"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, January 20, 2013

Looking To You - Chapter 7



“Aku telah melunasi hutangku, Dot. Kau tak akan menyebut-nyebut masalah ini lagi, kan? Aku hanya ingin semua kembali seperti semula. Bisakah, Dot?” tanyaku serak.

Gadis ini tidak menjawabku, wajahnya menunduk sedih. Entah apa yang dia pikirkan. Semoga dia tak jatuh cinta padaku. Aku tak mungkin bisa kembali kerumah ini bila Dorothy mencintaiku, akan sangat menyedihkan melihatnya berusaha menghindariku karena perasaannya itu.


“Aku akan turun, dan.. selamat ulang tahun” ku angkat bahu Dorothy hingga kami berdua kembali berdiri diatas kaki kami masing-masing.

Dia masih menunduk, tapi aku tak ingin merasa kasihan padanya. Aku tak boleh, aku tak bisa. Kukecup ringan keningnya sebelum menutup pintu kamar Dorothy yang tak akan pernah kumasuki lagi.

Saat turun kebawah, aku melihat Daniel sedang duduk dan berbincang dengan Paman Thomas di sofa sambil menonton pertandingan baseball di televisi. Aku pun ikut bergabung bersama mereka, membuka sekaleng bir dingin untukku.

Daniel menyenggol bahuku saat duduk disampingnya.

“Beres?” tanya Daniel, menanyakan tentang urusanku dengan Dorothy.

“Beres. Tak ada hutang lagi” jawabku acuh sambil menyesap bir dari kaleng.

“Kalian jangan pulang dulu, Amanda sedang memasak beberapa ekor Roasted Chicken, kalian tak ingin melihatnya sebal kan karena melewatkan makan malam ini?” Paman Thomas melirik ke arah dapur dimana Bibi Amanda sedang sibuk mengaduk-aduk gravy di dalam panci saus. Aku belum menyapanya.

“Aku akan menyapa Bibi Amanda” kataku pada Daniel saat Dorothy turun dari lantai dua.

Kami berpapasan, dan aku lega wajah gadis itu tak menunjukan bahwa sesuatu telah terjadi di antara kami. Dorothy mengambil tempat di samping Daniel, mencomot beberapa biji popcorn dari atas meja.

“Baunya enak, Bi. Aku rasa aku akan meminta porsi lebih malam ini” kataku sambil mengecup pipi wanita tua itu, namun wajahnya masih terlihat menawan meski terdapat keriput pada pinggiran mata dan mulutnya.

“Kau sungguh tahu bagaimana cara untuk mendapatkan porsi lebih, Darl. Dimana Dorothy? Sejak pagi dia telah menggangguku dengan rengekannya karena kau tak datang pada pesta ulang tahunnya kemarin. Dia sangat marah dan mengunci diri di dalam kamarnya, kau sungguh nakal” Bibi Amanda mencubit pipiku gemas.

“Bukan salahku bila perusahaan semakin sibuk, Bi. Perusahaan semakin maju, aku bahkan tak memiliki banyak waktu untuk diriku. Tapi aku minta maaf karena melanggar janjiku, lagi.. Aku janji, Thanksgiving nanti tak akan aku lewatkan” cengirku merasa bersalah.

“Mulutmu begitu manis, andai kakakmu Daniel memiliki sedikit saja sifatmu ini, dia seharusnya sudah menimang dua orang bocah sekarang. Apa kakakmu sedang berkencan dengan seseorang? Karena aku tak pernah melihatnya membawa siapapun kesini” kami berdua memandang ke arah ruang tamu pada Daniel yang sedang berbincang-bincang dengan Paman Thomas.

“Aku tak tahu Bi, kami jarang bertemu. Dan setiap bertemu kami tak pernah membicarakan masalah selain pekerjaan. Kau tahu, kami sibuk” kilahku.

Sesungguhnya kami tak ingin membahas masalah itu. Aku terlalu kesal bila Daniel menasehati hobbyku dan dia terlalu gusar bila aku menawarkan perempuan padanya. Entah bagaimana dia melampiaskan gairahnya selama tiga puluh tahun ini. Dia sudah terlalu tua bila melakukan onani, dia butuh benda asli.

Semua orang punya kebutuhan, aku hanya berharap Daniel tak akan tertarik pada laki-laki meskipun dia jijik terhadap wanita, walau aku tak akan membencinya karena orientasi seks kami yang berbeda. Apapun dia, dia tetap saudaraku tercinta.

“Kau ini. Kenapa tidak kau carikan saja wanita yang baik untuk kakakmu? Diane? Sekretarismu itu? Aku rasa dia menyimpan perasaan pada Daniel. Entah mengapa mereka tidak berkencan, bukankah waktu mereka kuliah Daniel sering mengajaknya kesini? Meski dia hanya mengenalkan wanita malang itu sebagai temannya” Bibi Amanda menghela nafas. Dia memikirkan nasib laki-laki keluarga White dan penerus keturunan keluarga kami.

“Aku rasa mereka tidak cocok, Diane terlalu dominan. Mereka akan sering bertengkar bila bersama” kataku sambil mencomot beberapa biji buah anggur dari atas meja makan.

“Kau rasa demikian? Dari mana kau tahu Diane dominan? Apa kau pernah berkencan dengannya?” selidik Bibi Amanda, matanya membelalak menuduhku.

Aku mengangkat tanganku, menyerah. Kau bisa merasa terintimidasi oleh Bibi ini meski ditangannya hanya terdapat sebuah ladle sup yang dia corongkan padaku, bersiap untuk memukul kepalaku bila jawabanku tak disukainya.

“Aku tak pernah berkencan dengan Diane, Bi. Hilangkan pikiran anehmu itu” dengusku.

“..Hm.. Jangan kalau begitu. Kau sendiri.. Kapan kau akan mengenalkan seorang wanita baik-baik pada Bibimu ini? Kau tak ingin memberikan beberapa orang cucu untuk ku asuh? Dan jangan katakan kau ingin membawa wanita bahenol itu kesini. Buah dada silikonnya tak akan mengeluarkan air susu untuk memberi minum bayimu” suara menggelegar Bibi Amanda terdengar hingga ke ruang tamu, karena aku mendapati Paman Thomas dan yang lainnya menjengitkan dahi menatap kami. Dorothy kemudian pergi dari sana, masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh bagus sekali, Bi.. Kau menambahkan satu daftar lagi mengapa gadis itu harus membenciku.

“Ya..ya.. Aku akan membawakanmu seorang cucu dan seekor sapi untuk kau perah susunya dan meminumkannya pada bayi itu”

Bibi Amanda melotot padaku, tangannya melayang memukul kepalaku.

“Bletak!!” suara benda tumpul dihantamkan pada tengkorak kepalaku. Ladle soup yang berisi gravy tumpah diatas rambutku.

“Ouch! Kau sungguh kejam, Bi” umpatku geram.

“Jangan kau mengumpat dirumahku anak muda, dan segera bawakan aku beberapa bayi kesini, dan istri yang bisa mengeluarkan susu dari payudaranya.. Ingat! Beberapa bayi, Darren White. Aku bersungguh-sungguh!”

Aku hanya bisa lari terbirit-birit dari sana dan membersihkan sisa-sisa gravy dari rambutku, Bibi Amanda bisa berubah menjadi penyihir bila dia marah dan kau tak akan ingin terkena mantra hitamnya. Yeah.. gravy, jus, saos tomat, kecap dan sejenisnya.

Got your lessons, Darren?” gelak tawa Daniel dan Paman Thomas menyambutku diruang tamu.

“Oh ya, Darren mendapatkan pelajarannya” sambung Paman Thomas terbahak-bahak.

Daniel melemparkan sebuah handuk kering untukku. “Bersihkan kepalamu di toilet, kau bau gravy!” katanya masih sambil tertawa.

“Tunggu giliranmu, Dan!” rutukku sebelum berjalan ke dalam toilet yang terletak di pojok ruang tamu.

Pintu toilet itu tertutup, nampaknya Dorothy masih berada di dalam sana.

“Tok..tok.. Dorothy? Kau didalam? Masih lama? Aku ingin membersihkan rambutku” teriakku dari luar. Tak ada jawaban. Kucoba membuka handle pintu, terkunci.

Mungkin dia masih sibuk di dalam sana dan akupun membalikan tubuhku untuk membersihkan rambutku di wastafel dapur. Tapi kemudian pintu kamar mandi terbuka. Dorothy menatapku sedih.

“Kenapa dengan wajahmu yang merengut seperti itu?” tanyaku acuh.

“Keluarlah, aku akan memakai toiletnya” kataku lagi saat tak mendapat balasan darinya.

“Biarkan aku membersihkan rambutmu” katanya pelan.

“Aku rasa itu bukan ide baik, Dot” jawabku sambil berkacak pinggang menunggu gadis ini melangkahkan kakinya keluar dari toilet. Namun dia kukuh di dalam sana.

“Oh, sudahlah. Aku akan mencuci rambutku di wastafel” kuputar bola mataku, bosan. Saat hendak pergi dari sana, Dorothy menarik kain bajuku.

“Masuklah, please..” pintanya lagi.

Aku tak bisa menatap matanya yang terluka. Mengapa semua menjadi begitu kacau. Akupun menggeram dan masuk ke dalam toilet. Membiarkan Dorothy membasuh rambutku di atas wastafel. Kubungkukkan tubuhku agar Dorothy bisa menjangkau kepalaku dan mencuci rambutku dengan shampoo.

Tangannya lembut memijat-mijat kepalaku, tubuh kami begitu dekat. Jangan katakan aku harus menghadapi situasi ini lagi. Di dalam kamar mandi yang pintunya setengah tertutup, terhimpit oleh badan kami yang berdesakan di dalam kamar mandi sempit ini, hanya Tuhan yang tahu apa yang bisa kami lakukan di dalam sini.

“Aku rasa aku telah jatuh cinta padamu, Darl..” bisik Dorothy pelan disamping telingaku saat menyiramkan air bersih diatas kepalaku.

Rahangku mengeras, aku tak menginginkan dia jatuh cinta padaku. Apa yang harus aku katakan?!

“Aku juga mencintaimu, Dot. Sebagai adikku” aku tak ingin Dorothy memiliki perasaan cinta yang tak lazim ini. Perasaan yang dimilikinya padaku tidak memiliki masa depan. Dia hanya akan menghancurkan kami berdua.

“Tapi aku mencintaimu..sebagai seorang laki-laki, Darl. Cinta seorang perempuan pada laki-laki..” tangisnya mulai jatuh. Air keran telah terhenti membasahi kepalaku.

Aku mengambil handuk kering yang kubawa tadi. Menggosokkan handuk itu pada rambutku yang basah. Kupandangi wajahku yang murung di cermin yang terpasang di depanku. Aku bisa melihat bahu Dorothy yang bergetar karena isakan tangisnya.

“Kau tahu perasaan itu tak boleh kan, Dot? Kau tak boleh mencintaiku. Lupakanlah, Dot. Tak kurang laki-laki baik diluar sana menunggumu. Aku..tak pantas untukmu” dengan wajah tertunduk aku keluar dari toilet itu. Meninggalkan Dorothy yang menangis tersedu-sedu karena penolakanku.

Makan malam kami berjalan seperti biasa, meskipun Dorothy mengundurkan diri masuk ke kamarnya lebih awal dari biasanya. Dia mengeluh sakit kepala dan ingin beristirahat. Pukul sepuluh malam, aku dan Daniel berpamitan dengan Paman dan Bibi kami. Ditangga teras rumah mereka, aku memanggil Daniel.

“Mau minum seteguk denganku, Dan? Ada yang ingin kubicarakan denganmu” kataku.

“Baiklah. Mobilmu atau mobilku?” tanya Daniel. Kami membawa mobil kami masing-masing. Akan sangat menyulitkan bila bepergian dengan dua mobil yang berbeda dan mengantri di bar langganan kami.

“Mobilku saja” kataku kemudian.

Setibanya di dalam Bar remang-remang itu, kami memesan empat gelas shot Tequila. Hanya dalam sekali teguk satu shot telah aku habiskan, demikian pula Daniel.

“Tambah dua shot lagi, Mike” sahutku pada Mike si bartender.

“Kau ingin mabuk, Darren?” Daniel mencoba menghentikan tanganku saat meminum Tequila ketigaku.

“..Aku hanya ingin mengumpulkan keberanianku untuk berbicara denganmu” Daniel menurunkan tangannya membiarkan shot ketiga itu turun membakar kerongkonganku.  

“Kenapa kau harus takut padaku? Apakah aku sekejam itu?” tanyanya tersinggung.

Aku hanya mencibir, sungguh buta bila dia tak menyadari betapa kejamnya dia pada sekretaris dan bawahannya. Hampir setengah pegawai di perusahaanku adalah limpahan pegawai yang dipecat atau mengundurkan diri dari perusahaan Daniel.

“Kau memang kejam, Dan. Dan kau tak menyadarinya, ironis bukan? Karena aku yang mengatakan hal itu, padahal kau tak pernah mengasariku, bahkan kau adalah penolongku, pelindungku, malaikatku” kataku mulai meracau. Alkohol telah tercampur dalam darahku dan membuyarkan kesadaranku.

Mike meletakan dua shot Tequila lagi di depanku. Gelas Daniel masih sebuah dan aku tak memesankan lagi untuknya. Sementara sudah empat gelas kosong yang berderet di depanku.

“Thanks, Mike. You’re rock, bro” aku menyodorkan tinjuku pada bartender bertubuh gempal itu yang dibalas nya dengan tinjunya dan seringai lucu.

Meski tubuh Mike bidang dan kekar, tapi wajahnya tak menyeramkan sama sekali. Kami menjulukinya Big Baby Mike karena wajah inoccentnya.

“Jangan kau berikan dia minuman lagi, Mike. Aku tak ingin mengangkutnya dalam bagasi mobil” teriak Daniel pada Baby Mike. Aku hanya menyeringai mendengar ucapan kakakku ini.

“Kau sungguh lucu, Dan..bro.. I love you so much.. You ‘ought to know that..yo..” aku berusaha merengkuh bahu Daniel namun tanganku slip dan terjatuh dari bangkuku.

Dengan kesal Daniel mengangkat tubuhku dan menjatuhkan badanku yang berat di atas kursi sofa di dekat dinding.

“Setan apa yang merasukimu malam ini? Apa yang terjadi denganmu dan Dot? Apa yang kalian lakukan di dalam toilet sialan itu, hah?” Daniel mencengkeram kerah bajuku dan menatapku tajam.

“Aku..tak melakukan apa-apa. Tak ada apa-apa antara kami.. Aku hanya ingin mabuk malam ini” jawabku. Daniel melepaskan kerah bajuku dengan marah, kemudian menyalakan sebuah rokok untuk dirinya.

“Berikan aku satu” pintaku.

Dia menyodorkan sebatang rokok untukku dan menyalakannya dengan korek ditangannya. Kuhisap rokok itu dengan nikmat. Tanganku bergetar saat kuhembuskan asap rokok itu ke udara.

“Dorothy mencintaiku, Dan.. Aku telah menolaknya dan.. kau tahu bagaimana rasanya menatap matanya yang terluka? Hatiku ikut sakit. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan untuk menghiburnya. Aku tak bisa, Dan” aku menyesap rokokku lagi. Daniel menghembuskan nafasnya panjang, menggertakan gerahamnya dan menatap lurus ke depan. Pikirannya sama kalutnya dengan pikiranku sekarang.

“Dia memang terlihat memujamu sedari dulu, aku tak akan heran bila dia akhirnya menyadari perasaannya” bisik Daniel lirih.

“Menyadari perasaannya? Dia seharusnya sadar bahwa perasaan ini tak boleh dia miliki, Dan. Apa kau gila? Dia tak memiliki masa depan denganku. Meskipun bila kami mungkin tak memiliki hubungan darah, dia tetap tak boleh jatuh cinta pada laki-laki sepertiku. Dia terlalu suci untuk tenggelam dalam hidup seorang Darren. Dalam hidupku” tubuhku bergetar lagi. Kini Daniel merengkuh bahuku dan membawaku dalam pelukannya.

Aku tak menyangka saat usiaku menjelang dua puluh delapan tahun aku masih memerlukan pundak seseorang untuk tempatku menangis. Berengsek! Aku menangis. Di depan umum, di depan mata semua pengunjung bar ini. Dan aku tak perduli setan dengan tatapan mereka.

Aku pernah menembak seseorang, dan aku tak takut untuk menghajar orang lagi hingga orang itu sekarat bila berani menyindirku. Aku sedang terluka saat ini, kau tak ingin menyinggung harimau yang terluka, kan? 


29 comments:

  1. Owh,,,betapa malang Darren,,,
    & Daniel,,,hmm,,,
    He's the best brother,,i wish i'll meet him someday,,,
    Sistaaaaaah,,,,kw buatq m'galau dsore yg indah nie,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha mau ketemu dimana cin ama Daniel??? aku jg mau ketemu ama mereka..

      Delete
    2. Hmmm,,,bagusny dmana yagh?? Ada saran ga sistah??
      *bingung

      Delete
  2. makin bikin penasaran gmn akhirnya....:)

    ReplyDelete
  3. ya daren i know perasaan mu huhuhuhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. knp cin?? jd menggalau.. wkkwkwkkw

      Delete
    2. Mbak Marry,,,mari kita m'galau b'sama,,,

      Delete
  4. Wah wah ga bisa ngomong apa2 lagi...
    kasian darren..
    calley calley calley hha

    ReplyDelete
  5. knp dorothy,bknnya calley.jgn membuatqu bngung mba shin :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaaa... emang dalam satu cerita cuma boleh 1 cewek aja?? gak kan.. banyak jg boleh.. lol

      Delete
  6. Wah kasihan mas Darren
    Sini'mas bahu aku siap menampung air mata mu kok

    Mba shin semkin yahoo'nii ceritay,,,
    Usul tiap hari 3 bab yaa mbak¿¿¿

    ReplyDelete
    Replies
    1. pengennya sih sekali post langsung kelar.. cuman pinjem tangannya siapa buat ngetik nih.. wkkwkwkww

      Delete
  7. Dri pengamatn q Kya Πγª Daniel naksir Doroty ya Shin ?? Heheh.. Pke ilmu terawang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahha awas terawangannya salah lhoo.. ntr malah jd inses... hahahaha... cerita2 begituan bukan untuk konsumsi umum. huahauauuhaa..

      Delete
  8. ayo mbak shin next chapter nya ku tunggu ya,aku suka banget drama ini.dikasih gambaran/foto donk buat masing2 castingnya hehehehehe..........

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah belum ada bayangan aku, apalagi gk kenal artis2 bule hauahuaha... nanti ya aku tny2 ama anak2 siapa tahu ada ide mereka :D

      Delete
  9. heeh sist aku suka dengan pendirian darren disini buat gak tergoda sama sepupunya sendiri, semoga aja dia kuat nahan godaannya si dot ya.hehe... dan aku nemu sosok darren yang agak humoris ya dengan pikiran2 konyolnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheehhe iya sista. btw maaf ya, komen mu yg ini 2x masuk ke box spam. ni br aku cek, hehehehe... ntah deh knp bs masuk ke box spam. sekali lg mohon muup... iya, Darren gk semaniak itu kok. dia menganggap ML cuman sebagai pelepasan kebutuhan aja, bukan gaya hidup seperti David. ihihihihhi

      Delete
    2. pantes aja gak ada sampe 2x aku komennya >//< iya makanya aku juga yakin masih ada sisi 'kemanusiaan' dari darren :D mana ini calley gak dateng2 :D

      Delete
    3. hahahha... knp ya kok bs masuk spam pdhl gak ada tulisan link nya. hmm.. jiahahaa.., sisi kemanusiaan. sip lah. ntr calley dateng di chapter berikutnya kl gk salah :D habis tu dia trus ama darren

      Delete
  10. heeh sist aku suka dengan pendirian darren disini buat gak tergoda sama sepupunya sendiri, semoga aja dia kuat nahan godaannya si dot ya.hehe... dan aku nemu sosok darren yang agak humoris ya dengan pikiran2 konyolnya :D

    ReplyDelete
  11. ya ampun Darren nangis ya???
    hayo siapa yang mau dikash benih ma Darren??
    silahkan daftar,
    hohohohooh

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkwkw benih apa?? benih tomat? cabe? semangka? melon??

      Delete
  12. Ohohoh...my poor darl...cup cup cup
    mau cucu...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.