"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, January 21, 2013

Looking To You - Chapter 8



Senin pagi aku terbangun dengan kepala pusing menyiksa di atas tempat tidur Daniel. Dia sedang memasak makanan pagi di dapurnya.

“Hei, kau sudah bangun?” katanya saat melihatku muncul dari pintu kamarnya.

“Ya, kau punya aspirin?” tanyaku. Kepalaku berdenyut-denyut karena pengaruh minuman yang ku tenggak, kini aku menerima akibatnya.


“Telah kusiapkan di atas meja. Makanlah dulu, kau tak ingin melewatkan hari kerjamu, kan?” tanya Daniel lagi sembari mengoleskan butter pada roti panggangnya.

“Duduklah” perintahnya padaku.

Aku hanya mengenakan celana boxerku, dengan dada telanjang dan bau mulut penuh alkohol.

“Kau terlihat berantakan Darren” cibir Daniel padaku.

“Oh, ya.. Dan kau terlihat.. tampan? Itukah yang ingin kau dengar? Licik” sungutku pura-pura kesal.

Daniel tergelak. “Makanlah, sunny side up, kesukaanmu”

Daniel meletakan sepiring sarapan pagi di depanku. Dua butir telur dimasak sunny side up yang diletakan diatas sebuah roti panggang yang telah dioleskan butter. Dua potong bacon kering, semangkok kecil baked beans manis, tomat panggang dan bawang bombay karamel. Aku hampir lupa bagaimana piawainya kakakku ini di dapur. Saat orang tua kami sibuk dengan urusannya masing-masing, hanya Daniel lah yang memberi mulutku makan. Dia belajar dari pengalaman, kau tak akan tahu bagaimana rasanya kelaparan dan tak ada makanan di atas meja serta kulkas yang kosong.

Meski usia kami belasan tahun, kami tak pernah diajarkan untuk membeli makanan sendiri, bahkan uang pun kami tak punya. Orang tua kami menyimpankan uang untuk kami di dalam Bank, dan mereka menyimpan buku rekening itu dalam brankas mereka.

“Thanks, Dan. Aku merindukan masakanmu” kataku terharu. Daniel tersenyum kecil.

Nampaknya dia juga merindukanku sebesar aku merindukannya. Saat-saat seperti ini aku merasa ingin memboyong bantalku dan tidur di apartemen Daniel. Tapi bila malam tiba, aku memilih untuk tidur seorang diri diatas ranjangku. Aku tak ingin Daniel tahu mimpi-mimpi buruk yang masih kerap mendatangiku.

“Kau tak pergi ke kantor?” tanyaku di tengah-tengah makan pagi kami.

“Setelah mengantarkanmu ke apartemenmu, aku akan mengambil mobilku ke rumah Paman, baru kemudian aku berangkat ke kantor. Aku hanya perlu mengundurkan jadwal meeting siang ini. Bagaimana denganmu?” tanyanya.

Aku mengangkat bahuku, tak ambil pusing dengan urusan kantor. Aku perlu mengambil cuti agar kepalaku tak meledak memikirkan pekerjaan yang tak ada habisnya.

“Ada Diane, dan dia selalu tahu apa yang harus dilakukan” jawabku malas.

“Kau terlalu memberatkannya. Aku heran dia masih bertahan bekerja bersamamu” cibir Daniel lagi.

“Aku adalah atasan yang baik, Dan. Tak seperti dirimu, kau mungkin tak menyadarinya, tapi Direktur Pemasaranmu pernah terkencing-kencing karena bentakanmu. Tidakah kau tahu itu?” tanyaku tak percaya.

“..Aku tahu. Dia pantas mendapatkan bentakan itu. Dia membuat perusahaanku rugi lima juta dollar” jawab Daniel santai.

Aku membelalakan mataku. “Kau tahu? Dan wajahmu masih bisa setenang itu?” aku tak dapat menghentikan tawaku. Daniel sungguh kejam, dia menikmati kekejamannya itu.

“Lalu, bagaimana dengan pegawai-pegawaimu yang lain? Marty? Dia, bukankah dia kau pecat setelah dia menumpahkan kopi mu diatas meja?” aku mulai tertarik mendengar jawaban Daniel.

“Kau tak akan percaya, dia menumpahkan kopi tepat diatas surat perjanjian transaksi senilai sepuluh juta dollar, aku tak bisa marah melihat wajahnya yang ketakutan” masih dengan ekspresi yang sama, dia menyuapkan sesendok penuh baked beans ke dalam mulutnya.

“Tapi itu tak mengubahmu dari memecatnya, kan? Daniel.. Kau sungguh.. Sadis..” aku merasa pagiku begitu sempurna. Perasaanku lega setelah tertawa terbahak-bahak. Aku tak pernah merasa selega ini sejak setahun yang lalu. Aku harus sering-sering mengobrol dengan Daniel. Dia ternyata memiliki sisi humor yang tak kuketahui.

“Aku heran.. Apartemen seluas ini.. Apakah kau pernah membawa wanita ke dalam sini, Dan?” tanyaku hati-hati.

Daniel sedang mencuci piring di wastafel dapur, dan dia berhenti demi mendengar pertanyaanku. Namun sedetik kemudian dia menghidupkan kembali keran airnya. Mengangkat bahunya dan mengelap tangannya.

Dia duduk disampingku. Menepuk pundakku dan berkata “Bila kau ingin mengetahui kehidupan seksku, maka aku harus mengetahui kehidupan seks mu juga, dik. Kau bertanya satu pertanyaan, dan aku berhak bertanya satu pertanyaan dengan bobot yang sama. Dan kita harus jujur dalam jawaban kita. Deal?” dia menatap mataku, ada setitik kejahilan yang kutangkap pada bola mata biru gelapnya.

“Oh.. Tak ingin rugi, Dan? Baiklah. Deal. Hari ini kita akan saling bertanya satu pertanyaan. Siapa yang akan bertanya terlebih dahulu?” tanyaku bersemangat.

“Silahkan, adikku. Kau terlihat cukup bersemangat pagi ini. Aku tak ingin membuyarkan semangat itu” wajah Daniel menyeringai menantangku.

“Bagus. Baiklah.. Hm.. pertanyaan pertamaku.. Apakah kau.. gay?”

Mata Daniel menyipit, dia menatapku tajam.

“Pertanyaan apa itu? Kau kira.. Jadi selama ini kau kira aku gay?” tangan Daniel bersiap untuk memukul kepalaku.

“Pertanyaan adalah pertanyaan, Dan. Kau harus menjawabnya dengan jujur” elakku, tak ingin sebuah pukulan mendarat dikepalaku lagi sambil teringat pada ladle maut milik Bibi Amanda.

Daniel menghela nafasnya, kemudian berbisik sambil menggeram.

“Aku. Bukan. Gay. Puas? Dan mengapa kau menanyakan hal itu? Kau menghinaku” Daniel bersedekap, dia kesal.

“Apakah itu pertanyaanmu hari ini, Dan?” godaku. Akan sangat gampang untuk menjawab pertanyaan Daniel tanpa perlu menyibak kehidupanku.

“Bukan! Kau tak perlu menjawab pertanyaan itu. Ada hal lain yang ingin aku tanyakan” ekspresinya berubah, kini lebih serius. Aku menjadi gugup dibuatnya. Memikirkan pertanyaan apa yang akan dilemparkan Daniel padaku.

“Katakan, jangan lama-lama. Kau punya tenggat waktu” kataku acuh.

“Tenggat waktu? Peraturan apa itu?” tanyanya kesal.

“Sudah..sudah.. Katakan saja apa pertanyaanmu” kataku tak sabar.

“...Sudah berapa lama kau menjalani hobby mu itu?” tanya Daniel dengan tatapan dingin.

Pertanyaan yang tepat menusuk jantungku, mengenai tempat tersensitif di hatiku. Dengan segan aku pun menjawab Daniel.

“Dua tahun lebih, sejak malam perayaan suksesnya tender ku di luar negeri. David dan aku memiliki ide itu. Kau tahu, aku tak punya banyak waktu untuk melakukan hal itu. Dan aku.. punya kebutuhan” rahangku mengeras. Aku menjelaskan terlalu banyak, tapi tak ada yang harus kusembunyikan, kan? Daniel hanya mengangguk-ngangguk. Tak ada komentar.

“Baiklah. Mandilah, aku akan bersiap-siap. Kita tak ingin kesiangan, kan” katanya sembari menepuk punggungku. Dengan heran aku memandangi punggung Daniel yang bergerak menjauh ke arah luar apartemennya, membuang sampah.

Tepat pukul dua belas siang aku telah kembali ke kantorku, dengan wajah cerah, semangat baru dan godaan baru..

Aku tak tahu mengapa wanita itu masih saja sanggup menggodaku meskipun aku telah melampiaskan semua kebutuhanku tanpa henti sabtu malam kemarin. Hanya dengan melangkah masuk ke dalam kantorku, Calley telah membangunkan gairahku yang tertidur. Ada apa dengan wanita ini??

“Ada apa, Calley?” tanyaku padanya.

Ditangannya terdapat sebuah berkas yang dibawanya dari luar.

“Mr. Watson mengirimkan data-data yang kau perlukan untuk proyek di Kanada, Diane telah mengirimkan kembali hasil pengecekan yang kita perlukan. Dan malam ini, aku tak bisa menemanimu bertemu dengan Mr. Rubbens di restoran The Ponds” dia terlihat gugup karena pandanganku tak lekang dari wajahnya.

“Dan mengapa kau tak bisa, Calley?” bisikku mengancam.

Aku mencondongkan tubuhku hingga semakin dekat dengan wajahnya yang terbatas meja kerjaku yang lebar.

“Aku.. keluargaku mengadakan perayaan bagi anak-anak yatim piatu di gereja, mereka memerlukan bantuanku. Aku..rasa kau bisa bertemu dengan Mr. Rubbens meski aku tak menemanimu..”

Aku diam membisu, tak menemukan alasan mengapa Calley harus menemaniku kesana. Aku telah berusaha mencari alasan agar dia selalu menemaniku, namun saat dia memiliki alasan untuk menolakku, apa yang harus kupakai lagi sebagai alasan?

“Pukul berapa perayaan di gerejamu selesai?” tanyaku akhirnya.

“Aku tak tahu, Darren. Biasanya acara seperti ini berakhir saat tengah malam. Karena ada pentas drama dalam rangka pengumpulan dana. Sehingga acaranya bisa memakan waktu yang sangat lama. Aku benar-benar tak bisa menemanimu lagi kali ini. Maaf” dia menunduk menolak menatap mataku.


“Ya sudahlah. Kau boleh pergi. Lain kali katakan bila memang kau memiliki jadwal lain” akhirnya aku mengalah. Aku tak mungkin melarang wanita baik-baik seperti Calley untuk menolong anak-anak terlantar kan. Setidaknya aku masih punya hati. 


37 comments:

  1. owh yeah calley is back hha *daku menggila* ah ga sbr nunggu part selanjutnya hha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe kirain mual bacanya :D

      Delete
    2. kalo yg ini sih ngga hhe
      mungkin kalo yg kaya chap ke2 ya kalo ga salah? Kalo yg kaya gitu mual beneran mba.. Hhe

      Delete
    3. huahauauhahua... nanti kana da warningnya, kl yg warning2 gt dilangkar aja biar gak mual. lol

      Delete
    4. kalo itu adegannya calley sama darren sih pasti bca mba hha
      kalo yg threesome kaya yg kemarin sih huwaa ogah mana deskripsinya mba shin detil bnget lagi iih serem hhe

      Delete
    5. hahahhaha masak sih detil sist?? kan gak sedetil novel2 lain. sampe diceritain gmn rasanya wkwkkwkwww

      Delete
    6. hhe
      kalo menurut ku sih detil yg bikin mual apa coba mba?
      yg kalo ga salah si ceweknya itu jongkok terus keluarlah spermanya darren sama david huek sumpah mba sekarang aja aku mual iihh

      Delete
    7. hahahha iya sengaja sist. buat menekankan kesan "pelacurnya" tu cewek. wkwkkwkwk...

      Delete
    8. hahahah hari gini.. cewek bener2 mana yg mau di trisam sist?? kecuali pel*cur?

      Delete
  2. am in love with daniel ,,,
    Dan, woud u plz be my bro ?? wkwkwk

    Love u babe shin ty :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. why people prefer Daniel? now, i'm prefer Darren. lol..

      love u too hon. mwah..

      Delete
  3. Aaaahhh,,,ayang Daniel,,
    Thanks God dirimu bukanlah Matt Bommer wanna be,,
    am so relief, Darl'..
    And dy ad/ lelaki Hawt yg pintar memasak,,,OmaiGod,,,,,
    Makin cinta degh,,,mmmuuuaaacchhh

    ReplyDelete
  4. Kayakny bertarung nigh aq ma Mbak Marry m'perebutkan Ayang Daniel,,
    Mbak Marry,,, Daniel ma aq adja,,pliiisss,,,
    Atw ga aq ambil M. Shadowsny,, Pilih mana ???? #evil laugh

    ReplyDelete
  5. hai calley *sok kenal.. haha.. jadi calley ini yang macem anak pak ustad gitu ya :D hmm... wow berhadapan dengan darren berbahaya, bisa2 tergoda dengan hal2 yang tabu bagi dia *dih bahasanya*
    aduduh aku khawatir kalo-kalo ada cinta segitiga dengan david, selama ini kan david udah baik mau berbagi, sometime bisa aja dia mau minta imbalan berbagi calley sama darren -_________-

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkww.. bisa jadeee... lol... imajinasimu memang sesuatu sist... mwahh..

      Delete
  6. Ilmu apa Ɣªήğ dmiliki Calley Shin.. shingga bsa mbangunkn gairah Ɣªήğ Ʊϑɑ̤̈̊ħ trtidur... Mau ah bguru sma Calley .... (Tpi bkn mbangunkn gairah Darren lho.. Takut) heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hohoohohoho... ilmu membelah langit naga ke tujuh cin.. wkkwkwkw kok gk berani membangunkan gairahnya Darren? wkkwkw

      Delete
  7. sepertinya impianku bakal jadi kenyataan nih....
    tinggal tunggu tangal mainnya aja nih,
    penasaran .........dengan siapakah darren berpasangan???????
    (mikir sambil garuk2 kepala yang ketombean. hahahahaha....)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha haduhhhh keramas dulu sana cin.. emang impianmu apa sist? :ketinggalan info:

      Delete
  8. Tkut sma kbiasaan Darren Ɣªήğ 3some Shin... Heheh.. btw q mau tau khidupn pribadi Daniel Shin dceritain di LTY ya? Gmna ya klo dia punya pacar Ɣªήğ suka marah sma karyawan tpi penyayang bgt sma kel... Normal lagi... Heheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhahaha... ntr malah dijadiin percobaan lg ya sist?? hauhauauhua.. sbnrnya mereka gak selalu trisam kok. cuman memang lebih seru kl trisam. huahuahuaa..

      nanti Daniel punya judul sendiri dia sista, si David jg :D (amin..)

      Delete
  9. syukurlah daniel bkn gay... dag dig dug pas bag dorothy ma darren kkkk

    ReplyDelete
  10. ,,,,,
    ::‧(◦ˆ ⌣ ˆ◦)::‧(y)
    Si!!! Q bantu doa aja ya Shin supya ttp semangt posting cerita terbaru... Αα̣̣м̤̣̲̣̈̇ɪ̣̇ȋ̝̊̅ı̣̣n̶̲̥̅n̶̲̥̅•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶. Dh ga sabar nunggu cerita Daniel ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aminn.. makasi banyak sistaa atas doanya ^^>

      Delete
  11. aduh ini,
    hobbynya Darren enak bgt ya???
    tpi kshan klo threesome,
    wkkkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah tau dr mana kl kasian sist?? kali aja enak jg kan? lol

      Delete
  12. aku jadi curiga nih sama calley....
    setiap diajak ke pertemuan, dia gak bisa?
    acara dadakan?
    hmmm we'll see...

    ReplyDelete
    Replies
    1. jgn curiga sist.. curiga itu tak ada manfaatnya... jangan curiga bila tak ada gunanya :nyanyiin pake dangdutnya rhoma irama, begadang:

      Delete
  13. kyaaaaa mbak shin mbakasih ya...
    bab 9 lagi ya mbak...ya ...ya.....*puppy eyes......

    ReplyDelete
  14. Daniel lelaki idaman banget deh
    Tp lebih suka badboy nya darren deh
    Hahahhah
    Keren mb shiiin
    Ga sabar nunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. sip sip. ni barusan baru aku post lanjutannya sist :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.