"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, January 29, 2013

Looking To You - Chapter 16



Lima belas tahun yang lalu

“Lepaskan tanganmu, aku akan bunuh diri dan polisi akan menangkapmu, mereka akan menuduh kaulah yang membunuhku. Berengsek kau, Victor!!” Ibuku sedang bergumul dengan ayahku di ruang tamu, memperebutkan sebuah senjata api yang berusaha ibuku tembakan pada kepalanya.

Dari balik pintu aku mengintip ketakutan melihat mereka. Ayah terlihat sangat marah. Belakangan ayah jarang dirumah dan saat dia pulang ayah menemukan ibu telah menunggunya dengan pistol di tangan. Ibu juga tak pernah berbicara dengan kami, sejak ayah sering membawa wanita lain kerumah, ibu semakin membenci kami. Bahkan dia tak pernah memasak makanan lagi untukku dan Daniel.


Ibu sibuk memaki-maki dalam kamarnya, menelephone banyak orang mengisahkan nasibnya yang malang pada setiap orang yang senang mendengar kisahnya, sebaliknya orang-orang itu hanya ingin mendengar kehancuran ibuku. Ibu adalah seorang model pada masa kejayaannya. Dia bertemu dengan ayahku disebuah fashion show dan mereka berhubungan sejak saat itu, menikah dan memiliki kami.

Pada awalnya hubungan mereka baik-baik saja, namun rupanya ayahku memang gemar mengoleksi wanita-wanita cantik dan semakin parahnya ayah akhirnya membawa wanita-wanita itu kerumah dan menggauli mereka di kamar utama, kamar dimana ayah dan ibuku tidur.

Tak jarang saat aku bangun pagi, aku akan menemukan ayahku sedang bertelanjang bulat dengan wanita yang dibawanya di dapur atau tempat-tempat lain yang tak pernah terpikir olehku. Mereka tak merasa risih dengan kehadiranku atau Daniel. Daniel hanya memandang mereka dengan penuh kebencian dan berlalu dari sana tanpa menghiraukan mereka. Daniel muak pada mereka semua. Lambat laun akupun mulai terbiasa dengan pemandangan itu.

Namun pemandangan di depanku ini tak pernah aku lihat sebelumnya. Dengan ketakutan aku berusaha mendekati mereka, berusaha melerai mereka. Aku tak ingin mereka bercerai, aku mendengar seorang teman sekolahku, Cristoph yang orang tuanya bercerai dan dia berakhir di panti asuhan karena orang tuanya tak ingin merawatnya. Aku tak ingin berakhir di panti asuhan, aku ingin hidup bersama dengan kedua orang tuaku, dengan Daniel. Aku berjanji akan menjadi anak baik bagi mereka dan tak akan merengek pada mereka lagi. Aku akan memakan sayuranku tanpa mengeluh dan aku akan mandi seorang diri tanpa bantuan ibu atau Daniel, aku bisa.. aku sudah dua belas tahun, semestinya aku bisa mandi sendiri, kan?

Kukatakan itu semua pada mereka, tapi mereka tetap tak menggubrisku. Bahkan tangan ayahku menepisku hingga tubuh kecilku terjatuh ke lantai dengan keras, membentur dahiku hingga memar. Tapi orang tua ku tak mendengar rintihan kesakitanku, mereka masih sibuk berebut senjata api itu, dengan makian kasar dan vulgar yang bahkan tak pernah aku dengar sebelumnya.

Semakin lama suasana semakin panas, ayahku mencoba mencekik leher ibuku agar dia melepaskan pistol itu dari tangannya, tapi bukannya mengendur, cengkeraman tangan ibu pada pematuk pistol semakin kuat dan “DORR!!”

Suara memekakkan telinga terdengar. Badanku terguncang, aku kaget mendengar suara sekeras itu didepan mataku. Mungkin setelah ini aku akan tuli untuk beberapa saat.

Tapi ternyata badanku terguncang bukan hanya karena terkejut mendengar suara pistol itu, tubuhku terhuyung jatuh menimpa lantai, aku tak tahu apa yang terjadi, yang aku tahu hanyalah dadaku tiba-tiba terasa nyeri, panas dan perih.

Tak lama kemudian tubuhku basah, aku berkeringat. Tidak..tidak juga, keringat memang menetes dengan hebat di pelipis dan leherku, tapi dada kiriku basah oleh cairan lain. Cairan berwarna merah kini menggenang di samping tanganku, mataku membelalak melihat warna darah mengerikan itu. Aku tak sempat berkata apa-apa, hanya terdengar makian ibu pada ayahku.

“Brengsek, kau membunuh anakmu, Victor! Kau puas sekarang! Tak akan kubiarkan kau lolos dari ini, kau tak akan pergi Victor! Kau harus bertanggung jawab, kaulah penyebab semua kekacauan ini!”

Dan DORR!! Terdengar sebuah letusan pistol lagi, kini tubuh ibuku terhuyung ke lantai, kepalanya menimpa kursi dibelakangnya, dari dagunya darah mengucur dengan deras, ibu mati seketika dengan mata mendelik. Sedangkan ayahku, memandang tak percaya pada tubuh ibu dan tubuhku yang tergeletak tak bergerak.

Hanya mataku yang berkijap-kijap yang menandakan jantungku masih berdetak, tapi tahukah ayah? Tidak.. dia tidak tahu, atau dia tidak perduli. Wajahnya terlihat ketakutan, dia melemparkan pistol ditangannya ke lantai, jatuh disamping tanganku. Pistol itu masih mengeluarkan setitik asap saat moncongnya menghadap ke arahku.

Ketika kuangkat lagi mataku ke arah ayah, dia berusaha kabur. Mengapa? Mengapa ayah tak menolongku? Aku masih hidup, yah. Aku perlu pertolongan. Jangan tinggalkan aku disini pelan-pelan menunggu kematianku. Dadaku masih terasa amat nyeri dan ayah menambah nyeri itu dengan kekecewaanku padanya.

Ayah tak mencintaiku sama sekali, tak ada artinyakah aku bagi ayah? Ayah bahkan tak memeluk tubuhku yang sekarat, ayah tak perduli bila aku sedang meregang nyawa disini. Mulutku terkunci, tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun, lidahku kelu, hanya mataku yang meneteskan air mata menatap ayahku yang panik dan berusaha kabur. Dia mengintip jendela, melihat orang-orang mulai berkerumunan diluar rumah kami. Terdengar suara sirene mobil polisi dari kejauhan.

Ayah berusaha kabur? Tidak.. dia tak boleh kabur! Ayah harus disini. Bila ibu mati, aku mati, maka dia tak boleh hidup. Dia tak akan lari dari tanggung jawabnya kali ini. Aku akan membuat ayah tak bisa berlari. Aku akan menembak kakinya, hingga dia terjatuh. Hingga dia tak akan pernah lari dari kami lagi. Kami akan memiliki ayah selamanya, kami akan mempunyai ayah selamanya, kan? Meski ayah yang tak bisa berlari.. tapi kami punya ayah, kan?

“DORR!!” aku tak menyangka aku sanggup melakukannya. Tangan mungilku menembakkan senjata pada paha ayahku, tepat mengenai pinggulnya. Dia pun terjatuh dan berteriak dengan keras. Ayah menatapku dengan marah. Dia memakiku dengan kasar.

“Bajingan kecil! Bukannya kau sudah mati!! Sialan. Kubunuh kau sekarang!!” ayahku berusaha merebut pistol dari tanganku. Dia menyeret tubuh nya mendekatiku.

Aku tak bisa bergerak lagi, mataku mulai berkunang-kunang. Tanpa ancaman itupun aku pasti akan mati sekejap lagi. Semoga tak terlalu sakit saat kematian itu datang, semoga perih ini semakin mereda.

Tubuhku menggigil, aku mulai kedinginan, mungkin wajahku pucat seperti wujud orang-orang yang mati yang kulihat di film-film yang kutonton bersama Daniel.

Akhirnya ayahku berhasil merebut pistol yang kugenggam dengan tak berdaya. Dia menyeringai penuh kemenangan. Apa yang dia pikirkan, dia akan membunuhku? Mengapa? Bukankah dia mengatakan dia mencintaiku dulu? Bukankah aku jagoan kecilnya? Mengapa kini ayah berubah? Apakah karena wanita-wanita itu? Apakah ayah punya anak-anak lain diluar sana? Sehingga ayah melupakanku? Sehingga ayah membenciku dan tak menginginkanku lagi?

Ayah tak pernah bermain denganku lagi, atau dengan Daniel. Ayah hanya akan menitipkan kami pada Paman Thomas dan dengan enggan menjemput kami saat liburan berakhir. Dia tak akan pernah menemui kami lagi, tak akan pernah mencium kening kami lagi saat dia pulang kerumah dari pekerjaannya.

Ayah tak sehangat dulu lagi, dia tak pernah memuji keberhasilanku di sekolah, tak pernah tertarik dengan ceritaku tentang kehebatanku menjawab semua pertanyaan berhitung di kelasku. Tak merasa gembira saat kuberitahu aku mendapat juara kelas. Ayah berubah, ayah tak menyayangiku lagi...

“Kubunuh kau sekarang, bocah!” dengusnya.

Tapi aku tak ingin mati sebelum mengetahui satu hal. Akupun menanyakan pertanyaan itu pada ayah.

“Kenapa kau tak menyayangiku lagi, yah? Apa salahku?” tanyaku lirih, aku berhasil menggerakan lidahku, menanyakan pertanyaan terakhirku, sebelum ayah melepaskan peluru panas itu pada kepalaku.

Ayah terhenyak, dia nampaknya tak siap bila aku menanyakan hal itu. Namun kemudian wajahnya mengeras, tatapannya sedingin saat dia biasa menatap ibu. Jawaban yang kudengar dari ayah seketika menghancurkan setitik harapan dalam hatiku, aku..telah kehilangan ayahku. Ayah yang aku puja-puja, saat tubuhku diangkatnya tinggi-tinggi dan tertawa gembira bersama. Saat ayah merekam video pertamaku, saat aku mulai bisa berlari, saat aku mulai bisa memanggilnya ayah, saat aku mengucapkan “aku sayang ayah”, saat ayah mengemudikan mobilnya dan berjalan-jalan denganku dan Daniel, semua kenangan itu perlahan-lahan terputar kembali di kepalaku, hanya saja kenangan itu kini telah lenyap dari ingatanku.

“Kau bukan anakku. Ibumu berselingkuh saat dia mengandungmu” ayah meneteskan air matanya. begitu pula mataku. Aku tak sanggup mendengar kata-kata ayah lagi. Aku telah mati. Aku tak bisa merasakan, mendengar atau berpikir, aku telah mati.

“DORR!!!”

Aku buka mataku demi mendengar sebuah letusan lagi. Ayah telah menutup matanya di hadapanku. Ayah telah mati. Darah mengalir dari kepalanya. Dia tak berkata-kata lagi.

“Kau tak apa-apa?” tanya suara yang aku kenal. Daniel.. kakakku. Wajahnya semuram langit mendung diluar sana. Daniel..berusia lima belas tahun saat itu. Dan dia menembak mati ayah kami?? Tidak!! Mengapa?

“Aku tak akan membiarkan siapapun melukaimu, Darren. Laki-laki ini, seandainya dia bisa hidup lebih lama, dia akan menyembah di kakimu. Dan jangan dengarkan kata-kata terakhirnya. Dia menipumu”

Kemudian Daniel dengan tiba-tiba menembakkan pistol itu ke perutnya. Dan diapun terjerambab disampingku. Dengan ringkih tangannya menghapus bekas-bekas sidik jari kami yang mungkin tertinggal disana, kemudian meletakan pistol itu dalam genggaman tangan ayah kami. Tidak.. Dia bukan ayahku.. Mungkin dia adalah ayah Daniel.. Tapi dia bukan ayahku.. Aku.. aku tak tahu siapa ayahku. Aku tak tahu darah apa yang mengalir dalam tubuhku. Darahku..bukan darah White..

~~~~

Pukul delapan pagi, aku telah kembali ke apartemenku. Aku memutuskan mandi air dingin untuk melepaskan segala frustasi dan tekanan hidupku, andai itu berhasil. Tidak. Sama sekali tak berhasil. Pikiran berkecamuk dan emosi yang tak mereda masih menyala dengan bara panas dalam dadaku. Aku tak ingin ke kantor hari ini, meski aku telah memakai pakaian formalku. Jas hitam licin mengkilap, salah satu yang ku suka dari puluhan jas dalam lemariku.

Pagi ini aku telah menghisap sebungkus rokok hanya untuk mengalihkan pikiranku dari balas dendam. Aku tak bisa memukul Daniel, aku juga tak bisa menemukan dimana si berengsek Shelton berada. Dan disinilah aku, memarkir mobilku di depan kampus Dorothy, sepupuku yang nakal. Dialah pelapor Daniel, dialah yang menghubungi Daniel semalam sehingga saudaraku itu merusak hiburanku. Aku tak akan melepaskannya begitu saja. Aku akan memberikan apa yang dia inginkan, dia pasti menginginkannya, kan?

Ketika kulihat sosok Dorothy dari kejauhan, aku pun turun dari mobilku. Kuteriakan namanya membuatnya mendekat. Kami berdiri berhadapan, gadis berusia sembilan belas tahun ini menatapku tanpa curiga. Dia memegang beberapa buku tebal ditangannya, aku tak tahu bila dia adalah kutu buku. Tas gendongnya menggantung cukup berat dipundaknya. Aku ambil tas itu dan menggamit lengannya.

“Ikut aku” kataku memaksa.

“Darren, Darl.. Kemana kau bawa aku? Aku ada pelajaran sebentar lagi, dan ini masih pagi. Tidakkah kamu bekerja?” katanya sembari menyeret langkahnya mengikutiku.

Kududukan dia di kursi penumpang, kupasangkan sabuk pengamannya dan memintanya diam. Dia tak bisa membantahku, aku serius kali ini.

Saat aku berada dibalik kemudi dan membawa mobilku menjauh dari kampus itu, kugertakan rahangku dan membuatnya merinding mendengar kata-kataku.

“Kau diam-diam saja. Bila tidak, aku tak akan segan-segan” ancamku. Dorothy terlihat kebingungan. Dia melihat keluar jendela dan beralih pandang ke arahku, mencoba berbicara denganku.

Namun aku tetap diam tak menjawabnya. Untuk jaga-jaga agar Dorothy tidak membuka pintu mobil saat mobil berhenti di lampu merah, kuncipun aku segel sehingga dia tak bisa membukanya kecuali aku melepaskannya. Dan benar saja, dia berusaha kabur, aku hanya menatap tajam ke depan saat dia mencoba melakukannya lagi saat mobil berhenti di persimpangan berikutnya.

Dengan kencang ku larikan mobilku menuju hotel terdekat yang dapat aku temukan. Dorothy meronta-ronta dan berteriak marah saat kucengkeram tangannya dengan kasar dan menariknya ke arah hotel. Sebuah motel kecil tempat orang-orang biasa melakukan perbuatan mesum. Saat masih pagi seperti ini, hotel seperti ini sepi pengunjung. Bahkan penerima tamu tak perduli dengan rengekan penuh kebencian Dorothy saat aku menarik tangannya menuju kamar yang telah kupesan.

Dengan tak sabar kubuka kunci pintu kamar itu, menghempaskan tubuh Dorothy ke dalam kamar kemudian mengunci pintu itu lagi, kuncinya kusembunyikan dalam saku celanaku.

“Apa maumu, Darl?” teriak Dorothy marah, dia terdengar ketakutan sekarang. Semestinya kau berpikir sebelum melaporkanku pada Daniel, Dothy.. kau hanya menggali kuburmu saat memilih memberitahukan orang lain mengenai hal yang bukan urusanmu.

Mata Dorothy semakin membelalak saat melihatku melepaskan jasku, dasi, hingga kini aku telah bertelanjang dada di hadapannya. Wajahnya terlihat ngeri menatapku, meski tak dapat dipungkirinya dia menelan ludahnya saat memperhatikan tubuhku yang dia idam-idamkan selama ini.

Bukankah ini keinginannya? Bukankah dia menginginkanku selama ini? Dia ingin kumasuki kan? Dia ingin merasakan ereksiku di dalam tubuhnya, kan? merasakan kekuasaanku pada dirinya. Gadis jalang ini harus diberi pelajaran karena mencampuri yang bukan urusannya.

“Ini yang aku mau, Dothy” kataku saat menarik tubuhnya dalam dekapanku, mencium dengan ganas bibirnya yang tak bisa menolak bibirku.

Kudorong tubuh Dorothy dengan tubuhku hingga badanku menindih tubuhnya di atas ranjang, dengan kasar kurobek pakaian atasnya hingga terlihat payudaranya yang putih. Dorothy mencoba mendorong tubuhku, tentu dia tak menikmati perbuatanku. Aku tak perduli dia menikmatinya atau tidak, karena aku tak berniat melakukannya dengan lembut padanya. Dia harus dihukum, Dothy harus dihukum!

Kucengkeram kedua pergelangan tangannya di atas kepalanya, pahaku mengunci pinggulnya dan bibirku bergerak dengan bebas menciumi leher Dorothy yang terbuka. Dia tak menjerit-jerit lagi, lenguhan-lenguhan kenikmatan mulai keluar menggantikan makian yang tadi diucapkannya. Kuciumi lagi bibirnya dengan lebih liar, memainkan lidahnya dan menghisap dengan nikmat untuk melampiaskan nafsuku yang tertunda, karena dia menggagalkan rencanaku.

Kulepaskan cengkeraman tanganku, Dorothy tak melawanku lagi, begitu seharusnya. Dia memang menginginkannya juga, dia tak akan melawanku lagi. Kini tanganku menyisihkan sisa-sisa pakaian atas Dorothy yang telah terkoyak tak berbentuk, memperlihatkan kedua belah buah dadanya yang membusung ke arahku. Begitu ranum, begitu bersih tak tersentuh. Kaitan branya pun telah kulepas dan kuhempaskan jauh-jauh.

Tanganku menguncup pada puncak payudaranya, mengukur besarnya payudara itu dengan tanganku. Lalu kuciumi putingnya yang kecil, memainkan lidahku dengan senang disana. Tubuh wanita muda memang selalu menggiurkan, mereka memiliki aroma yang berbeda dari wanita-wanita yang hanya dimanipulasi dengan parfume-parfume buatan manusia. Bau tubuh Dorothy memabukan nafsu birahiku, dan kejantananku telah mendesak dengan sangat. Kali ini dia harus mendapat pelepasannya.

Kujilati buah dada Dorothy hingga ke perutnya, lidahku bermain pada lubang pusarnya, mengelus-ngelus dasar pusar itu kemudian kuhisap-hisap hingga Dorothy menggelinjang dengan gelisah.

Lalu kemudian semua terasa gelap, kepalaku berkunang-kunang. Saat aku mendapat kembali pengelihatanku dengan tajam, hanya wajah penuh gairah Dorothy yang kulihat dibawahku. Wajah penuh gairah yang telah siap untuk menerima semua cumbuan yang bisa kuberikan pada tubuhnya.

Tapi tubuhku membeku, mungkin Dorothy dapat melihat tatapan ngeri dari mataku sekarang, tatapan menjijikan yang kuberikan pada diriku sendiri. Kemudian aku berguling ke sisi ranjang. Meremas rambutku dengan marah, akhirnya mataku terbuka. Emosi telah menguasaiku hingga ke titik ternadir.

Aku hampir memperkosa sepupuku sendiri. Meski aku tak tahu bila kami memiliki darah yang sama atau tidak. Aku terlalu takut untuk melakukan tes DNA, kau tahu. Aku tak berani menghadapi kenyataan bila kemudian memang aku bukanlah seorang White. Apa yang akan terjadi pada hidupku bila mengetahui aku bukanlah seorang White?

Aku tak mungkin bisa menjalankan perusahaanku lagi, perusahaan itu milik keluarga White. Memang diwariskan atas namaku dan Daniel.. Tapi pantaskah aku mewarisinya bila perusahaan itu bukanlah milikku?

Kurasakan tubuhku kaku, tanganku menutupi wajahku yang frustasi. Aku telah kelewatan, apa yang membuatku berbuat seperti ini? Aku kehilangan kontrolku atas diriku. Kejadian belakangan ini membuatku kehilangan kendali diri, kehilangan identitas diri.

Dorothy menyentuh pundakku, dia menumpukan dagunya disana. Bahkan gadis ini tak membenciku setelah apa yang aku lakukan padanya. Masihkah dia mencintaiku setelah ini? Akankah dia mencintaiku setelah tahu aku bukan seorang White? Setidaknya aku tahu, seseorang mencintaiku, kan? Meski dia adalah sepupuku, sedarah atau tidak..tapi semua orang tahu kami sedarah. Dan sangat tidak menarik menjadi obrolan karena perbuatan incestmu dengan keluargamu.

“Maafkan aku, Dothy. Aku gelap mata” bisikku lirih. Dorothy mengelus punggunguku yang telanjang, seseorang yang tak kusangka akan melakukan hal itu untukku. Tak pernah aku bermimpi akan bertelanjang dada bersama Dorothy? Dalam kamar motel murahan seperti ini? Yang bahkan dindingnya setipis kardus bekas, sehingga kamar sebelahmu bisa mendengar dengan jelas setiap percakapan ataupun desahan percintaanmu.

Pagi itu kami memutuskan untuk memesan makanan di hotel, menyantap makanan kami dengan riang. Kami tidak membicarakan pergulatan pagi ini. Kami kembali seperti kami yang dulu, Darren dengan pemujanya Dothy yang manja. Bertingkah layaknya kakak-adik. Tak ada yang mencoba melakukan kedekatan fisik lebih dari sebuah pelukan saat kami berdua tertidur di atas ranjang, masih bertelanjang dada. Pakaian atas Dorothy telah hancur kukoyak dengan tanganku. Aku harus memikirkan cara untuk mengantarkan Dorothy kerumahnya tanpa menimbulkan kecurigaan Paman Thomas dan Bibi Amanda.

Tapi sekarang, kami hanya ingin tertidur, melepaskan semua beban dan masalah kami. Terpisah dari dunia yang kadang bisa begitu kejam padamu.

Dorothy meringkuk manja dalam pelukanku, kepalanya bertumpu pada lenganku, daguku di atas kepalanya. Kucium lembut kepala Dorothy dan mengucapkan selamat tidur padanya. Selimut yang tipis menutupi tubuh kami hingga batas dada. Saat menjelang petang, aku mengantarkan Dorothy kembali ke rumahnya. Untungnya pintu depan tak terkunci sehingga Dorothy bisa menyelinap masuk ke kamarnya tanpa terlihat Paman Thomas atau Bibi Amanda. Aku mengundang diriku makan malam bersama mereka, kemudian Dorothy -setelah mengenakan pakaian lain- ikut bergabung bersama kami. Dia duduk disampingku, makan malam riang seperti keluarga sebenarnya. 


34 comments:

  1. aduh masalalu yang bner mengerikana ya??
    sabar ya om darren..
    tante calley slalu ada untukmu, hehhehehe

    ReplyDelete
  2. Itu kisah darren ma daniel kecil kasihan bngt yach, untung ga sampai kejadian ma dothy, bs jantungan aku he.he mksh shin *peyuk ah*

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaha... kyknya besok2 bisa dijadiin nih sist.. kan mereka belum tentu sedarah heuehueue

      Delete
  3. hiks, kasihan banget sama Darren..
    aku ga nyngka masa lalunya sepahit itu..
    Darren, yg tabah ya.. bukan bearti krna masa lalumu yg kelam maka masa depanmu akan sama sekelam itu juga..
    ayo Darren, semangat teruuss...

    mbak shiiin... thank for your great story.. *mata berkaca-kca

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi Merryyy.... :hug: thanks for the support ^^>

      Delete
  4. Deg,,,,deg,,,serrr....syukurlah darren sadar sblum trlanjur ma dothy.
    Hadeehhh.....mbak shin....dikau sukses mengaduk aduk perasaan ku!
    Anyway,,,,4 jempol bwt mbak.
    *Msh megap aq abis bacanya mbak.....*

    ReplyDelete
    Replies
    1. darren dpt bisikin goib sist, makanya lgsg sadar.. wkwkkwkw sama2 sista.. :D

      Delete
  5. Serem banget masa lalu darren, kelaam
    Kasiian... Huhuhuhu
    Untung ga jadi beneran ama dothy,ga relaa, udah deg-deg an aja
    Hiihihihih

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihhiiii.. gk rela ya sista darren ama dothy?

      Delete
  6. Oh hampir saja,,,,
    Syukurlah akhiry gak terjadi,,,
    Bener2 kasihan si Darren,,

    ReplyDelete
  7. masa lalu yg kelam kel. white...
    leganya q kira darren akan melakukannya dg dothy. BIG NO!!!!!!

    lanjutkan mbk shin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaahah gk ada yg setuju ya darren n dothy? ^^

      Delete
  8. Sad story :'( .... Good night yach beib shin uhemmmm ... Tarik selimut
    Thanks all about... Fighting !!

    ReplyDelete
  9. kenapa ya setiap baca cerita mba shin aku jd gemeteran ????

    ReplyDelete
    Replies
    1. dugem ya babe? duduk gemetar... wkwkkwkwkw,..,

      "tau gak kenapa setiap baca ceritamu aku gemeteran?" says crackyhead

      Hyden look at her and put on his silly face "rumahmu disamping stasiun kereta api sih"

      kwkwkwkw..

      Delete
  10. aduh kebiasaan semalem ga bisa komen. Ampe frustasi aku.
    mba shin, suer aku nyesek bnget bca flashbacknya. Kejam amat bpknya...
    n what? Ampir aja darren kalo ampe jebol masalahnya bisa makin rumit boss
    mba shin yg cantik muah muah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha waduh sampe segitunya sista.. :tp aku jg kl gk bs komen bs frustasi lol:

      bapaknya sbnrnya sayang bgt kok ama anak2nya. tp setelah tahu istrinya selingkuh, dia jd benci krn nganggap mereka bukan anak2 nya lagi, bapaknya merasa dikhianati, makanya dia jd berubah gt :D

      hahaha kl jebol enak di darren donk.. -ama dothy jd enak-

      Delete
  11. Msa kecil Ɣªήğ tragis... Pantes aja pda alergi prnikahan.

    ReplyDelete
  12. salam kenal shin.. pembaca baru nihh..
    dilanjut donk itu darren and dothy.. kynya aq doank nih yg shipper darren dothy.. hikss
    ahhh please ga ada hubungan darah donk...hhhehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal jg sista/bro.. :D

      hahaha.. nanti deh aku coba bikin lanjutannya, tp gak diposting disini. wkkwkwkw.. ada hubungan darah jg gpp kok sista. di blog sebelah diperbolehkan kok :wkkwkwkw:

      Delete
    2. mbk,,, maaf menyela percakapan.. penasaran sama jwaban mbk shin...

      mbk ng'pos lnjtan dmna mbk??? aq jadi bngung nih mbk.. blog y g bsa masuk punya mbk ato bukan,, sumpah aq prustasi sndri nih drmh... mau nnya tp bngung nnya spa, g ada yg ol... mbk blog baru itu pnya mbk ato bukan mbk?? isi'y tntang apa mbk??? bngung... :(
      klw blog yg stu pya mbk jg, tlong undang aq y mbk.. emailku :liariri1212@gmail.com

      Delete
    3. hahahah untungnya udah terjawab n km gk pengen masuk kesan ya sist? lol... untung belum di add.. ya itu blog punyaku jg, aku jg bikin cerita2nya kok :D

      Delete
  13. aq sista mba shin.. ga punya id blogspot jd pake anonim...hheheheh
    iya mau donk dilanjutin kisah darren dothy..
    btw blog yg mn tuh sis klo boleh tau?
    -loleepop-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah ya kapan2 sist ya, kl lg niat. lol. blog sebelah, cuman masuk kesana musti jd member dl. n membernya pake account gmail, soalnya selain itu gk bs masuk. wkwkkw.. kl mau masuk, pas udah ada account kirim aja email ke drama.story@yahoo.com atau hydenchristensen@yahoo.com ya

      Delete
  14. k shin,,,,lanjutannya dong,,,,,,!!!!!!

    ReplyDelete
  15. Aaaa...darl untunglah kau sadar...
    Kau itu berdarah white tauk! Ni hasil dna nya sm aku
    kuambil dr rambut kemaluanmu yg rontok
    huahahahaha
    maksa abis

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkwkwk gile bener masak rambut kemaluan yg rontok?? kapan mungutnya sist? kwkwkwkkw

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.