"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, January 28, 2013

Looking To You - Chapter 15



Kami telah kembali ke New York siang ini, Limousine langsung mengantar Calley ke rumahnya –dimanapun rumahnya berada, karena jujur aku tidak tahu dimana tempat dia tinggal, apakah bersama dengan orang tuanya di gereja (oh, great) atau di sebuah apartemen kecil- dan aku menumpang mobil lain yang mengantarkanku pulang ke apartemenku.

Kami tidak banyak berbicara sejak saat itu, makan pagi tadipun terasa begitu sunyi hanya terdengar dentingan pisau dan garpu berpadu dengan piring keramik alas makan.


Setelah singgah ke rumah Paman Thomas dan berkumpul dengan Daniel dan yang lainnya hingga sore, aku kembali ke apartemenku. Dorothy masih merengut dan tak ingin berbicara denganku juga. Semua wanita di dunia ini membenciku. Bahkan Bibi Amanda masih memberikan tatapan tajam saat aku menyapanya. Dia masih menunggu dengan setia wanita yang dianggapnya pantas untuk aku miliki sekarang.

Dan jangan lupa beberapa bayi yang dipesannya. Aku bukan pabrik pencetak bayi, Bi.

Aku membuka laptopku, membaca berita terbaru yang ada di internet, menelephone beberapa rekan bisnis dan menerima telephone dari luar negeri, meski ini hari minggu aku tetap bekerja. Aku menghabiskan sisa soreku seperti itu, menunggu waktu kunjunganku ke klab malam milik David.

Aku memintanya untuk mengadakan sesi untuk kami di ruangan itu lagi, ruangan yang kami beri nama “ruangan teriakan kenikmatan” bahasa kerennya “cry of lust hall” karena wanita-wanita yang masuk kesana selalu berteriak kesetanan saat mencapai klimaks. Meski aku tidak menyukai nama itu. Terdengar janggal, kan? Tapi David suka, dia selalu berseloroh mengenai ruangan itu saat kami sedang mengobrol berdua.

Minggu malam, klab malam milik David “Lacotra” tetap ramai dan sibuk. Tapi kali ini aku tak terlalu ambil pusing dengan tingkah-tingkah manusia yang aku lewati di lantai dansa dan bar-bar menuju cry of lust hall. Bahkan aku sempat memesan segelas whisky untuk memanaskan tubuhku. Aku ingin melupakan segala hal tentang Calley, dan menghadapinya esok dengan dingin.

Aku akan melindungi diriku, aku tak akan menyiksa diriku lagi dengan berpura-pura sibuk di dekatnya. Aku tak akan meminta Diane untuk mengatur pekerjaan untuk Calley bersamaku. Dia bisa mengerjakan pekerjaan yang tertulis di job deskripsinya. Tanpa bertemu denganku lagi..

David telah menungguku dalam ruangan, disampingnya dua orang wanita dengan pakaian seksi bergelayut di atas pangkuannya dan mengalungkan lengannya pada leher David dengan manja.

“Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Kami sudah membuka minuman tanpamu, maafkan, Darren” David menatapku dengan tatapan licik. Dia melakukan tipuan apalagi kali ini.

“Hai, Dave. Dan siapa nama wanita-wanita cantik ini?” aku menuangkan segelas brandy untukku sendiri, mengambil tempat disamping wanita di sebelah kiri David, wanita itu kini beralih ke atas pangkuanku.

“Ini Cassandra, dia peranakan Amerika dan latin, kau pasti suka dengannya. Dia pintar di atas ranjang, bila kau tak ingin bersusah-susah, cukup perintahkan dia untuk melayanimu. Dia ahlinya” David menghisap cerutunya dengan nikmat kemudian menghembuskannya pada punggung Cassandra.

“Hai, Darren.. Dave memberitahuku namamu. Aku akan melakukan apapun yang kau mau..” dia mengalungkan tangannya pada leherku.

Tanpa melepaskan mataku dari wajahnya, aku meneguk brandyku, aku telah terangsang. Kubiarkan nafsuku bertambah. Calley tak boleh mengganggu hidupku lagi.

Aku tak menunggu David mengenalkan wanita yang satunya untukku. Aku sungguh tak perlu tahu namanya. Cassandra telah mencium bibirku dengan penuh nafsu, dia kini mengangkang diatas pahaku, aku biarkan dia melakukan apapun yang disukainya.

Cassandra mengenakan gaun terusan mini yang memperlihatkan pangkal pahanya dengan jelas, celana dalam merah menyembul dari selangkangannya yang menempel pada pinggangku. Rambutnya yang lebat berwarna hitam kecoklatan jatuh mengurung wajah kami saat berciuman, tanganku meraih kait retsleting gaun mini Cassandra dan membukanya hingga habis. Kini tanganku menyelip ke dalam lingerienya dan kuremas pantatnya yang padat.

Kami terus berciuman hingga akhirnya David dan pasangannya pindah ke atas ranjang melakukan urusan mereka. David memberikan spot di sofa untukku, aku memang lebih suka melakukannya di sofa ini, aku tinggal duduk dan wanitalah yang memuaskanku seperti sekarang ini.

Cassandra mengibaskan rambutnya, kemudian melepaskan gaunnya yang terbuka melalui tangannya. aku membantunya menarik gaun itu dan melemparkannya sembarangan ke atas karpet. Pemandangan menantang terpampang di depanku. Payudara Cassandra menyembul keluar, dia memiliki payudara yang besar, khas orang berdarah latin.

Bra berendanya menopang payudara bulat itu putus asa, karena aku dapat melihat bagaimana sesaknya payudara itu ditangkup oleh bra berenda warna merah membara itu. Nasib bra merah itu pun sama dengan gaun mini yang tadi kulemparkan, teronggok di atas karpet tak berdaya.

Kami berciuman lagi, tangan Cassandra membuka kait celana jeans yang kupakai, menurunkan retsletingnya dan menemukan kejantananku yang telah mengeras dari balik celana dalamku. Kemeja hitam yang ku kenakan kini juga ikut menyusul pakaian-pakaian lain.

Masih dengan posisi mengangkang, Cassandra mengurut  kejantananku dengan kedua tangannya, bibir kami masih berpagutan, lidah kami masih saling memilin. Tangan Cassandra dengan gemas meremas ereksiku dan mengurutnya naik turun, memainkan bola-bola yang juga ikut membesar.

Cassandra menggosok-gosokan payudaranya pada dadaku, mengguncang-guncangkan tubuhnya sehingga payudaranya menepuk-nepuk dadaku dengan kencang. Seringai nakal diwajahnya semakin lebar. Cassandra turun dari pangkuanku dan berlutut di karpet, mengambil posisi dibawahku, menghadap pada selangkanganku yang kubuka lebar. Sikunya bertumpu pada sofa dan mulai membungkuk untuk mengulum kejantananku yang berdiri tegak, licin mengkilap.

Mulutku mendesis menikmati kuluman mulut Cassandra, dia menatap wajah bergairahku tanpa kedip. Kuremas rambutnya, kepalanya kugerakkan naik turun agar kuluman mulutnya lebih cepat.

“Shhh... Kau pintar Cassandra, tak salah David memilihmu, ha? Kau benar-benar ahlinya” kataku memujinya. Cassandra terlihat senang.

Lidahnya kini menjilati batang kejantananku seluruhnya hingga ke bolaku. Mengirimkan sensasi menggila pada seluruh syarafku. Kuhembuskan nafas berkali-kali menahan denyutan ereksiku yang semakin cepat. Sebelah tangannya mengocok dengan cepat batang kejantananku saat kedua bolaku masuk ke dalam kuluman bibirnya. Wanita ini liar, dia tahu apa yang dia lakukan. Dia tahu bagaimana memuaskan laki-laki.

Ketika kurasa ereksiku semakin berdenyut kencang, membengkak, siap menembakkan cairanku ke dalam mulut Cassandra, handphone sialanku berdering. Meruntuhkan nafsuku seketika. Kubiarkan handphoneku terdiam tak tersentuh, aku harus menyelesaikan ereksiku, aku takut setelah menerima telephone itu aku tak akan bisa menikmati oral yang dilakukan Cassandra padaku.

Namun deringan demi deringan membuat kepalaku hampir pecah karena kesal. David yang sedang berada diatas ranjang dengan wanitanya tak menggubris bunyi handphoneku yang ribut. Dia sibuk dengan erangan dan teriakan wanita yang sedang ditindihnya.

Dengan kesal ku angkat handphone itu. Daniel! Apa yang dia inginkan memanggilku pukul satu pagi??!

Cassandra masih mengulum kejantananku dalam mulutnya saat kujawab panggilan Daniel.

“Ada apa Daniel?” tanyaku ketus. Berusaha mengatur suaraku agar tak terdengar seperti kambing yang akan disembelih, kuluman Cassandra pada ereksiku benar-benar mengalihkan perhatianku.

“Kau dimana sekarang, Darren?” suara Daniel terdengar resah. Panik lebih tepatnya.

“Apa maksudmu? Ada apa denganmu? Kenapa kau terdengar panik?” aku menghentikan Cassandra dari permainannya dengan kejantananku.

“Aku..sekarang di apartemen, aku baru saja menabrakan mobilku di basement parkir. Aku kira bila kau sedang tak sibuk, kau mungkin bisa membelikanku obat penahan sakit? Aku rasa aku meremukan beberapa tulang di tubuhku”

“Demi Tuhan, Daniel! Aku akan kesana sekarang. Katakan bila kau perlu yang lainnya. Tunggu aku!”

Setelah menutup handphoneku, dengan enggan aku berdiri dan mengangkat tubuh Cassandra yang masih berlutut dibawahku. Wajahnya kebingungan, dia tak mengerti mengapa aku menghentikannya. Kuperbaiki letak celana dalamku dan memakai kembali pakaianku. Ereksiku terasa menyiksa dalam himpitan celana jeans ketat yang kupakai. Aku tak bisa melakukan hal ini sementara saudaraku sedang kesakitan dan sendirian di apartemennya.

“Kau mau kemana, Darren? Kita belum selesai” pekik Casandra kesal. Dia berkacak pinggang di depanku, matanya begitu tajam menatapku dengan marah.

“Oh, maafkan aku Cassie.. Ada yang harus aku lakukan, yang lebih penting” kucium bibirnya, hanya agar tak ada kata-kata yang keluar lagi dari mulutnya.

“Ada apa, Darren?” tanya David dari atas ranjang, tangannya mengangkat di udara, bingung dengan diriku.

Pertemuan ini adalah ideku, dan aku tak bisa menikmatinya. David pasti sangat kesal padaku saat ini, tapi saudaraku sedang terluka. Aku tak bisa menepiskan kenyataan itu hanya demi memuaskan nafsuku yang memang sangat harus dipuaskan. Karena bila tidak aku akan gila, karena sekarang aku sudah hampir gila. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.

“Daniel melukai dirinya di basement, menabrak konsentrat hingga meremukan beberapa tulangnya. Aku harus menemuinya, kau tahu. Sorry, Dave. Lain kali aku yang akan mengaturnya untuk kita. Ok, brother?” jawabku sambil menenggak segelas brandy lagi sebelum keluar dari ruangan ini. Cry of Lust tak akan kudengar lagi malam ini.

“Baiklah. Tapi kau tak menyesal kan? Malam ini mereka semua milikku..” senyum jahil bermain di wajah David. Tangannya memanggil Cassandra yang masih merengut di tempatnya berdiri.

They’re all yours, Dave.. mereka semua milikmu” jawabku sekenanya, lalu menutup pintu dibelakangku.

Langkahku terasa aneh karena setiap pijakan yang kuambil hanya menggesek dan menyakiti kejantananku yang masih berdiri tegak. Sedikit lagi semestinya aku klimaks dan tak menderita seperti itu. Mungkin wajahku sudah terlihat seperti laki-laki frustasi yang tak pernah bercinta selama satu tahun. Aku siap melabrak siapapun yang menghalangi jalanku menuju parkiran.

Seorang security membantuku menyeberangi jalanan yang ramai oleh pengunjung klab malam itu, Shelton, teman Dothy. Dia memang bekerja disini, dan aku belum sempat memberinya pelajaran karena ikut campur urusanku dan membeberkannya pada Dothy. David harus memecat laki-laki itu. Dia tidak bisa menjaga rahasia pelanggan.

Setelah membeli obat pesanan Daniel dan beberapa bungkus rokok untukku –aku memerlukannya untuk menenangkan gemuruh dadaku yang bergejolak karena percintaan yang gagal..lagi- aku pun menginjakan kakiku di apartemen Daniel. Dia terlihat...bugar.

Tak ada luka memar, tak ada luka bengkak, tak ada tulang yang patah, bahkan dia tersenyum, tepatnya menyeringai saat melihat kedatanganku dengan wajah cemas dan frustasi.

“Kau..? Aku kira kau berkata dirimu mendapat kecelakaan.. kukira kau bilang beberapa tulangmu retak? Aku bahkan membelikanmu obat..” tanyaku tak percaya saat Daniel mengajakku duduk di atas sofa ruang tamunya. Dia menuangkan segelas whisky untukku, masih dengan seringai yang terpasang di wajahnya.

Mungkin bila Daniel bukan saudaraku, aku sudah membunuhnya saat ini juga. Dia membohongiku, meski aku bersyukur dia tak terluka dan tulang-tulang retak itu hanya rekayasanya. Tapi mengapa dia tega berbuat seperti ini padaku? Tak tahukah dia apa yang telah aku lepaskan agar bisa berada disini dengan cepat? Pelepasanku!! Pelepasan akan frustasi yang menghantuiku beberapa hari ini.

“Relaks, Darren. Kau terlalu tegang. Ada apa dengan wajahmu yang kaku itu? Tersenyumlah, Dik..” dia menyodorkan segelas whisky padaku, dan langsung saja kutenggak minuman itu dan menjatuhkan pantatku di sofa.

Rahangku mengeras, mataku menatap tajam pada wajah Daniel yang merasa lucu melihat penampilanku. Tak tahukah dia apa yang aku rasakan sekarang? Coba saja kau rasakan ketika kau menggumuli seorang wanita dan kejantananmu dicabut paksa sesesaat sebelum kau orgasme? Kau akan frustasi hingga ingin membunuh orang.

Kutahan-tahan emosiku di depan Daniel, aku ingin pergi dari apartemennya sekarang juga. Tapi aku juga ingin mendengar alasannya memanggilku dengan cara berbohong, Daniel tak pernah berbohong padaku, mengapa dia memulainya sekarang? Apa yang telah aku lakukan hingga mendapatkan kebohongan ini darinya?

“Katakan mengapa kau memanggilku kesini dengan cara seperti ini? Kau membuatku hampir kecelakaan karena mengemudikan mobilku dengan gila agar tiba disini secepatnya” sungutku marah. Tanganku mencengkeram gelas whisky-ku.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu, mengobrol, mungkin kita bisa memulai sesi tanya jawab yang dulu kau katakan itu” jawab Daniel enteng.

Aku menarik nafas ku frustasi.

“Aku sedang tak punya pertanyaan untukmu, Daniel” keluhku sambil menjatuhkan punggungku ke sofa. Kepalaku mulai berdenyut-denyut pusing, aku tak pernah menahan nafsuku hingga separah ini. Dan kini semua syaraf ku mulai melakukan pemberontakan padaku.

“Tapi aku punya, Darren” katanya. Aku menoleh ke arah Daniel, dia menatapku dengan serius.

“Katakan, apa yang kau ingin ketahui?” tanyaku kemudian. Ini harus penting, bila tidak aku akan keluar dari apartemen ini meski Daniel memaksaku untuk tinggal.

Mungkin aku masih bisa memuaskan nafsuku saat sesi ke tiga atau ke empat. Wanita-wanita itu akan berada di cry of lust hall hingga esok pagi pukul lima. Kulirik jam tanganku, pukul dua pagi.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau tak pergi menemui David lagi?” Daniel menatapku tajam.

Aku menyipitkan mataku, apa hubungan semua ini dengan David?

Ah!! Aku mulai menangkap kemana arah pembicaraan ini. Tapi tunggu dulu, mengapa Daniel bisa tahu bila malam ini aku bersama David? Aku hanya melakukan pertemuan seperti ini ada akhir minggu di akhir bulan. Dan malam ini bukanlah saat sesi sebenarnya. Aku meminta David menyiapkan untukku, dari mana Daniel tahu??

“Kau tak bisa melarangku bertemu dengan siapapun, Dan. Kau tak berhak. Apa yang aku lakukan bukan urusanmu. Wanita mana yang aku tiduri, bukan urusanmu. Kau seharusnya tak membawa topik ini ke permukaan. Kau bukan ayahku, Dan! Dan siapa yang telah memberitahukanmu keberadaanku malam ini? Tak ada yang semestinya tahu dimana aku berada malam ini, Dan. Hanya satu orang yang mungkin tahu...karena dia punya mata-mata disana. Apakah orang itu yang memberi tahumu, Dan?” suaraku sedingin es, Daniel seharusnya tahu bila aku sangat bisa menghajarnya saat ini.

Karena dia terlihat resah, dia berusaha menyembunyikan kegelisahannya, namun bola matanya yang tak ingin menatap mataku telah memberitahuku banyak jawaban.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Darren. Tak ada yang memberitahuku, aku hanya ingin menanyakan hal itu. Dan demi Tuhan, aku memang bukan ayahmu. Aku saudaramu. Akulah yang menyelamatkan nyawa sialanmu itu, seharusnya kau berpikir dulu sebelum bicara. Kau berhutang nyawa padaku, Darren. Aku berhak mengurusi urusanmu!” Daniel tak kalah kesalnya dengan tuduhanku. Hanya orang yang bersalah saja yang akan marah bila kau menuduhnya. Daniel bersalah, dan mengapa dia mengungkit masalah nyawa itu?

“Jika kau begitu menyesal telah menolongku, mengapa tak kau habisi saja nyawaku sekarang, Dan? Tembaklah dadaku sekarang! Aku tahu kau punya pistol di laci mejamu. Tembakan padaku, aku tak akan menuntutmu, akan kukatakan aku melakukannya sendiri. Bila itu bisa membuatmu puas!!” aku pun berdiri, tanganku meraih handphone di atas meja, handphone milik Daniel.

Dia menatapku marah, berusaha mengambil kembali handphonenya yang kini kuperiksa pada bagian laporan telephone masuknya. Seperti dugaanku, memang orang itu yang melaporkanku pada Daniel. Rahangku mengeras, penuh dengan amarah.

Apa maunya? Bukankah sudah kukatakan padanya agar tak mencampuri urusanku. Setan! Semua setan!!

“Kembalikan handphoneku!” teriak Daniel marah.

Dia berhasil merebut kembali handphonenya, tapi aku tak memerlukan handphone itu lagi. Aku telah mendapat jawaban dari kecurigaanku.

“Kau tak akan melakukan apa yang ada dalam pikiranmu, Darren. Bila kau berani, aku bersumpah akulah yang akan membunuhmu” Daniel mengangkat kerah kemejaku. Ironisnya aku tak takut padanya sama sekali.

“Mengapa kau begitu pusing mengurusiku, Dan? Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Mengapa aku tak boleh bergaul dengan David? Hanya itu saja caraku untuk lepas dari frustasi sehingga aku tak meniduri wanita baik-baik diluar sana” teriakku kesal. Kami saling berteriak meskipun jarak kami tak kurang dari satu jengkal.

“Kau lebih baik meniduri wanita baik-baik, Darren. Menikah dan melanjutkan garis keturunan White! Bukannya mengumbar spermamu pada wanita-wanita jalang dan pelacur diluar sana yang kau..kau gilir dengan David. Menjijikan! Bagaimana kau bisa tak merasa jijik memasuki satu wanita secara bersamaan” wajah Daniel terlihat muak saat mengucapkan kalimat itu.

Wajahku mungkin telah merah padam menahan amarah. Hanya karena kau tak suka, bukan berarti kau bisa memaksaku, Dan. Kau seharusnya tahu, kita memiliki jalan berbeda, kau tak bisa menerapkan keinginanmu padaku.

“Mengapa tak kau katakan itu pada dirimu sendiri, Dan? Mengapa tak kau tiduri saja wanita yang kau maksud dan memiliki belasan anak dengannya? Meneruskan darah White yang terhormat itu pada anak-anakmu. Aku tak bisa, Dan. Darah White tak boleh lagi mengalir, tidak dari darah kotorku. Apapun yang kau lakukan pada dirimu, itu urusanmu. Tapi kau tak akan bisa memaksaku. Not me!!”

Dan tinju Daniel melayang di rahangku, Ough.. Sungguh telak hingga aku terkapar menghantam meja dan menjatuhkan meja malang itu. Daniel memegang kerah kemejaku lagi, dia bisa berubah menjadi iblis bila marah. Nyaliku seketika ciut demi melihatnya.

“Dengarkan aku, Darren White! Aku Daniel White, tak akan membiarkanmu mengatai darahmu kotor, kau adalah anak yang baik. Jangan karena masa lalu yang buruk kau hancurkan hidupmu. Aku.. Jangan ikuti jalanku. Aku tak bisa melakukannya karena..aku tak bisa menyentuh wanita. Aku mual, Darren. Tubuhku tak bisa berkompromi bila wanita merayuku. Tubuhku akan berkeringat dan lemas. Nafsu yang tadinya membuncah jatuh seketika. Kau kira aku tak ingin meniduri wanita-wanita itu? Aku ingin!! Rasanya menyakitkan bila tak bisa memenuhi kebutuhanmu, Darren. Kau sendiri tahu hal itu kan? Aku ingin memiliki keluarga, Darren! Anak-anak yang lucu, yang wajahnya mirip denganmu, denganku. Kau kira aku tak ingin? Aku sangat menginginkannya!!” Daniel melepaskan kerah kemejaku hingga aku jatuh ke lantai. Tubuhku terpuruk demi mendengar alasan yang Daniel kemukakan padaku. Akhirnya aku tahu mengapa Daniel tak pernah mengenalkan wanita pilihannya pada Bibi Amanda, padaku, pada keluarga kami. Aku..merasa kasihan padanya.

Daniel duduk di lantai, punggungnya bersandar pada kaki sofa, menenggak whisky dari botolnya. Aku sungguh tak mampu berkata-kata, sebagian hatiku kasihan pada nasib Daniel, tapi sebagian besarnya merasa begitu marah karena kepicikan jalan pikiran Daniel. Dia tak bisa memaksakan keinginannya padaku.

Lagipula.. Bila dia ingin memiliki anak dengan darah White mengalir didalam tubuhnya, dia bisa membayar seseorang untuk menjadi ibu dari bayi tabung yang bisa dia donorkan spermanya kan? Daniel hanya tak mampu bercinta dengan wanita kan? Dia masih bisa onani kan?

“Daniel..onani selama ini?” pikiranku meringis membayangkan bila diriku berada di posisinya, aku tak akan sanggup.

Dengan lesu aku meninggalkan apartemen Daniel, meninggalkannya menghabiskan whisky dalam genggamannya. Dia bisa tidur karena mabuk dan bangun keesokan hari dengan kepala ringan, dia akan melupakan pertengkaran kecil kami ini.

Di dalam mobil aku menyentuh rahangku yang bengkak akibat pukulan Daniel. Kini kulit itu memerah memar. Daniel memukulku tanpa ampun. Untungnya hanya sekali, dia tak akan sanggup melukaiku lebih dari ini. Sejenak aku mengulang kembali kata-kata Daniel tentang “hutang nyawaku” padanya. Ya.. aku memang berhutang nyawa pada Daniel.. 


33 comments:

  1. masa lalu mrk bener2 bikin mrk punya trauma yg parah.
    yg satu takut sama cewek. Mungkin cuma diane yg ga ditakutin sama daniel. Yg satu takut untuk berhubungan serius. Menikah dan punya anak. Ini rumit mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ntr di chapter berikutnya jawabannya kenapa si darren takut bgt buat nikah sist. tp rahasianya daniel nanti aja deh wkt gilirannya daniel wkkwkwkw

      Delete
    2. wah rahasia apaan mba? Jadi makin penasaran...

      Delete
  2. Iya sungguh membingungkan..ckckckck
    Tp mlm ni mereka g bagi2 cwenya, dpt jtah masing2...xixixixixi #kabur

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahah... "kyk orang kere aja satu dibagi berdua" kata David. wkwkwkkww

      Delete
  3. Ky judul lagu complicated
    darren kembalilah ke jalan yg lurus dan nikmat. Hahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. jiahaahhaa.. selama ini emang udah lurus kok cin... bengkok2 dikit katanya lebih nikmat.. lol

      Delete
  4. Aq penasaran ama informanny Daniel,,
    Owh Daniel,,when will i meet u??
    keep strong 'til u find me, darling,,
    Daniel betul2 kaka yg baik,,
    Darren juga adik yg baik,,,
    Smua klan White baik2,,,

    ReplyDelete
  5. Hmm,,,bab yg y sangt menegangkan mba

    Mrka mempunyai trauma sendri 2
    Ini rumit'berdoa aj smoga calley n diane bisa merubah kehidupan mrka

    Senang y di bab ni si darren gak jdi deh buang hjty
    Hahaha,,,
    God luck kk,,,,
    Selalu menanti bab'' berikuty everyday```~~~```

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. kasian si Darren udah makin stres ni sist.. bntr lg meledak dah dia. wkwkwkw

      Delete
  6. Sih daniel takut sama deket sama wanita ???
    Apa nanti dih daniel ketemu wanita yang bikin dia kelepek-kelepek kan mba shin ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketemu donk Sisca,,,kan aq wanitany Daniel,,*pasang plang di dahi,,:)

      #klaim HMP,,

      Delete
  7. Adduuuuh 2 bersaudara ini
    :(
    Darren Daniel,jangan berantem donk :/

    ReplyDelete
  8. Mbaakk, darren ama jung nam kapan nongol lagi :malu:

    ReplyDelete
    Replies
    1. doain ya besok lagi. malam ini aku musti kerja romusha bikin minimal 2 cerita hauhauauha: stok habiss.s..:

      Delete
  9. wuiiih... pertengkaran yg menegangkan..
    Daniel kok bisa gitu? kno takut sama wanita??
    sini sama aku ajaa.. nnti aku janji bakalan ngerawat daniel dg baik
    janji ga bikin takut deh :D
    frustasi deh Darren.. sabar ya Dar, nnti kan ada calley.. ;)

    mbak shiiin, tetep semangaatt...
    FIGHTING!!!

    ReplyDelete
  10. wah daniel takut ma wanita, venustraphobia kah?????
    Darren ayo lanjutkan garis keturunan kel. white... menikahi calley mungkin ???? lanjutkan mbk shin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha nanti daniel bikin bayi tabung aja suruh sista.. lol

      Delete
  11. Wadaw.... Mas darren lagi asyik asyiknya makan duren di ganggu ... Ngamuk dech hehehehe
    Btw makasih ya mbak shin yang manieZ.... Peluk erat.... Senyum manja hehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahaahah makan duren?? apa tu sist artinya? sama sistaa.. :D

      Delete
    2. Artinya itu low sist.... Itu tuh..... Tuh...tuh....hahaha (putar otak ampek guling guling)hehehe ....

      Delete
  12. wah...masih kurang tuh baku hantamnya......hehheheehhe.....
    masing2 punya trauma yang menakutkan....kasihannnn......hikhikhik..
    kayaknya bakalan seru nih, gimana masing2 mereka mengatasi traumanya.
    ayo...mbak shin...semangat.....semangat....semangat......

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe... karena mereka emang berniat berantem kok sista. hiihhihi... sip sip makasi ya... cerita erotisnya dah ready nih. lol

      Delete
  13. Daniel kasihan sini aku sembuhin *plak, Darren emang perlu digetok sekali 2 biar sadar ga takut kena aids yah he.he ma calley aja yg msh fresh from the oven. makasih shin *big hug* sampe lembur gitu smangat ya sist:-)

    ReplyDelete
  14. Daniel knpa ya... Mudh2n hnya trauma sma ortu Πγª, bkn impoten kn Shin? Q ga rela .. Heheh.

    ReplyDelete
  15. ni si daniel ngak bisa disembuhin ya phobianya??
    ayo dong om Darren nikahin ma Calley,
    kkekkekekek

    ReplyDelete
    Replies
    1. nikahin ama calley?? siapa dinikahin ama calley?

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.