Aku tak bisa melihat wajahnya, mataku berkunang-kunang tak bisa kubuka.

“Terima kasih, aku merepotkanmu” kata Calley sopan pada laki-laki itu. Dan laki-laki itu menyunggingkan senyum.

“Bukan masalah, Calley. Bila ada yang lain yang bisa aku bantu, kau tahu nomerku” jawab laki-laki itu. Apa? Mereka bertukar nomer? Mengapa?

Mereka kemudian berpelukan sebelum Calley masuk ke dalam limousine yang membawa kami kembali ke hotel. Aku tak bisa membuka mataku, terasa berat dan aku tertidur lagi.

Saat terbangun, kepalaku ringan, melayang dan pusing. Aku hampir terhuyung saat berdiri dari ranjangku. Aku sudah ada di hotel, mungkin Calley yang membawaku kesini. Dimanakah Calley? Aku tak melihatnya. Jam berapa sekarang? Langit masih gelap diluar sana, dan Calley tak ada disini.

Ugh!! Aku perlu aspirin. Lalu pintu suite terbuka dari luar. Calley masuk membawa sesuatu yang tak jelas ku lihat. Dari mana saja dia?

“Dari mana saja kau semalam ini, Calley? Jam berapa ini?” tanyaku marah.

Wajahnya cemberut, dia masih kesal padaku. Aku mulai mengingat percakapan kami di bar sebelum bergelas-gelas whisky masuk ke dalam tenggorokanku. Dan aku malu pada diriku karena berkata seperti itu padanya. Aku memang stupid!

“Tak usah kesal seperti itu, Darren. Aku hanya keluar untuk membelikanmu beberapa aspirin dan penghilang mabuk. Kau mabuk berat di pesta, beruntung aku bisa membawamu kembali ke hotel. Dan ini sudah pukul empat pagi. Aku beruntung hotel ini memiliki apotik, bila tidak kau akan menyulitkanku seharian. Minumlah” katanya sambil menyodorkan segelas air putih dan sebutir aspirin.

Tanpa perlawanan aku menerima aspirin dan air yang Calley sodorkan untukku. “Thanks” kataku setelah air dalam gelas habis dan memberikan gelas itu kembali padanya. Calley hendak pergi dari hadapanku, namun aku menarik lengannya.

“Tunggu.. ada yang harus aku katakan padamu” bisikku pelan.

“Sudah larut, Darren. Aku ingin tidur. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kita bisa menunggu hingga esok pagi. Kita sudah harus kembali ke New York pukul sebelas dan aku tak ingin ketiduran saat semestinya kita sudah harus bangun nanti” Calley tidak ingin menatap mataku saat kami berbicara. Dia memalingkan wajahnya kesamping, mencengkeram gelas di tangannya.

Perlahan aku kendurkan cekalan tanganku dari pergelangan Calley, ragu dengan langkahku berikutnya. “Maaf..” hanya kata itu yang mampu aku ucapkan. Dia tak menjawabku, dia tak akan memaafkanku kan karena mengatainya seperti semalam?

Calley melangkah pelan menjauhiku, meletakkan gelas di atas meja kemudian masuk ke dalam selimutnya. Berbaring dengan posisi sama seperti yang dia lakukan semalam, memunggungiku. Aku hanya bisa menatap tak berdaya pada punggungnya yang bergerak naik turun dengan teratur. Aku tahu Calley belum tertidur, siapa yang bisa tidur saat suasana mencekam seperti ini?

Akhirnya aku keluar ke teras, menyesap rokokku dan menatap pada langit gelap di atas Washington. Langit gelap yang tertutup mendung, menyembunyikan sinar bulan yang redup tak mampu menembus kumpulan awan-awan tebal hitam itu.

Sebentar lagi fajar akan menyingsing, kami akan kembali ke New York dan kehidupan akan kembali seperti semula. Haruskah aku menghubungi David?

Ku keluarkan handphone dari saku celanaku, mencari-cari nomer handphone sahabatku itu. Lama kupandangi nomernya, sebelum menghela nafas panjang dan menutup handphoneku kembali. Pesan telah terkirim. 


38 comments:

  1. Elliot udah muncul, wa bakalan seru nie tp kenapa darren ga sadar 2 klo dia cinta ma calley ya shin *perlu aku ksh tahu* he.he.he ga sabar nunggu chapter 1 elliöt. smangka shin..chaiyo ohayougozaimasu muaach 3x;-)

    ReplyDelete
  2. Astagaaa darren ini
    Kata2nya nyakitin bgt, jadi pengen ngetok kepalanya
    Hahahhaha
    Yg sabar ya calley {}
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. iya sista.. Darren is a sh*t. lol. sama2... ^^>

      Delete
  3. Calley uda ksh lampu ijo eh darrennya malah takut ada ikatan.Tiba dia dkt sm elliot,darren marah2 gak jelas.Aaargh *tokok darren*

    betewe thanks mbk Shin XD

    ReplyDelete
  4. Poor darren masa lalu mengikatnya kencang hingga tak bisa memberikan apa yg calley inginkn... Semangat Darren...
    Wah ini napa elliot muncul :nohope:

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha biar si darren menyadari kesalahannya cin... musti ada elliot yg membuatnya berubah wkkwkw

      Delete
  5. Puk puk Darren pke Paculnya Tika,,
    Elliot,,welcome to d' club, baby,,
    Lets Rock,,,!!wkwwkkwkwkwk
    & another party again w/ David,,,ccckkckckckc,,,Darren,,Darren,,Darren,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... yup another party with david.. lol

      Delete
  6. Darl',,,,cuma mw info,,
    Ga muncul notifny ke G+,,,
    Makany ga ngeh klo dah dpost si Darrenny,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Darl, emang belum aku share td pagi. ni barusan dishare tp gk tag ke siapa2. :D

      Delete
  7. y ampuun darren...
    pengen digetok pake palu nh otaknya darren.
    biar sadar.
    diambil elliot bru tau rasa dia

    ReplyDelete
  8. darren bener2 menyedihkan. Kalo ni org bener2 ada udah aku garuk mukanya..
    saking kasiang sama marahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha jng digaruk donk cin.. di elus aja.. biar gak ngamuk2 aja kerjaanya di darren. lol

      Delete
    2. emang darren bakalan takluk kalo mukanya yg dielus2? Kalo 'anunya' yg dielus2 itu udah pasti takluk wkwkwkwk

      Delete
    3. wwkkwkwkw kok tahu sih sist???

      Delete
  9. Kok tumben ya beib shin.. Kucing nggak doyan ikan asin, lagi sariawan yach hahaha
    Makasih makasih makasih... Xie xie ni... Peyyuuukkkk erat ampek megap megap ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kucing yg ini doyannya caviar cin.. bukan ikan asin.. wkkwkwkw...

      Delete
    2. Owalah... Begono tah... Ngobrol donk.... Hhee

      Delete
    3. Caviar???ga enak,,,masa makan telurny Salmon,,,,hhiii,,ngeri,,,hhehehee

      Delete
    4. Riska @ telur burung prenjak kali hrhhehehe

      Delete
  10. aaa, Darren udah muncul, aku baru ngeehh...
    aigooo, Darren, kenapa segitunya? marah2 aja nih..
    Calley, ayo taklukan Darren, kamu pasti bisa ;)

    mbak shiiiiiiiiiiinn... mo bilang i miss uuuuuuuuuuu...
    thank uuuuuuuuuuuuu.. mmwwuuahhh.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha ayoo calley.. km bisaa.. ^^> alow merry.. iya, aku belum share kemana2 soalnya ngepostnya td pagi trus lgsg bobok. akang jung nam belum ada, mgkn darren aku post lg ntr sore

      Delete
    2. aa jungnam belum ada?? aduh, kasihan dia mbak, merana terlalu lama menunggu chae moon, hahahahaha...
      oke mbak, aku sabaaaaaaaaaaar menunggu..
      FIGHTING mbak shiiiin ^___^

      Delete
    3. hahahahahahha iya nih.. msih mentok belum nemu alur lg. ckckc.. alu alur...alur.. datanglah padaku...

      Delete
  11. calley hebat.....bertahan terus, jangan mau kalah....hahahahahahaha
    darren emang keras kepala (mau memiliki tapi ngak mau mengikat)

    ReplyDelete
  12. Sedih baca bab ini,,
    kasihan juga sih Darreny,,dia amat tersiksa dg perasaany

    Tpi kenapa dia menghub i david??

    Mba Shin ~~**
    Pa akn da adegan y bikin Mual_mual lgi nii di bab berikuty,,

    Hrs siap_siap niii ^^^~~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha gak sampe mual sih sist.. HOT br ada. lol

      Delete
  13. Puk puk Callley.. Geto Darren...

    Mba shin.. Mantap! Konflik'y nambah.. Ah g'pp lah Calley dket dlu ma Elliot.. Biar Darren mkin cembulu.. Xixixiixi
    Mksih mba shin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iahiiahia cembulu. iya biar berbulu jg eh...

      Delete
  14. Darren klo kalah cepat... Ntar Calley drebut Elliot lho..

    ReplyDelete
    Replies
    1. gmn ya kl endingnya si darren tetap merana seorang diri?? wkwkkww

      Delete
  15. Darren klo kalah cepat... Ntar Calley drebut Elliot lho..

    ReplyDelete
  16. mba shin...kren. btw kok skarang tiap hri cuma 2 aja yg dpostng =____= tp ttp trimsx mba shin. smangt nulisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. haahha iya nih sistaa... keder ngetik banyak2.. gak sempet ngapa2in jadinya :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.